HEI JUN

HEI JUN
134


__ADS_3

Atha berkali-kali ke kamar mandi. Perutnya benar-benar tidak bersahabat kali ini. Berkali-kali Atha mengeluarkan isi perutnya. Atha tentu saja merasa lapar. Namun, ketika ia selesai melahap suatu makanan beberapa detik kemudian ia akan memuntahkannya.


Atha sampai menangis melihat kondisinya. Kemarin dirinya masih baik-baik saja, menyantap masakan ibunya dengan lahap. Namun, mengapa kali ini berbeda? Mengapa tidak ada satupun yang masuk ke dalam perut Atha?


Atha berjalan sempoyongan menuju tempat tidur. Ia merebahkan tubuhnya sembari mengusap air matanya. Ia mangambil ponsel untuk melihat jam berapa sekarang. Air matanya semakin jatuh bercucuran setelah tahu jika jam pulang Juna masih lama.


Tok...Tok...Tok..


Pintu kamar diketuk. Atha langsung menyuruh orang itu masuk. Tanpa bertanya pun, Atha sudah tahu pastilah Mbok De yang mengetuk pintu. Mbok De masuk dengan menggendong Arjuna.


"Mamaaaa....." teriak bocah itu. Kedua tangan Arjuna memegang mainan pesawat yang kemarin dibelikan oleh Juna. Wajah Arjuna nampak senang sekali. Ia tertawa lebar sembari memainkan pesawat itu.


"Ibu sakit? Wajah Ibu pucat" Mbok De buru-buru menghampiri Atha. Ia meletakkan Arjuna di atas kasur, di samping Athalia yang sedang merebahkan tubuhnya.


"Saya muntah terus, Mbok. Kemarin tidak apa-apa. Mengapa sekarang begini?" Atha mengusap air matanya. Ia tidak mau Arjuna melihatnya menangis.


"Apa mau telepon Pak Juna?" tanya Mbok de menawari.


"Jangan, Mbok! Juna pasti sedang sibuk di kantor. Saya tidak mau mengganggu Juna" jawab Atha membuat Mbok De mengernyitkan dahi.


"Pak Juna di kantor? Bukannya tadi Pak Juna pamit mau pulang kampung?" tanya Mbok De heran.


Atha tercengang. Benar apa yang dikatakan Mbok De. Suaminya sedang pulang kampung. Ia kembali menangis, suaminya tidak akan pulang hari ini. Entah mengapa hal itu membuat Atha sedih.


"Kenapa menangis, Bu? Saya telepon Pak Juna saja ya?" tanya Mbok De cemas.


Atha tetap menggeleng. Ia tidak mau menelepon Juna karena menurutnya percuma. Atha meminta Mbok De untuk memasak saja, membuatkan sesuatu yang segar seperti rujak atau jus.


Ponsel Atha berdering. Atha buru-buru mengambil benda pipih itu dan melihat nama yang tertera di layar ponselnya. Wajahnya kembali kecewa ketika bukan nama Juna yang tertera di sana.


"Halo..." ucap Atha malas.


"Atha, kau ini ke mana? Kau bilang mau menemui Juna di kantor, mengapa sampai berhari-hari belum pulang?" Bu Nora langsung berkicau.


"Ah, iya, Atha lupa Bu!."


"Lupa? Bagaiamana kau ini? Kau di mana sekarang? Apakah kembali ke apartemen?" tanya Bu Nora.


"Tidak, Bu. Atha tinggal di rumah."


"Rumah? Rumah siapa? Rumah yang mana?" tanya Bu Nora kaget.


"Ru...ru...ru...rumah baru kami, Bu. Mas Juna membeli rumah baru dan kami langsung pindah ke sini."


"Astaga anak ini!!! Bisa-bisanya kamu pindahan tidak bilang sama kami?" pekik Bu Nora.


"Ma...maaf Bu. Atha lupa."


"Sekarang kirim lokasi rumah baru kalian. Ibu sama bapak mau kesana."


Tutttt....


Panggilan terputus. Atha menghela nafas panjang. Ia segera mengirimkan lokasi rumah barunya melalui aplikasi berwarna hijau. Atha hendak merebahkan lagi tubuhnya. Namun, perutnya kembali bergejolak sehingga ia langsung berlari ke kamar mandi.

__ADS_1


"Mama....?" bocah laki-laki itu nampak cemas ketika melihat Atha keluar dari kamar mandi. Arjuna menepuk-nepuk kasur, meminta Atha untuk tidur di sana.


"Mama sakit?" tanya bocah laki-laki itu lagi.


"Tidak. Mama tidak sakit."


Arjuna yang tidak percaya langsung menempelkan telapak tangannya di dahi Atha. Melihat tingkah bocah itu membuat Atha tersenyum.


"Mama tidak sakit" ulang Arjuna.


"Mama sudah bilang kan kalau tidak sakit. Arjuna sudah makan?" tanya Atha.


"Sudah Mama."


"Mama tiduran dulu, boleh?."


"Boleh. Sini, Juna puk puk!."


Arjuna menarik selimut milik Atha. Ia mulai menepuk-nepuk punggung Atha dengan perlahan. Ajaibnya, tindakan Arjuna itu membuat Atha mengantuk. Perlahan, Atha terlelap dengan Arjuna yang masih setia menepuk-nepum punggungnya.


"Juna? Kamu ngapain, Nak?" tanya Mbok De, perempuan paruh baya itu masuk dengan membawa rujak buah.


"Ssstttt! Jangan berisik! Mama lagi tidur" ucap Arjuna.


Mbok De tersenyum. Ia lalu meletakkan rujak yang dibawanya di atas nakas. Mbok De mengulurkan tangannya, meminta Arjuna agar mendekatinya. Mbok De tidak mau Arjuna mengganggu Atha yang sedang tidur. Ia akan membawa Arjuna ke halaman depan.


Namun, Mbok De dibuat kaget ketika dirinya membuka pintu. Nampak dua orang asing sedang berdiri di depan pintu. Kedua orang itu juga kaget melihat Mbok De. Karena mereka pikir jika orang yang membuka pintu adalah anak mereka.


"Apakah ini rumah Juna? Saya mau bertemu anak saya" ucap Pak Fajar.


"Benar, Pak, Bu. Pak Juna sedang pulang kampung. Hanya ada Ibu Atha di rumah, tapi sedang tidur."


Paham jika tamu yang datang adalah orang penting, Mbok De segera mempersilakan mereka masuk. Mbok De meminta Pak Fajar dan Bu Nora agar menunggu di ruang tamu. Mbok De akan mengecek Atha, mungkin saja sudah bangun.


Mbok De membuka pintu kamar Atha dengan perlahan. Mbok de memang sengaja tidak mengetuk pintu karena khawatir jika Atha masih tidur.


"Eh?" Mbok De sedikit kaget ketika melihat Atha sedang menyantap rujak buatannya.


Ternyata Atha sudah bangun, perutnya kembali tidak bersahabat sehingga membuatnya harus ke kamar mandi lagi. Atha sedikit merasa senang ketika melihat rujak di atas nakas. Ia langsung mengambil rujak itu dan memakannya. Segar sekali.


"Ada apa, Mbok?."


"Ada tamu di bawah."


"Oh, itu orang tua saya Mbok. Sebentar, saya akan turun."


Mbok De keluar dari kamar Atha. Ia langsung ke dapur untuk membuat minuman. Untung saja Arjuna sedang dalam mode tidak rewel sehingga Mbok De bisa mendudukkan Juna di kursi anak sedangkan dirinya membuat minuman.


"Bapak....!! Ibu..!!!" seru Atha.


"Anak ini main pindah rumah saja" omel Bu Nora.


"Maaf, Bu! Mendadak" ucap Atha nyengir.

__ADS_1


Bu Nora melihat piring yang dibawa anaknya. Ia menggelengkan kepala melihat isi dari piring yang dibawa anaknya. Bu Nora tahu betul jika putri semata wayangnya tidak suka buah-buahan asam dan sekarang Atha menyantap buah-buahan itu seperti memakan nasi goreng.


"Enak?" tanya Pak Fajar, dirinya bergidik melihat tingkah putri semata wayangnya.


"Enak, Pak. Setidaknya Atha bisa makan."


"Memangnya selama ini kamu tidak bisa makan?" tanya Bu Nora.


"Bisa, Bu. Tapi dikeluarin lagi."


Bu Nora segera bangkit dari duduknya. Ia mengambil piring yang dipegang anaknya. Bu Nora bertanya di mana letak dapur. Ia akan memasak untuk anaknya.


Mereka bertiga akhirnya pindah ke dapur. Mbok De yang semula hendak ke ruang tamu akhirnya urung. Ia meletakkan minuman yang dibuatnya tadi di atas meja makan.


"Mbok De bisa istirahat. Tolong bawa Arjuna juga" ucap Atha dan Mbok De hanya mengangguk, melaksanakan tugas yang diberikan oleh oleh majikannya.


Mbok De mengambil Arjuna yang sedang duduk bermain mobil-mobilan. Ia segera membawa Arjuna pergi meninggalkan dapur.


"Siapa anak itu? Anak pembantu kamu?" tanya Bu Nora.


Atha diam. Ia tidak berani menjawab pertanyaan ibunya.


"Kenapa diam? Apakah pertanyaan Ibu sulit?" tanya Bu Nora lagi.


"Tidak Bu."


"Lalu, apa jawabannya?."


"Dia anak Mas Juna."


Pranggg...


Piring yang dipegang Bu Nora lepas. Bu Nora kaget mendengar ucapan anaknya.


"Apa maksudmu? Dia anak Juna? Juna selingkuh?" teriak Bu Nora.


Atha menggeleng. Ia lalu menceritakan kisah Juna sebelum bertemu dengannya. Atha menceritakan secara detail tanpa mengurangi dan menambah cerita sebenarnya.


Bu Nora nampak tidak terima. Ia marah besar setelah mengetahui masa lalu menantunya. Bu Nora mengomel, membuat suasana hati Athalia kembali buruk.


Atha yang sedang tidak baik-baik saja memilih meninggalkan ibunya. Ia tidak kuat jika terus mendengar omelan ibunya.


"Anak itu benar-benar sudah berubah! Semakin tidak beres" teriak Bu Nora.


"Bu, jangan berteriak! Ini rumah orang" tegur Pak Fajar.


"Bodo amat! Ibu nggak peduli. Ini semua gara-gara Bapak. Bapak yang menerima si Juna jadi mantu kita" ucap Bu Nora menyalahkan Pak Fajar.


"Lah? Emangnya Bapak salah? Nggak dong. Lagi pula itu hanya masa lalu menantu kita. Tidak perlu dipermasalahkan lagi, Bu" bujuk Pak Fajar.


"Nggak bisa dong, Pak. Masak menantu kita sudah punya anak begini? Ibu malu, Pak. Malu."


"Pakai karung kalau malu, Bu. Ah, sudahlah! Ibu jangan buat keributan! Lebih baik lanjutkan memasak agar anak dan cucu kita tidak kelaparan."

__ADS_1


__ADS_2