
Siang hari, Pak Zaini memanggil semua guru yang bertugas sebagai panitia ujian sekolah. Beliau akan mengajak mereka makan siang bersama-sama di aula sekolah. Pak Zaini sudah meminta istrinya untuk memasak makanan yang banyak dan beragam. Karena selain jumlah panitia yang banyak, nafsu makan mereka juga besar. Jadi tak heran jika hanya untuk lima belas orang, Pak Zaini menyuruh istrinya untuk menanak nasi sebanyak 5 kilogram.
Sudah kebiasaan di SMA Cendekia seperti itu. Jika ada rapat atau acara penting Pak Zaini akan mendapuk istrinya sebagai seksi konsumsi. Selain hemat biaya, Pak Zaini bisa request langsung menu apa saja yang ingin beliau sajikan di hari itu.
Untunglah istri Pak Zaini sangat pintar memasak. Sehingga apapun menu request suaminya, bisa ia eksekusi dengan gampang. Hanya saja jika sudah memasak porsi sebanyak itu, Bu Zaini harus meminta bantuan saudara-saudaranya juga.
Tepat jam dua belas siang, rombongan keluarga Pak Zaini datang. Mereka membawa berbagai macam masakan yang sudah di request Pak Zaini. Ada nasi pohong, nasi jagung, udang krispi, telur balado, sate kambing dan gulai kambing. Selain itu ada puding nangka dan es sirup jeruk sebagai pencuci mulut.
Semua guru langsung menelan ludah melihat banyaknya makanan yang tersaji di depan mereka. Pak Zaini memimpin doa dan tanpa ba bi bu lagi mereka langsung melahap makanan yang dihidangkan.
Lia tersenyum miris melihat kelakuan rekan-rekannya. Mengambil nasi dengan porsi banyak, tak lupa mereka juga mengambil semua lauk yang ada. Tak heran jika satu guru bisa membawa dua sampai tiga piring makanan.
"Nggak makan, lu?" bisik Andika yang juga didapuk sebagai panitia bersama Lia.
"Nafsu makan gue seketika hilang liat mereka. Heran deh, apa mereka nggak makan setahun sampai kalap begitu?" bisik Lia.
"Bukan nggak makan, Hani. Mereka jarang aja bisa makan enak seperti ini. Maklumin aja. Lu cepetan makan. Nggak enak sama bos. Nanti beliau mikir kalau Lu nggak suka sama masakan istrinya" bisik Andika lagi.
Lia mengangguk. Ia kemudian mengambil centong nasi, hendak mengisi piringnya. Namun, tangannya urung mengambil nasi karena tidak ada nasi putih yang tersedia.
"Kenapa, Lia? Kok nggak jadi ambil nasinya?" tanya Pak Zaini yang rupanya memperhatikan gerak gerik Lia.
Lia yang ditegur seperti itu tersenyum kikuk. Ia mau menjawab jujur tapi takut melukai perasaan Pak Zaini dan keluarganya. Mau menjawab bohong, ia juga bingung dengan apa yang akan ia katakan.
Andika yang paham dengan masalah Lia segera mengambil alih centong nasi itu. Kalau menunggu saudaranya itu pastilah tidak akan selesai. Andika tahu mengapa Lia belum juga bergerak mengambil nasi. Karena memang Lia tidak bisa makan nasi pohong apalagi nasi jagung.
"Bu Lia kenapa?" tanya Pak Zaini saat melihat centong ditangan Lia berpindah ke tangan Andika.
"Minta diambilin, Pak. Biasa.... " sahut Dika yang langsung dibalas pelototan oleh Lia.
"Bukan, Pak Zaini! Andika memang usil. Saya mau ambil nasi tapi kok...." Lia tidak meneruskan kalimatnya.
"Nasinya tidak ada yang putih, Pak. Lia itu tidak pernah makan nasi warna warni seperti itu. Biasanya nasi putih" sahut Andika yang langsung dibalas Lia dengan cubitan tajam di pahanya.
"Wah... Maaf ya Bu Lia. Saya lupa kalau ada guru baru. Biasanya kami memang makan nasi seperti ini" ujar Pak Zaini.
"Eh... Eh... tidak apa-apa kok, Pak. Saya makan lauknya saja."
"Yah... mana kenyang kalau begitu. Bagaimana kalau diganti dengan lontong saja ya? sepertinya masih cocok jika dimakan sama sate gule" kata Pak Zaini memberi penawaran.
"Eh... tidak usah, Pak Zaini. Saya makan lauknya saja. Tidak apa-apa" cegah Lia tak enak hati.
Pak Zaini tidak menggubris. Ia kemudian menelpon Pak Udin agar membawakan lontong untuk Lia. Tak lupa Pak Zaini juga menyuruh lontong itu sudah di potong-potong sehingga tidak menyusahkan Lia nantinya.
__ADS_1
Pak Zaini memang seperti itu. Prinsipnya makan satu makan semua. Enak satu, enak semua. Ia tidak akan membiarkan satu orangpun menderita ditengah kebahagiaan yang mereka dapatkan.
Pak Zaini tidak akan membiarkan Lia makan lauknya saja. Karena itu sama saja membuat Lia menderita. Pak Zaini lupa jika Lia bukan orang asli sana sehingga beliau tidak bertanya terlebih dahulu apakah Lia bisa makan nasi jagung atau nasi pohong. Pak Zaini tahu tidak semua orang suka dengan nasi seperti itu. Oleh sebab itu, Pak Zaini tetap bersikeras mencari alternatif agar Lia tetap makan dengan enak.
Tak lama seorang laki-laki bertopi hitam, kira-kira seumuran Juna, masuk membawa piring yang berisi irisan lontong. Dia adalah Noval, adik bungsu Bu Zaini. Noval berjalan santai mendekati Pak Zaini yang duduk di meja paling ujung.
"Ini lontongnya, Mas!" kata Noval sembari menyerahkan piring berisi irisan lontong.
"Loh kok kamu yang nganterin? Pak Udin kemana?" tanga Pak Zaini heran.
"Lagi nyuci mobil, Mas. Bau kambing everywhere."
"Oh... yasudah. Berikan pada Bu Lia. Guru yang duduk di sebelah Andika" perintah Pak Zaini.
Noval mengangguk. Ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Andika. Noval sudah mengenal Andika waktu SMA sehingga ia tidak merasa asing dengan wajah Andika.
Andika melambaikan tangannya, memberi kode kepada Noval di mana ia berada. Jari tangannya menunjuk ke wajah Lia sebagai isyarat jika dirinyalah orang yang dituju oleh Noval. Noval segera berjalan ke tempat Andika dan....
Deg.
Noval tak berkedip ketika ia hendak memberikan piring itu kepada Lia. Kedua tangannya yang sudah siap menyodorkan piring berisi irisan lontong itu seketika membeku.
"Cantik sekali" gumam Noval.
"Makan, ojek deliverynya lagi ngadat" bisik Dika.
Lia tak menyahut. Ia memilih menyantap makanannya tanpa menghiraukan Noval yang masih berdiri mematung di sampingnya. Lia tidak merasa risih sedikitpun. Ia tetap makan dengan santai, menggigit potongan-potongan daging kambing berserta lontongnya.
"Noval....!!! Kenapa malah masih di sana?" tegur Pak Zaini membuat Noval tersadar dari lamunannya.
"Eh, maaf. Saya mau memberikan ini kepada Bu Lia. Eh... kok piringnya hilang?" Noval kebingungan ketika melihat piring yang tadi dibawanya sudah tidak ada.
"Itu piringnya, Val. Udah saya kasih ke Bu Lia. Kamu sih bengong aja. Terpesona ya sama dia?" ledek Dika membuat Lia menginjak kakinya dengan geram.
Noval menggaruk tengkuknya. Ia merasa malu dengan tingkahnya itu. Pak Zaini segera menyuruhnya keluar agar Noval tidak menganggu guru-guru yang sedang makan. Bagaimanapun mereka akan canggung jika ada orang luar yang berada di sana.
Setelah acara makan siang selesai, guru-guru yang bertugas sebagai panitia segera pamit untuk pulang. Mereka keluar dari aula secara bergiliran. Tak terkecuali Lia. Ia bergegas menuju mobilnya sembari menunggu Andika yang sedang mengambil tas nya di ruang guru. Andika sudah mengatakan jika ingin pulang bersama Lia karena motornya turun mesin.
"Hei, tunggu!!!" Noval berteriak memanggil Lia. Ia segera berlari menghampiri Lia yang hendak masuk ke dalam mobilnya.
"Manggil saya, Mas?" tanya Lia.
"Iya. Kamu guru baru?."
__ADS_1
Lia mengangguk.
"Kenalkan, nama saya Noval. Adik ipar Pak Zaini" kata Noval sembari mengulurkan tangan kanannya.
"Lia."
"Lia siapa?."
"Guru baru di sini" jawab Lia cuek.
"Boleh minta nomor handphone?."
"Nggak punya. Adanya nomor rekening."
"Wah, boleh juga tuh. Sini kasih tahu berapa nomernya. Nanti tiap bulan Mas Noval transfer deh buat Lia."
Lia memutar kedua matanya dengan malas. Ia langsung pamit kepada Noval dan masuk ke dalam mobilnya.
"Eh ada Noval. Ngapain woy?" celetuk Andika yang baru tiba sambil menenteng tas miliknya dan Lia.
"Eh, Andika. Ini lagi kenalan sama guru baru."
"Sudah kenalannya?."
"Sudah kok" jawab Noval.
"Yasudah kalau udah kenalan. Saya pulang dulu" kata Andika kemudian ia masuk ke dalam mobil Lia.
Noval melongo. Ia tidak percaya dengan apa yang dilihatnya. Andika, temannya pulang bersama dengan Lia. Apakah mereka punya hubungan khusus? Ataukah mereka masih saudara? Ingin sekali Noval berlari dan bertanya secara langsung kepada Andika. Namun, Noval terlambat. Lia sudah melajukan mobilnya meninggalkan area SMA Cendekia.
"Kenapa bengong, Mas Noval?" tanya Pak Udin yang tiba-tiba muncul di belakang Noval.
"Eh, Pak Udin, ngagetin aja. Itu lho si Andika pulang bareng sama guru baru" jawab Noval.
"Udah biasa kali, Mas" sahut Pak Udin.
"Udah biasa? Pacarnya Andika?."
"Bukan! Saudaranya Pak Andika. Saudara jauh sih katanya. Kalau pacarnya Pak Andika sih saya tahu. Anaknya Pak Kepala Desa sebelah" jawab Pak Udin membuat senyum di bibir Noval terbit.
"Eh, ngomong-ngomong Bu Lia punya pacar?" tanya Noval lagi. Sepertinya ia harus mengorek banyak info tentang Lia dari Pak Udin.
"Pacar sih nggak punya. Tapi yang naksir banyak. Bahkan murid laki-laki disini pada naksir ama Bu Lia" jawab Pak Udin membuat Noval membulatkan kedua bola matanya.
__ADS_1
Noval manggut-manggut mendengar penjelasan dari Pak Udin. Sepertinya ia harus bergerak cepat agar tidak didahului orang. Noval yang memang panjang akal, langsung menemukan ide agar rencananya berjalan lancar.