HEI JUN

HEI JUN
28


__ADS_3

Juna langsung mematung ketika melihat tubuh Bu Tias terbaring kaku di tempat tidur. Tubuhnya sudah ditutupi kain kafan dan kedua netranya sudah tertutup rapat.


"Mimpi...!!! Aku pasti bermimpi!!!" teriak Juna dalam hati.


Juna tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Pasalnya ia dan Bu Tias masih berinteraksi tadi pagi. Bu Tias tidak sakit, Bu Tias tidak pergi kemana-mana.


Tadi pagi Juna masih sempat berpamitan kepada Bu Tias. Beliau juga membuatkan secangkir teh hangat untuk Juna. Lalu bagaimana bisa Juna percaya jika jasad yang berbaring di hadapannya adalah Bu Tias?


"Bukan! Itu bukan Emak! Itu pasti bukan Emak!" jerit Juna dalam hati.


Juna segera berlari memecah kerumunan orang-orang yang sedang mengaji untuk Bu Tias. Air matanya langsung tumpah ruah ketika memeluk tubuh Bu Tias yang sudah dingin.


"Emak.... bangun, Mak" ucap Juna sambil menggoyang-goyangkan tubuh Bu Tias


"Emak... bangun, Mak!!! Jangan tinggalin Juna, Mak!."


Juna menangis meraung-raung. Tak peduli jika dirumahnya sedang banyak pelayat yang datang. Beberapa di antara mereka mendekati Juna, membisikkan kata-kata sabar di telinganya. Namun, semua ucapan mereka tidak direspon oleh Juna.


Juna terlalu larut dalam kesedihan. Baru saja hatinya hancur karena dipecat secara tidak hormat oleh pihak sekolah dan sekarang hati Juna kembali remuk dengan kepergian Bu Tias untuk selama-lamanya.


"Juna..."


Ines dan Haris memeluk Juna dengan erat. Ketiga kakak beradik itu saling berpelukan dalam tangis.


"Emak...." panggil Juna lagi. Ia tak bisa berkata apa-apa selain memanggil Emak. Berharap Bu Tias bangun dari tidurnya.


"Emak sudah pergi, Jun" kata Haris.


"Tidak, Mas, Emak masih hidup!!! Emak belum pergi. Emak masih hidup...!!!" teriak Juna.


"Emak masih sehat, Mas. Tadi Emak membuatkan teh hangat untukku. Emak... bangun, Mak. Jangan tinggalkan Juna, Mak..."


"Kita harus ikhlas, Jun, agar Emak tidak berat melangkah. Mbak... mbak... juga... " Ines tak meneruskan kalimatnya. Tangisnya pecah sebelum ia bisa melengkapi ucapannya.


Haris menarik tangan Juna dan Mbak Ines. Ia mengatakan jika jenazah Bu Tias akan segera dimakamkan karena semua proses sudah dilaksanakan. Mereka memang sengaja menunggu Juna untuk menguburkan jenazah Bu Tias agar Juna bisa melihat Emaknya untuk terakhir kali.


Juna dan Ines mundur. Beberapa orang mengangkat jasad Bu Tias dan memindahkannya ke dalam keranda. Juna dan Haris menutup keranda, memasangkan kain dan meletakkan beberapa rangkaian kalung bunga di atasnya. Mereka dibantu beberapa tetangga menggotong keranda menuju pemakaman umum, tempat peristirahatan Bu Tias yang terakhir.


Selama diperjalanan, Juna tak henti-hentinya menangis. Dunianya benar-benar runtuh sekarang. Tuhan... Mengapa kau ambil Emak secepat ini? Mengapa kau menghukumku seperti ini? Apa dosaku, Tuhan? Bagaimana nasibku selanjutnya?, jerit Juna dalam hati.


Tiba di area pemakaman, Juna bisa melihat liang lahat Bu Tias sudah jadi. Ia segera menurunkan keranda yang sejak tadi dipanggul.


"Kau mau turun?" tanya Haris.


Juna mengangguk.


Juna dan Haris turun ke liang lahat, meletakkan jenazah Bu Tias di peristirahatannya yang terakhir. mereka melakukan semua proses pemakaman Bu Tias sampai selesai. Orang-orang yang tadi mengantarkan jenazah Bu Tias langsung pamit pulang setelah proses pemakaman selesai.


Ines datang menghampiri Juna dan Haris. Ia menaburkan bunga-bunga di pusara Bu Tias. Haris mengadahkan kedua tangannya, berdoa untuk almarhumah Bu Tias.


"Ayo pulang!" ajak Haris setelah ia selesai memanjatkan doa untuk Bu Tias.


Juna menggeleng. Ia masih ingin menemani Bu Tias disini. Juna masih ingin menumpahkan segala kesedihannya, berkeluh kesah di samping pusara Bu Tias.

__ADS_1


"Ayo, kita pulang! Ada hal yang harus kita bahas" kata Ines. Ia menarik tangan Juna agar bangkit dan segera pergi dari pusara Bu Tias.


____***____


"Jelaskan apa yang terjadi!" perintah Haris saat mereka sudah tiba di rumah.


Saat ini mereka bertiga duduk mengelilingi meja makan, tempat di mana dulu mereka sering bertengkar karena rebutan lauk saat makan.


"Aku tidak tahu, Mas."


"Bagaimana mungkin kau tidak tahu? Emak langsung ambruk ketika melihat foto-fotomu!" bentak Haris.


"Foto? Foto apa, Mas?" tanya Ines.


Haris bangkit dari kursi. Ia melangkah menuju kamar Bu Tias. Tak lama Haris keluar sembari memegang beberapa lembar foto yang langsung ia lempar ke wajah Juna.


"Pak RT menemukan Emak ambruk dengan tangan memegang foto-foto itu."


Juna dan Ines mengambil foto itu. Seketika kedua bola mata Juna membulat melihat foto apa yang tercetak dikertas itu. Ini bagaimana bisa? Bagaimana bisa BuTias mendapatkan foto itu?


"Juna !" Ines berteriak. Ia menatap tajam ke arah Juna.


Juna menggeleng. Ia ingin sekali berteriak membela diri. Namun, entah mengapa mulutnya tertutup rapat seperti terkunci secara otomatis.


"Apa kau sudah gila, Jun? Mengapa kau bermain api dengan istri orang? Dimana otakmu sampai kau tidak berfikir jernih?" bentak Haris.


"Jun, katakan! Foto ini rekayasa kan? Ini bukan kamu, kan?" tanya Ines dengan nada suara bergetar.


"Itu bukan rekayasa, Ines! Apa kau tidak bisa melihat dengan jelas siapa yang ada di foto itu?."


"Lalu kalau bukan Juna, siapa hah? kembarannya? Kita berdua tahu jika Emak hanya melahirkan satu anak laki-laki saat Juna lahir."


"Mas Haris, Mbak Ines..." panggil Juna dengan kepala menunduk.


"Foto itu asli bukan rekayasa" kata Juna pelan.


Plak.


Haris langsung menampar Juna bersamaan dengan suara teriakan Ines.


"Dengarkan aku dulu, Mas. Aku dijebak oleh Diandra. Dia menculikku dan memberikanku obat perangsang. Aku melakukan itu karena pengaruh obat, Mas, bukan karena keinginanku sendiri."


"Bodoh! Bodoh kamu, Juna!" teriak Haris frustasi


"Bagaimana mungkin kau bisa kalah dari perempuan seperti Diandra?."


"Mas... Diandra sudah tidak seperti dulu. Dia sekarang punya kuasa dan yang membuatku kaget. Diandra berubah menjadi sosok yang nekat" kata Juna memotong ucapan Haris.


"Alah.... kamu saja yang lemah, Jun! Gara-gara kelakuanmu itu Emak meninggal. Kamu penyebab Emak meninggal. Kamu pembunuh, Jun!."


"Mas Haris, hentikan memojokkan Juna!" teriak Ines.


"Sudah, Mas. Jangan saling menyalahkan! Kau dengar sendiri perkataan Juna. Ia dijebak oleh Diandra. Juna tidak mungkin sengaja melakukan ini" bela Ines lagi.

__ADS_1


Haris memukul meja dengan keras. Ia mengumpat berkali - kali sembari terus memukul-mukul meja makan. Juna dan Ines diam. Mereka paham jika Haris sedang diselimuti emosi.


"Lalu apa yang akan kamu lakukan selanjutnya?" tanya Haris.


"Aku tidak tahu, Mas. Aku juga baru saja dikeluarkan dari sekolah" kata Juna pelan.


"APAAAAA???!!!" Haris dan Ines berteriak bersamaan.


"Pak Zaini juga mendapatkan foto-foto itu bahkan menurut temanku video adegan panasku sudah ramai di media sosial."


Brakkkk


Haris dan Ines memukul meja secara bersamaan.


"Gawat. Ini sudah gawat" kata Ines cemas.


"Bisa tambah runyam jika keluarga Pak Narto menyeretmu ke penjara lagi" tambah Haris.


"Tapi kan ini ulah Diandra! Aku hanya korban, Mas. Aku hanya korban" teriak Juna tak terima.


"Foto ini tidak menunjukkan kamu korban. Kau dan Diandra sama-sama menikmati permainan ranjang kalian" kata Haris.


"Kita tidak bisa diam, Mas. Kita harus bergerak cepat. Kau tahu sendiri Pak Narto mempunyai kuasa di sini. Bisa saja dia mengumpulkan massa untuk mengepung Juna. Kita harus bergerak, Mas. Harus!!!" kata Ines bertambah cemas.


Hening. Tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara. Haris dan Ines nampaknya sedang berfikir mencari solusi untuk menyelamatkan Juna. Bagaimanapun sebagai kakak sudah seharusnya melindungi adiknya. Apalagi dalam kasus ini, Juna tidak bersalah. Namun, bukti foto yang tersebar bisa menjadi masalah jika ada pihak yang melaporkan Juna.


"Pergilah ke Pare!" kata Haris.


"Pare? Kediri, Mas? ke kampung Bapak?" tanya Ines yang dijawab anggukan kepala oleh Haris.


"Pergilah ke rumah Paman Mudani! Tinggallah di sana! Rumah ini akan Mas jual dan uangnya akan Mas berikan kepadamu."


"Tidak, Mas...!" sergah Juna cepat.


"Menurutlah, Jun! Ini demi kebaikanmu. Ines setuju dengan ide Mas Haris. Kau harus pergi dari sini. Kau memang bukan kriminal. Tapi Mbak khawatir jika kau masih di sini, keluarga Narto akan terus mengganggumu" kata Ines.


"Tapi aku tidak mau rumah ini dijual."


"Tidak ada pilihan. Kamu harus benar-benar menghilangkan jeja. Lagipula Bapak masih mempunyai sepetak tanah di Pare dan kalau tidak salah juga sebuah rumah" kata Haris.


"Tanah? Rumah? Kenapa aku tidak tahu, Mas?" tanya Juna.


"Emak memang merahasiakan darimu, Jun. Itu adalah jatah warisan untukmu. Rencananya Emak akan menjualnya jika kamu menikah" kata Ines menjelaskan.


"Kalau kamu ingin tahu lebih banyak, tanyalah kepada Paman. Berkemaslah sekarang! Kamu akan berangkat ke Pare hari ini. Aku akan menghubungi Paman untuk memberitahu perihal kedatanganmu" kata Haris.


"Tapi, Mas...."


"Tidak ada bantahan, Jun. Kita harus bergerak cepat. Apa kamu mau mendapat masalah lagi dengan keluarga Pak Narto?" tanya Haris kesal.


Juna menggeleng.


"Turuti kata Mas Haris. Kamu berangkatlah ke Pare. Rumah ini biarkan saja kosong. Baru seminggu lagi Mbak akan kesini untuk melihat keadaan" kata Ines.

__ADS_1


Juna mengangguk kemudian pergi meninggalkan ruang makan. Ia bergegas berkemas-kemas sesuai perintah kedua kakaknya. Juna bisa melihat jika Haris dan Ines tetap berada di ruang makan. Mereka sedang berdiskusi mengatur rencana kepindahan Juna ke Pare agar berjalan aman dan lancar.


__ADS_2