Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Intermediate player | 125 |


__ADS_3

Aku sedikit penasaran apa yang akan terjadi nanti, jika aku bertemu dengan seseorang yang kukenal. Membayangkan situasi canggung diantara kita berdua, membuatku menghela napas dan menggeleng pelan.


Memang tidak bisa diharapkan, tetapi aku menyukai sisiku yang seperti ini.


Di sisi lain aku sangat berharap yang akan berada di sana adalah... seorang perempuan cantik, polos, dan yang sebaya denganku. Benar sekali, aku berdoa semoga malaikat itu ikut dipanggil ke sini.


Kita akan memulai awal yang baru dan melanjutkan hubungan yang kandas ini.


Perlu direvisi. Jika sebelumnya hubungan kami kandas bukan karena masalah kita tidak saling suka ataupun orang tua yang tidak merestui, tetapi hanya karena ada salah satu temanku yang sangat pintar melihat situasi.


Dia mengambil kesempatan dalam kesempitan dan memanfaatkan kepolosan Ney. Harus kuakui jika orang itu bisa bermain politik dengan sangat rapi.


Dari sini aku bisa membaca arah pikirannya. Dia mungkin berharap jika Ney akan menyukainya setelah jalan bersama selama setahun dengannya. Tetapi aku mengenal Ney lebih lama darinya, tidak mungkin dia bisa merubah sifat keras kepalanya jika sudah menyukai satu hal.


Sialan. Jika saja aku lebih memperhatikan sinyal dari Ney, mungkin saja semua ini tidak akan pernah terjadi.


Dan karena itu aku berjanji akan lebih jujur dan agresif lagi nantinya, lihat saja.


Tetapi tentu saja semuanya sudah terlambat, tidak ada yang bisa diubah di sini. Bahkan jika aku memohon sampai ratusan ribu kali tidak akan ada yang berubah.


Itulah yang sedang aku bayangkan saat sedang duduk di dalam mobil sedan dengan mesin yang menyala.


Kami sekarang berada di jalanan dan sedang terjebak macet. Banyak sekali orang-orang dari berbagai organisasi dan aliansi, datang untuk menjemput calon anggota mereka.


Menghiraukan temanku, Didi yang sedang terlibat cekcok dengan seseorang di jalan dari dalam kaca jendela mobilnya. Aku melirik kekanan dan kekiri, jalanan ini sangat sesak dan penuh dengan mobil-mobil yang akan membawa anggota baru mereka.


Mobil-mobil ini nantinya akan terparkir di sebelah gedung pencakar langit milik Sunny Guild, tempat untuk para newbie membuat kartu identitas atau ID dan sebagian diberikan undangan resmi untuk bergabung dengan salah satu Enam Guild Besar.


Jika digambarkan, situasi itu sangat mirip seperti saat wali kelas yang sedang memberikan rapor kepada murid-muridnya dan mengumumkan peringkat kelas di depan semua siswa.


Setelah kami mendapatkan spot parkir yang strategis, aku kemudian teringat dengan perjuangan Pak Tua Hendra yang mencoba untuk memberikan dorongan dan semangat melalui atraksi epic dan perayaan sambutan semua orang dengan foto bersama di depan asrama.


Semua itu kemudian membuat kami lebih terbuka dan berpikir jika masuk ke dalam organisasi ini tidaklah buruk sama sekali.


Aku penasaran apakah mungkin dia akan kecewa karena melihat kami yang seperti ini yang hanya memberikan fasilitas transportasi.


Sepertinya, Riza juga merasakan hal yang sama sepertiku. Tidak. Bukan hanya dia saja melainkan kami semua merasakannya di sini.


Dan karena itu aku telah sedikit merubah rencanaku. Dengan membeli sebuah kamera polaroid, kurasa semua ini sudah lebih dari cukup.

__ADS_1


"Hei. Bukankah lebih baik kita merubah rencana kita. Jika dipikir kembali, persiapan kita ini sangat sedikit sekali dari yang lain."


"Sudah terlambat jika kita melakukannya sekarang. Ayo kita segera masuk ke dalam dan mencari tempat terbaik untuk menunggu di sana."


"Kurasa kau benar. Kita juga sudah sampai sejauh ini, jadi tidak ada pilihan lain lagi."


Aku sedikit tidak tega melihat wajah kusut mereka dan kemudian menunjukkan kamera polaroid dari inventori.


"Kurasa persiapan kita sudah selesai. Dengan ini aku yakin adik-adik kita nanti akan sangat senang sekali."


Aku menunjukkan mereka sebuah kamera polaroid hitam di tanganku, tetapi mereka malah kebingungan dan menggelengkan kepala seakan sudah tidak ada harapan lagi.


Kami pergi dengan membawa bendera simbol Paguyuban Usaha Tani dan satu buah baliho panjang.


Saat kami menginjakkan kaki di depan gedung pencakar langit. Semua orang sudah berjejer rapi dan mendapatkan tempatnya, sampai memenuhi satu jalanan. Kami kemudian segera bergegas untuk mencari tempat agar tidak tertinggal di sana.


Setelah mendapatkan spot yang lumayan strategis masih di depan gedung pencakar langit tetapi paling pinggirnya.


Entah kenapa kami tiba-tiba menjadi pusat perhatian semua orang.


"Lihatlah, bukankah itu mereka. Orang-orang yang dari Paguyuban Usaha Tani? Apa yang terjadi kepada mereka, kenapa mereka malah berbaris rapi sama seperti kita?"


"Tidak biasanya mereka melakukan hal seperti itu. Sepertinya mereka sudah kehabisan ide untuk kali ini."


Mereka terlihat sedikit mengejek dan tertawa di sana. Dari apa yang mereka bicarakan, aku menangkap jika paguyuban Paguyuban Usaha Tani selalu tampil dengan mencolok.


Tentu saja kami tidak mendengarkan ucapan mereka dan tetap tenang. Aku dan Didi memegang bendera paguyuban dan mengangkatnya dengan tinggi. Sedangkan Riza dan Anton memegang baliho di depan dadanya.


Dengan ini aku yakin jika anggota baru kita akan mengenalinya.


Saat pintu besar gedung terbuka, kami melihat puluhan orang pertama muncul dengan wajah yang merengut. Semua orang lantas berteriak dan memberikan semangat dengan heboh.


Tetapi sepuluh orang itu tetap dalam keadaan yang kacau dan sedih.


Perlahan, semakin banyak orang yang keluar dari sana satu persatu dan menuju organisasi ataupun aliansinya masing-masing.


Didi terlihat paling heboh di sini. Dia mengibarkan bendera paguyuban kesamping kanan dan kiri dengan sangat cepat. Sedangkan Anton dan Riza tidak kalah sibuk di sana, mereka terus bertanya ke sana dan kemari orang-orang yang melewati stand kita.


"Kau! Apakah kau mencari organisasi dengan job petani?"

__ADS_1


"Ah. Bukan, aku mendapatkan job chef. Aku sedang--"


"Kalau begitu pergilah! Kenapa kau masih tetap ada di sini, huh?! Cepat pergi sana, hush hush."


"Kau! Bagaimana dengan kau?"


"Eh? Apakah ini adalah organisasi dengan job petani?"


"Tepat sekali! Kau datang di tempat yang tepat. Wahai juniorku..."


Perlahan aku melihat satu demi satu orang mulai berkumpul di depan stand kami. Mereka adalah orang-orang dengan job petani seperti kami.


"Apakah ini sudah semua?"


"Hmm, kupikir begitu. Beberapa organisasi juga sudah menutup rukonya."


"Mhm. Baiklah kita juga mulai harus bersiap di sini."


Anton dan Riza melipat balihonya sedangkan Didi mulai menurunkan bendera.


Kali ini juga job petani adalah salah satu yang terbanyak dalam mendapatkan anggota.


Saat aku mulai menurunkan bendera sebuah sentuhan hangat dan kecil menyentuh pakaian belakangku.


"Ummm. Permisi. Apakah di sini benar... Perkumpulan para player petani di dalam pulau?"


Suara yang lirih dan manis kemudian membuat semua orang tidak tahan dan menengoknya, aku pun juga demikian.


Seorang perempuan bertubuh kecil dan ramping dengan rambut putih keperakan lurus terurai sampai pinggang, tersenyum manis tepat di depanku. Bagian depan rambutnya diikat menggunakan karet dan ditarik ke belakang. Sama seperti suaranya wajahnya juga sangat imut.


Jika aku perkirakan usianya berada antara 11 atau 12 tahun.


"Jadi... Apakah benar di sini adalah tempatnya, Kak Evans?"


"Kau benar, di sini adalah tempatnya. Tetapi bukan perkumpulan namanya, namun sebuah paguyuban. Paguyuban Usaha Tani."


Tunggu dulu, bagaimana bisa dia tahu namaku?


Bocah ini... siapa sebenarnya dia?

__ADS_1


- Kejutan untuk para player baru.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


__ADS_2