
Satu bulan kemudian...
"Pak Edward....!" panggil Juna. Ia segera berlari mengejar Edward yang sedang berjalan tergesa-gesa. Di tangannya banyak sekali berkas sehingga Juna berinisiatif ingin membantu Edward untuk membawakan berkas-berkas itu.
"Mas Juna? Ada apa panggil saya?" Edward menyeka peluhnya yang membasahi wajahnya.
"Pak Edward mau kemana? Kenapa terburu-buru seperti itu?" tanya Juna.
"Saya mau ke rumah sakit, Mas Juna. Mau mengantarkan berkas ini kepada Tuan Dira."
"Rumah sakit? Siapa yang sakit?" tanya Juna lagi.
"Nona Kiara, kemarin sempat keracunan makanan. Tuan Dira sekarang berada di rumah sakit sedang menjaga adiknya" kata Edward menjelaskan.
"Boleh saya ikut, Pak? Saya sekalian ingin menjenguk Nona Kiara" pinta Juna memelas. Ia sangat berharap Edward mengabulkan permintaannya.
Edward menggaruk-garuk kepalanya. Ia berfikir sejenak. Apakah mengiyakan atau menolak permintaan Juna. Bukan apa-apa, Edward takut Dira akan mengamuk jika Edward membawa Juna. Saat ini emosi Dira sedang dipuncak tiang listrik. Kesenggol sedikit saja, bisa gawat darurat selamat. Edward tidak mau dirinya menjadi korban amukan Dira lagi.
"Pak Edward, saya mohon. Sekalian saya ingin mempraktekkan hasil dari kursus menyetir mobil yang saya ikuti."
Edward menghela nafas kasar. Melihat wajah memelas Juna yang sejak awal sudah menyedihkan membuatnya tak kuasa untuk menolak permintaan Juna. Edward menganggukkan kepalanya dan dengan cepat mereka berjalan menuju basement.
"Mobilnya yang mana, Pak?" tanya Juna.
Edward diam mematung. Tidak mungkin kan jika Edward memakai mobil mewah yang biasa ia gunakan? Juna baru saja mengambil kursus menyetir mobil. Kemungkinan menabrak di jalanan sungguh besar. Edward tidak mau mengambil resiko diamuk Dira. Ia akhirnya memilih mobil jazz yang biasa digunakan Dira jika sedang menyamar.
"Itu!" Edward menunjuk mobil jazz berwarna silver yang berada di pojok.
Juna meminta kunci mobil itu dengan sopan. Sungguh, tingkah laku Juna yang seperti itu membuat Edward tidak enak hati. Andai saja Edward pemilik perusahaan ini, pasti Juna akan ia angkat sebagai pembina akhlakul karimah bagi karyawan atau Juna akan ia tempatkan di bagian keuangan. Mengingat Juna sangat polos dan jujur.
"Mas Juna sedang apa?" tanya Edward ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
Juna memang tak langsung menyalakan mesin mobil itu, melainkan ia mengangkat kedua tangannya sembari memejamkan mata. Pemandangan yang asing di mata Edward.
"Saya sedang berdoa, Pak Edward."
"Berdoa?" tanya Edward heran.
"Iya, saya berdoa semoga saya lancar membawa mobilnya. Tidak menabrak kanan kiri. Saya tidak mau kursus yang diberikan Tuan Dira sia-sia" jawab Juna dan itu membuat Edward tersenyum senang.
Juna melajukan mobil itu dengan perlahan dan hati-hati. Edward yang duduk di sebelahnya bertugas sebagai penunjuk jalan. Sesekali Edward dan Juna mengobrol, saling berbagi cerita tentang kehidupan masing-masing.
Sungguh pengalaman yang sangat berkesan bagi Edward. Selama ini ia tidak pernah banyak bercakap dengan orang lain diluar masalah pekerjaan. Bersama Juna, Edward bisa menceritakan apapun. Tentang masa kecilnya, masa sekolahnya, dan saat-saat ia bekerja dengan Dira.
Asyik mengobrol, membuat Edward dan Juna tidak menyadari jika mereka sudah tiba di rumah sakit. Jalanan yang padat merayap membuat mereka tiba di sana dalam waktu yang lama. Edward sudah menyiapkan mental jika nantinya Dira akan mengamuk kepadanya.
Tok...Tok... Tok...
Edward mengetuk pintu kamar rawat inap Kiara. Terdengar suara ribut-ribut di dalam. Edward segera masuk, ia khawatir terjadi apa-apa pada Tuannya. Namun, tidak disangka. Kedua netranya membola ketika melihat Dira sedang di pukul habis-habisan oleh Mamanya.
"Mamaeee.... Stop! Lihat ada Edward!" teriak Dira. Ia bernafas lega karena kedatangan Edward membuat telinganya lepas dari capitan kepiting jumbo.
Dira segera berlari menjauhi Mamanya dan menyuruh Edward duduk di sofa. Kamar rawat Kiara memang VVIP sehingga luas dan lengkap sehingga bisa menampung banyak orang.
"Lho?" Dira kaget ketika melihat Juna muncul di belakang Edward.
"Hei, Mayjuna! Kenapa kamu ada di sini? Bolos kursus ya?" tanya Dira, ia sudah memasang tampang garang ketika melihat Juna muncul.
__ADS_1
Juna segera menggeleng. Seperti biasa ia akan kehabisan kata-kata jika melihat wajah garang Dira.
"Tamu itu disuruh duduk. Jangan dipelototin aja!" Widya, Mama Dira, segera menjewer anaknya yang menurutnya kurang beretika dan suka semena-mena.
"Kamu karyawannya, Dira?" tanya Widya. Ia mengamati penampilan Juna yang mengenakan kemeja putih dan celana panjang hitam. Persis seperti anak magang yang sedang ditindas oleh seniornya.
"Mas Juna ini yang memberi info kepada Tuan Edo saat Nona Kiara diculik, Nyonya" jawab Edward mewakili Juna.
"Apa???!!! Ya ampun!!! Diraaa.... Kamu ini bagaimana? Masak orang yang sudah menyelamatkan Kiara, kamu jadikan anak magang?" bentak Widya. Ia sudah siap mencubit paha Dira dengan gemas.
"Bukan anak magang, Mamae. Juna lagi training. Dia dipersiapkan untuk memimpin perusahaan yang di Spanyol" sahut Dira santai.
"Perusahaan? Emang lu ada cabang di sana?" Kiara yang sejak tadi duduk dipeluk oleh calon suaminya, kini angkat bicara.
"Ada. Perusahaan baru. Kerja sama dengan perusahaan calon laki elu."
"Perusahaan apa? Kenapa Elang nggak cerita?" tanya Kiara.
"Elang juga nggak tahu. Sudah kita dengerin aja" bisik Elang, calon suami Kiara.
"Itu lho perusahaan jersey bola. Gue kemaren udah ngomong sama Bapaknya Elang. Sudah tanda tangan kontrak juga sama Brand Ambassadornya" jawab Dira.
"Siapa Brand Ambassadornya?" tanya Kiara.
"Valentino Rossi" jawab Dira pendek.
Krik... Krik... Krik...
Semua orang yang berada di kamar itu diam. Mereka berada di dalam satu frekuensi, merasa aneh dengan nama yang disebutkan oleh Dira.
"Sayang, Valentino Rossi bukannya yang main catur?" tanya Kiara pada Elang.
"Bodoh kalian berdua!" umpat Dira.
"Valentino Rossi itu pemain sepak bola. Gue udah kenalan kemarin pas tanda tangan" jawab Dira sombong.
"Tapi Valentino Rossi itu bukan pemain sepak bola, Dira. Mama pernah liat dia ada di televisi sama pelawak, jualan sepeda motor" kata Widya.
Melihat kekonyolan keluarga bosnya, membuat Juna tak bisa menahan tawanya. Bagaimana mungkin Dira menjadikan Valentino Rossi sebagai brand ambassador jersey sepak bola sedangkan Valentino Rossi adalah seorang pembalap? Juna ingin tertawa ngakak. Namun, sebisa mungkin ia tahan karena melihat tampang Dira yang sudah siap melotot kepadanya.
"Maaf, Tuan dan keluarga. Valentino Rossi itu pembalap motoGP bukan seperti yang kalian sebutkan tadi" Juna kembali cekikikan.
"Sok tahu lu, Juned. Saya itu CEO terbaik di dunia lho, nggak mungkin salah" kata Dira tak terima.
"Saya dulu guru olahraga, Tuan. Jadi saya tahu kalau Valentino Rossi itu pembalap motoGP bukan pemain bola apalagi pemain catur" kata Juna lagi.
Wajah Dira berubah menjadi merah padam. Ia hendak menghampiri Juna. Namun, secepat kilat menarik tangannya dan menyuruh Dira duduk saja bersama Edward.
"Maaf ya nak Juna. Anak Mama yang satu itu memang unik. Kamu pasti sering menjadi korban amukan hatinya yang sepi" kata Widya. Ia menghampiri Juna dan menggemgam tangannya.
"Om Edo.... Om...! Om Edooo.... Om....! Ini Mamae lagi caper ama brondong kaki lima" teriak Dira.
"Ngawur lu!."
Buggg...
Kiara melempar bantal yang langsung mendarat di muka Dira. Sudah tahu di rumah sakit masih saja teriak-teriak di hutan.
__ADS_1
"Apaan sih Kiara????" teriak Dira.
"Lu yang apa-apaan? Teriak-teriak kayak ada maling di kamar gue."
Kiara melambaikan tangannya ke arah Juna. Ia memberi kode kepada Juna agar mendekat ke arahnya.
Juna mengangguk. Ia berjalan perlahan mendekati Kiara yang masih duduk di atas brangkar sembari dipeluk oleh calon suaminya.
"Adem" batin Juna.
Melihat kemesraan antara Kiara dan calon suaminya membuat Juna tersipu. Andai saja yang memeluk Kiara adalah Juna, pasti Juna akan bahagia lahir batin dibuatnya.
"Hei, kenapa senyam senyum? Kesambet lu" teriak Dira. Jangan lupakan lemparan sepatu Dira yang sukses mengenai kaki Juna.
"Dira...! Kamu nakal sekali" tegur Widya. Ia mengambil sepatu Dira yang tadi mengenai Juna. Widya memukul bokong Dira dengan sepatu itu. Kesal, Widya sungguh kesal dengan tingkah anak sulungnya itu.
"Mas Juna, maaf ya keluarga kami memang heboh seperti ini. Sebelumnya saya mengucapkan terima kasih kepada Mas Juna yang sudah memberi informasi kepada Om Edo sehingga saya dapat ditemukan" kata Kiara.
Juna mengangguk.
"Saya sungguh merasa tidak enak karena baru bertemu Mas Juna sekarang. Harusnya sudah dari kemarin-kemarin saya menemui Mas Juna untuk mengucapkan terima kasih."
"Nggak perlu! Gue udah ngirim karangan bunga ke rumahnya Juna. Ada tulisannya gede pula keluarga Sanjaya mengucapkan terima kasih atas bantuan saudara" ucap Dira enteng.
Kiara nyengir kuda. Ia benar-benar malu dengan tingkah Dira. Bagaimana bisa Dira dengan santainya berbicara seperti itu? Dihadapan orang baru seperti Juna lagi.
Tiba-tiba saja, kedua netra Kiara melihat ID card yang dikalungkan di leher Juna. Sekilas ia melihat nama Juna yang panjang sekali. Tangan Kiara meraih ID card milik Juna dan tentu saja kedua bola matanya langsung melebar ketika melihat nama lengkap Juna.
"Mayjuna July Agustino? Nama Mas Juna?" tanya Kiara. Ia menatap wajah Juna dengan tatapan tak percaya.
Juna gelagapan. Ia bingung mau menjawab apa. Mau jujur, di sana ada Dira. Tidak jujur, ia malu mengakui nama aneh itu. Juna dilema. Apa yang harus ia ucapkan untuk menjawab pertanyaan Kiara?
"Seriusan itu nama Mas Juna?" kali ini Elang yang bertanya. Pasalnya ia juga merasa aneh dengan nama panjang Juna.
"Iyaaaa. Kalian terkesima ya sama nama dia?" tanya Dira sombong, ia menyugar rambutnya ke belakang. Persis seperti sedang syuting iklan shampo.
"Kok kayak nama-nama bulan?" tanya Kiara tak percaya.
"I... i... tu, Nona. Tuan Dira mengubah nama saya menjadi itu. Nama asli saya Ahmad Junaidi. Tapi Tuan Dira mengubah menjadi nama itu" jawab Juna takut.
"APA?!" Kiara, Elang dan Widya berteriak bersamaan.
"Kamu ini masih waras apa tidak sih Dira???? Bagaimana bisa kamu seenaknya mengubah nama anak orang? Kamu ya, sudah nggak ikut nanam saham, nggak ikut ngerawat malah seenaknya ganti nama" teriak Widya. Ia sudah tidak tahan untuk mencubit Dira dengan gemas.
"Tenang, Mamae.... Tenang! Nama dia itu nggak bawa hoki. Dira mungut dia dalam keadaan mengenaskan. Oleh sebab itu, atas dasar jiwa kekeluargaan yang dimiliki Dira. Dira mengubah nama Juna biar lebih hoki."
"Hoki gundulmu! Mama tidak mau tahu. Jangan ubah nama asli Juna..."
"Tidak bisa Mamae. Edward sudah mengajukan permohonan untuk ganti nama ke pengadilan."
"APA?!" lagi-lagi Widya, Elang dan Kiara berteriak bersamaa.
"Hei, lu mikir dikit dong. Masak iya anak orang lu beri nama-nama bulan? Yang cakepan dikit kek" protes Kiara.
"Kurang cakep apa sih? Mayjuna July Agustino, keren, nggak kampungan, dan berbau espanyola. Cocok tuh buat Juna yang bakalan gue kirim ke Spanyol."
"TERSERAH....!!!!" Ibu, anak, dan menantu kompak memarahi Dira.
__ADS_1
Di saat suasana mencekam di kamar Kiara sedang berlangsung, pintu kamar terbuka. Muncullah seorang dokter dan seorang perawat yang akan memeriksa keadaan Kiara.
Juna menoleh ke belakang. Jantungnya seakan mau copot ketika melihat perempuan yang muncul dengan memakai snellinya.