HEI JUN

HEI JUN
96


__ADS_3

"Kalian jangan pulang dulu. Minggu depan saya ingin mengadakan acara syukuran atas kelahiran Akila. Kalian bantu-bantu lah di sini" kata Elang pada Juna dan Atha.


Juna mengangguk. Jangankan disuruh, tanpa disuruhpun ia akan tetap hadir sebagai tim bantu-bantu. Juna sebagai ajudan keluarga Sanjaya selalu siap sedia menerima tugas. Tugas apapun akan Juna lakukan jika itu menyangkut keluarga Sanjaya.


"Mas Juna besok ke kantor ya! Kita mau mengadakan rapat penting" ucap Elang lagi.


"Siap!" ucap Juna.


Namanya juga Juna. Dia mengangguk lagi, mengiyakan perintah atasannya. Atha yang melihat tingkah suaminya itu merasa sangat gemas. Juna sudah seperti kerbau yang di cocok hidungnya. Disuruh ini itu langsung mengangguk.


Sebenarnya Atha ingin mengajak Juna mengunjungi kedua orang tuanya. Namun, jika Juna diperintahkan datang ke kantor. Athalia bisa apa? Atha khawatir Juna akan terkena masalah jika ia menghalangi bekerja. Meski hati tak rela, Atha harus berkata "ya"


"Oh iya! Kiara sampai lupa" teriak Kiara.


Semua orang di meja makan langsung berhenti mengunyah dan menoleh pada Kiara.


"Ada undangan pernikahan rekan bisnis Papa Robert di Spanyol. Kadir tidak mungkin datang. Elang, apalagi. Kiara boleh ya minta tolong Mas Juna untuk datang?" tanya Kiara.


Juna tersentak kaget. Mendengar kata Spanyol keluar dari mulut Kiara membuatnya mengingat sesuatu. Juna langsung bergidik ngeri. Firasatnya langsung tidak enak.


"Eh...?"


"Mau ya, Mas Juna? Nanti Mas Juna bareng istri ke sana. Sangat tidak sopan jika tidak ada perwakilan dari Sanjaya corp. Papa Robert juga sedang berhalangan hadir. Kiara pesenin paket honeymoon sekalian di Spanyol. Bagaimana?" ucap Kiara menawari.


Juna ingin menggelengkan kepalanya. Ingatannya sudah kembali. Ia tahu di Spanyol ada bahaya yang mengintainya. Lily, mantan tunangannya berada di sana. Sangat mustahil bagi Juna untuk tidak bertemu dengannya.


Juna menggigit bibir bawahnya. Ia sangat menyesal tidak buru-buru pulang dari rumah Kiara. Juna mendadak pucat, perutnya mules seketika.


"Kamu kenapa, Jun?" tanya Atha. Ia menyadari jika suaminya itu sedang tidak baik-baik saja.


"Saya tidak apa-apa. Mungkin kekenyangan" jawab Juna asal.


"Mas Juna memang selalu begitu kalau sudah ketemu masakan Mama Widya. Persis kayak Kadir. Eh ngomong-ngomong Mas Juna setuju kan dengan tawaran Kiara?" Kiara mengulangi pertanyaannya.


"Udah nggak usah ditanyain lagi kenapa sih? Pesenkan saja tiket untuk mereka berdua. Mau tidak mau, mereka tetap berangkat" kata Dira memberi ultimatum.


"Yah, nggak bisa gitu dong Abang! Takutnya Mas Juna ada keperluan" ucap Elang membela diri.


"Memangnya kapan acaranya, Kir?" tanya Dira.


"Tanggal 23, masih tiga minggu lagi."


"Nah! Juna masih punya banyak waktu. Lu kelarin urusan di Indonesia setelah itu berangkat ke Spanyol. Kir, pesankan paket honeymoon selama seminggu. Syukur-syukur bisa nostalgia" sindir Dira memberi kode keras.


Elang dan Kiara saling tatap. Mereka mengerti akan kode yang diucapkan Dira. Kiara ingin mengurungkan niatnya. Tapi ia juga tidak punya pilihan.


Kiara tidak mungkin mengirim Lita atau Daniel. Orang yang bisa Kiara utus hanyalah Juna. Namun, mengingat kata nostalgia yang diucapkan Dira membuatnya kembali ragu.


"Terima saja, Jun! Kita sekalian honeymoon. Bukankah kamu ingin segera memiliki anak? Siapa tahu pulang dari Spanyol, kita mendapatkan kabar baik" ucap Atha memberi saran.

__ADS_1


"Bagus...!!! Baru sekarang gue setuju ama lu, wahai mantan fans beratku" ucap Dira sembari mengacungkan kedua jempolnya ke arah Atha.


Juna menarik nafas panjang. Ia mengangguk perlahan, pertanda dirinya menerima tawaran dari Kiara.


***


Bali,


"Diandraaaaaa..... Whera are you????"


Diandra menutup kedua telinganya ketika mendengar suara cempreng dari luar rukonya. Ruko berlantai dua yang terletak di salah satu tempat wisata di Bali langsung bergetar ketika mendengar teriakan seseorang dari luar.


Tanpa harus keluar, Diandra sudah tahu siapa pemilik suara cempreng yang memanggilnya itu. Telinga Diandra sudah hatam karena selama kurang lebih tiga tahun ini indra pendengaran Diandra sering menangkap suara cempreng yang berasal dari orang yang sama.


Zeze, gadis bali bermata bulat yang menjadi temannya selama tiga tahun ini. Gadis itu adalah orang pertama yang dikenal Diandra saat menginjakkan kaki di Bali.


Zeze berumur dua tahun lebih muda dari Diandra. Profesinya sebagai fotografer di sebuah wedding organizer ternama di Bali. Zeze adalah orang yang mengenalkan dunia fotografi pada Diandra. Ia yang semula tidak lihai di depan kamera, menjadi fasih dan paham. Hal inilah yang menjadi latar belakang Diandra menjadi seorang selegram.


"Kenapa nggak nyahut panggilan gue? Gue manggil dari tadi" teriak Zeze ketika mendapati Diandra sedang mengurung diri di ruang kerjanya.


Diandra tak menyahut. Ia masih menormalkan pendengarannya yang terguncang akibat panggilan Zeze.


"Bisa nggak kalau ke sini nggak usah teriak? Gue bisa budeg tau" tegur Diandra kesal.


Zeze nyengir kuda. Ia kemudian menarik kursi di hadapan Diandra dan mendaratkan bokongnya di sana.


"Gue terlalu bahagiah. Jadi bawaannya ingin teriak mulu" ucap Zeze sembari menggerakkan badannya ke kiri dan ke kanan.


"Gue dapat job di Jakarta, Di! Jakarta! Dan lu harus tahu yang punya hajat itu adalah pemilik Sanjaya corp" kata Zeze dengan mata berbinar-binar.


Diandra mengernyitkan dahi. Ia merasa aneh dengan ucapan Zeze. Orang Jakarta memakai jasa EO dari Bali? Apa tidak kejauhan? Apa di Jakarta tidak ada EO yang bagus?


Setahu Diandra, Jakarta adalah kota metropolitan. Ibu kota Negara. Tak mungkinlah di sana tidak ada EO yang bagus. Zeze pasti sedang mengigau. Ia pasti sedang bermimpi di siang bolong seperti ini.


"Kenapa diam, Di? Lu nggak seneng gue dapat job di Jakarta?" tanya Zeze.


"Bukannya nggak seneng. Gue ngerasa aneh aja. Orang Jakarta pakai jasa EO dari Bali. Nggak kejauhan?."


Zeze mengerutkan wajahnya. Ia melipat kedua tangannya di depan dada.


"Lu pikir mereka pakai EO tempat gue cari dollar? Lu salah besar, sayang. Mereka pakai EO lain, punya temen gue. Berhubung fotografer mereka kecelakaan. Mereka cari ganti dong. Gue iseng aja sih nawarin diri. Eh, mereka nganggepnya serius. Diandra.... Gue seneng banget...!!!" Zeze kembali berteriak, menampakkan rasa senangnya di hadapan Diandra.


"Apa di sana bayarannya lebih mahal?."


"Tidak! Sama saja hanya gue bebas akomodasi aja."


"Lalu apa yang membuat lu segirang ini?" tanya Diandra lagi.


"Ya ampun Diandra...!!! Lu ini nggak nyadar apa? Gue kan udah bilang kalau yang punya hajat itu pemilik Sanjaya corp."

__ADS_1


"Lalu...???"


"Gue ngefans banget sama CEOnya. Ya ampun..!!! Ganteng, berkharisma dan coolnya itu loh ngalahin kulkas lima pintu. Ahh.... Jadi nggak sabar deh terbang ke Jakarta" ucap Zeze.


Diandra memutar kedua matanya dengan malas. Kawannya ini selalu lebay jika bercerita.


"Lu ikut yah?" ajak Zeze tiba-tiba.


Diandra menggeleng dengan cepat. Ia tidak mungkin ikut dengan Zeze ke Jakarta.


"Ah, Diandra nggak asyik! Ikutlah... ! Sekali-kali keluar dari Bali. Lu betah amat sih semedi di sini? Udah kecantol bule Bali ya?" cibir Zeze.


Diandra langsung melempar bolpen yang dipegangnya ke arah Zeze. Gadis di depannya ini selalu asal bicara. Mana mungkin Diandra kecantol bule Bali? Ngelirik saja tidak pernah.


"Ayolah, Dian! Temani gue ke Jakarta. Nanti setelah acara, gue bikinin konten deh buat lu. Lu bisa live aja di tok tok tik atau di instagram. Gue jamin fans-fans lu bakal gembirah riah..." ucap Zeze mengompori Diandra.


Diandra tetap menggelengkan kepalanya. Gelengan kepala Diandra tentu saja membuat Zezd semakin kesal. Ia memutar otaknya, mencari cara agar Diandra mau menerima ajakannya.


Zeze tidak ingin kesepian selama perjalanan. Zeze juga tidak ingin kesepian usai merampungkan pekerjaannya. Setidaknya jika ia pergi bersama Diandra, Zeze bisa lebih lama di Jakarta. Mereka bisa berkeliling dahulu sebelum akhirnya pulang ke Bali.


"Apa sih yang bikin lu nolak ajakan gue? Duit? Lu nggak bakalan keluar duit sepeserpun karena semua dibiayai sama temen gue."


"Gue nggak bisa ninggalin Juna, Zeze."


"Oh, Arjuna masalahnya! Bawa saja Arjuna ke Jakarta. Jangan lu kekep aja tuh bocah di sini. Sekali-kali ajak Juna ke tempat ramai. Jangan lu kurung aja di rumah" omel Zeze.


"Juna masih kecil, Ze. Gue khawatir dia rewel di pesawat. Udah ah! Keputusan gue sudah bulat. Gue nggak bisa nemenin lu" ucap Diandra.


"Lu nggak kasian sama gue? Kalau gue ilang gimana? Kalau gue nyasar gimana? Diandra, please temenin gue ke Jakarta. Lu nggak bakalan nyesel kok. CEO Sanjaya corp ganteng banget. Cocok buat jadi bapaknya Juna" ucap Zeze ceplas ceplos.


Diandra memicingkan kedua matanya. Lalu ia memukul bahu Zeze dengan keras. Bisa-bisanya Zeze berkata seperti itu? Apa Zeze tidak melihat siapa Diandra sehingga menyandingkannya dengan CEO terkenal?


"Diandra...! Ayolah! Gue nggak mungkin pergi sendiri. Gue juga nggak mungkin ngebatalan job ini. Tolonglah! Soal Arjuna, kan ada Mbok De. Gue jamin Arjuna nggak bakalan nangis kok kalau lu tinggal" bujuk Zeze lagi dan Diandra masih tetap pada pendiriannya.


Huh...!!! Zeze menarik nafas panjang. Harus dengan cara apalagi agar dirinya bisa membujuk Diandra? Zeze memutar otaknya. Ia harus bisa membujuk Diandra agar mau menemaninya.


"Gue mohon, Dian. Kaulah malaikat dalam hidupku. Tanpamu aku bukan siapa-siapa. Ikutlah denganku. Arjuna dan Mbok De juga. Arjuna anak yang pintar. Tidak pernah rewel. Lu aja yang berlebihan. Gue mohon! Gue mohon! Hu...hu...hu....." ucap Zeze sembari memeluk kedua kaki Diandra.


Diandra menggelengkan kepala ketika melihat tingkah Zeze. Zeze memang keras kepala. Apapun yang ia inginkan harus terwujud.


Diandra yang semula enggan menerima ajakan Zeze, menjadi luluh. Ia mengangguk pelan, mengiyakan ajakan Zeze.


Zeze langsung bangkit. Ia memeluk Diandra dengan erat. Bahagia sekali hati Zeze sekarang.


"Kapan acaranya?" tanya Diandra.


"Acaranya minggu depan. Tapi kita berangkatnya H-2, kembali H+2. Jadi kita di Jakarta selama lima hari. Kita bisa jalan-jalan, Di, keliling kota Jakarta. Sekali-kali healing lah! Jangan liatin tembok mulu" cibir Zeze.


"Juna akan gue bawa."

__ADS_1


"Bawa aja, Di. Gue yakin Arjuna pasti seneng!" ucap Zeze bersemangat.


__ADS_2