HEI JUN

HEI JUN
22


__ADS_3

Area 21+


yang masih bocil. Skip aja ya


Juna menatap dengan malas amplop coklat yang berisi surat tugasnya ke Surabaya. Pak Zaini kembali mengirimnya sebagai delegasi dari SMa Cendekia untuk mengikuti diklat peningkatan kualitas tenaga pengajar di Surabaya.


Juna tak habis pikir mengapa diklat ini selalu diadakan tiap tahun? Apakah tidak ada diklat lainnya yang bisa Juna ikuti? Juna sampai bosan bertemu dengan instruktur-instruktur yang sama setiap tahunnya. Ia sudah hatam dan tamat dengan materi dalam pelatihan-pelatihan yang diberikan. Tapi namanya juga Juna, meskipun sudah hatam tetap saja tidak dipraktekkan sehingga pelatihan itu seperti tak berdampak apa-apa baginya.


"Kenapa lesu, Jun?" tanya Andika yang baru tiba di ruang guru. Ia langsung menarik kursi dan duduk di hadapan Juna.


Juna tak menyahut. Ia melemparkan amplop coklat itu kepada Andika.


"Oh... dapat tugas lagi. Semangat ya, Jun. Lumayan kan uang transportnya" kata Andika lagi.


Juna menghela nafas. Mendengar ucapan Andika tadi membuatnya bertanya - tanya mengapa Pak Zaini selalu saja menyuruhnya untuk mengikuti pelatihan-pelatihan itu? Apa karena Pak Zaini merasa kemampuan mengajar Juna yang rendah? Atau Pak Zaini kasihan kepada Juna agar ia bisa mendapat uang tambahan dari mengikuti pelatihan itu?


"Ngomong-ngomong guru SMP Cendekia yang namanya Farhah juga ikut lho, Jun."


"Terus?."


"Ya coba aja kenalan. Siapa tahu cocok" kata Andika tertawa kecil.


Juna menggeleng. Ia tidak berminat lagi berkenalan dengan perempuan. Cukup Diandra dan Lia yang membuatnya terluka. Juna masih belum mau membuka kembali hatinya.


Juna sudah tidak peduli dengan deadline tiga bulan yang diberikan Bu Tias. Jika memang sampai batas waktu yang ditentukan Juna belum juga menemukan pendamping, ia akan pasrah dengan kemauan Emaknya. Menikah dengan siapa saja akan Juna terima.


"Nih..." Andika menyodorkan ponselnya.


"Fotonya Bu Farhah. Biar nggak salah orang kalau mau kenalan" kata Andika lagi membuat Juna langsung angkat kaki dari ruang guru.


Juna bergegas meninggalkan SMA Cendekia dengan motornya. Ia akan pulang terlebih dahulu, bersiap-siap untuk berangkat ke Surabaya. Untuk kali ini para peserta tidak disediakan transportasi. Sehingga Juna berangkat sendiri menggunakan bus antar kota.


Juna memilih berjalan kaki karena letak terminal bus memang tidak jauh dari rumah Juna. Untung saja bus yang ia tunggu segera datang. Juna memilih bus kelas ekonomi. Karena memang tarifnya yang lebih murah dari pada bus patas.


Juna segera mencari bangku yang kosong dan duduk sembari menunggu bus itu penuh dengan penumpang. Tiba-tiba seorang laki-laki menghampiri tempat duduk Juna. Laki-laki itu memakai masker, berkacamata hitam dan memakai topi sehingga Juna tidak dapat melihat wajahnya.


"Maaf, Mas kursi sebelahnya kosong?."


"Kosong, Pak. Silakan kalau mau duduk!" jawab Juna. Ia mengambil tasnya yang tadi diletakkan di kursi kosong sebelah Juna.


Laki-laki itu duduk.


"Mau kemana, Mas?" tanya laki-laki itu.


"Ke Surabaya, Pak. Ada pelatihan di hotel Umami."


"Berarti turun di terminal Purabaya?."


"Iya, Pak" jawab Juna jujur tanpa merasa aneh ataupun curiga kepada laki-laki itu.


"Oh, sama berarti. Untunglah jadi saya tidak repot berdiri-duduk, karena kita akan turun di tempat yang sama."


Juna mengangguk dan entah mengapa ia tidak ingin terlibat pembicaraan lagi dengan laki-laki itu. Juna memilih memalingkan wajahnya menatap ke luar jendela.


Akhirnya bus yang Juna tumpangi melaju. Juna berdoa semoga ia sampai ke tujuan dengan selamat.


"Asli orang sini, Mas?" laki-laki itu memulai pembicaraan lagi.


"I... i.. ya, Pak."


"Nama saya Anton. Kamu?."

__ADS_1


"Saya Juna, Pak."


Juna melirik pria itu. Ternyata dia memakai earphone di telinganya. Juna merasa sedikit curiga. Namun, ia segera menyadarkan dirinya agar tidak berburuk sangka kepada orang lain.


Juna memilih tidur agar tidak terlibat pembicaraan dengan pria itu. Baru saja terlelap, Juna dikagetkan dengan teriakan pedagang asongan yang menjajakan jualan. Ia membuka mata dan mendapati bus sedang berhenti di SPBU.


"Minum, Mas?" laki-laki itu menawari sebotol air mineral kepada Juna.


"Tidak usah, Pak. Saya tidak haus."


"Ambil saja nggak papa, Mas. Kebetulan saya tadi beli dua. Soalnya tidak ada kembalian."


Juna menerima air mineral itu. Rasanya tidak enak menolak kebaikan orang lain. Juna takut jika laki-laki itu tersinggung jika ia kembali menolak menerima tawarannya.


Berhubung cuaca memang sangat panas dan bus ekonomi itu memang tidak dilengkapi dengan AC. Maka bisa dibayangkan bagaimana rasanya berada di dalam bus itu.


Juna membuka botol air mineral itu dan meneguknya. Ia bersyukur sekali karena laki-laki itu membeli air mineral yang dingin. Juna meneguk air mineral itu hingga tanpa ia sadari air itu telah tandas. Juna menggigit bibirnya. Benar-benar memalukan! Menolak tapi dihabiskan.


Bus kembali melaju dan entah mengapa tiba-tiba Juna merasa mengantuk. Kedua matanya terasa berat. Aneh padahal Juna baru saja tidur dan sekarang ia kembali mengantuk. Tidak butuh lama, Juna kembali terlelap tanpa tahu apa yang terjadi selanjutnya.


***


Juna tersentak kaget ketika kedua netraku terbuka. Ia menggerakkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Merasa asing dengan tempat yang Juna singgahi sekarang.


Juna berada di sebuah kamar yang ia tidak tahu pemilik kamar itu? Melihat dari desain dan tata letak ruangan itu, Juna menduga jika ia berada di kamar hotel. Hmmm... bagaimana bisa? Seingatnya Juna sedang dalam perjalanan menuju Surabaya.


Juna mencoba bangkit. Namun, ia merasakan nyeri di kedua tangan dan kakinya. Juna terkejut ketika mendapati dirinya sedang berbaring dengan keadaan kedua tangan dan kaki yang diborgol.


Klek...


Pintu kamar terbuka. Juna berusaha untuk melihat siapakah yang masuk meskipun itu sia-sia. Ia bisa mendengar derap langkah seseorang mendekatinya. Junapun panik. Berbagai pikiran negatif langsung bermunculan di otaknya.


"Haii, sayang. Rupanya kau sudah bangun."


"Aku tahu kau pasti lapar. Jadi aku membawakan makanan untukmu."


"Diandra... kau?."


"Ya, sayang. Kenapa? Kau sudah lapar sekali ya?" tanya Diandra dengan seringai liciknya yang membuat Juna was-was.


"Apa maumu, Di? Kamu menculikku?."


"Menculik? Mana mungkin aku menculikmu, Sayang. Aku hanya membawamu kesini untuk bersenang-senang" jawab Diandra santai.


"Lepaskan aku, Di! Aku tidak mau di sini!."


"Ssstttt.... jangan berteriak! Nanti kau akan aku lepaskan jika sudah waktunya. Sekarang kau makan dulu karena kau butuh banyak asupan tenaga untuk bersenang-senang denganku nanti" kata Diandra lalu tanpa permisi mencium bibir Juna dengan lembut.


"Hmmmfff... Di....."


"Kenapa? Kurang? Sabar ya, sayang. Itu masih hidangan pembuka. Sekarang makan dulu" kata Diandra dan ia mulai menyendokkan makanan ke mulut Juna.


Juna menggeleng, menolak disuapi oleh Diandra. Tapi bukan Diandra namanya jika apa yang ia inginkan tidak dituruti. Tangan kiri Diandra mencengkram rahang Juna, memaksanya agar terus terbuka. Dengan begitu tangan kanannya bisa menyuapi Juna dengan leluasa.


"Kunyah yang cepat! Jika tidak, aku akan menyuapimu dengan mulutku" ancam Diandra.


Juna memilih untuk tidak memberontak karena khawatir Diandra akan semakin menjadi-jadi. Benar saja, dengan sikap Juna yang penurut ini membuat Diandra tidak berbuat kasar kepadanya. Diandra menyuapi Juna dengan telaten hingga akhirnya makanan itu habis.


"Minum...!."


Diandra menyodorkan air dan membantu Juna untuk minum. Juna meminumnya sampai habis. Diandra mengelap bibir Juna dengan tisu dan sekali lagi dia mencium bibir Juna dengan lembut.

__ADS_1


"Di..... " panggil Juna.


"Ya, sayang."


"Apa maumu?."


"Mauku? Bukankah aku sudah mengatakan jika aku ingin bersenang-senang denganmu."


"Sadar, Di...!!! Sadar...!!! Kamu sudah punya suami. Tolong jangan menyeretku dalam masalah lagi. Bisakah kita hidup tenang dengan kehidupan masing-masing?."


"Sadar? Kau pikir aku mabuk? Juna, aku sangat sadar sekarang. Aku tidak akan menyeretmu dalam masalah. Tapi akan membawamu dalam kenikmatan."


"Diandra...aku mohon. Lepaskan aku!."


"Tidak, Juna. Tidak! Aku tidak akan melepasmu karena aku tidak mau satu orang wanitapun mendekatimu. Kau hanya milikku. Milikku, Juna!."


"Tapi kau yang meninggalkanku dan memilih menikah dengan Arya."


"Itu karena kau miskin, Jun" kata Diandra memotong ucapan Juna.


"Andai kau menuruti kemauanku, merantau ke kota dan meninggalkan sekolah sialan itu. Kau pasti sekarang sudah kaya dan kita pasti akan bersama."


"Mana mungkin aku merantau ke kota dan meninggalkan Emak sendirian? Sudahlah ini adalah takdir kita. Mungkin kita tidak ditakdirkan bersama. Tolong lepaskan aku dan kembalilah kepada suamimu. Aku tidak mau mendapatkan masalah. Tolong mengertilah!."


"Tidak, Juna. Tidak...!!! Jangan pernah memintaku untuk melepaskanmu karena mulai detik ini kita akan kembali bersama."


Diandra kemudian naik ke atas tubuh Juna. Ia duduk di atas kedua paha Juna dan langsung memeluknya dengan erat. Kedua tangan Diandra mengusap pungggung Juna dengan lembut.


"Sial...!!!"


Sentuhan Diandra membuat belalai Juna bereaksi. Juna menahan nafas, menggigit bibir, serta memejamkan mata agar ia tidak terbawa permainan Diandra.


"Hen... ti... kan... Di..."


Diandra tersenyum licik. Ia semakin menjadi-jadi melakukan skin touch pada Juna. Tangannya menaikkan baju yang Juna pakai lalu mulai menjilat kedua dada bidang Juna. Diandra sesekali menggigit untuk membuat prakarya di sana.


"Diandra, Tolong berhenti...!!!" kata Juna dan sialnya bersamaan dengan itu muncul suara laknat yang menandakan Juna sudah mulai terbuai dengan permainan Diandra.


"Kenapa, sayang? enak?" bisik Diandra di telinga kiri Juna


"Hen... hen... ti.. kan" ucap Juna dengan deru nafas yang sudah naik turun.


"Tapi ini akan nikmat sekali, Sayang. Kita akan melakukannya. Hal yang selalu kau tolak selama kita bersama."


Diandra memundurkan tubuhnya. Ia kemudian membuka sabuk celana Juna dan membuka retsletingnya.


"Jangan...!" teriak Juna.


Diandra menulikan teriakan Juna. Ia semakin menjadi-jadi. Diandra menurunkan segitiga pembungkus milik Juna dengan bringas. Ia langsung melotot ketika melihat belalai Juna yang langsung berdiri tegak layaknya tiang listrik.


"Sayang......" panggil Diandra dengan tangan kanannya yang sudah bermain - main dengan perangkat keras Juna.


Juna langsung menegang, menggeliat menahan rasa nyeri pada perangkatnya. Ia tidak bisa lagi menahan teriakan laknat yang sejak tadi tertahan.


"Maaf ya, Sayang. Sampai di sini pemanasannya. Aku tidak bisa bermain lebih lama lagi denganmu karena ada urusan yang harus aku selesaikan" kata Diandra sembari turun dari tubuh Juna.


"Tapi kamu jangan khawatir karena nanti malam kita akan melanjutkan permainan kita. Juna, aku tinggal dulu" kata Diandra lagi kemudian berlalu meninggalkan Juna.


"Sialan!."


Diandra meninggalkan Juna dengan keadaan tubuh yang panas dan setengah terbuka seperti itu. Juna benar-benar tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh mantan kekasihnya.

__ADS_1


Wanita lugu itu kini berubah menjadi wanita tidak waras. Juna tidak bisa terus berada di sini. Ia harus kabur. Juna menghentakkan kedua tangannya dengan harapan bisa lepas dari borgol keparat itu. Namun, rupanya usahanya sia-sia karena besi itu lebih kuat dari pada Juna.


__ADS_2