
Juna membuka pintu apartemennya lalu mempersilakan Mbok De masuk. Saat ini Arjuna sedang tidur dalam gendongan Mbok De. Perjalanan udara Bali-Surabaya-Jakarta sepertinya membuat bocah berumur dua tahun itu kelelahan.
Juna melihat kondisi apartemennya. Bersih dan tertata rapi. Juna memang memanggil jasa tukang bersih-bersih karena ia sudah beniat akan membawa Arjuna langsung ke apartemen.
Juna tidak mungkin membawa Arjuna ke rumah mertuanya. Ia tidak mau membuat kehebohan. Juna harus memperhitungkan matang-matang kapan waktu yang tepat untuk membawa Arjuna ke rumah mertuanya. Ia tidak mau salah langkah karena itu bisa menimbulkan dampak yang Juna sendiri tidak tahu itu apa.
Athalia sedang hamil. Jiwa sensitifnya sedang meraja lela. Juna tidak mau hal sepele menjadi pertengkaran hebat bagi mereka. Sehingga ia memikih bermain aman saja.
"Mbok De, apartemen ini hanya memiliki dua kamar. Apakah Mbok De tidak keberatan jika tidur dengan Arjuna dulu?" tanya Juna.
Perempuan paruh baya itu mengangguk.
"Kamar Mbok De di sana" tunjuk Juna dan mereka langsung berjalan menuju kamar yang ditunjuk oleh Juna.
Juna membuka pintu kamar dan mempersilakan Mbok De. Ia juga menyeret koper besar milik Mbok De. Perempuan paruh baya itu sungguh merasa beruntung memiliki majikan baik seperti Juna. Meski baru pertama kali bertemu Juna, Mbok De sudah merasa nyaman menjadi anak buah Juna.
"Kamar saya di sana. Mbok De istirahat dulu. Saya akan pesan makanan. Kalau lapar. Makan saja. Mbok De belum bertugas hari ini. Jadi, istirahat saja sekarang."
Mbok De kembali mengangguk. Ia kemudian meletakkan Arjuna di atas kasur. Rupanya bocah itu belum ada tanda-tanda untuk bangun. Bergeliatpun tidak.
Juna yang tahu diri segera keluar dari kamar Mbok De. Ia menutup pintu kamar Mbok De lalu berjalan menuju kamarnya sendiri.
"Eh?" Juna langsung cekikikan melihat kopernya tergeletak di depan pintu kamar. Ia merutuki kebodohannya yang repot-repot membawa koper besar ke Bali. Ia tidak berencana menginap. Namun, malah membawa koper berisi baju-baju miliknya. Untung saja Atha tidak tahu sehingga ia lolos dari cibiran istrinya.
Ceklek.
Juna membuka pintu kamarnya dan menutupnya kembali. Ia langsung melompat ke kasur, merebahkan tubuhnya yang lelah. Juna mengambil ponselnya guna memesan makanan. Ia memesan dari restoran terdekat agar cepat sampai.
Sembari menunggu pesanan datang, Juna memejamkan mata. Bablas, awalnya coba-coba. Lama-lama Juna terlelap hingga akhirnya makanan yang ia pesan sudah tiba.
Untung saja Mbok De mendengar suara ketukan pintu. Ia berinisiatif membuka pintu karena belum ada tanda-tanda jika Juna akan membuka pintu. Mbok De menerima makanan yang dipesan Juna. Karena Mbok De sudah lapar maka ia memilih untuk makan terlebih dahulu. Lagi pula Juna sudah menyuruhnya seperti itu sehingga Mbok De tidak khawatir akan ditegur oleh majika.
Selesai makan, Mbok De mendengar suara Arjuna yang sedang menangis. Lagi-lagi bocah laki-laki itu memanggil Diandra. Mbok De berusaha membujuk Arjuna. Ia membawa Juna ke dapur, memperlihatkan ayam goreng krispi kepada Juna. Bocah itu bukannya tertarik malah semakin menangis.
Ceklek.
Juna keluar dari kamarnya dan langsung bergegas mencari arah tangisan Arjuna. Melihat Mbok De yang kesulitan menenangkan Arjuna membuat Juna segera turun tangan. Ia mengambil alih Arjuna dalam gendongan Mbok De dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Cup...cup...cup... Jagoan Papa, mengapa menangis?" bujuk Juna.
"Mama.... Mama....Mama..." ucap bocah laki-laki itu.
"Arjuna mau ketemu Mama?."
Bocah itu mengangguk.
__ADS_1
"Berhenti menangis! Papa akan telepon Mama agar datang ke sini" bujuk Juna dan bocah itu secara perlahan menghentikan tangisannya.
Juna mengambil ponsel di atas nakas. Ia mencari nomor istrinya dan langsung menekan tombol dial. Panggilan telepon dari Juna langsung dijawab oleh Atha. Sepertinya Atha memang menunggu telepon dari Juna.
"Sayang...."
"Papa? Kamu sudah sampai di Bali? Kapan kembali ke Jakarta?" tanya Atha memotong ucapan Juna.
"Papa sudah di Jakarta. Di apartemen lebih tepatnya."
"Apa?? Papa sudah di apartemen? Mengapa tidak memberitahuku?" tanya Atha kesal.
"Maaf, Mama sayang. Papa tertidur dan ini langsung menelponmu karena Arjuna ingin ketemu" kata Juna. Ia menoleh ke arah Arjuna yang masih dalam gendongannya.
"Sayang, Papa tidak bisa membawa Arjuna ke sana. Papa khawatir akan timbul kehebohan. Jadi, Papa pikir lebih baik Arjuna di apartemen dulu. Apa Mama bisa menyusul ke sini? Papa akan minta sopir Nyonya Bos untuk menjemput" ucap Juna.
"Heuh?" Atha menimbang-nimbang permintaan Juna. Ia sedikit ragu untuk bertemu Arjuna sekarang.
"Arjuna menangis, minta bertemu Diandra. Sayang, maukah kamu ke sini? Mulai hari ini kamu adalah Mama Arjuna. Arjuna harus terbiasa dengan Mama barunya. Apa kamu mau?" tanya Juna lagi.
"Aku akan bersiap-siap" ucap Atha setelah menarik nafas panjang sebanyak tiga kali.
"Terima kasih, Sayang. Papa akan menelepon Nyonya Bos, meminta bantuan supirnya untuk menjemput. Papa tutup teleponnya ya?" ucap Juna kemudian ia memutuskan sambungan teleponnya.
Juna menoleh pada Arjuna. Bocah laki-laki itu menyandarkan kepalanya di bahu Juna. Juna menepuk-nepuk bahu anaknya. Ia menenangkan Arjuna yang masih terisak.
Juna membawa Arjuna masuk ke kamar mandi. Ia melepas pakaian yang melekat di badan anaknya.
Juna mengisi bath tube dengan air hangat. Tak lupa ia meletakkan mainan bebek yang sempat dibelinya saat di Bali.
Byurrrrr....
Arjuna tertawa riang ketika tubuhnya masuk ke dalam bath tube. Bocah itu senang sekali karena baru pertama kali mandi seperti itu. Ayah dan anak itu sedang melakukan quality time. Saling menyiram dan melempar busa sabun. Sungguh, Juna merasa haru. Ia tidak menyangka bahwa peran seorang Ayah sudah melekat saat ini.
"Udahan yuk, mandinya! Mama sebentar lagi datang" ajak Juna.
Bocah itu enggan menerima uluran tangan Juna. Ia masih asyik menyabuni anak bebek hingga penuh dengan busa.
"Jagoan Papa, udahan dulu yuk mandinya! Nanti kalau Mama sudah datang kita berenang bareng. Mau?" tanya Juna dan bocah itu dengan cepat melepas mainan bebek tersebut. Arjuna mengulurkan kedua tangannya. Ia meminta Juna agar menggendongnya.
Juna membawa Arjuna keluar dari kamar mandi. Ia mengeringkan tubuh Arjuna dengan handuk. Juna berteriak memanggil Mbok De. Ia meminta agar Mbok De membawakan pakaian untuk Arjuna.
"Juna nggak mau pakai baju itu" kata Arjuna dengan wajah cemberut.
"Kenapa?" tanya Juna heran.
__ADS_1
"Hari ini hari apa?" Arjuna balik bertanya.
"Sabtu."
"Pakai baju ultramen kalau Hari Sabtu" ucap Arjuna dan itu sukses membuat Juna diam melongo.
"Eh, memangnya ada hubungannya hari dengan baju?" tanya Juna sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Yes, Papa! Ultramen sekolahnya di Hari Sabtu. Jadi Juna mau pakai baju ultramen sekarang" bocah itu melipat kedua tangannya di dada. Ia mengembungkan pipinya sebagai tanda jika ia sedang dalam mode ngambek.
"Kalau Hari Minggu siapa yang sekolah?."
"Shaun the sheep. Mereka sekolah bareng-bareng di lapangan" jawab cuek.
"Dasar keturunan Pak Narto!" gumam Juna tanpa sadar ia tertawa cekikikan melihat tingkah anaknya.
Juna kembali memanggil Mbok De, meminta mengambilkan baju ultramen milik Juna. Mbok De yang sudah hatam dengan tingkah anak asuhnya hanya bisa menggelengkan kepala. Mbok De pikir Arjuna akan lupa dengan kebiasaannya karena berada dilingkungan berbeda.
"Yang ini bajunya?" tanya Juna ketika menerima baju yang disodorkan oleh Mbok De.
Arjuna mengangguk. Namun, tiba-tiba ia menunduk dengan raut wajah sedih.
"Eh, kenapa?."
"Papa punya uang?" tanya Arjuna.
"Punya. Kenapa?."
"Juna mau baju ultramen lagi. Baju yang itu sudah jelek" curhat bocah laki-laki itu.
"Oke! Tunggu Mama. Nanti kita ke mall sama-sama buat beli baju ultramen untuk Juna."
"Syungguhhhh????" tanya Arjuna dengan kedua netra bersinar terang.
"Sungguh. Sekarang Arjuna pakai baju ini dulu, lalu makan, lalu kita berangkat" ajak Juna dan bocah laki-laki itu dengan semangat menuruti ucapan Juna.
Usai berpakaian, Juna membawa anaknya ke dapur. Ia menyuapi Arjuna dengan telaten. Anak itu melahap ayam goreng krispi dengan cepat. Sepertinya ia senang sekali dengan makan itu.
Tok...tok...tok...
Pintu apartrmen diketuk. Juna memanggil Mbok De agar membukakan pintu.
Atha muncul dan ia langsung masuk ke dalam apartemen. Ia segera menghampiri Juna di dapur .
"Sayang, Mama sudah datang..." tunjuk Juna kepada anaknya.
__ADS_1
Arjuna menoleh ke arah yang ditunjuk Juna. Ia mengerutkan dahi ketika melihat sosok yang berdiri di hadapannya.
"Mama? Dia Mama siapa, Papa?" tanya Arjuna polos.