
Lia terkejut saat membuka pintu rumahnya. Nampak Pak Zaini dan beberapa orang yang Lia tidak tahu siapa sedang berdiri dengan membawa beberapa barang. Lia mengamati tampilan mereka. Empat orang laki-laki termasuk Pak Zaini dan dua orang perempuan. Semuanya memakai baju batik berwarna merah dengan corak batik berbeda.
Lia semakin heran melihat barang bawaan Pak Zaini. Ada beras dua karung, pisang satu tandan, dan beberapa roti yang dikemas dalam kotak. Lia menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ada apa ini? Kenapa malam - malam begini Pak Zaini ramai-ramai datang ke rumahnya? Ada perlu apa ya?
"Selamat malam, Lia" sapa Pak Zaini ramah.
"Selamat malam juga. Pak Zaini? Ada apa ya?" tanya Lia canggung. Ia bahkan belum mempersilakan tamunya untuk masuk terlebih dahulu.
"Bapak sama ibu ada?" tanya Pak Zaini tersenyum.
"Ada, Pak. Pak Zaini ada perlu sama orang tua Lia?."
"Bisa dibilang begitu."
"Mari masuk, Pak. Lia panggilkan dulu."
Rombongan Pak Zaini yang berjumlah enam orang itu segera masuk dan duduk di ruang tamu. Lia bergegas memanggil kedua orang tuanya yang sedang bersantai di ruang tengah. Kebiasan di rumah Lia, setelah makan malam mereka akan berkumpul di ruang tengah sembari menonton televisi bersama-sama.
"Pak, ada tamu?" kata Lia ketika sudah sampai di ruang tengah.
"Siapa?."
"Kepala sekolah, Pak."
"Apa? Kenapa beliau datang kesini? Kamu bikin ulah ya?" tanya Ayah Lia kaget.
"Bukan, Pak. Lia juga nggak tahu. Bapak temuin nggih! Pak Zaini datangnya rame-rame pula bikin Lia khawatir."
Ayah Lia mengangguk. Ia bergegas ke ruang tamu untuk menemui Pak Zaini. Melihat kemunculan Ayah Lia, keluarga Pak Zaini kompak berdiri. Mereka bersalaman dengan ayah Lia secara bergantian.
"Bapaknya Lia?" tanya Pak Zaini ingin memastikan.
"Benar, Pak Zaini. Saya Anton, Bapaknya Lia."
"Salam kenal Pak Anton. Sebelumnya saya minta maaf karena bertamu malam-malam begini. Sejujurnya saya takut mengganggu waktu istirahat sampean" kata Pak Zaini membuka percakapan.
"Ah, tidak apa-apa, Pak Zaini. Saya tidak merasa terganggu. Ngomong-ngomong ada keperluan apa ya sampai Bapak Zaini membawa rombongan berkunjung kesini?" tanya Anton sopan.
"Mohon maaf sebelumnya jika kedatangan kami yang mendadak ini mengagetkan Pak Anton. Saya mewakili keluarga istri saya berniat melamar anak Pak Anton untuk Noval, adik ipar saya."
Deg
Lia yang sedang menguping di balik dinding seketika membeku.
"Apa katanya? Melamar? nggak salah tuh?" tanya Lia dalam hati.
"Melamar anak saya? Lia?" tanya Pak Anton memastikan.
__ADS_1
"Benar, Pak. Saya ingin melamar Lia untuk Noval."
Lia menelan ludah. Noval? laki-laki yang baru tadi siang bertemu dengannya? Ah... pasti laki-laki itu sedang mabok. Lia pasti salah dengar. Mana mungkin Noval melangsung melamarnya padahal mereka baru bertemu tadi siang?
Mimpi. Ini pasti mimpi. Lia benar-benar tidak percaya. Apalagi ketika ia kembali mengintip dan menguping. Indra pendengarannya tetap menangkap berita jika Pak Zaini melamar dirinya untuk Noval.
Puk... Puk... Puk...
Lia menepuk-nepuk kedua pipinya untuk memastikan jika sekarang ia tidak sedang bermimpi. Merasakan sakit di kedua pipinya, membuat wajah Lia berubah pucat. Ia segera berlari ke kamarnya, mengunci pintu dan menghubungi Andika.
"Dikaaaa......"teriak Lia ketika telepon terhubung.
"Apaan? main teriak-teriak aja sih."
"Ke rumah gue sekarang, Dika! Ini penting! penting sekali" perintah Lia.
"Halah... dilamar Noval aja penting. Penting buat lu nggak penting buat gue" sahut Andika membuat Lia kaget.
"Hei, kenapa lu bisa tahu? Gue belum cerita."
"Nggak usah lu cerita. Gue lihat story si Noval. Keluarganya lagi foto bareng ama bapak lu. Captionnya duh.... bismillah lamaran. Gue bales lah. Aamiin. Semangat, Bro" kelakar Dika membuat Lia benar-benar ingin berteriak sambil bergulung-gulung di lantai.
"Terus gue harus gimana, Dika? Gue takut nih" tanya Lia cemas.
Pasalnya ia benar-benar belum siap memulai hubungan serius dengan seorang laki-laki. Lia masih ingin menikmati hidupnya sebagai seorang single yang bebas pergi kemanapun tanpa harus ribet sana-sini mengurus kebutuhan rumah tangga.
"Dikaaa.... jangan diem dong! Bantu gueeee......" teriak Lia. Ia benar-benar frustasi saat ini. satu-satunya orang yang bisa diajak diskusi adalah Andika. Karena hanya Dika lah pihak netral yang bisa memberinya solusi tanpa memihak kedua kubu.
"Lu mau gue bantu apa?."
"Bantu gue harus gimana?."
"Lah tinggal jawab iya atau nggak aja minta bantuan gue? Lagian gue di cafe, lagi rame nih. Nggak mungkin gue tinggal cuma buat nyampein jawaban lu ke Pak Zaini."
Lia menghentakkan kedua kakinya. Kesal sekali mendapat respon seperti itu dari Andika. Perasaannya mulai tidak enak. Bagaimana nanti jika Bapaknya mengiyakan lamaran Pak Zaini? Itu artinya Lia akan menjadi ipar Kepala SMA Cendekia. Duh.... pasti hebohlah di sekolah nanti.
Tapi mengingat umur Lia yang masih dua puluh dua tahun, rasanya tidak mungkin jika Bapaknya menerima lamaran itu. Pak Anton sendiri pernah berkata jika belum siap melepas Lia. Lia baru boleh menikah setelah adik Lia lulus kuliah.
Pintu kamar Lia di ketuk. Lia segera memutus sambungan teleponnya. Dia yakin saat ini Dika pasti memakinya karena mematikan telepon tanpa pamit. Suara ketukan pintu kamar Lia semakin keras membuat Lia bergegas berlari membuka pintu.
"Dipanggil Bapak" kata Ibu Lia.
"Iya, Bu. Tamunya masih ada apa sudah pulang?" tanya Lia khawatir.
"Baru pulang. Ayo cepat keluar. Bapak mau bicara."
Lia segera keluar menuju ruang tamu. Di sana Pak Anton sudah menunggu Lia sembari menikmati roti yang dibawa oleh keluarga Pak Zaini.
__ADS_1
"Duduk!" perintah Pak Anton. Ia segera menghabiskan potongan rotinya sebelum memulai pembicaraan serius dengan anaknya.
"Ada apa, Pak?."
"Bapak cuma mau bilang tadi Pak Zaini melamarmu untuk adiknya yang bernama Noval."
"Lalu Bapak jawab apa?" tanya Lia. Ia semakin gelisah tak karuan.
"Ya, Bapak bilang kalau masalah ini tergantung kamu. Mau apa tidak. Bapak sih tidak memaksa. Tapi kata orang dulu, tidak baik menolak lamaran pertama yang datang. Pamali, tau nggak?" kata Pak Anton membuat kadar kegelisahan di hati Lia meningkat.
"Biar Lia berfikir dulu, Pak. Mereka juga ngelamarnya mendadak. Mungkin Lia masih kaget" sahut ibu Lia. Beliau sepertinya paham jika putrinya itu butuh waktu untuk berfikir.
"Bapak tadi juga bilangnya begitu, Bu, sama Pak Zaini. Tapi si Noval ini lho ngebet banget. Katanya sih jatah cutinya dari kantor cuma seminggu. Jadi dia buru-buru gitu. Dia cuma beri waktu dua hari buat Lia" kata Pak Anton.
"Bapak sama Ibu tidak memaksa Lia. Tapi ya... kami juga khawatir kalau lamaran pertama ini ditolak. Lagipula Noval juga sudah siap dan mantap untuk melamarmu. Bahkan tadi dia juga bilang seandainya langsung menikah besokpun, dia siap-siap saja" kata ibu Lia.
"Pikirkan baik-baik ya, Nak. Bapak tidak mau kamu menderita. Bapak juga bingung harus bagaimana. Berfikirlah dan berikan jawaban kepada mereka dua hari lagi. Bapak dan ibu ikut kamu. Diterima syukur, nggak diterima semoga kamu nggak kena tulah. Udah gitu aja" perintah Pak Anton.
Lia mengangguk. Ia akan mengikuti saran dari bapaknya untuk memikirkan lamaran Noval terlebih dahulu. Sepertinya malam ini Lia akan menemui Andika untuk meminta pendapat. Saudaranya itu meskipun dablek, tapi bisa dimintai pendapat. Apalagi masalah serius seperti ini.
Lia meminta izin kepada kedua orang tuanya untuk menemui Andika terlebih dahulu. Untunglah orang tua Lia bukan tipe orang tua yang kolot. Mereka menyerahkan semuanya kepada Lia karena itu menyangkut kenyamanan hidup putri mereka.
***
Di Surabaya, Juna tak henti-hentinya melakukan kesalahan saat pelatihan. Berkali-kali ia ditegur oleh instruktur karena salah mengoperasikan laptop. Juna sampai membuat instrutur itu naik darah karena kesalahan yang ia lakukan.
Bagaimana bisa Juna terus melakukan kesalahan padahal buku panduan sudah menjelaskan secara detail. Para instruktur juga dengan telaten memberikan arahan. Namun, dasar Juna saja yang gaptek dan tidak fokus.
Seharusnya Juna sudah menyelesaikan tugasnya tadi sore bersama dengan guru-guru yang lain. Berhubung hasil pekerjaan Juna ditolak berkali-kali, maka Juna harus mengerjakan ulang di kamarnya.
Berkali-kali ia meminta bantuan dari teman sekamarnya. Namun, yang namanya Juna. Tetap saja tidak mengerti meskipun diberi tahu.
"Kamu sarjana apa bukan sih? ngetik aja salah terus" gerutu teman Juna.
"Sarjana, Bang. Saya kan guru olahraga. Biasanya megang bola bukan laptop" sahut Juna membela diri.
"Yang namanya kuliah kan bikin skripsi, Pak Juna. Skripsi itu diketik. Masak iya dulu skripsinya Pak Juna ditulis tangan?" tanya teman Juna lagi.
Ia yang kesal karena Juna tidak paham juga, akhirnya memilih pergi. Juna tidak melarang. Memang salahnya yang gaptek. Memang salahnya yang tidak fokus. Juna menarik nafas panjang sembari membaca deretan huruf-huruf asal yang tadi diketiknya.
"Aku benar-benar tidak fokus" kata Juna dalam hati.
"Lia sedang apa ya? Jadi kangen sama Lia" kata Juna lagi.
Juna merutuki kebodohannya sendiri yang tidak memiliki nomor handphone Lia. Sempat terbesit ide di kepalanya untuk menghubungi Andika. Namun, ia segera menepis ide itu karena khawatir akan diledek oleh Andika.
Hmm.... sepertinya Juna harus menahan rasa rindunya dulu. Ia memilih melanjutkan mengerjakan tugas-tugasnya yang belum selesai karena besok harus segera dikumpulkan.
__ADS_1
Juna mensugesti dirinya-sendiri agar bisa fokus dan tidak selalu memikirkan Lia yang entah sedang ada dimana, dengan siapa dan sedang apa sekarang.