HEI JUN

HEI JUN
114


__ADS_3

Pesawat tujuan surabaya-jakarta baru saja mendarat. Diandra langsung berjalan tergesa-gesa sembari terus mengomel kepada Zeze yang menurutnya lelet.


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore. Kemungkinan Diandra tidak bisa menemui Juna sekarang. Hal ini terjadi karena Zeze yang tiba-tiba mules. Sehingga mereka tidak bisa langsung berangkat.


Belum lagi Zeze yang lupa membawa koper sehingga mobil yang dikendarai Diandra harus putar balik. Sesampainya di rumah kontrakan, si pemilik rumah malah pergi.


Diandra kesal, sangat-sangat kesal. Ia yang tidak sabar langsung mendobrak pintu rumah kontrakan itu. Tak peduli jika nanti Diandra akan mendapatkan masalah. Toh, Diandra punya banyak uang untuk menutup mulut pemilik rumah kontrakan.


Perjalanan menuju Surabaya juga tidak mulus. Macet akibat pasar tumpah dan banyaknya orang-orang yang meminta sumbangan di pinggir jalan, memperlambat laju mobil yang dikendarai Diandra.


Zeze dan Mbok De harus menyumpal kedua telinga mereka karena Diandra tak henti-henti mengumpat, meneriaki orang-orang agar memberi mereka jalan. Mungkin saja orang-orang diluaran sana mengira Diandra adalah orang gila.


"Kalau aku sampai gagal bertemu Juna, kamu akan aku cuci ke penggilasan" ancam Diandra pada Zeze.


Untung saja Zeze memasang headset, ia menyetel lagu K-pop kesukaannya sehingga omelan Diandra tidak ia dengar.


Diandra terus melangkah terburu-buru sembari menarik kopernya. Diandra langsung memilih naik taksi saja karena ia sudah malas jika harus menunggu lagi.


"Kita cari kontrakan lagi, Di?" tanya Zeze.


"Tidak! Kita akan menginap di hotel" jawab Diandra.


"Dian, jangan membuang-buang uangmu! Kita sudah lama berkelana, menginap di sana - sini. Tidak inginkah kau untuk pulang ke Bali?" bujuk Zeze lagi.


"Tidak! Aku harus bertemu dengan Juna terlebih dahulu. Dia harus bertanggung jawab kepadaku."


"Bertanggung jawab seperti apa, Diandra? Pak Mayjuna tidak bersalah."


"Dari mana kau tahu jika Juna tidak bersalah? Kau tidak ada di TKP saat kami bercinta" skak mat Diandra.


"Benar juga" Zeze menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia sepertinya salah bicara kepada Diandra.


Diandra segera masuk ke dalam taksi diikuti oleh Zeze dan Mbok De. Ia menyuruh sopir taksi itu untuk mengantarkannya ke Sanjaya corp. Namun, lagi-lagi Zeze mencegahnya. Menurut Zeze jam - jam segini pastilah sudah mendekati jam pulang kantor. Zeze tidak yakin jika Diandra bisa bertemu dengan Juna. Oleh sebab itu, Zeze menyarankan agar mereka langsung saja ke hotel sembari beristirahat sejenak.


Diandra diam, memikirkan saran Zeze. Zeze juga meminta Diandra untuk memperhatikan keadaan Arjuna. Pastilah balita itu kelelahan karena dibawa terbang ke sana ke sini.


Akhirnya Diandra mau menanggalkan egonya. Ia menyuruh sopir taksi agar mengantarkan mereka ke hotel terdekat. Biarlah besok Diandra akan menemui Juna. Rasanya memang jam - jam sekarang kemungkinannya kecil untuk bertemu Juna.


Diandra harus mengatur strategi dulu. Ia harus merancang rencana agar ketika dirinya bertemu Juna, Juna bisa bertekuk lutut kepadanya.


Diandra mengingat-ingat wajah Juna ketika mereka bertemu. Jika ditelisik memang wajah Juna sangat jauh berbeda. Pantaslah jika Diandra tidak langsung mengenali Juna. Diandra hanya heran mengapa Juna bereaksi biasa-biasa saja saat bertemu dengannya? Apalagi ketika Juna datang ke kontrakan Diandra, Juna seperti menganggap Diandra sebagai orang asing.


Sepertinya Diandra harus mengulangi malam panas mereka agar Juna terus terbayang-bayang akan dirinya dan tidak mau lepas dari dekapan Diandra. Rasanya Diandra juga rindu dengan belalai Juna yang dulu pernah ia cicipi.

__ADS_1


"Ibu, sudah sampai. Ini adalah hotel terdekat dari bandara" kata sopir taksi itu sopan.


Diandra melihat argo hang tertera di layar. Ia mengeluarkan uang dan langsung keluar dari taksi tanpa meminta uang kembaliannya.


Diandra menyuruh Zeze untuk memesan dua kamar. Ia memilih untuk duduk di sofa karena kakinya pegal. Zeze yang penurut langsung saja menuju meja resepsionis dan memesan dua kamar sesuai perintah Diandra.


Usai menyelesaikan berbagai administrasi, Zeze menerima dua key card. Ia langsung menghampiri Diandra dan menyerahkan key card itu.


"Kamu tidur bersama Mbok De! Biar Arjuna malam ini bersamaku" perintah Diandra yang segera diiyakan oleh Zeze.


Mereka menuju kamar masing-masing diantar oleh seorang bell boy.


"Cepatlah tidur karena besok kau akan mengantarku untuk bertemu Juna" kata Diandra memperingatkan Zeze sebelum mereka masuk ke dalam kamar masing-masing.


***


Pagi hari,


Dua gadis berbeda usia itu sudah nongkrong di lobby Sanjaya corp. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Namun, mobilitas karyawan Sanjaya corp sudah terlihat.


Diandra dan Zeze sengaja tidak langsung menuju resepsionis. Mereka memilih duduk terlebih dahulu karena lelah. Rupanya baik Diandra maupun Zeze sama-sama tidak bisa tidur.


Zeze tidak bisa tidur karena memikirkan hari ini sedangkan Diandra tidak bisa tidur karena Arjuna yang tiba-tiba rewel sehingga membuatnya begadang. Mereka berdua baru bisa tidur saat dini hari. Namun, karena Diandra sudah bertekad untuk bertemu Juna, dirinya bisa juga bangun pagi tanpa alarm.


"Sudah sepi, Dian. Sana kalau mau ke resepsionis" kata Zeze.


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya resepsionis itu.


"Selamat pagi, Mbak. Saya ingin bertemu dengan Pak Mayjuna" kata Diandra.


"Pak Mayjuna? Maksud Anda Mayjuna July Agustino?" tanya resepsionis itu memastikan.


Diandra mengangguk.


"Maaf, dengan Ibu siapa?."


"Saya Diandra, istri pertamanya."


"APA???!!!" teriak resepsionis itu.


"Maaf, Mbak! Jangan ngehalu di sini! Pak Juna hanya menikah sekali, punya istri juga satu."


"Siapa yang ngehalu sih? Saya memang istri Pak Juna. Kalau kamu tidak percaya, panggil Juna sekarang" tantang Diandra.

__ADS_1


Resepsionis itu mengelus dada. Ia kemudian menekan interkom yang terhubung pada Lita. Resepsionis itu berbicara sembari berbisik, sesekali terlihat mengangguk. Selang beberapa menit, resepsionis itu mengakhiri obrolannya.


"Maaf, Mbak. Pak Mayjuna sedang menghadiri acara pernikahan kolega bos besar di Spanyol, itupun beliau bersama istrinya. Saya kan sudah bilang jangan ngehalu! Pak Mayjuna sudah punya istri. Tidak mungkin istrinya ketinggalan di sini sedangkan Pak Mayjuna sedang kondangan. Ngadi-ngadi deh, Mbaknya" kata resepsionis itu sembari tertawa.


Wajah Diandra langsung merah padam, campuran marah-kesal-malu. Sepertinya Diandra sedang tidak beruntung karena dirinya tidak bisa bertemu Juna sekarang.


Diandra memilih meninggalkan meja resepsionis dan menghampiri Zeze.


"Juna ke Spanyol. Dia tidak ada di sini."


Zeze langsung bernafas lega mendengar penuturan Diandra. Setidaknya dirinya tidak akan melihat drama kolosal antara Diandra dan Juna.


"Kalau begitu, kita pulang saja ya Dian. Aku juga langsung ke bandara saja. Pekerjaanku menumpuk. Aku bisa dipecat jika belum kembali juga ke Bali" ucap Zeze cemas.


Diandra mengangguk. Akhirnya mereka keluar dari kantor Sanjaya corp, menaiki taksi yang berbeda karena tujuan mereka berbeda. Diandra akan kembali ke hotel sedangkan Zeze akan ke bandara.


Zeze memeluk Diadra sebelum dirinya masuk ke dalam taksi. Meskipun Diandra menakutkan akhir-akhir ini, tetap saja Zeze merasa berat meninggalkan Diandra.


"Hotel Swift ya, Pak" ucap Diandra yang langsung dijawab anggukan kepala oleh supir taksi itu.


Mobil taksi yang ditumpangi Diandra melaju perlahan, memecah jalanan ibu kota yang padat merayap. Diandra yang sedang asyik dengan ponselnya tidak memperhatikan jika taksi yang ia tumpangi sudah membawanya jauh dari jalanan ibu kota.


"Hei.. Kenapa lewat jalan sepi? Pak, saya mau ke hotel Swift. Seingat saya tidak lewat sini" kata Diandra sembari menepuk-nepuk bahu Pak Sopir.


"Jalanan macet, Bu. Jadi saya mengambil jalan tikus" jawab sopir itu.


Diandra percaya saja. Ia kembali asyik dengan ponselnya, mengutak-atik akun media sosialnya yang sudah lama tidak menampilkan update an dari foto-fotonya.


Ckkiiittt...


Taksi berhenti mendadak. Tubuh Diandra nyaris terpental ke depan. Dua orang laki-laki, berperawakan tinggi besar masuk ke dalam taksi melalui pintu depan dan pintu belakang. Laki-laki itu mengenakan jaket kulit hitam dan berkacamata hitam.


Diandra langsung meringsut. Ia sedikit panik mendapati dua orang asing yang tiba-tiba masuk ke dalam taksi.


"Hei, kalian siapa? Mengapa menumpang taksi ini?" tanya Diandra.


Laki-laki yang duduk di samping Diandra menoleh ke arahnya. Ia tersenyum sinis dan...


"Hhmmpphhffttt"."


Laki-laki itu menutup mulut Diandra dengan sapu tangan. Dan... Cling...


Diandra mulai lemas dan akhirnya tumbang. Laki-laki itu tertawa senang. Ia kemudian mengambil ponsel di saku celananya dan menelepon seseorang.

__ADS_1


"Bos Arya! Target sudah berhasil dilumpuhkan. Kami bawa ke mana bos?" tanya laki-laki itu.


"Bawa ke Surabaya! Hotelku masih beroperasi sampai nanti malam" kata Arya menyeringai lebar.


__ADS_2