HEI JUN

HEI JUN
26


__ADS_3

Juna terbangun dengan kepala yang sangat berat. Badannya terasa pegal-pegal. Remuk tak bertulang persis seperti ayam geprek yang biasa ia makan di warung Pak Supri. Juna tidak ingat kegiatan apa yang ia lakukan semalam hingga badannya sakit seperti ini. Rasanya seperti baru selesai membangun 1000 candi pesanan nyi roro jonggrang seorang diri.


Juna duduk bersandar di kepala ranjang dan kedua matanya langsung membulat sempurna ketika melihat penampakan dirinya saat ini. Polos tanpa busana. Juna mengamati tubuhnya yang penuh dengan tanda merah seperti sengatan serangga.


Ada apa ini? Apakah semalam ia lupa menutup jendela sehingga banyak serangga yang masuk? Juna segera menggeleng. Juna masih ingat jika saat ini sedang berada di hotel. Jadi tidak mungkin ada serangga yang masuk dan menggigit kulitnya seperti itu. Lain cerita jika Juna berada di rumahnya. Rumah kecil di perkampungan yang banyak dengan tikus dan nyamuk.


Juna mengedarkan pandangannya. Niat hati ia ingin mencari kemana pakaian yang ia kenakan semalam. Namun, Juna kembali dibuat terkejut ketika melihat Diandra tidur telentang dengan kondisi yang sama dengannya. Tubuhnya polos, penuh dengan tanda merah persis seperti tanda di tubuh Juna.


Juna menutup mulutnya, menahan diri agar tidak berteriak. Apa yang terjadi? Mengapa Juna tidak ingat apa-apa setelah Diandra memberikan ia minuman itu? Apa mungkin Juna dan Diandra kembali melakukan aktifitas penting semalam?


Juna mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar tidak ingat apa-apa. Tapi melihat keadaan dirinya dan Diandra yang seperti itu. Juna bisa memastikan jika ia kembali kesalahan, kembali berbuat dosa dengan Diandra yang nota bene adalah istri orang.


Tersadar jika dirinya dalam keadaan tidak terborgol, Juna bergegas ke kamar mandi. Ia membersihkan diri secepat mungkin. Bagaimanapun caranya Juna harus segera pergi dari tempat itu sebelum Diandra bangun.


Usai mandi, Juna bergegas mencari pakaiannya yang menghilang entah kemana. Untung saja Juna melihat tas ransel yang kemaren ia bawa saat pergi ke Surabaya. Juna langsung mengambil tas itu dan segera berpakaian.


Usai berpakaian, Juna segera melangkah menuju pintu kamar. Ia membuka pintu kamar dengan perlahan, khawatir dua bodyguard Diandra akan memergokinya. Juna dapat bernafas lega karena tidak ada mereka di sana. Sesuai perintah Arya, kedua bodyguard itu sudah tidak berjaga lagi sejak semalam.


Melihat keadaan aman terkendali, Juna segera keluar dan berlari, menjauh dari kamar yang di tempati Diandra. Ia berlari mencari keberadaan lift. Dari nomor kamar yang Juna baca di beberapa pintu, Juna menduga jika ia berada di lantai atas. Untung saja lift yang Juna cari terlihat dan di sana nampak beberapa orang sedang berdiri menunggu pintu lift terbuka.


Juna segera bergabung dengan orang-orang itu. Saat pintu lift terbuka, ia segera masuk. Lega, begitulah yang Juna rasakan sekarang. Ia melihat seseorang menekan tombol lantai dasar. Juna sepertinya akan mengikuti orang itu saja karena ia sendiri tidak tahu seperti apa medan yang ia hadapi sekarang.


Ting...


Pintu lift terbuka. Juna segera berlari keluar. Namun, ia langsung tersadar jika tingkahnya itu akan menarik perhatian orang-orang di sana. Juna mengurangi kecepatannya, berubah mode dari berlari menjadi berjalan santai.


Sreebbbb


Seseorang menarik tangan Juna. Juna langsung memejamkan mata. Ia khawatir jika orang yang menarik tangannya adalah bodyguard Diandra.


"Juna ?."


Juna menajamkan indra pendengarannya untuk memastikan siapa yang memanggilnya.


"Juna kan?" tanya orang itu dan ia langsung memutar tubuh Juna.


Juna bernafas lega. Tepat sesuai dugaannya. Orang yang menarik tangannya adalah penyelamat Juna.


"Atha..." panggil Juna lirih. Spontan Juna langsung memeluk Athalia dengan erat.


Athalia yang mendapat pelukan mendadak dari Juna tentu saja merasa kaget. Ia bisa merasakan jika sesuatu yang tidak baik sedang terjadi pada Juna.


"Hei, Jun! Ada apa? kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Atha. Ia segera mengurai pelukannya.

__ADS_1


"Nanti aku jelaskan. Tapi sekarang aku minta tolong. Bisakah kau membawaku pergi dari sini?."


Athalia mengangguk. Ia segera menarik Juna agar mengikutinya. Mereka berjalan menuju basement, tempat Athalia memarkirkan mobilnya.


"Cepat masuk!."


Juna langsung menurut. Awalnya ia membuka pintu depan. Namun, segera ia urungkan. Juna memilih duduk di kursi belakang. Lebih tepatnya tiduran agar tidak terlihat selama mobil Athalia berada di lingkungan hotel itu.


Juna sengaja menutup wajahnya dengan bantal yang ada di mobil Atha. Barulah setelah Atha memberi tahu jika mereka sudah berada jauh dari area hotel, Juna bangkit untuk pindah tempat duduk di samping Athalia.


"Apa yang terjadi?" tanya Atha.


"Sesuatu yang buruk terjadi. Aku belum bisa cerita di sini. Bisakah kamu membawaku ke suatu tempat? Aku butuh tempat untuk menenangkan diri."


Athalia mengangguk. Ia terus melajukan mobilnya hingga memasuki kawasan perumahan elit di kawasan Ciputra. Mobil Atha berhenti di sebuah rumah bergaya minimalis bercat putih dan biru. Cukup besar, bahkan sangat besar jika dibandingkan dengan rumah Juna di kampung.


"Ayo turun, Jun!."


Juna mengangguk meskipun ia masih ragu untuk menuruti perintah Atha. Ia merasa canggung berada di kawasan perumahan elit. Juna merasa tidak pantas berada di tempat itu. Ingin sekali Juna meminta Atha untuk mengantarkannya ke terminal saja jika tahu Athalia membawanya ke tempat elit seperti itu.


"Atha, ini di mana?" tanya Juna.


"Ini rumah pamanku. Aku tinggal di sini selama aku di Surabaya" jawab Athalia yang membuat Juna sedikit bingung dengan domisilinya.


Atha mengambil kunci di saku celananya dan membuka pintu rumah itu. Ia menyuruh Juna masuk dan duduk di sofa ruang tamu. Athalia meninggalkan Juna ke kamarnya untuk meletakkan barang-barang yang dibawanya tadi. Setelah itu ia kembali menemui Juna dengan membawa segelas teh dingin dan beberapa kue kering.


"Kenapa?."


"Kamu habis jihad, Jun?" tebak Atha. Ia menutup mulutnya yang menganga akibat terkejut melihat banyak tanda merah di leher Juna.


Juna mengangguk.


"Apa yang terjadi, Jun? Apakah berhubungan dengan wanita itu?."


Juna kembali mengangguk.


"Kalau kau mau cerita, aku akan dengarkan. Jika tidak, aku akan pergi membiarkanmu sendiri dulu."


Juna diam sejenak, memikirkan dua tawaran yang diberikan Athalia. Jujur Juna memang butuh teman berbagi. Tapi ia juga malu pada Athalia karena apa yang akan Juna ceritakan adalah aib dirinya dan Diandra.


"Tak apa jika kau belum siap. Kamu beristirahatlah dulu di kamar tamu. Aku sudah memesan makanan via online. Mungkin sebentar lagi datang. Aku ada di lantai dua, mengerjakan tugas yang belum aku selesaikan" kata Atha hendak beranjak dari sofa. Tapi Juna segera mencegahnya.


"Kenapa?" tanya Atha heran.

__ADS_1


"Siapa sebenarnya dirimu? Kenapa kau bisa ada di hotel itu juga?."


"Aku? Kau bertanya siapa aku? Aku dokter bantu yang ditugaskan di pulau garam. Wilayah tugasku meliputi empat kabupaten di pulau itu. Jadi aku tidak pernah menetap di satu tempat. Kenapa aku ada di hotel itu? Karena aku menghadiri acara lepas pisah. Tugas kami sebagai dokter bantu sudah selesai. Hanya kebetulan saja kita bertemu, Jun" jawab Atha.


"Kau bisa melihat masa depan?."


Athalia mengerutkan dahi. Baru sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak.


"Juna... Juna... Kau pikir aku cenayang hah? Aku ini manusia biasa, Jun."


"Mana mungkin?."


"Hei, kau tidak percaya padaku? Lihat saja kakiku masih menapaki lantai, Jun" kata Athalia lagi dan ia kembali tertawa terbahak-bahak.


"Aku tidak menganggapmu hantu, Atha. Aku hanya heran. Apa kau bisa memprediksi sesuatu? jujur saja prediksimu nyaris tepat semua" kata Juna bersikukuh dengan pendiriannya.


Atha kemudian duduk di hadapan Juna. Ia menatap wajah Juna beberapa saat kemudian tersenyum.


"Aku hanya melihat tanda-tanda alam, Jun. Seorang dokter sudah terbiasa mendiagnosis pasiennya. Hal itulah yang membuatku selalu memperhatikan hal-hal kecil yang tidak disadari oleh orang lain."


Atha menyentuh pergelangan tangan Juna, memperlihatkan bekas borgol yang tercetak di kulitnya. Ia menyentuh denyut nadi Juna serta menyentuh leher Juna yang penuh dengan tanda merah.


"Dari apa yang ku lihat dan ku sentuh, aku bisa menyimpulkan jika sesuatu yang buruk sudah terjadi padamu, Jun. Denyut jantungmu tidak normal. Terdapat bekas borgol dipergelangan tanganmu dan yang paling membuatku kaget di area lehermu penuh dengan tanda merah. Aku hanya menduga bukan melihat masa depanmu, Jun."


"Kau tidak sadar kan dengan apa yang aku lakukan?" tanya Athalia dan itu membuat Juna menunduk.


"Karena kau tidak peka, Jun" kata Atha kemudian ia bangkit dari hadapan Juna.


"Jun, apa kau mau aku panggilkan teman psikiaterku? Aku hanya khawatir kau mengalami trauma."


Juna mengangguk karena sepertinya ia membutuhkan itu.


"Istirahatlah dulu. Nanti kalau makanannya datang, tolong kamu ambilkan. Makanlah! Tidak usah menungguku. Aku akan ke atas untuk mengerjakan tugas-tugasku. Aku juga akan menghubungi temanku agar nanti sore datang ke sini."


Juna langsung berkaca-kaca ketika mendengar ucapan Athalia. Ia benar-benar merasa terharu. Entah kebaikan apa yang Juna lakukan di masa lalu sehingga mendapatkan balasan semanis ini dari Tuhan?


Tuhan mengirimkan malaikat tak bersayap untuk menolong Juna. Meskipun ia dan Atha baru saja mengenal. Tapi Atha tidak merasa berat untuk menolong Juna. Andai saja hati Juna bisa diatur, Juna ingin memberikan hatinya kepada Athalia. Memberikan cintanya kepada Atha. Meskipun Juna tidak yakin jika Atha mau menerima Juna dan melupakan cinta pertamanya.


"Hei, Jun! Mengapa melamun?" suara Athalia mengagetkan Juna.


Juna menggaruk tengkuknya. Ia ingin mengatakan sesuatu tapi ragu. Juna menarik nafas panjang, menghitung dari satu sampai lima di dalam hati dan...


"Atha, maukah kau menikah denganku?" tanya Juna.

__ADS_1


Athalia diam. Ia hanya bisa melongo mendengar ucapan Juna. Sadar jika Juna sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja, Atha segera menjewer telinga Juna.


"Apakah di otakmu itu hanya berisi nikah, Jun?" tanya Athalia gusar dan ia segera pergi meninggalkan Juna sendiri.


__ADS_2