
Juna mengecup dahi istrinya berkali-kali. Usai permainan panas nya di kamar mandi, Juna beralih tempat menngempur Athalia di kasur empuknya. Sudah tak terhitung berapa kali Atha menyuruhnya berhenti. Namun, Juna seperti manusia tuli.
Juna baru menyudahi kegiatan panasnya ketika perut Atha berbunyi. Rupanya istrinya itu kelaparan karena gempuran tyrexnya. Dengan berat hati, Juna mengalah. Ia benar-benar menyudahi acara mengasah kerisnya khawatir istrinya pingsan karena kelaparan.
"Sayang, kamu mau makan apa?" tanya Juna dengan kedua tangan yang masih memeluk erat tubuh polos istrinya.
"Pesanlah makanan yang cepat dan banyak. Aku sudah lapar, Jun. Aku ingin segera makan. Tidak peduli makanan apa itu yang penting enak."
Juna terkekeh mendengar keluhan istrinya. Ia segera mengambil ponsel miliknya yang bertengger manis di atas nakas. Dengan cepat, Juna memesan makanan secara online. Ia memilih makanan dari restoran terdekat agar dirinya tidak telalu lama menunggu.
"Mau saya buatkan susu? Sambil menunggu makanannya datang, mungkin perutmu bisa diganjal dengan segelas susu dulu" ucap Juna yang langsung dijawab anggukan kepala oleh Athalia.
Juna kembali mendaratkan sebuah kecupan di kening istrinya. Ia turun dari tempat tidurnya dan segera memakai celana boxernya.
Juna keluar dari kamar, bergegas menuju dapur. Ia membuka kulkas, mengambil sekotak susu UHT cokelat untuk istrinya. Tak lupa Juna juga mengambil dua buah roti tawar yang ia beri selai cokelat dan taburan keju. Hmm.. Sepertinya itu cukup sebagai pengganjal perut istrinya.
Setelah selesai dengan urusan di dapur, Juna bergegas kembali ke kamar. Atha langsung bangkit dari tidurnya ketika melihat Juna muncul dengan kedua tangan yang membawa nampan.
"Saya bawakan susu dan roti selai cokelat. Maaf, suamimu memang payah! Saya hanya bisa menggempurmu di kasur tanpa bisa menyiapkan makanan sebagai sumber energimu" ucap Juna. Ia menyodorkan nampan berisi roti dan susu kotak itu kepada Atha.
Atha menerima nampan itu dengan senang. Ia buru-buru meneguk susu kotak itu dan menggigit roti selai yang dibuat oleh Juna. Sungguh, perutnya yang sudah melilit benar-benar tidak bisa ditolerir. Dalam waktu lima menit saja, makanan dan minuman yang dibawa Juna sudah habis.
"Kurang?."
Atha menggeleng. Ia khawatir tidak akan makan nasi jika kembali meminta roti selai kepada Juna. Ia rasa perutnya sudah cukup bersahabat dengan makanan dan minuman pemberian Juna. Toh, Atha memang tidak bar-bar dalam hal makan. Porsinya cenderung sedikit sehingga tak heran jika tubuhnya kurus, kurang berisi.
"Kemarilah, saya ingin bicara!"
Atha menggeser tubuhnya perlahan. Juna yang sedang duduk bersandar di dinding ranjang, memberi akses kepada Atha agar duduk di sampingnya. Mereka duduk berdampingan sembari berpelukan.
"Saya mencintaimu" ucap Juna memulai pembicaraan.
Atha mendongakkan wajahnya. Hatinya ketar-ketir mendengar kalimat pertama yang diucapkan oleh Juna.
"Saya tidak mau ada kebohongan atau rahasia diantara kita."
Atha diam membisu.
"Saya akan jujur tapi kamu juga harus jujur. Kita saling terbuka agar tidak ada permasalahan yang akan timbul di kemudian hari" lanjut Juna.
"Ada apa, Jun?."
"Kemarin saat kita melakukan pemotretan di bukit teletubbies, saya bertemu dengan Diandra."
__ADS_1
Atha tercengang mendengar perkataan Juna. Ia tidak menyangka jika Juna langsung membahas masalah ini tanpa harus dipancing terlebih dahulu.
"Ada anak laki-laki kira-kira berumur dua tahun yang dibawa oleh Diandra. Namanya Arjuna."
"Lalu?" tanya Atha penasaran.
"Tadi pagi kita membahas hal itu dan anehnya apa yang kita bahas langsung muncul di hadapan saya. Sayang, saya ingin bertanya apakah kamu mengetahui sesuatu tentang hal ini?" selidik Juna dengan wajah serius.
Atha menggigit bibir bawahnya. Ia menatap Juna takut-takut. Meski wajah Juna tidak menyeramkan dan aura yang dipancarkan Juna tidak sedingin Mr. Adirra, nyatanya Athalia merasa takut berada di samping Juna saat ini.
"Saya tidak akan marah" ucap Juna sembari mengecup punggung tangan istrinya.
Atha yang mendapatkan perlakuan manis dari Juna tentu saja meleyot.
"Aku bertemu Diandra kemarin saat kita ke mall."
Sudut bibir Juna terangkat. Ia merasa senang karena Atha memilih jujur kepadanya.
"Aku melihat Diandra bersama dengan anaknya. Jujur saja, Jun. Saat itu aku kaget. Pikiranku langsung ke sana ke sini. Aku bingung karena masa lalumu hadir kembali."
Atha menarik nafas. Ia menjeda ucapannya agar dirinya bisa menenangkan hatinya yang bergejolak.
"Aku takut kau akan meninggalkanku, Jun. Aku takut kau akan kembali pada Diandra mengingat ada anak diantara kalian sedangkan denganku kau belum memiliki anak."
"Apakah kau yakin dia anakku?" tanya Juna memotong ucapan Athalia.
Juna mengeratkan pelukannya. Ia paham dengan kekhawatiran istrinya. Atha merasa minder dan takut disingkirkan. Sudah hampir enam bulan mereka menikah dan Atha belum menunjukkan tanda-tanda jika dirinya berbadan dua.
Kalau sudah begitu, Juna bisa apa ? Jika Tuhan belum memberikan momongan kepada mereka haruskah Juna protes kepada Tuhan? Juna yang selalu berfikir lurus menganggap hal itu bukan masalah. Meskipun nantinya Arjuna adalah anak hasil olahraga dirinya dan Diandra beberapa tahun yang lalu. Toh, Juna tetap akan bersama Atha.
"Sekarang kamu mau saya bagaimana?" tanya Juna.
"Aku... Aku... ingin kamu menyelesaikan masa lalumu, Jun."
"Menyelesaikan? Artinya saya harus bertemu Diandra?" tanya Juna.
Atha mengangguk.
"Apa kamu masih takut dengan Diandra, Jun? Apakah kamu masih trauma dengan Diandra?" tanya Atha hati-hati.
"Jujur, saya masih sedikit takut dengannya. Tapi demi kenyamanan hatimu, saya akan menemui Diandra" ucap Juna mantap.
"Sungguh?."
__ADS_1
"Tentu saja. Kamu menginginkan saya menyelesaikan masa lalu ini dengan Diandra, bukan? Saya akan lakukan. Tapi dengan satu syarat" ucap Juna dengan seringai tipis yang ia sembunyikan.
"Apa, Jun? Jangan meminta yang aneh-aneh!."
"Tidak aneh, sayang."
"Apa?."
"Panggil aku sayang" ucap Juna dengan wajah datar.
"Selama ini kamu selalu memanggil namaku sedangkan dengan bos absurd itu kau memanggilnya dengan sebutan Mas."
"Kau merajuk, Jun?."
"Ya, saya merajuk. Saya dan Mr. Adirra hanya berbeda dua tahun tapi kamu tidak mau memanggilku dengan sebutan Mas. Hatiku sedih mendengarnya" ucap Juna.
Atha mengecup bibir Juna yang cemberut. Hal itu tentu saja membuat Juna kaget. Atha tidak pernah menyerang duluan. Ia selalu menjadi korban dari keganasan Juna.
"Maaf, sayang" ucap Atha dan kalimat itu sukses membuat hati Juna berbunga-bunga.
"Apa? Kamu bilang apa? Saya tidak dengar" ucap Juna pura-pura memasang wajah dinginnya.
"Mayjuna, sayangku. Maafkan istrimu yang nakal ini" ucap Atha dan lagi ia mengecup bibir Juna yang sedang menganggur.
"Kau menggodaku rupanya."
Juna menarik tengkuk Athalia, bersiap memulai kembali perang ranjang dengan istrinya. Namun, aktifitas Juna harus terhenti karena seseorang yang menekan bel pintu unit apartemen Juna.
"Sial! Ganggu saja!" umpat Juna.
"Mungkin itu pengantar makanan, sayang. Keluarlah! Aku sudah lapar" usir Atha.
Juna turun dari ranjang dengan wajah merengut. Baru saja ia ingin membangunkan tyrexnya, sudah ada pengganggu. Juna memakai kaosnya dengan cepat. Ia buru-buru berjalan ke depan untuk membuka pintu.
"Loh, sayang! Kenapa sudah pakai baju?" wajah Juna semakin ditekuk ketika melihat istrinya sudah duduk manis di dapur dengan memakai daster motif bunga-bunga.
"Kita kan mau makan, sayang. Aku takut kedinginan jika polosan terus" jawab Atha memberi alasan.
Juna meletakkan makanan yang ia pesan. Sepuluh jenis makanan itu langsung di tata oleh Atha di atas meja. Atha mencicipi satu persatu makanan yang dipesan Juna. Perutnya kembali keroncongan.
"Kamu lapar sekali?" tanya Juna.
"Banget, sayang. Ayo, makan! Aku sudah tidak sabar untuk menyantap makanan ini" ucap Atha sambil menarik paha ayam bakar dan meletakkan di piringnya.
__ADS_1
"Makanlah yang banyak! Karena kau perlu energi yang besar untuk perang selanjutnya" kata Juna sambil tersenyum genit ke arah Atha.
"Tenang saja, sayang. Kamu akan mendapatkan service plus-plus. Sekarang biarkan aku makan dengan tenang biar bisa melayanimu dengan maksimal" ucap Atha membuat Juna tertawa cekikikan.