Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Intermediate player | 120 |


__ADS_3

Fany tertawa kecil dan menangis di sana. Baru pertama kali ini dia merasakan apa itu sebuah kekalahan.


Antara bahagia dan sedih, dia tidak tahu bagaimana mengungkapkannya.


Fany terus menerus mengembara untuk mencari kekuatan, membangun relasi, pengalaman, bahkan mendapatkan reputasi terkuat sampai akhirnya bertemu dengan Evans.


Dia menjadi sedih saat mengingat semua latihan dan perjuangan mati-matiannya selama ini hanya berbuah manis beberapa tahun saja.


Tetapi dia tidak mengetahui jika semua tindakannya ini bisa sangat dibenci bahkan sampai seperti itu.


Saat melihat mata Evans, dia menjadi sadar akan semuanya.


Fany juga menjadi bahagia, setelah mengetahui apa yang sebenarnya menggantung di dalam dadanya ini.


"Ahhh, apakah ini yang disebut orang-orang sebagai cinta? Kukira aku tidak akan pernah merasakannya."


Fany tertawa kecil di sana.


**


"Aku tahu kau sudah bangun."


Tidak ada reaksi sama sekali di sana. Padahal Evans sudah berkali-kali menggoyangnya. Dia juga sangat yakin dengan mendengar ritme pernapasan Ney yang menjadi tidak beraturan di punggungnya.


"Kau menjadi sangat berat sekarang. Apakah kau mulai gendutan."


"Itu tidak mungkin! Ah-?"


Ney kemudian tersenyum canggung dan menggaruk pipinya. Dia tertangkap basah sekarang.


Hancur sudah kesempatan Ney untuk lebih lama di sana. Dia sekarang berjalan di samping Evans beriringan.


"Aku lupa mengatakannya, tetapi selamat. Kau sudah memiliki pacar sekarang."


"Ah. Masalah itu... Em..."


Ney terlihat ragu di sana.


Evans kemudian tidak membahasnya lebih lanjut. Dan juga tidak ada manfaat baginya membahas hal ini, jika itu hanya akan membuat dirinya semakin marah dan emosional sendiri.


"Aku tidak percaya ini. Tetapi, kau berhasil mengalahkan mereka semua. Apa yang tidak bisa kau lakukan sekarang?"


Ney kemudian mengalihkan ke topik yang lain setelah melihat Evans terdiam cukup lama. Mengingat Evans dengan mudah bisa mendapatkan nilai seratus bahkan di bidang olahraga sekalipun.


Sebenarnya apa yang tidak bisa dia lakukan?


Keduanya kemudian berbicara mengenai banyak hal di sana. Tetapi kebanyakan Evans hanya menjadi seorang pendengar.


Dengan pakaian seragam lusuh yang dua kancing menghilang dan keringat sangat banyak merembes keluar.


Evans pergi mengantarkan Ney pulang ke rumah tanpa mempedulikan tas mereka masih tertinggal di kelas.


Besoknya, tersebar rumor yang luar biasa.


Kekalahan pertama Beauty Of Beast.


Bubarnya kelompok geng para anak nakal di sekolah.


Sosok X yang mengalahkannya.


Tetapi dari itu semua yang paling mengejutkan adalah perubahan Fany.


Total jumlah setengah murid di sekolah, artinya lebih dari lima ratus orang terkejut mendapati permintaan maaf dari seorang Fany Indira.

__ADS_1


Dengan perban dan gibs di tangan. Dia menunduk dan meminta maaf dengan tulus.


.


.


.


"Dan begitulah yang sebenarnya terjadi..."


"Ah. Ada yang seperti itu, ya? Aku sungguh melupakannya, kecuali saat aku dan kelompokku dihajar oleh Evans waktu itu."


Fany tertawa canggung.


Sekarang kembali di sebuah taman dan dua orang yang sedang duduk berdampingan. Mereka menjadi lebih dekat dan banyak berbagi cerita.


"Ah! Bukan ini maksudku kemari. Ughhh."


"Hm? Kenapa wajahmu menjadi seperti itu?"


Fany mengamuk di sana, karena semuanya berubah dari rencana sebelumnya. Padahal dia hanya ingin mendengar hubungan Ney dan Evans.


"Ehem! Anu. Begini. I-I-Ituloh, Hmm. Gimana ya mengatakannya, Aduh..."


"Hm? Ya?"


"Ahhhh! Langsung saja. Ney! Apakah kau sedang berpacaran dengan Evans sekarang. Atau apa hubungan kalian berdua saat ini? Tolong, jawab pertanyaanku ini dengan jujur."


Mendengarnya mata Ney menjadi melebar. Dia kebingungan sendiri bagaimana menjawabnya.


Akhirnya, Ney menjawab sesuai dengan permintaan terakhir dari Evans. Dia tidak menjelaskan jika Evans menyukainya, tetapi langsung melewati bagian itu dan memilih bagian yang menurutnya masuk akal.


Lagipula, dunia mereka sudah berpisah sekarang.


"Itu, sungguhan, kan? Kau sama sekali tidak sedang mencoba berbohong kepadaku, hanya untuk membuatku senang, kan?"


Mungkin memang benar apa yang dikatakan Fany. Dia tidak bisa jika melihat seseorang terluka, tetapi jika dia bilang "Iya kami memiliki hubungan istimewa." Hal itu tidak merubah apapun karena jarak keduanya.


Ney kemudian memilih setengah berbohong dan setengah jujur, agar membuat Fany percaya sepenuhnya.


"Jujur akulah orang yang paling menyukainya. Jika Evans... Dia hanya bilang untuk mencari pengganti yang lebih baik darinya."


Ney tertawa di sana, tetapi matanya sama sekali tidak menunjukkan hal itu.


"Jadi begitu, kalau begitu apa kau tidak masalah jika aku mengambil Evans darimu?"


"Eh, Ya? Kau bilang apa tadi?"


Pertanyaan itu berhasil membuat Ney sedikit bergetar. Dia kebingungan dengan maksud Fany untuk sementara waktu dan langsung mengerti setelah memahaminya beberapa detik kemudian.


Tetapi memang apa hubungan Ney dengan Evans sekarang. Hak apa yang dia miliki sampai melarang hubungan seseorang?


Ney menjawab dengan tegas dan jelas di sana.


"Mhm... Tidak masalah bagiku. Lagipula kita tidak akan pernah dapat bertemu kembali."


Ney menutup pembicaraan antar keduanya dan Fany berjalan pergi kembali ke rumahnya.


Ney masih terdiam di taman sendirian dan memikirkan, apakah jawaban yang dibuatnya sudah benar atau salah.


Tetapi sampai akhirpun dia masih belum menemukan hasilnya.


**

__ADS_1


Fany tiba di rumah waktu malam hari dan langsung bergegas masuk ke dalam kamarnya. Dia mengunci pintu dan mencari ponsel di meja.


Dengan cepat Fany sudah mengirimkan pesan kepada sahabatnya itu.


(Momo. Kupikir Ney sama sekali tidak memiliki hubungan apapun dengan Evans.)


Tidak lama kemudian muncul balasan darinya.


(Aneh. Kupikir hal itu tidak mungkin terjadi. Aku sangat yakin ada sesuatu di antara mereka berdua melihat dari ekspresi Ney.)


(Tunggu dulu, bagaimana caramu berbicara dengannya?)


(Kau tidak mengancamnya, kan?)


Muncul satu demi satu pesan dari temannya itu tetapi Fany tetap tenang dan membalasnya dengan cepat.


(Kau pikir aku masih sama dengan yang dulu, huh? Kau terlalu berlebihan. Aku tahu kau memiliki intuisi yang luar biasa. Tetapi tidak mungkin seseorang sampai berbohong seperti itu, setelah aku bertanya berulang kali.)


(Ah. Baguslah kalau begitu. Bye. Selamat malam, Fany.)


(Bye. Selamat malam, Momo.)


Setelahnya, Fany berlari dan bergulat dengan bantalnya di ranjang. Dengan ini dia masih aman dan memiliki peluang.


"Tunggu dulu. Aku memang memiliki kesempatan di sini. Tetapi bagaimana caraku... Menghubungi Evans sekarang, huh?"


Fany mulai sadar akan hal yang paling penting di sini. Tetapi beberapa detik kemudian dia menjadi tidak peduli dan menikmati kemenangannya.


Fany kemudian menguap sangat lebar di sana.


"Ah, sudah sangat malam sekarang. Tidak tidur selama tiga hari, tubuhku menjadi sangat berat. Kenapa juga semua website komik itu harus rilis tengah malam sih, sial! Baiklah, pertama lebih baik pergi tidur. Urusan lain kita pikirkan lagi besoknya."


Keesokan paginya, entah keajaiban apa yang terjadi.


Fany bangun dengan rambut acak-acakkan dan air yang masih menempel di bibirnya, malah dia terlihat sama sekali tidak terganggu akan hal itu.


Fany tersenyum lebar dan tertawa kencang pagi itu. Tiba-tiba dia menjadi ingat dengan satu hal.


"Ibu... Sekarang hari apa?"


"Huh?! Fany, kau masih ada di dalam, nak? Cepatlah pergi, kau akan terlambat ke sekolah lagi hari ini."


"Tunggu. Jawab dulu pertanyaanku, bu!"


_________________ 


[ Invitation ]


Kepada Yth. Fany Indira.


Selamat anda terpilih sebagai salah satu player yang berhak memasuki Tower, memproses pemindahan anda 719:59:59


Player tergabung : 1.2 M Orang


Waiting list : 2.700 Orang


________°_________


- Prologue (End).


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa tinggalkan jejak, Ok.

__ADS_1


(ノಠ益ಠ)ノ彡┻━┻


__ADS_2