
Jakarta, kediaman Sanjaya.
Kiara mengerjapkan kedua matanya berkali-kali. Tatapannya tak lepas dari layar televisi di hadapannya. Saat ini Kiara sedang menonton acara televisi yaitu pertandingan tenis antar selebritis.
Sebenarnya Kiara tidak paham dengan olahraga tenis. Ia juga tidak tahu siapakah yang akan bertanding. Dari tulisan yang terpampang di pojok kiri atas layar televisinya tertulis Sultan Mamat dan Sultan dedes. Dua orang itu yang akan bertanding hari ini.
Permainan di mulai. Para saling melempar bola tenis dengan raketnya. Kiara memicingkan matanya ketika melihat wajah pemain bernama Sultan Mamat. Mulutnya langsung mengoceh mengomentari penampilan Sultan Mamat.
Kiara bukannya mengomentari jalannya pertandingan melainkan mengomentari penampilan Sultan Mamat. Menurut Kiara penampilan Sultan Mamat terlalu pucat, bedaknya terlalu tebal. Seharusnya Sultan Mamat memakai bedak dari produknya.
Selain harganya bikin dompet jebol, produk bedak milik Kiara juga berkualitas tinggi. Tak heran jika produknya sudah diekspor ke berbagai negara. Mungkin Sultan Mamat tidak tahu dengan produk itu. Besok ia akan meminta Lita untuk menghubungi menajemen tempat Sultan Mamat bernaung.
"Di mana-mana orang nonton pertandingan tuh ngimentarin jalannya pertandingan bukan ngomentarin bedaknya pemain. Aneh!" cibir Dira. Ia langsung menghempaskan tubuhnya di samping Kiara.
"Serah gue donk. Mulut juga mulut gue. Coba lu liat wajahnya si Sultan Mamat! Pucat kayak mayat shay."
"Hussshhh....! Lu lagi hamil. Jangan ngomongin orang nanti bisa kena ama anak lu. Emang lu mau nanti anak lu nggak mirip Elang tapi mirip Si Mamat?" tegur Dira.
Benar juga. Kiara langsung tersadar dan meminta maaf kepada Sultan Mamat, meskipun dari layar kaca. Ia juga mengelus-elus perutnya agar tidak terkena tulah akibat omongannya.
"Kadir...." panggil Kiara.
"Hemmm?"
"Gue pengen liat lu main tenis kayak gitu deh" ucap Kiara dengan nada manja.
"Ngggaaaakkkkk...!!! Ngggaaakkkk....!!! Ngggaakkkkk...!!! Lu ngidam jangan ngadi-ngadi! Apa lu belum puas selama ini sudah nyiksa gue? Lu jadiin gue meja, lu jadiin gue guling, dan yang paling parah lu jadiin gue lampu taman. Stop Kiara! Stop! Gue ini manusia bukan kambing guling" teriak Dira mengeluarkan uneg-unegnya.
Kiara langsung berkaca-berkaca ketika mendapat penolakan dari Dira. Tangisnya langsung pecah, memenuhi satu ruangan.
Dira yang lagi-lagi menjadi korban ngidam aneh Kiara, tentu saja hanya bisa diam. Ia kemudian menghampiri adiknua dan menepuk pelan bokongnya.
Plak...!
"Makin gede, makin manja aja! Cengeng! Anak siapa sih ini? Kenapa nyusahin gue mulu?" gerutu Dira.
Tangis Kiara makin menjadi-jadi. Kalau sudah begini Dira jadi bingung sendiri. Ia akhirnya mengalah, memilih menyanggupi keinginan adiknya. Meskipun ia sendiri tidak yakin bisa mengabulkannya apa tidak.
Pasalnya Dira memang tidak jago dalam hal olahraga. Ia hanya bisa berlari dengan cepat. Itupun karena Dira dikejar guk-guk kompleks.
"Beneran mau ya?" tanya Kiara memastikan.
Dira yang sudah pasrah hanya mengangguk. Kiara langsung bersorak riang. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
Tut...tut...tut...
Panggilang tersambung. Wajah Kiara langsung sumringah ketika orang yang menjawab panggilannya adalah pemilik nomor itu. Kiara khawatir pemilik nomor itu sedang tidur sehingga yang menerima teleponnya adalah orang lain.
"Halo, Nyonya Bos! Ada apa sore-sore begini menelepon saya? Apakah ada masalah?" tanya Juna.
"Emm... Nggak ada apa-apa, Mas Juna. Kiara cuma butuh sedikit bantuan."
"Bantuan? Bantuan apa?."
"Mas Juna sebentar lagi akan dijemput sama helikopter. Mungkin satu jam lagi Kapten Jack akan berangkat untuk jemput Mas Juna. Mas Juna beres-beres aja dulu" perintah Kiara.
"Eh?"
Juna menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Ia masih bingung dengan perintah atasannya. Untuk apa kapten Jack menjemputnya? Mau dibawa ke mana lagi dirinya?
"Mas Juna kenapa diam?" tanya Kiara membuyarkan lamunan Juna.
"Eh, tidak Nyonya bos! Saya barusan masih minum" dusta Juna.
__ADS_1
"Oh, minum!."
"Ngomong-ngomong ada apa ya? Mengapa saya mau dijemput? Saya mau dikirim ke mana lagi?" tanya Juna was - was.
"Nggak ke mana-mana, Mas Juna. Cuma ke Jakarta aja kok. Kiara kangen sama Mas Juna."
"Bohong, Jun! Bohong...!!! Jangan mau dikibulin Kiara sarang burung!!!" teriak Dira yang masih bisa didengar oleh Juna.
Perasaan Juna langsung tidak enak. Kiara memintanya ke Jakarta pasti ada sesuatu yang harus dikerjakan oleh Juna. Juna menjadi semakin was-was. Nyonya bos nya ini menjadi setipe dengan bos absurdnya sejak hamil. Entah apa lagi permintaan anehnya yang harus dipenuhi Juna. Setelah kemarin menyuruh Juna bernyanyi jaran goyang di depan macan Afrika. Sekarang apa lagi?
"Nyo...nyo...nya bos nggak mau nyuruh yang aneh-aneh lagi kan?" tanya Juna gugup.
"Ah, nggak kok. Mana ada sih permintaan Kiara yang aneh."
Sungguh, Juna ingin sekali menggetok kepala Kiara. Apakah ia tidak sadar jika kemarin sudah meminta hal aneh pada Juna?
"Nyonya mau apa ya? Jangan membuat saya takut."
"Duh, Mas Juna apaan sih? Kiara nggak minta macem-macem. Kiara cuma mau liat Mas Juna main tenis sama Abang Dira."
"APA???"
Terdengar teriak Juna dan Elang secara bersamaan. Elang yang baru saja pulang, langsung kaget ketika mendengar obrolan istrinya.
"Nyo...nyonya..! Aduh, gimana ngomongnya?" Juna bingung.
"Mas Juna, sudah tidak usah dituruti permintaan Kiara. Mas Juna diam saja di situ" Elang mengambil alih ponsel yang dipegang Kiara.
Kiara menghentakkan kakinya dengan kesal. Ia bersiap-siap untuk menangis lagi.
"Adik ipar, silakan hadapi istrimu! Gue mau cabut! Sumpek nih kepala dengerin dia nangis" ucap Dira kemudian segera berlalu meninggalkan mereka berdua.
Kiara dan Elang langsung terlibat perdebatan. Mereka mengacuhkan Juna yang sedang melongo di seberang telepon. Sebenarnya Juna ingin menutup telepon itu. Namun, ia sungkan karena terkesan tidak sopan pada atasan.
Juna yang mendengar teriakan Kiara tentu saja kaget. Tanding tenis? Dengan Dira? Jadi dirinya jauh-jauh dijemput ke Jakarta hanya untuk bertanding tenis? Memangnya Juna bisa?
Kiara kembali berdebat dengan Elang. Juna bisa mendengar suara tangis Kiara. Ah, ibu hamil! Apakah mereka selalu ngidam yang aneh-aneh terus? Juna jadi bergidik ngeri bagaimana jika Atha juga seperti itu? Haruskan Juna mewanti-wanti Atha dulu agar tidak mengidam yang aneh-aneh?
"Mas...! Mas Juna....! Mas Juna masih di sana?" tanya Elang. Nada suaranya terdengar lesu.
"Iya, Mas Elang. Saya masih di sini" sahut Juna.
"Mas Juna, mohon maaf merepotkan sekali. Sebenarnya saya tidak enak untuk mengatakan hal ini. Tapi mau bagaimana lagi? Kiara memang selalu ngidam yang aneh-aneh."
Juna langsung paham arah pembicaraan Elang. Sepertinya ia harus berangkat ke Jakarta sekarang.
"Tapi... Mas Elang, saya tidak bisa main tenis. Bagaimana saya bisa bertanding dengan Tuan Dira?."
"Mas Juna kan guru olahraga. Masak main tenis nggak bisa? Si Kadir juga nggak bisa main tenis kok. Dia biasa balap karung" kali ini Kiara kembali mengambil alih pembicaraan.
Juna menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sama-sama tidak bisa main tenis tetapi disuruh tanding tenis? Apa jadinya nanti? Gumam Juna sembari membayangkan bagaimana jalannya pertandingan tenis antara dirinya dan Dira.
"Mas Juna jangan kebanyakan mikir ya? Ini anak di dalam perut Kiara udah ngereog dari tadi pengen liat kalian tanding tenis. Kapten Jack sudah bersiap-siap. Mas Juna juga siap-siap ya" ucap Kiara kemudian menutup teleponnya.
Juna diam mematung. Ia yang semula duduk di atas kasur mengubah posisinya menjadi rebahan. Juna menatap langit-langit kamarnya. Ia sedang menimbang-nimbang apakah dirinya akan berangkat ke Jakarta.
Ceklek.
Pintu kamar Juna terbuka. Athalia masuk dengan membawa kantung plastik yang berisi pakaian mereka. Pakaian itu baru selesai di laundry. Atha akan memasukkan baju-baju itu ke dalam lemari.
"Sayang, ke mari!" panggil Juna.
Atha menghampiri Juna. Ia meletakkan kantung plastik yang dibawanya di atas kasur.
__ADS_1
"Saya ingin di peluk" ucap Juna sembari merentangkan kedua tangannya.
Plak.
"Modus!!!" ucap Athalia. menoyor bahu Juna dengan keras.
"Saya cuma minta di peluk. Kamu tidak mau?" tanya Juna sedih. Ia menunduk menatap sprei kasur yang bermotih bunga-bunga.
"Bukan tidak mau, Jun. Kau ini kebiasaan. Awalnya minta hal kecil. Tapi nanti pasti ujung-ujungnya Tyrex mu bangun" ucap Atha yang sudah hafal dengan kelakuan Juna.
Juna menampakkan deretan giginya. Ia malu karena niat untuk mengasah kerisnya bisa dibaca oleh Atha. Mau bagaimana lagi? Juna sudah ketagihan mengasah kerisnya. Istrinya itu selalu bisa menaikkan gairah ninu ninu Juna.
"Ngomong-ngomong siapa yang meneleponmu tadi?" tanya Atha sembari memasukkan baju-baju yang dibawanya ke lemari.
"Nyonya Kiara."
"Kiara ? Ada apa dia meneleponmu? Apakah ada masalah di Sanjaya corp?" tanya Atha cemas.
"Tidak! Tidak ! Dia hanya mengatakan jika kita segera bersiap-siap karena sebentar lagi akan jemput oleh Kapten Jack."
"Kapten Jack? Helikopter? Memangnya kita mau ke mana, Jun?" tanya Atha lagi, raut wajahnya menampakkan ekspresi tidak tenang.
"Jakarta. Nyonya Kiara sedang ngidam."
"Ngidam? Ngidam apa? Memangnya suaminya kemana sampai dia menyuruhmu, Jun?" Atha mulai emosi.
"Nyonya Kiara ngidam ingin melihat saya dan Tuan Dira bertanding tenis."
Athalia langsung menganga mendengar penuturan Juna. Ngidam macam apa itu? Setahu Atha orang hamil hanya mengalami ngidam terhadap makanan tertentu saja.
"Memangnya kamu bisa main tenis, Jun?."
"Tidak" sahut Juna cuek.
"Lalu bagaimana kamu bisa bertanding jika tidak bisa main tenis, Jun?" tanya Atha gemas.
"Entahlah! Mungkin nanti saya pukul-pukul saja bolanya seperti Emak kalau sedang menjemur kasur."
Athalia kembali dibuat melongo dengan jawaban Juna. Bagaimana bisa suaminya itu menyamakan pertandingan tenis dengan menjemur kasur?
"Sudah tidak usah memikirkan pertandingan tenisnya. Ada hal yang lebih penting yang harus kamu pikirkan" ucap Juna serius.
"Apa?."
Juna mendekati istrinya. Lalu berbisik manja di telinga kanannya.
"Tyrex ku bangun, Sayang. Dia bilang mau menjalankan misi dulu sebelum ke Jakarta" ucap Juna sambil tersenyum nakal ke arah Atha.
Atha menarik nafas panjang. Kalau sudah begini ia tidak bisa apa-apa. Atha buru-buru meletakkan baju yang hendak ia masukkan ke lemari. Secepat kilat Juna menggendong Atha, merebahkannya di kasur, dan mulai mengecup area sensitif istrinya.
"Sayang...." panggil Juna di sela-sela ia melancarkan aksinya.
"Hem..."
"Ada kata-kata yang mau disampaikan sebelum Tyrex ku menjalankan misinya?."
"Ada" jawab Atha dengan nafas yang sudah tidak teratur.
Juna sepertinya sudah semakin lihai membuat Atha terbuai.
"Apa itu?" tanga Juna penasaran.
"Tolong, pelan-pelan."
__ADS_1
"Nggak janji" ucap Juna cepat dan ia lalu melaksanakan tugasnya untuk menuntun Tyrex menjalankan misinya.