HEI JUN

HEI JUN
71


__ADS_3

Tit..tit..tit...


Terdengar suara seseorang menekan pasword pintu apartemen Atha. Perempuan itu yang semula duduk manis di dapur sembari menikmati secangkir moccachino, buru-buru bangkit dari tempat duduknya.


Berjalan setengah terburu-buru, Athalia ingin memastikan jika orang yang datang adalah suaminya.


"Sayang..." panggil Juna lirih.


Atha menarik nafas panjang. Dugaannya tepat. Juna muncul dengan wajah kusut dan tampilan kacau. Ada apa dengan suaminya itu? Sejak kemarin, Juna memang tidak menghubunginya. Atha juga sudah kembali ke Jakarta karena dirinya hanya sehari di kampung Juna.


Brukkk.


Juna langsung menubruk tubuh istrinya. Ia memeluk Atha dengan erat. Andai Atha bisa melihat, kedua netra Juna mulai basah. Atha hanya bisa merasakan jika deru nafas Juna tidak teratur. Degup jantungnya juga cepat. Ada apa dengan Juna? Apakah sesuatu yang buruk sudah terjadi?


"Kamu kenapa, Jun?" tanya Atha sembari mengusap-ngusap punggung Juna.


Juna tidak menyahut. Ia semakin mengeratkan pelukannya.


"Sepertinya sesuatu yang buruk terjadi. Juna, aku akan menyiapkan air hangat dulu. Mandilah agar badan dan pikiranmu segar."


Juna mengangguk. Ia segera mengurai pelukannya. Atha bergegas menyiapkan air hangat di bathup, sedangkan Juna sedang duduk terdiam di atas kasur.


Juna melamun. Pikirannya kacau. Permintaan Pak Narto yang memintanya untuk menikahi Fira benar-benar menjadi beban pikirannya. Setelah membaca kalimat keramat itu, Juna langsung pamit dan bertolak ke Jakarta.


Juna merasa ketakutan. Ia merasa bersalah. Andai saja ia tidak datang ke rumah Pak Narto. Andai saja ia tidak sok menjadi pahlawan kesiangan yang membantu melunasi hutang mereka, tentulah hal ini tidak akan terjadi.


Juna menduga Pak Narto memintanya untuk menikahi Fira karena merasa berhutang budi. Padahal jika Pak Narto tahu mengenai jati dirinya, pastilah Pak Narto tidak akan sudi meminta hal itu.


"Air hangat sudah siap. Mandilah! Emmm... Apa kau mau aku siapkan makanan?" tanya Atha.


Juna menggeleng.


"Baiklah! Segeralah mandi! Aku akan menyiapkan baju ganti untukmu" ucap Atha.


Juna bergegas masuk ke kamar mandi. Ia melakukan ritual berendamnya secepat mungkin. Entah, Juna tidak kerasan berlama-lama di kamar mandi. Pikirannya tidak segar seperti apa yang diharapkan istrinya.


Juna buru-buru menyelesaikan acara mandinya. Ia keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya.


"Aku keluar dulu, Jun. Ini baju gantimu" kata Athalia sembari menyodorkan baju ganti Juna


"Tetaplah di sini! Aku akan berganti baju di kamar mandi."


Juna kembali masuk. Ia paham jika Athalia masih canggung melihat Juna seperti itu. Juna keluar dari kamar mandi dan langsung bergabung dengan istrinya yang berbaring di kasur.


"Jun...!!!" pekik Atha. Ia kaget ketika Juna tiba-tiba menjatuhkan badan di sampingnya. Juna bergerak cepat, memeluk Atha dari samping.


"Maaf!" ucap Juna. Ia menggesek-gesekkan hidunya di leher Atha.

__ADS_1


"Berhentilah Juna! Aku geli."


"Jangan menolakku, sayang! Aku mohon" ucap Juna. Ia terus menggesekkan hidungnya di leher Atha.


"Kau sebenarnya kenapa, Jun? Kenapa pulang-pulang seperti ini? Ada masalah apa? Apakah SMA Cendekia terkena kasus?."


Juna tidak menjawab. Ia bingung bagaimana menceritakan perihal permintaan Pak Narto itu. Juna khawatir Atha akan mengamuk dan meminta berpisah. Karena selama ini Atha belum menunjukkan tanda-tanda jika sudah menerima pernikahan mereka.


Berbeda dengan Juna. Meski memang awalnya Juna belum seratus persen mencintai Atha. Namun, ia mulai merasa nyaman berada di dekat istrinya. Juna tidak mungkin melepas Athalia. Ia sudah bertekad akan mempertahankan pernikahan mereka sampai mati.


Juna hanya ingin menikah sekali, tidak minat berpoligami. Meski Atha belum bisa mencintai dirinya, Juna akan berjuang menumbuhkan bunga-bunga cinta dalam rumah tangga mereka.


"Ikut aku ke SMA Cendekia" ucap Juna setelah lama ia bungkam.


"Apa? Ikut denganmu? Ada acara apa di sana, Jun? Mengapa aku harus ikut kesana?" tanya Atha heran.


"Dampingi aku, Sayang. Aku takut sendirian."


Atha memutar kedua bola matanya dengan malas. Alasan apa itu? Terlalu mengada-ada.


"Kamu sudah tua, Jun, bukan bayi lagi. Kalau kau takut sendirian di sana, kau bisa mengajak seseorang untuk tinggal di sana. Bukankah kedua kakakmu juga ada di Madura?" tanya Atha.


"Mereka tinggal di kabupaten sebelah, Sayang. Lagi pula Mas Haris dan Mbak Ines sudah memiliki keluarga masing-masing. Aku tidak mau mengganggu mereka."


"Kalau begitu jangan menginap di sana. Kau cukup pantau SMA Cendekia dari sini. Lagi pula pekerjaanmu bagaimana? Kau masih ada tanggungan di Sanjaya corp kan?" ucap Atha.


Juna berfikir sejenak. Sepertinya besok ia akan menemui Kiara untuk meminta pendapat. Nyonya bos nya itu pasti punya solusi atas masalahnya.


***


Kiara memasang indra pendengarannya baik-baik. Saat ini Juna sedang duduk di hadapannya sembari menceritakan keluh kesahnya. Sudah setengah jam berlalu, Juna belum juga selesai bercerita. Ia berkata-kata dengan terbata-bata. Memgucapkan kalimat dengan random sehingga seringkali membuat Kiara bingung.


Kiara membiarkan Juna berbicara. Ia menunggu sampai semua uneg-uneg di dalam hatinya keluar. Masalah rumah tangganya, masalah di kampungnya, benar-benar membuat Kiara tergelitik.


Juna bukan anak bayi, tapi dia tidak bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Mungkin karena Juna tidak mempunyai kawan untuk berbagi sehingga ia bingung sendiri.


Kiara melihat permasalahan Juna sebenarnya tidak rumit. Juna hanya butuh ketegasan dalam bersikap. Dia harus tegas kepada Athalia dan tegas menolak permintaan Pak Narto.


"Jadi selama hampir sebulan menikah Mas Juna belum kikuk-kikuk?" tanya Kiara.


Juna mengangguk.


"Kesalahan Mas Juna adalah tidak mengajak bu dokter honeymoon, malah pulang kampung ngurus sekolahan" kata Kiara lagi.


Juna mengangguk lagi.


"Untuk masalah rumah tangga Mas Juna, Kiara akan memberikan tiket bulan madu selama seminggu. Terserah kalian mau kemana."

__ADS_1


"Lalu pekerjaan saya di sini bagaimana, Nyonya bos?."


"Nanti akan ada orang yang mengurusnya. Mas Juna fokus saja dulu bercocok tanam agar segera tumbuh bunga-bunga cinta dalam pernikahan kalian."


"Kalau Atha menolak?."


"Izinkan Kiara untuk berbicara padanya. Sepertinya ada sesuatu yang harus diluruskan agar bu dokter berhenti mengharapkan si Kadir" ucap Kiara lagi.


"Baik, Nyonya bos. Saya akan mengatur pertemuan Nyonya dengan istri saya."


"Dan perihal permintaan Pak Narto. Kiara paham jika Mas Juna merasa bersalah karena telah merenggut kesucian anaknya. Tapi dalam konteks ini bukan Mas Juna yang mau. Anaknya aja yang kampret. Mas Juna korban, bukan pelaku. Kalau memang Mas Juna tidak berniat menikahi dia, katakan dengan tegas. Mas Juna harus tegas."


"Kalau mereka sakit hati?."


"Urusan mereka, Mas. Mereka tidak ada hak untuk memaksa Mas Juna. Mas Juna berhak bahagia. Jangan selalu memikirkan orang lain, pikirkan juga keluarga Mas Juna. Apa Mas Juna tidak ingin segera memiliki Mayjuna kecil?."


"Ingin sekali, Nyonya. Kalau bisa saya ingin sepuluh anak dari Atha."


Kiara menelan ludah. Dia pikir hamil itu segampang makan kacang apa? Kiara tidak yakin Athalia akan mau hamil sepuluh kali. Paling mentok empat kali.


"Apa yang membuat Mas Juna berat meninggalkan SMA Cendekia?."


"Sekolah itu adalah tempat pertama kali saya mencari nafkah, Nyonya. Banyak kenangan di sana. Saya ingin memajukan SMA Cendekia, memperbaiki fasilitas dan para pengajarnya."


"Mulia sekali Anda! Kenangan, tolong jangan dibuat baper! Mas Juna apa masih ingin bucin-bucinan sama mantan guru matematika yang sudah menikah itu?" tebak Kiara.


"Ti..tidak, Nyonya. Lia sudah tidak mengajar di sana."


"Tapi bayangannya masih ada di sana kan? Mas Juna harus move on. Lupakan masa lalu dan fokuslah ke kehidupan sekarang! Kalau Mas Juna memang ingin mempertahankan pernikahan kalian, ya lupakan tuh segala kenangan dengan sang mantan. Menurut Kiara, mengapa bu dokter sampai sekarang belum ada rasa sama Mas Juna? Karena dia paham jika Mas Juna masih belum lepas dari bayangan masa lalu" kata Kiara berceramah panjang lebar.


Kiara gemas sekali dengan mulutnya yang bisa mengeluarkan kata-kata bijak seperti itu. Padahal biasanya otak Kiara kan geser.


"Kalau masalah SMA Cendekia, Kiara bisa kirim orang untuk menggantikan Mas Juna. Mas Juna tinggal memantau dari sini. Tidak perlu lah Mas Juna menetap lama-lama di sana. Sesekali saja pulang. Sebulan sekali atau dua bulan dua kali" saran Kiara.


Juna mengangguk. Perkataan dari Nyonya bos nya benar-benar membuka pikirannya. Juna memang harus tegas. Dia tidak boleh terjebak dalam rasa sungkan. Juna memang manusia biasa, tidak mungkin bisa membahagiakan semua orang.


Juna akan menolak keinginan Pak Narto. Bagaimanapun ada hati yang harus ia perjuangkan sekarang.


"Jadi kapan saya berangkat honeymoon?"


"Eh?."


"Saya mau cepat-cepat punya penerus, Nyonya bos" ucap Juna malu-malu.


"Tentukan dulu mau kemana. Nanti Kiara akan menyuruh Lita untuk mengurus semua. Kiara harus ketemu sama bu dokter dulu biar bu dokter juga move on dari si Kadir. Pokoknya semangat Mas Juna!. Bikin bu dokter melendung kayak Kiara. Kalau bisa pulang dari honeymoon langsung isi dedek kembar empat" kata Kiara cekikikan.


Juna mengaminkan ucapan Kiara. Meski terdengar becanda, tapi Juna berharap hal itu menjadi kenyataan. Sepertinya akan seru sekali mengasuh empat bayi kembar sekaligus, pikir Juna.

__ADS_1


__ADS_2