HEI JUN

HEI JUN
24


__ADS_3

"Di....! Diandra...! bangun! Aku mau ke kamar mandi" Juna menggerakkan bahu kanannya untuk membangunkan Diandra.


Diandra yang sejak semalam masih tidur pulas di atas tubuh Juna sepertinya tidak terusik sedikitpun dengan ulah Juna. Aktifitas panas mereka semalam benar-benar membuat mereka kelelahan sehingga baik Juna maupun Diandra tertidur sampai pagi begini.


Kebas? tentu saja. Kedua tangan dan kaki Juna terasa sakit akibat tak bisa bergerak. Ditambah lagi Diandra yang tidur di atas tubuh Juna semalaman membuatnya seperti mengalami patah tulang di bagian pinggang dan rusuk.


"Di... Diandra... bangun!!! Aku mau ke kamar mandi!."


Juna kembali mencoba membangunkan Diandra yang masih dengan enaknya terlelap di atas tubuhnya. Kali ini Juna menghentakkan kedua pahanya sehingga membuat tubuh Diandra sedikit tergoncang.


"Apa sih Juna? Aku masih mengantuk" kata Diandra sambil menggeliat malas.


"Aku ingin ke kamar mandi, Di. Sejak kemarin aku belum ke kamar mandi" kata Juna sembari menahan nyeri di pucuk tiangnya.


"Satu ronde lagi ya? Setelah itu kau boleh mandi" kata Diandra dengan suara serak khas orang bangun tidur.


"Di... aku mohon. Aku sudah tidak tahan ingin ke kamar mandi. Tolong izinkan aku ke kamar mandi dulu" kata Juna sambil menggerak-gerakkan kakinya untuk mencegah hal yang memalukan terjadi.


Diandra menguap lalu ia pun bangkit dengan malas. Diandra turun dari tubuh Juna dan mengambil kunci di laci nakas. Meski dengan mata terpejam, Diandra bisa dengan cepat membuka kedua borgol itu.


"Aku ke kamar mandi, Di" kata Juna ketika Diandra berhasil membuka borgol yang terakhir.


Juna segera berlari ke kamar mandi untuk buang air kecil. Lega, ia benar-benar merasakan kelegaan yang luar biasa setelah mengeluarkan tumpukan benda cair itu. Merasa tanggung hanya dengan buang air kecil, Juna memutuskan untuk sekalian mandi karena badannya benar-benar lengket dan berbau.


Juna memutar kran shower, memilih untuk mandi dengan air dingin. Ya, dia butuh sesuatu yang segar setelah apa yang Juna alami semalam. Guyuran air dingin ke kepalanya benar-benar membuat Juna merasa segar.


"Sayang....."


Juna mematikan kran shower dengan spontan ketika sebuah tangan dengan kurang sopannya memegang belalainya. Ia langsung saja menoleh ke belakang dengan gusar dan kedua matanya langsung membola ketika mendapati Diandra sedang memeluknya sembari memegang benda keramat miliknya.


"Bodoh...!!!" umpat Juna.


Akibat terburu-buru masuk ke kamar mandi, Juna sampai lupa untuk mengunci pintu. Kebiasaan di rumah Juna yang terbawa kesini.


Juna mengusap wajahnya dengan kasar. Ia benar-benar merutuki kecerobohannya. Hal itu sama saja seakan-akan Juna memberikan kesempatan kepada Diandra untuk bermain lagi.


"Satu ronde lagi, Sayang, untuk sarapanku" kata Diandra dengan suara paraunya.


Tangan Diandra terus melanjutkan aktifitasnya dengan belalai Juna yang entah sejak kapan sudah kembali berdiri tegak dan siap untuk berperang lagi. Diandra yang sudah tak berbusana itu langsung bergabung dengan Juna di bawah guyuran air shower.

__ADS_1


"Hentikan, Di...!."


"No...! Give me my breakfast, Jun" kata Diandra dan ia langsung memutar tubuh Juna agar menghadapnya.


Diandra mendudukkan Juna di closet dan dengan cepat ia duduk, memasukkan belalai Juna pada kandangnya. Juna benar-benar dibuat meringis melihat tingkah Diandra. Ini sudah ketiga kali Diandra bertidak seperti itu. Apakah Diandra tidak kesakitan saat memasukkan tombak tajam milik Juna tanpa pemanasan terlebih dahulu?


Seperti semalam, Diandra kembali memekik ketika belalai Juna sudah berhasil masuk ke dalam kandangnya. Juna berusaha mendorong tubuh Diandra. Namun, ia tersadar jika tindakan yang Juna lakukan bisa melukai Diandra mengingat mereka sedang bergelut di kamar mandi.


Juna memilih pasrah dan lagi - lagi mereka melakukan olahraga bahkan lebih hebat dari semalam. Mereka bahkan sampai bermain dengan bermacam-macam posisi. Hingga satu jam kemudian Juna dan Diandra keluar dari kamar mandi dengan mengenakan bathrob.


Diandra duduk di depan kaca riasnya, menyisir rambutnya yang tadi sudah ia keramas. Sedangkan Juna memilih duduk di pinggir ranjang sambil berfikir bagaimana caranya agar ia bisa kabur dari tempat itu.


Pintu kamar terbuka dan salah satu bodyguard Diandra masuk membawakan sarapan untuk mereka. Diandra segera bangkit dari tempat duduknya, mengambil barang yang dibawa bodyguardnya. Setelah itu Diandra langsung menyuruhnya pergi.


Juna bisa melihat orang itu membawa dua piring berisi makan, dua botol air mineral dan sebuah paperbag kecil yang ia tidak tahu isinya apa. Juna berdoa dalam hati semoga isi paperbag itu bukan benda-benda yang membahayakan dirinya.


"Makan..!!!" perintah Diandra. Ia sudah duduk di hadapan Juna sambil menyodorkan sendok berisi nasi goreng ke mulut Juna.


"Nggak. Aku nggak lapar."


Diandra menatap Juna dengan tajam. Entah mengapa nyali Juna langsung ciut. Juna langsung membuka mulutnya dan membiarkan Diandra menyuapinya. Juna makan dalam diam. Karena sejujurnya ia juga bingung dengan tingkah Diandra yang berubah-ubah seperti itu.


"Di..."


"Hmmm...???."


"Kau kenapa? Apa ada masalah? Kenapa kau melakukan ini?."


Diandra tak menjawab.


"Kamu tidak seharusnya melakukan pergulatan panas denganku, Di. Dua kali aku melepaskan di dalam. Di, Apakah kamu tidak khawatir jika nanti kamu hamil?" tanya Juna khawatir.


"Aku sudah suntik KB. Hentikan membahas hal yang tidak penting, Jun!."


Entah dorongan dari mana, Juna menarik tangan Diandra yang hendak beranjak pergi. Ia membawa Diandra kedalam pelukannya.


"Ceritakan...!!! Apa yang terjadi dengan pernikahanmu? Mengapa kamu menyerahkan keperawananmu kepadaku? Apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan suamimu?" tanya Juna dengan nada suara yang melunak.


Diandra diam. Ia seperti orang ling lung yang hendak bercerita tapi tak bisa mengatakannya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu" bisik Diandra dan Juna bisa merasakan jika Diandra mulai menangis.


"Aku tahu. Tapi kau juga harus sadar jika kau sendiri yang memilih meninggalkanku."


"Andai saja kamu menuruti kemauanku. Berhenti menjadi guru honorer dan merantau ke kota besar. Kita pasti masih bersama saat ini" kata Diandra.


Juna menghela nafas panjang. Memang benar apa yang diucapkan Diandra. Salah satu penyebab mereka berpisah adalah ketidak mampuan Juna secara finansial. Orang tua mana yang mau menyerahkan anak perempuannya kepada laki-laki miskin seperti Juna? untuk menghidupi dirinya sendiri saja tidak mampu, apalagi membiayai anak orang?


Juna yang terlahir sebagai bungsu dari tiga bersaudara, selalu mendapatkan kemudahan dari keluarganya. Ia terlalu nyaman bermain-main tanpa memikirkan masa depannya. Juna tidak pernah berfikir akan mandiri. Ia selalu berfikir ada Bu Tias yang bisa diandalkan. Ada Ines dan Haris yang bisa Juna mintai tolong.


Juna tidak pernah berfikir akan mandiri. Ia tidak pernah berfikir tentang kelanjutan hubungannya dengan Diandra. Hingga akhirnya usianya dan Diandra semakin menua. Juna masih belum bisa memberikan kepastian tentang hubungan mereka ke depan.


"Maaf, mungkin kita tidak berjodoh. Kita tidak ditakdirkan bersama meskipun saling mencintai" kata Juna lirih dan itu membuat Diandra langsung mendorong tubuh Juna agar melepas pelukannya.


"Tidak berjodoh katamu? Lalu siapa jodohmu? Guru baru itu? atau dokter magang itu? iya? dan jodohku? Laki-laki impoten yang tidak bisa memuaskan hasratku? Oh dunia ini sangat lucu" kata Diandra.


Juna bungkam, tidak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan Diandra.


"Aku tidak pernah meninggalkanmu. Tapi Ayah yang memaksaku menikah dengan laki-laki impoten itu...!."


"Dia suamimu, Di!."


"Ya, dia suamiku. Suamiku yang impoten sedangkan kamu adalah kekasihku, Jun. Milikmu benar-benar memuaskanku, Juna. Jika kita rutin melakukan kegiatan penting seperti tadi maka aku tidak perlu ribut dengan Arya ketika aku sedang menginginkan surga dunia. Karena sekali lagi aku katakan jika milikmu sangat memuaskanku" kata Diandra kemudian mencium pipi kanan Juna.


"Tidak, Di! Hapus ide gilamu itu!."


"Ide gila??? Sayang... kau harusnya setuju dengan ideku. Kita tetap bisa memadu kasih dan kamu tidak perlu memusingkan masalah keuangan. Aku hanya butuh kau puaskan dengan milikmu, bukan uangmu. Aku bisa mengeruk uang dari suamiku yang impoten itu dan kalau kau mau kita bisa menikmatinya bersama" kata Diandra membuat Juna hanya bisa mengelus dada dan memohon ampun di dalam hati.


"Kau tidak perlu khawatir aku akan hamil karena aku juga tidak sudi mengandung benih dari pria miskin sepertimu. Tapi jika nanti kau sudah kaya, maka aku akan senang hati akan mengandung buah cinta kita" kata Diandra dan ia dengan cepat meraup bibir Juna dan me lu matnya dengan lembut.


Juna berusaha melepaskan diri dari ciuman Diandra. Namun, ia dengan sigap menarik tengkuk Juna dan memperdalam ciumannya. Tanpa dilihatpun belalai Juna kembali bereaksi.


Mereka terus saling berciuman. Dengan keadaan tangan yang tidak terborgol membuat Juna bisa bergerak bebas.


Dorongan iblis mulai merasuki Juna. Juna merebahkan tubuh Diandra di atas kasur tanpa melepas ciuman mereka.


"Diandra....!."


Juna langsung melepaskan ciumannya secara spontan ketika mendengar suara teriakan seorang laki-laki. Ia langsung berdiri, menjauh dari tubuh Diandra yang beberapa detik lalu berada dalam kungkungannya.

__ADS_1


Laki-laki itu adalah Arya, suami Diandra. Ia masuk ke kamar itu bersama dua orang pengawalnya. Arya mengamati penampakan Juna dan Diandra secara bergantian. Sedikit tidak percaya dengan apa yang Arya lihat dengan kedua netranya.


__ADS_2