HEI JUN

HEI JUN
90


__ADS_3

"Jun, aku mau pergi dulu. Kamu baik-baik di sini" pamit Atha.


Juna yang saat itu sedang berbaring di atas brankar tentu saja langsung duduk. Ia kaget mendengar ucapan istrinya itu.


"Mau ke mana? Saya ikut" rengek Juna. Ia menarik tangan Atha.


"Ada sesuatu yang harus aku ambil. Kamu di sini dulu. Aku sudah menitipkanmu pada dokter Emier dan dokter Ayesha. Aku juga sudah menyiapkan perawat laki-laki yang menjagamu selama 24 jam penuh selama aku pergi" bujuk Atha lagi.


"Saya tidak mau! Saya tidak mau! Kamu jangan pergi!" Juna langsung menarik dan memeluk Atha. Ia mendekap istrinya itu dengar erat. Juna tidak mau Atha pergi karena dia masih merasa ketakutan.


"Aku harus pergi. Kamu tidak perlu takut. Ada orang-orang yang akan menjagamu."


Juna kembali menggeleng. Ia tidak mau dibujuk oleh Athalia.


"Saya ikut."


"Tidak bisa, Juna. Kamu harus di sini. Aku hanya sebentar, besok aku sudah kembali" ucap Atha lembut.


"Besok? Kamu mau pergi jauh? Saya ikut. Saya mau ikut" Juna kembali merengek.


"Dengar! Kau harus di sini. Aku ingin kau cepat sembuh. Bukankah kau ingin segera mempunyai anak banyak? Kau harus segera menyelesaikan pengobatanmu agar kau bisa cepat sehat dan pulang ke rumah. Kau mau anak-anak yang tampan dan lucu bukan?" bujuk Atha lagi dan iti sepertinya menjadi umpan yang ampuh bagi Juna.


"Kamu naik apa? Siapa yang menemanimu?" Juna menunduk. Ia masih tidak rela melepas kepergian istrinya.


"Sekretaris Kiara, dia akan menjemputku dengan helikopter."


"Helikopter? Kamu akan pergi jauh?" Juna menampakkan wajah memelas.


"Tidak jauh. Aku hanya pulang ke rumah, mengambil beberapa berkas penting. Kiara menyuruhku naik helikopter agar cepat sampai. Kau tahu sendiri perjalanan ke Madura membutuhkan waktu yang lama jika melalui jalur darat."


"Cepat kembali" ucap Juna lirih.


"Pasti. Setelah urusanku selesai, aku akan segera kembali."


***


Fira berlari tergesa-gesa menuju ruang kerja Juna. Saat Pak Udin mengatakan jika ia diminta untuk datang ke ruang kerja Juna, hati Fira senang tak karuan. Dalam fikiran Fira, Juna sudah kembali. Itu artinya Juna sudah sehat dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


Fira melangkah dengan terburu-buru. Diacuhkannya orang-orang yang berpapasan dengannya. Dalam benaknya hanya satu yaitu melihat Juna dan memastikan jika Juna baik-baik saja.


Ceklek...


"Pak Ju..... Na?"


Fira yang semula hendak berlari kini mengurungkan langkahnya. Tubuhnya langsung membeku saat melihat sosok Athalia yang duduk di kursi Juna.


"Bukan Pak Juna" gumam Fira lirih.


Fira menunduk. Semangatnya hang sejak tadi berkobar-kobar langsung meredup. Melihat Athalia yang notabene adalah istri Juna membuat nyali Fira menciut. Apakah yang akan ia terima? Apakah istri Juna akan menuntutnya?


"Kamu yang bernama Fira? Kemarilah, duduk di sini!" perintah Atha.


Fira mengangguk. Ia berjalan perlahan menuju kursi yang ditunjuk oleh Athalia. Fira menarik kursi itu dengan pelan dan mendudukkan bokongnya di sana.


"Maaf memanggilmu dengan mendadak. Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri terlebih dahulu. Nama saya Athalia. Saya adalah istri dari Mayjuna July Agustino atau kamu lebih mengenalnya dengan Pak Juna."


Gluk.


Fira menelan ludahnya. Ucapan Athalia terdengar tak bersahabat di telinganya. Ia semakin menunduk sembari meremas ujung kemejanya.

__ADS_1


"Saya memanggil kamu karena ingin menanyakan sesuatu. Tolong jawab dengan jujur!" ucap Atha lagi yang langsung dijawab anggukan lemah oleh Fira.


"Saya ingin bertanya. Siapakah Diandra? Mengapa Juna langsung ketakutan ketika mendengar namanya?."


Fira mendongakkan kepalanya. Ia tidak menyangka jika Athalia bertanya tentang Diandra. Fira pikir Athalia akan menanyakan hubungannya dengan Juna. Fira pikir Atha akan mengintimidasinya.


"Siapakah Diandra?" ulang Atha.


"Mbak Diandra adalah kakak saya. Kami satu ayah, beda ibu. Mbak Diandra dulu menjalin hubungan dengan Pak Juna."


Mendengar penjelasan Fira membuat Atha mengingat sesuatu. Sepertinya Atha pernah bertemu Diandra, perempuan gila yang pernah adu mulut dengan Juna.


Atha kembali memutar otaknya, menyuruh saraf-saraf yang berada di otaknya itu untuk bekerja. Atha butuh informasi tentang Diandra sehingga ia bisa mengingat peristiwa ketika Juna beradu mulut dengan Diandra.


"Kamu punya fotonya? Saya sepertinya lupa-lupa ingat dengan Diandra."


Fira mengangguk. Ia mengambil ponselnya dan mencari foto Diandra di galeri. Fira pernah memotret Diandra dan Juna secara diam-diam saat keduanya sedang pacaran di alun-alun.


Niat hati ingin memotret Juna agar Fira mempunyai foto Juna. Namun, karena Diandra yang selalu menempel pada Juna membuat Fira kesusahan saat mengambil potrer Juna seorang diri.


"Saya hanya ada foto itu, Bu. Ngambilnya juga diam-diam. Hubungan saya dan Mbak Diandra kurang baik. Jadi kami tidak pernah berfoto bersama" ucap Fira sembari menyodorkan ponsel miliknya.


Atha menerima ponsel milim Fira. Hatinya langsung panas melihat kemesraan Juna dan Diandra di foto itu. Atha menganggukkan kepala. Dugaannya tepat, Diandra yang ditakuti Juna adalah orang yang pernah beradu mulut dengan Juna. Satu benang merah terkuak dan Atha harus menyiapkan hati untuk mengungkap benang merah yang lain.


"Apa penyebab Juna dan Diandra putus?."


"Mbak Diandra dinikahkan dengan Mas Arya. Ayah mempunyai hutang pada Mas Arya sehingga jalan untuk melunasi hutangnya adalah dengan menikahkan Mbak Dian dengan Mas Arya. Sejak dulu Mas Arya memang menyukai Mbak Dian. Tapi tidak pernah ditanggapi oleh Mbak Dian."


"Apakah Diandra masih berhubungan dengan Juna setelah ia menikah?" tanya Atha.


Fira menggeleng.


"Lalu mengapa kamu menyebutkan nama Diandra? Gara-gara hal itu, Juna jatuh pingsan."


Fira menggigit bibirnya. Entah mengapa ia takut sekali berhadapan dengan Atha. Jika lihat dengan seksama, wajah Atha tidak menyeramkan. Namun, Fira tidak tahu angin dari mana yang membuatnya merasa ketakutan sekarang.


"Saya hanya membahas masalah tanggungan Pak Juna. Pak Juna pernah berkata mempunyai tanggungan dengan Mbak Dian. Beliau meminta saya untuk bertemu dengan Ayah. Pak Juna melunasi hutang Ayah pada Mas Arya. Kata Pak Juna anggap saja uang itu adalah uang Mbak Dian yang sudah dipinjamnya."


Wajah Atha langsung mengeras mendengar cerita dari Fira. Hatinya semakin bertanya-tanya mengenai hutang Juna. Apa benar Juna mempunyai hutang pada Diandra? Rasanya tidak mungkin.


"Tapi anehnya, Pak Juna tidak mengingat hal itu. Beliau langsung ketakutan ketika saya menyebutkan nama Mbak Dian. Padahal sebelumnya Pak Juna biasa-biasa saja saat membahas tentang Mbak Dian."


Atha mengangguk. Berarti sebelum Juna pergi ke Afrika, dirinya tidak mengalami trauma saat mendengar nama Diandra. Atha menduga mungkin Juna sudah sembuh dari traumanya meskipun tidak 100%.


Pernyataan yang masih berputar di kepala Atha, apa yang menyebabkan Juna takut dengan Diandra? Jika masalahnya adalah hutang, Atha rasa tidak mungkin karena suaminya itu punya banyak uang. Ia juga masih bingung dengan ucapan Yesha yang menyebutkan jika Juna pernah mengalami pelecehan seksual. Bingung, Atha benar-benar bingung.


Atha meminta Fira untuk keluar. Sepertinya gadis itu tidak bisa memberikan informasi yang diinginkan Atha. Atha teringat dengan Andika. Jika Andika adalah kawan dekat Juna, sedikit banyak ia pasti mengetahui sesuatu tentang Juna dan Diandra.


Atha menelpon Pak Udin. Ia meminta Pak Udin agar menyuruh Andika ke ruang kerja Juna. Secepat kilat Pak Udin menjalankan tugasnya. Hanya dalam waktu sepuluh menit, Andika sudah duduk manis di hadapan Atha. Atha juga meminta Lita untuk menemaninya agar tidak timbul fitnah diantara keduanya.


"Ibu ada perlu dengan saya?" tanya Andika sopan. Ia merasa canggung dengan Atha jika tidak bersama Juna.


"Pak Andika, maaf mengganggu waktu mengajar Anda. Saya ingin tanya sesuatu mengenai hubungan Juna dan Diandra" ucap Atha to the point.


Dika tersentak kaget. Ia menduga jika Atha dan Juna sedang bertengkar. Apakah Diandra penyebabnya? Apakah Diandra kembali muncul dalam kehidupan Juna?


"Hubungan yang bagaimana ya, Bu? Jujur saya bingung mau menjawabnya" tutur Andika hati-hati.


"Jawab saja setahu Pak Andika. Juna mengalami trauma dan amnesia. Kata dokter ahli yang pernah menangani Juna, Juna pernah berkata jika ia pernah mengalami pelecehan seksual. Kemarin Fira menyebut nama Diandra dan Juna langsung ketakutan. Kata Fira, Diandra adalah kekasihnya. Apakah ada peristiwa yang terjadi sehingga membuat Juna seperti itu? Jujur saya tidak tahu tentang masa lalu Juna. Saya harus tahu semuanya tentang Juna karena ini berhubungan dengan pengobatan Juna" kata Atha panjang lebar.

__ADS_1


Dika menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia bingung harus menjawab seperti apa. Dia takut salah ucap yang bisa merusak hubungan rumah tangga Juna dan Atha.


"Tolong, ceritakan apa yang terjadi pada Juna dan Diandra! Saya mohon" ucap Atha memelas.


Wajah Atha yang seperti itu membuat hati Andika tidak tega. Ia menghitung kancingnya, meminta petunjuk untuk bercerita apa tidak.


"Apapun yang saya katakan adalah masa lalu Juna. Mungkin Ibu bisa bertanya kepada kedua kakak Juna untuk mendapatkan keterangan lebih akurat" ucap Andika.


"Tolong setelah saya bercerita, Ibu tetap baik-baik saja. Saya khawatir kalian akan bertengkar setelah mendengar hal ini" lanjut Dika.


Athalia mengangguk. Ia sudah menyiapkan hati untuk mengetahui kebenarannya.


"Beberapa tahun yang lalu Juna dan Diandra terkena kasus video panas. Adegan ranjang mereka berdua tersebar dan viral di dunia maya."


"APA??? VIDEO PANAS???."


Lita yang sedari tadi menjadi orang ketiga, berteriak kencang. Teriakan Lita tentu saja mengagetkan Atha dan Andika. Lita menutup mulutnya. Ia berjanji akan diam dan tidak mengganggu obrolan mereka berdua.


"Akibat video itu, Juna dipecat dari SMA Cendekia. Ibunya meninggal dan terakhir rumahnya terbakar."


"Setragis itu?" tanya Atha tidak percaya.


Atha langsung bungkam. Kedua netranya berkaca-kaca. Hatinya tiba-tiba sesak. Ingin sekali dirinya tidak percaya dengan apa yang dikatakan Andika. Namun, itulah faktanya. Semua omongan Andika memang masuk akal.


"Ibu tidak tahu masalah itu?" tanya Andika hati-hati. Melihat kondisi Atha yang mulai menangis membuatnya benar-benar merasa bersalah.


"Aku hanya tahu sedikit. Sepertinya kejadian itu saat Juna menginap di hotel. Saya menolongnya kabur. Juna hanya bercerita sedikit" ucap Atha dengan kedua bahunya yang bergetar.


"Maaf, Ibu. Saya tidak ingin timbul salah paham antara Ibu dan Pak Juna. Alangkah lebih baiknya Ibu bertanya kepada kakak Pak Juna. Saya yakin mereka tahu tentang kejadian yang dialami Pak Juna dulu."


Atha mengangguk. Saran dari Andika memang benar adanya. Ia tidak boleh hanya mendengar dari satu pihak. Meskipun hati dan pikirannya sedang kacau, Atha tetap tidak boleh gegabah. Ia akan mengikuti saran Andika untuk menemui saudara Juna. Atha mungkin akan membawa mereka ke Surabaya untuk menemui Juna.


"Kau tahu rumahnya di mana?" tanya Atha.


Andika menggeleng.


"Setahu saya Mas Haris dan Mbak Ines tinggal di kabupaten sebelah. Untuk alamat tepatnya, saya tidak tahu" ucap Andika menunduk.


Atha menghela nafas panjang. Kebodohannya lagi adalah tidak dekat dengan keluarga Juna. Atha belum masuk secara utuh ke dalam keluarga Juna.


Seingat Atha, dirinya bertemu saudara Juna hanya sekali. Saat pernikahan mereka. Setelah itu Atha tidak pernah bertemu mereka. Nomor ponsel mereka pun tidak punya.


Tuk...Tuk...Tuk...


Lita mengetuk bahu Atha. Athalia yang sedang melamun itu tentu saja menoleh ke arahnya.


"Ada apa?."


"Ibu mencari rumah saudara Bapak Mayjuna?" tanya Lita sembari memainkan ujung rambutnya dengan jari.


Atha mengangguk.


"Saya tahu lho, Bu. Saya kan yang ditugaskan Mr. Adirra untuk membeli rumah mereka."


"Iyakah???" tanya Atha tak percaya.


"Iya dong, masak Iya lah. Waktu itu Pak May lagi bingung cari rumah untuk saudaranya. Beliau milih-milih perumahan yang murah. Tahu sendiri kan Mr. Adirra orangnya seperti apa. Jadi beliau nyuruh Lita deh buat nyari-nyari rumah" kata Lita dengan gaya centil.


"Ya sudah kalau kamu tahu. Antarkan saya sekarang juga ke sana! Saya harus segera menyelesaikan urusan di sini karena Juna sendirian di rumah sakit" ajak Atha.

__ADS_1


__ADS_2