Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 24 |


__ADS_3

Chp. 24 Level 3 : Skill Card Kelas A.


Sekarang sudah hampir sebulan Evans berada di dalam pulau, dirinya mulai terbiasa dengan kehidupan di sana bersama dengan para petani dari Paguyuban Usaha Tani.


Mereka bertugas dalam menangani masalah bahan pangan baik tumbuhan maupun daging di dalam pulau.


Anggota mereka terdiri dari orang Indonesia hingga 80% dan sisanya adalah warga negara asing, inilah kenapa asal pemberian nama "Paguyuban Usaha Tani" mereka hanyalah orang-orang dari Indonesia.


Sangat berbeda dengan nama-nama organisasi dan aliansi lainnya, mereka juga memiliki komposisi player yang seimbang dari berbagai dunia.


Di sini Evans tidak menyangka jika bertani sangatlah menyenangkan dan membuat hati nyaman untuk melakukannya.


Evans seperti menyesal tidak mengetahui hal ini dari dulu entah karena sistem yang membuatnya atau karena bertani memang sangat menyenangkan Evans tidak tahu.


Perasaan merawat tanaman sampai tumbuh besar dan menjadi dewasa hingga siap dipetik untuk memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitarnya, bagaikan melihat anaknya sendiri tumbuh menjadi gadis yang dewasa.


Evans bahkan memberikannya nama Malika yang membuatnya tambah sayang dan peduli kepadanya. Malika tumbuh dengan sangat cepat setiap hari, dalam waktu 24 jam Malika sudah siap untuk di panen dan hal itu selalu membuat Evans terharu sendiri melihatnya.


Apakah bertani di sana sangat berbeda dari dunia nyata?


Evans hanya butuh sepetak tanah kosong dan sebuah bibit untuk membuat Malika, cukup menanam bibit di tanah siram sekali dan hologram timer 24 jam akan muncul di atasnya.


Begitulah cara Evans merawat Malika setiap hari entah itu tanaman jagung, padi, kedelai umbi dan yang lain semua memiliki aturan yang sama seperti ini.


Sedangkan untuk ternak binatang, Evans sendiri kurang mengerti bagaimana proses untuk beternak, dirinya hanya mendapatkan tugas untuk mengurusi ladang kebunnya.


Setiap harinya Evans juga akan mendapatkan gaji 5 koin setiap 50 tanaman yang ditanam, panen selalu dilakukan setiap hari dan tidak pernah ada yang namanya gagal panen di sini.


Luas ladang juga 10x ukuran lapangan sepak bola dan masih tampak kosong sepertiganya karena jumlah petani di paguyuban masih belum mencukupi seluruhnya.


Di sebuah kamar asrama di lantai tujuh dan bernomor 701 lebih tepatnya ruangan Evans, berkumpul empat orang player. Di sana Evans sudah mendapatkan tiga teman baru selama hidup sebulan ini.


Salah satu dari tiga orang teman Evans, bertanya padanya karena melihat Evans yang akan keluar dari asramanya.


Evans kemudian menatap temannya, dia akan pergi ke supermarket. Ada sesuatu yang ingin Evans beli di sana, yang seharusnya langsung dibelinya saat kali pertama masuk ke dalam pulau.

__ADS_1


Karena kesibukannya itu Evans baru bisa membelinya sekarang, dia meminta ijin kepada temannya yang lain sebelum pergi untuk sementara.


**


Evans memiliki koin yang berlimpah dari ladang slime sebanyak 1.089 koin dan ditambah dengan 100 dari gaji sebulannya, sekarang menjadi 1.189 koin.


Semua itu akhirnya langsung lenyap karena pemasangan rekaman dan pembuatan channel dirinya di [ Tower.site ] dengan semua totalnya adalah 900 koin, belum lagi biaya pemeliharaan 100 koin perbulannya.


Semua ini hanya untuk membuat video dengan durasi 30 menit sehari, jika ingin lebih maka di butuhkan koin dalam jumlah besar juga.


Bagaimana bisa hal ini sangat mahal?


Sistem yang telah mengatur semuanya sendiri. Sistem memasang harga yang luar biasa di luar nalar untuk semua hal, dan hanya memberikan koin dalam jumlah kecil sebagai pendapatan.


Sebenarnya Evans tidak akan mau begini namun tidak ada pilihan lain jika ingin memberikan kabar tentangnya kepada dua orang tuanya media demikian yang bisa, banyak player yang juga telah melakukan hal seperti ini.


"Baik, totalnya adalah 900 koin masih ditambah biaya pemeliharaan perbulan 100 koin untuk durasi video 30 menit..."


"Jadi, total semuanya 1.000 koin."


Evans tersenyum canggung melihat jumlah angka yang fantastis itu, semua player akan kesulitan untuk memasangnya bahkan memilih untuk jangan pernah berpikir memasangnya.


Kecuali untuk para player top mungkin masih menerima keadaannya yang seperti ini tetapi mereka yang ada dibawahnya akan kesulitan untuk membayar sewa.


"Terimakasih atas pembeliannya, anda dapat langsung mengaktifkan dengan menekan logo kamera di sistem dan otomatis rekaman akan berjalan.


Semua yang anda rekam akan secara langsung dikirim ke channel anda, anda sekarang juga telah mendapatkan akses gratis ke situs [ Tower.site ]."


Evans sekarang dapat melihat logo gambar kamera di sudut matanya dan menghilang saat tidak memikirkannya, dia juga telah selesai melihat channel-nya sendiri di [ Tower.site ].


Setelah semua urusannya itu selesai, Evans berniat mengunjungi satu tempat lagi dan membuat temannya untuk menunggu sedikit lebih lama.


Di dalam pulau ada lima kota dan dua bagian, pertama bagian dalam milik Domain Guild lalu untuk bagian luar milik keempat guild yang lain.


Evans sedang berada di Kota Excel di sini guild yang berkuasa adalah Sunny Guild, yang mengurusi masalah politik di dalam pulau.

__ADS_1


Evans berjalan-jalan di kota Excel, hanya satu gedung pencakar langit milik Sunny Guild di kota Excel sebaliknya di kota lain gedung pencakar langit milik Sunny Guild sangat banyak di jumpai.


Evans sesekali mendapati banyak toko yang mendukung peningkatan para player di perjalanannya seperti Skill Shop, Item Shop, Armor Shop, Weapon Shop, Potion Shop dan masih banyak yang semacamnya sayangnya perjalanan Evans sekarang bukan menuju ke salah satunya.


"Di sini ya." Evans mendongak ke atas terlihat sebuah papan nama bertuliskan Book Shop.


Evans kemudian melihat seluruh ruangan, buku-buku berjejer dengan rapi dan bersih dari berbagai katalog.


Evans bergerak mencari sesuatu yang dia penasaran sedari awal dan berakhir di tempat rak buku dengan katalog agrikultur.


Evans sempat bingung dan penasaran pada awalnya, benda yang sedari tadi Evans cari ternyata adalah sebuah buku mengenai tata cara pencangkokan?


Padahal dengan jobnya sendiri, Evans tidak perlu repot-repot untuk mencangkok atau lainnya.


Buku itu juga seharga 30 koin sangat mahal sekali, walaupun pada akhirnya Evans tetap saja membeli buku itu.


Jika saja uang itu dibelikan untuk makanan Evans bisa mendapatkan satu buah roti berukuran panjang langganannya itu.


**


Halaman demi halaman Evans baca seperti sedang mencari sesuatu, raut wajah yang ditunjukannya nampak kebingungan karena tidak mengerti apapun.


"Apa yang kau baca cepatlah masuk, makan malam sudah siap." Hendra tiba-tiba saja muncul dibelakang Evans.


Hari sekarang sudah larut dan tiba di waktu jam makan malam tetapi Evans masih membaca buku yang baru dia beli itu sembari berbaring di kursi panjang lobby asrama.


"Sini biar kulihat buku apa yang sedang kau baca itu."


Tanpa menunggu jawaban Evans, Hendra langsung meraih buku itu. Reaksi pertama yang dibuat adalah tertawa sampai menangis, tidak ada yang menyangka jika seorang petani profesional membaca buku untuk bertani orang awam.


"Apa yang sedang kau pikirkan hahaha. Kenapa bacaanmu menjadi seperti ini?"


"Aku juga tidak tahu." Evans sedang menggosok matanya yang tampak lelah itu karena membacanya berulang kali.


"Dasar aneh, kenapa malah membeli buku seperti ini kalau begitu."

__ADS_1


__ADS_2