Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 10 |


__ADS_3

Chp. 10 Nesya Anindira Dan Perpisahan(2).


__________________


[ Invitation ]


Kepada Yth. Evans Mallory


Selamat anda terpilih sebagai salah satu player yang berhak memasuki Tower, memproses pemindahan anda 00:10:45


Player tergabung : 1.2 M Orang


Waiting list : 1.000 Orang


_________°_________


 


Napas Evans sekarang memburu dengan pesan yang terus dilihatnya, keringat mengucur deras melalui keningnya karena berlarian cukup lama, dirinya mencari seseorang ditengah kegelapan malam dan berharap semoga perempuan ini masih belum pergi jauh.


Evans juga berlari sembari menelepon Ney, tetapi hasilnya nihil dan tidak pernah dijawab. Padahal biasanya Ney selalu menjawab panggilan darinya dalam hitungan detik tapi baru saat ini tidak ada jawaban dari Ney.


Evans hanya bisa berpikiran satu hal, yaitu jika Ney sangat marah kepadanya.


Evans sekarang bingung menentukan arahnya, jika dirinya pergi ke rumah Ney, Evans tidak akan pernah sampai tepat waktu dan jika berlarian tanpa arah seperti ini dirinya hanya membuang waktu yang tersisa.


Setelah berlarian cukup lama Evans akhirnya memilih untuk berhenti. Ney telah kembali pulang ke rumahnya pikir Evans.


Evans hanya bisa menarik napas dan berpikir untuk saat ini, pasti ada sesuatu yang bisa dia lakukan sekarang, dia tidak akan membuat semuanya berakhir seperti ini.


Evans yang sangat fokus berpikir dan tiba-tiba saja dia dikejutkan dengan seseorang yang menepuk punggungnya dari belakang. Sontak Evans segera berbalik dan meneriakkan namanya.


...***...


"Huff... Huff..." Suara seseorang perempuan dengan napas yang memburu sedang berjalan dengan berat pergi menjauh dari rumah Evans, diia melihat jam diponselnya yang menunjukan pukul 23.45, melihat itu membuatnya tersenyum pahit dan memandang ke langit-langit.


"15 menit lagi, 'kan?" Perempuan ini menganggap seakan waktu yang tersisa sangat penting bagi hidupnya.


Perempuan itu berjongkok dan memeluk dirinya sendiri dengan sesekali tersenyum, dia sedang membayangkan kenangannya bersama seseorang, kenangan yang dibuatnya selama lebih dari sepuluh tahun itu mungkin bukanlah hal yang romantis tetapi selalu berhasil membuatnya tersenyum dan tertawa kecil jika mengingatnya.


"Drt... Drt..." Suara dering sebuah ponsel membuatnya sadar dan segera secepatnya untuk mengeluarkannya dari saku celana.


Tangannya bergemetaran dengan sebuah nama yang muncul dilayar, perempuan ini merasakan kaku sekaligus bingung karenanya. Tidak butuh waktu untuk berpikir, dia segera mengangkat panggilan itu dan mendekatkannya ke daun telinganya yang kecil.


"Ha-Halo, Evans..."


Beberapa detik berlalu, dada perempuan ini sudah sangat penuh dibuat penasaran. Tetapi tidak ada suara yang keluar dari sana, sampai dua menit akhirnya berlalu.


Perempuan ini berpikiran jika Evans begitu malu untuk berbicara dengannya, sehingga membuatnya tersenyum dan memulainya, ajaibnya entah darimana kepercayaan diri mulai muncul darinya.


Gadis yang sangat pemalu kini telah berani untuk bicara.


"Kenapa Dia tiba-tiba menjadi sangat pemalu, sih?" Ney sekarang sedang menggaruk rambutnya yang tidak gatal karena tidak juga mendapatkan jawaban darinya.


Beberapa menit berlalu kembali dan tanpa adanya percakapan sama sekali, Ney akhirnya mulai curiga dan membanting ponselnya setelah mengetahui hp yang dia pegang sudah tidak dapat menyala.


Perasaan malu mengalir dalam darahnya, dia sedang berusaha untuk menutupi wajahnya yang panas dengan kedua tangannya.


"Dasar Evans..." Ney menyalahkan Evans atas perbuatannya, dia menghela napas panjang dan bangkit berdiri menuju kembali ke rumah Evans.


**


"Ney."


"Hi, Vans..."


"Berandalan cantik."


"Fany-!"

__ADS_1


Fany melambaikan tangan pada Evans yang sedang menyipit seakan menyuruh Fany untuk pergi jauh-jauh darinya. Tetapi tetap tidak ditanggapi olehnya.


"Happy birthday, Vans! Tapi... Masih kurang 8 menit lagi kan hihihi." Fany tersenyum canggung dan menggaruk pipinya setelah melihat jam di pergelangannya.


Fany menarik Evans dan memaksanya berselfie, setelah mengeluarkan ponsel dari sakunya. Meskipun Evans sempat berontak dan menghindar untuk di foto, tetapi pada akhirnya Fany berhasil melakukannya.


"Ckrek."


Hasil fotonya menunjukan gambar Fany yang merangkul Evans, wajah mereka berdua sangat dekat dengan mata Evans yang memandang ke tempat lain.


"Kau itu kenapa sih?" Fany yang tidak puas dengan hasil foto menggerutu kepadanya.


Evans hanya menghela napas melihat hal itu dan tidak mempermasalahkannya, dia lalu bertanya tentang Ney dan dijawab dengan tidak kenal dari Fany.


'Apa maksudmu dengan tidak kenal, Kau dulu pernah membullynya.' Evans hanya memandang dingin kearah Fany. Karena bukan waktu yang tepat untuk berdebat, Evans hanya menjelaskan ciri-ciri Ney kepadanya.


"Ohh, jadi Dia yang bernama Ney? Aku melihatnya kearah--" Fany menghentikan tindakannya.


"Apa yang Kau lakukan di mana Kau melihatnya." Pandangan Evans kembali dingin kearah Fany.


Fany kemudian tersenyum dan berpikir mungkin hal ini bisa menjadi kesempatan baginya sembari menggosok-gosokan tangannya, "Kurasa harus ada bayarannya, 'kan?"


Evans tetap tenang menghadapi tingkah Fany.


"Gimana kalau, Kau, harus memenuhi satu permintaanku apapun itu?"


Evans langsung mengangguk, toh lagi pula dia akan pergi masuk kedalam pulau. Jadi Fany tidak akan bisa bertemu dengannya, pikir Evans.


Mendengar jawaban langsung dari Evans, Fany menunjukan senyum nakalnya dengan mulut merah muda dan membentuk huruf U-itu.


Fany kemudian menunjuk kesatu arah, dan membuat Evans bersemangat.


"Terimakasih." Angguk Evans kepada Fany.


**


Langit malam itu berwarna terang dengan sinar bulan dan bintang yang saling bertautan, mereka sedang berkumpul di atas kepala Ney.


"Cantiknya..." Gumam gadis itu.


Kebun bunga itu seakan memiliki seribu macam bunga di dalamnya, mereka sedang melingkari kolam air mancur di tengahnya.


"Apa yang kulakukan di sini? Sudah berapa menit berlalu?" Gumam sang gadis, dia sudah sangat lelah karena berlari terus menerus dan baru tersadar jika jarak rumah Evans lumayan jauh juga.


'Mungkin, dia sudah pergi ke Tower? Huft, Kalau begitu untuk apa Aku ke sini...' Mata Ney semakin tenggelam memikirkan Evans yang meninggalkannya.


Gadis itu terus menghela napas panas karena hawa dingin di sekitarnya, Ney sudah duduk di bangku taman cukup lama dan berniat untuk kembali pulang sekarang.


Sebelum berdiri dirinya juga sudah mencoba untuk berulang kali menghidupkan ponselnya, tetapi tetap tidak ada respon. Ney begitu penasaran dengan jam berapa saat ini, hatinya sangat berharap semoga Evans masih belum masuk ke dalam pulau.


"Jika begini Aku seharusnya memilih ponsel merk Kiano, Huft...' Lagi-lagi gadis itu menghela napas dan menunduk. Tetapi tidak disangka sedetik kemudian setangkai bunga berwarna ungu tiba-tiba saja keluar dari belakang telinganya.


Gadis itu melompat kedepan karena terkejut. Sosok yang tidak asing terlihat di depannya, sosok yang sangat ingin ditemuinya saat ini.


"Evans?!" Ney begitu terkejut dengan sosok yang ada di depannya, dia tidak percaya dengan matanya sendiri sehingga menggosoknya berulang kali, dia juga telah berkedip berulang kali dan sekarang entah sudah berapa kali dilakukan.


"Ney." Evans tersenyum tipis dan memeluk erat tubuh Ney.


Ney yang kemudian tersadar jika sosok laki-laki yang memeluknya itu benar-benar adalah Evans Mallory hanya tersenyum lebar dan memejamkan matanya, "Vans? Evans-!"


**


Evans melepaskan pelukannya setelah beberapa menit berlalu dan juga mulai menjelaskan kenapa dirinya bisa datang kemari dari awal hingga akhir. Evans juga meminta maaf kepada Ney, jika semuanya hanya salah paham.


Evans sekarang mengalihkan pandangannya dari wajah Ney.


Melihatnya yang seperti itu membuat Ney tertawa kecil, dia menarik Evans untuk duduk bersamanya di sebuah bangku panjang dan mulai bercerita.


Entah sejak kapan Ney mulai menyukai Evans, Apakah saat Evans datang menolongnya setiap kali masalah datang? Atau saat Evans tertawa bersamanya? Atau sejak Evans yang selalu mengusiknya?

__ADS_1


Yang pasti dia sudah menyukai Evans sejak lama atau mungkin, saat baru pertama kali bertemu?


Ney merasa kalau dia selalu menunjukan sisi buruknya kepada Evans, dia pertama ragu untuk menerima saran dari Rendi tetapi dia bingung jika harus bagaimana.


Banyak sekali pria yang mencoba untuk mendekati Ney bahkan tidak ada hentinya ponsel miliknya bergetar, di sekolah Ney juga menerima banyak surat, Ney bahkan juga sampai diikuti kemanapun dirinya pergi dan membuat teman-temannya menjauh darinya.


Tapi Rendi juga berniat mendekatimu, batin Evans yang tidak percaya melihat Ney masih belum menyadarinya.


"Aku ingin menunjukan sosok kerenku padamu! Aku ingin Kau itu melihatku sebagai perempuan yang kuat dan Aku ingin... Hiks Hiks..."


"Kau sekarang sangat keren." Evans menatap wajah Ney dengan tersenyum. Evans juga mengusap kepala Ney beberapa kali, sebelum berkata jika dirinya tidak memiliki waktu lagi dan meminta maaf.


Evans melepas hoodie yang dipakainya, terlihat seragam SMP dibaliknya lengkap dengan dasi.


"Temukanlah pria yang baik untukmu, bukan hanya yang mampu melindungimu namun juga membuatmu menjadi lebih kuat. Maaf jika Aku tidak bisa menjadi pria yang seperti itu." Evans memasangkan hoodienya kepada Ney.


"Kali ini tunjukanlah sisi kerenmu, padanya." Senyum tipis Evans dengan mata sedikit bergetar.


Ney hanya mengangguk seiring perkataan Evans.


"Ney Aku ingin mendengarnya. Aku sangat menyukaimu, bagaimana denganmu."


"Mhm! Aku sangat, sangat, saaangat menyukaimu, sudah sejak lama kurasa hihihi." Ney malah tertawa sendiri mendengarkan ucapannya. Ney kemudian mulai menangis karena tidak kuat menahannya, dia mulai memeluk erat Evans dan bergantian mengelus rambutnya.


Evans merasakan sesak di dadanya, dia sangat bahagia sampai menyipitkan matanya.


Beberapa detik kemudian Evans lalu melihat sebuah layar yang mulai menunjukkan angka sepuluh. Evans sekarang berbalik membalas pelukan Ney dengan kencang.


10


"Setelah ini jangan terlalu baik kepada semua orang."


9


"Mereka bahkan tidak baik kepadamu."


8


"Mereka hanya baik karena ada maunya."


"Kalau begitu semua orang artinya jahat kan?" Ney menimpali perkataan Evans yang di rasa konyol.


"Mungkin beberapa orang."


6


"Kita akan berpisah, Kau harus melupakanku."


Evans memandang ke langit yang terlihat hanyalah bulan dan bintang di sana, mereka bersinar sangat terang menemani mereka.


Siapa yang Evans bohongi dia tidak mungkin dapat melupakan Ney.


"Untuk yang terakhir kalinya, aku mencintaimu Ney."


"Mhm! Happy Birthday Vans-!" Ney menunjukan senyuman yang paling indah. Khusus hari ini, dia harus menunjukkan senyum paling lebar dan terindah yang dia bisa tunjukan pada Evans.


4


Ney melihat tubuh Evans mulai bercahaya kebiruan dan semakin meredup dan sebelum Evans menghilang sepenuhnya dia melihatnya yang menggerakan mulutnya dan berkata (A-ku-sungguh-mencin-tai mu)


3


2


1


Ney menangis sejadinya melihat Evans sekarang menghilang tepat dipelukannya.


"Kau bilang untuk melupakanmu? Tapi sampai berapa kali kau akan bilang kau mencintaiku?"

__ADS_1


"Hiks... Hiks... Hiks..."


"Bodohnya..."


__ADS_2