HEI JUN

HEI JUN
86


__ADS_3

"Cek...cek...satu, dua, tiga."


Seorang pemuda duduk di atas panggung sembari memegang gitar. Pemuda itu mengenakan kaos hitam dan topi hitam. Ia memetik senar gitanya satu persatu untuk memastikan jika senar-senar itu sudah tersetel dengan baik.


"Selamat malam Bapak, Ibu, Saudara, Saudari, Adik, Kakak yang berada di cafe ini. Perkenalkan nama saya Riyan, pemuda hitam manis asal desa sebelah."


Juna menghentikan suapan tangannya. Ia sedikit terkejut ketika melihat sosok yang sedang duduk di atas panggung.


"Kenapa?" tanya Atha.


"Suhri naik ke atas panggung, mungkin dia mau nyanyi" sahut Juna.


"Suhri? Apa kau salah dengar? Dia menyebut namanya Riyan bukan Suhri."


"Namanya Suhriyanto. Dia dulu murid di SMA Cendekia. Sejak saya mengenalnya, dia tidak pernah mau dipanggil Suhri melainkan Riyan" kata Juna menjelaskan.


Suhri memperlihatkan senyum menawannya. Pemuda hitam manis itu langsung mendapat teriakan histeris dari cewek-cewek ABG yang memang menjadi fans beratnya. Suhri melambai-lambaikan tangannya, memberikan ciuman jarak jauh kepada fans-fans nya.


"Riyan...., I love you!!!!" teriak seorang cewek yang duduk di meja no.9.


"I love you too. I love you too" balas Suhri dan cewek itu langsung berteriak kegirangan karena sapaannya dibalas oleh Suhri.


"Malam ini saya akan membawakan sebuah lagu untuk seseorang yang sedang galau karena melihat cem-cemannya lagi bermesraan dengan perempuan lain. Yok, Riyanholic! Angkat jempolnya! Kita nyanyi sama-sama" teriak Suhri memberi semangat kepada para penonton.


Fira menelan ludah. Apa-apaan sepupunya itu? Sejak kapan Suhri berada di atas panggung dan siap untuk bernyanyi? Fira mengusap wajahnya kasar. Akibat terlalu fokus melihat Juna, ia sampai tidak menyadari pergerakan Suhri.


Fira jadi khawatir. Lagu apa yang akan dinyanyikan Suhri. Ia tidak mau menjadi pusat perhatian jika nantinya terbawa perasaan.


Jreng...


Suhri mulai memetik gitar. Pemain musik yang lain mulai mengikuti Suhri.


Ku tak bahagia....


Melihat kau bahagia dengannya


Aku terluka


Tak bisa dapatkan kau sepenuhnya


"Si alan nih Suhri! Ngapain nyanyi lagu itu" gumam Fira kesal. Ia mengambil topi milik Suhri dan memakainya. Fira menunduk, ia takut ketahuan baper.


Suhri terus bernyanyi. Rupanya lagu yang dibawakan Suhri sedang hits. Tak heran jika banyak penonton yang ikut bernyanyi, bersama menyelami lagu yang sedang viral di aplikasi tok tok tik.


Hingga saat reffrent, penonton semakin menyatu dengan lagu itu. Suhri bahkan sering kali diam, memberikan kesempatan kepada penonton untuk bernyanyi. Biarlah dia mengalah. Jika penonton sudah mengambil alih lagu, Suhri bisa irit suara.


Musik mengalun lembut. Suhri mengangkat tangannya sembari bertepuk tangan. Pemain musik hanya memainkan instrumen saja. Suhri sengaja meminta seperti itu karena akan berinteraksi dengan pentonton.


"Kalian memang luar biasaaa........" teriak Suhri.


Huuuuuu


Tepuk tangan penonton menggema. Jangan tanya si Juna ikut bertepuk tangan apa tidak. Dia sejak tadi sibuk mencekal tangan Atha yang memberontak ingin maju ke depan.


Atha yang memang suka musik, tidak bisa menahan jiwa penontonnya. Ia ingin berada di panggung, ikut bernyanyi bersama-sama cewek lainnya.


Juna tentu saja tidak mengizinkan. Istrinya itu sedang kesakitan akibat Tyrex nya. Bisa saja dia tumbang saat berdiri di depan. Juna tidak mau mengambil resiko. Ia lebih memilih mencekal tangan istrinya agar tidak kabur.


"Pak Andika... ! Halo...! Halo...! Pak Andika!" panggil Suhri dari atas panggung.

__ADS_1


Andika yang saat itu berada di dapur, tentu saja langsung keluar. Ia mengangkat jempolnya ke atas karena ia pikir Suhri sedang butuh penilaian darinya.


"Pak Andika jempolnya nanti saja. Saya minta izin lampu di cafe ini di redupkan agar para penonton bisa menyalakan flashlight ponsel mereka. Boleh ya, Pak Andika?" tanya Suhri.


Andika mengangguk. Ia segera menyuruh karyawannya untuk melakukan apa yang diinginkan Suhri. Melihat keseruan penampilan Suhri, membuat Andika urung kembali ke dapur. Ia sepertinya akan menonton Suhri saja.


"Kawan-kawanku yang di sini dan di sana. Yuk nyalakan flashlightnya kalau lampu sudah mati! Riyan yang cakep ini mau nyanyi solo dulu. Siap? tu, wa, tu, wa, ga, pat."


Dreppp


Lampu dimatikan. Serempak para penonton menyalakan flashlight di ponselnya.


Harusnya aku yang di sana


Dampingimu dan bukan dia


Harusnya aku yang kau cinta dan bukan dia


Suhri menyanyikan lirik lagu itu sambil berjalan dalam kegelapan. Ia berjalan menghampiri Fira yang sedang menunduk. Suhri mengulang-ulang bait lagu itu hingga dirinya tepat berada di depan Fira.


Suhri menarik tangan Fira agar Fira bangkit menghadap dirinya. Fira langaung gelisah. Mau apa lagi sepupunya itu? Fira semakin menundukkan wajahnya. Dan sialnya Suhri kembali menyanyikan bait lagu itu dengan suara yang lebih tinggi dari sebelumnya. Ditambah lagi, tangan kanan Suhri menunjuk ke meja Juna.


Fira semakin menunduk. Bagaimana jika Juna menyadari kode dari Suhri? Fira sudah berkali-kali mendepak kaki Suhri, memberi kode agar ia menghentikan aksinya. Namun, Suhri sepertinya salah sangka. Ia mengira jika Fira ingin bernyanyi bersamanya.


Akhirnya Suhri menyodorkan microphone pada Fira. Fira terkejut dan dengan spontan melanjutkan lirik lagu yang dinyanyikan Suhri.


Harusnya kau tahu bahwa


Cintaku lebih darinya


Harusnya yang kau pilih bukan dia


Suara tepuk tangan penonton membahana ketika di akhir kata Fira menyanyikannya dengan nada tinggi.


Di sana, ada satu buah microphone lagi. Suhri mengambil microphone itu dan memberikannya pada Fira. Dasar Fira! Dia melanjutkan lirik lagu Suhri dan mengulangnya berkali-kali. Fira bahkan memberi kode kepada pemain musik untuk mengulang lagu itu dari awal.


Lagu versi Fira lebih dramatis, lebih terasa galaunya. Suhri memilih mundur saja. Ia membiarkan sepupunya itu meluapkan isi hatinya lewat lagu itu.


"Jun..." panggil Atha.


"Hem??."


"Perempuan itu sejak tadi menunjuk meja kita. Apakah kau kenal dengannya?" tanya Atha.


Atha sebenarnya pura-pura tidak tahu mengenai Fira. Ia pun kaget ketika melihat Fira naik ke atas panggung. Atha yang mengetahui perasaan Fira pada Juna tentu saja dapat menangkap isi lagu yang dinyanyikan Fira. Ditambah lagi gerak tubuh Fira yang selalu menunjuk ke arah Juna. Semakin menguatkan Atha jika Fira menyanyikan lagu itu untuk suaminya.


"Dia Fira, teman sekelas Suhri. Dia mengajar di SMA Cendekia sekarang" jawab Juna jujur.


Juna yang memang punya penyakit tidak peka tentu saja tidak terlalu baper dengan lagu yang dibawakan mantan muridnya itu. Juna pikir Fira hanya terlalu menghayati lagu dan tanpa sengaja menunjuk mejanya.


"Sejak tadi dia menunjuk ke arahmu, Jun. Apakah dia menyukaimu?" pancing Atha.


"Kebetulan saja mungkin. Sudah, jangan berfikir yang aneh-aneh! Mana mungkin Fira menyukai saya? Saya sudah tua. Di luar sana banyak laki-laki seumuran dia yang lebih baik dari saya" kata Juna.


"Bagaimana kalau dugaanku benar, Jun?" tanya Atha khawatir.


"Ya biarkan saja. Kamu mau saya bagaimana? Hak dia kan suka sama siapa saja. Sudahlah sayang tidak usah dipikirkan!" bujuk Juna.


"Bagaimana aku tidak memikirkannya, Jun? Dia lebih muda dan lebih cantik dariku. Aku takut kamu berpaling" ucap Atha sedih.

__ADS_1


Juna tersenyum.


"Fira memang lebih muda darimu. Tapi dia tidak lebih cantik darimu. Bagi saya, kamulah wanita yang paling cantik di dunia ini. Jangan pernah merasa rendah! Kamu mau menerimaku. Mau mendampingiku. Sudah sepantasnyalah aku juga menerimamu. Lebih baik kita pulang. Saya tidak mau kamu semakin sedih" ajak Juna.


Juna dan Atha beranjak dari tempat duduknya. Mereka meninggalkan cafe dengan raut wajah yang berbeda. Jika Juna menampakkan wajah datar biasa saja, Athalia malah menampakkan wajah kesal.


Lagi-lagi keberuntungan Juna memiliki penyakit tidak peka. Ia tidak menyadari jika istrinya sedang cemberut. Wajahnya di tekuk. Juna masih saja dengan gaya santainya, mengambil motor hendak bersiap untuk pulang.


Selama perjalanan menuju rumah, mereka saling diam. Juna memang tidak mengeluarkan suara karena ia sedang fokus menyetir. Sedangkan Atha memilih diam karena kepalanya masih memikirkan tentang Fira.


Pasangan suami istri itu masih saja saling diam meskipun sudah tiba di rumah. Atha buru-buru masuk ke dalam kamar mandi. Cuci muka, gosok gigi dan berganti baju. Ia tidak menunggu Juna yang sedang memasukkan motor.


Usai dengan segala ritualnya, Atha naik ke atas kasur dan merebahkan tubuhnya. Ia menatap langit-langit kamar mereka.


'Aku pernah berjanji akan menyatukan Juna dengan Fira. Mengapa sekarang malah aku memisahkan mereka? Aku tidak rela jika menyerahkan Juna pada Fira. Hatiku sakit sekali jika membayangkan hal itu ' gumam Atha.


Ceklek.


Juna masuk ke dalam kamar dan netranya langsung melihat istrinya yang sedang melamun. Ia membiarkan dahulu Atha melamun. Sepertinya sang istri sedang berada dalam zona galau.Juna memberikan waktu sendiri untuk Atha. Ia akan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Baru setelah itu dia akan bergabung dengan istrinya.


"Lagi mikirin apa, sayang?" Juna naik ke atas kasur. Ia juga merebahkan tubuhnya di samping Athalia.


"Aku masih mikirin yang tadi, Jun."


"Kenapa masih dipikirkan?" tanya Juna tak suka.


"Aku hanya takut, Jun. Wajarkan aku takut?."


"Apa yang kamu takutkan?."


"Aku takut Fira merebutmu dariku. Aku bisa melihat dengan jelas saat dia bernyanyi. Dia benar-benar menyanyikan lagu itu untukmu, Jun" ucap Atha.


"Kemarilah! Peluk suamimu ini!" perintah Juna yang segera dilakukan oleh Atha.


Nyaman, begitulah perasaan Atha saat berada di pelukan Juna. Ia menyandarkan kepalanya di dada bidang Juna sedangkan kedua tangannya memeluk Juna dengan erat.


"Saya mau bertanya, siapakah nama suamimu?" tanya Juna.


"Mayjuna July Agustino" jawab Atha.


"Apa pekerjaannya?."


"Dia bekerja di Sanjaya corp. Pemilik SMA Cendekia juga."


"Benar! Suamimu hanyalah orang biasa. Bukan CEO tampan dan rupawan seperti Mr. Adirra. Jika Mr. Adirra banyak pengagumnya, itu hal yang wajar. Berbeda dengan Mayjuna. Saya hanya laki-laki biasa yang banyak kekurangan. Kamu tidak perlu risau akan ada yang merebutku. Karena jiwa dan ragaku seutuhnya hanya milikmu" ucap Juna ia kemudian mengecup kening istrinya dengan sayang.


Hati Athalia menghangat. Wajahnya semakin merona mendengar ucapan dari Juna. Ia semakin mengeratkan pelukannya pada Juna seakan-akan tidak ingin berjarak se inci pun dengan Juna.


"Sayang..." panggil Juna.


"Hemmm..."


"Apa kau juga sayang padaku?" tanya Juna lagi.


Atha mengangguk.


"Tyrex milik saya bangun. Sepertinya dia ingin berkelana lagi."


Atha mendongakkan kepalanya. Dilihatnya kedua netra Juna yang sudah berkabut.

__ADS_1


"Boleh ya, sayang?" bisik Juna di telinga Atha.


"Boleh. Asal pelan-pelan" jawab Atha yang langsung dibalas Juna dengan seringai puas.


__ADS_2