Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 32 |


__ADS_3

Chp. 32 Level 5 : Kebetulan yang dipaksakan.


Evans hanya menaikan alisnya melihat Billboards, "Jumlah skor ini sangat banyak."


"Benar, memang sangat banyak koin yang diperoleh jika kau berhasil membunuh Boss Monster. Tetapi kau belum tahu berapa jumlah skor yang dibuat mereka pada lantai belasan, jumlah ini bahkan masih belum seberapa, player dengan skor paling rendah di sana bahkan mendapatkan ratusan ribu koin."


Evans tersedak mendengar jumlahnya, jika untuk player terbawah saja mendapatkan ratusan ribu koin, berapa juta koin yang akan diperoleh para player ranking sepuluh besar.


Jika begitu kenapa semua player di sini kebanyakan malah hidup miskin, mereka memiliki peralatan yang minim dan terkesan seadanya apalagi untuk mempunyai skill, hanya ada beberapa orang yang memilikinya.


Semua orang dan player yang memiliki kekayaan di sini hanyalah mereka yang masuk kedalam Guild Besar, sedangkan untuk yang lain mereka harus mencarinya sendiri.


"Katanya mereka telah membagi dan memberikan sebagian hasil dari Ekspedisi, tetapi sampai sekarang..." Bam menjawab seolah mengetahui apa yang sedang dipikirkan Evans.


"Dan jika kita melawan bahkan protes keras kepada mereka maka yang terjadi selanjutnya adalah--"


Evans telah mengetahui jawabannya, siapa yang berani menentang mereka para player terkuat saat ini.


Tidak ada yang bisa bahkan jika semua orang di dalam pulau bersatu untuk melawan mereka, para player dari First Generation.


Bagaimana mereka bisa melawan seorang player yang datang lebih awal daripada mereka, tentu saja mereka akan mendominasi dalam segala hal mau bagaimanapun usaha para player untuk mengejar ketertinggalan.


"Baiklah, sekarang kita lanjut." Bam menekan sebuah layar, membuat Evans juga menirunya dan bersamaan, mereka menghilang dengan meninggalkan bekas butiran cahaya emas di udara.


**


"Huft... Kita sudah sampai ujung ya..." Bam sedang mengusap keringat dari dahinya setelah melihat sebuah kristal berwarna yang mirip dengan kristal di Katedral.


Mereka sudah berburu banyak monster di lantai pertama mulai dari goblin, wolf dan orc.


Karena lantai pertama adalah awalan, jumlah monster yang muncul juga hanya sedikit, dan orc adalah yang paling kuat di sini. Orc hanya ada beberapa dapat dihitung dengan jari.


Bam sekarang sangat penasaran dengan bagaimana cara Evans dapat memiliki sebuah pedang tingkat tinggi kelas ( C ) itu, dan mulai bertanya tentangnya.


"Aku kebetulan menemukannya di jalanan, saat kau sedang dirawat di rumah sakit dan pulang untuk mengambil barangku dan secara kebetulan barang ini tergelatak di jalanan."


[ Sun Flowers Sword ] [ C ]

__ADS_1


Sebuah pedang dengan gagang yang berbentuk mirip bunga matahari, pedangnya berwarna orange kemerahan dari atas sampai ke bawah.


Saat menjelaskannya dengan wajah yang datar, Evans juga sedang sibuk mencari sesuatu di layar inventorinya, dia lalu melemparkan sesuatu kearah Bam.


"Ini... Kau serius, memberikan sebuah skill card ini dengan gratis kepadaku?" Bam menangkap benda yang dilemparkan dan melihat sebuah kartu skill dengan kelas ( A ) tertulis di belakangnya.


"Kebetulan juga benda itu berada di jalanan bersama dengan pedang ini."


Bam tambah pusing sekarang kenapa sebuah pedang dan kartu skill tergeletak begitu saja di jalanan.


Bam tidak akan pernah percaya hal itu, dan juga kebetulan yang dibuat Evans sangat dipaksakan menurutnya.


Jika memang benar ada, orang idiot mana yang sampai teledor dan meninggalkan barang dengan harga senilai pendapatan satu bulan dari Guild Besar dan membiarkannya begitu saja di jalanan.


Evans hanya tidak mau menceritakan apa yang sesungguhnya terjadi dan lebih memilih untuk merahasiakannya dan membuat alasan yang bodoh.


Bam yang melihat Evans memejamkan mata akhirnya dipaksa untuk mengerti, dan tidak berani untuk bertanya lebih lanjut.


"Hm... Skill Card Swords Energy? Ini sangat cocok untuk ku. Tetapi aku masih terhalang dalam penggunaan mananya, kurasa ini lebih baik untuk mu yang juga pengguna pedang."


Setelah mendengarnya mata Bam tiba-tiba saja melebar, jika Evans menolak karena persoalan mana maka dia masih bisa untuk percaya, tetapi memiliki kartu skill yang sama sampai enam buah, Bam berpikir hal ini sangat mustahil.


Satu kartu skill kelas ( A ) sendiri seharga 100.000 koin, sudah cukup untuk menjadi seorang sultan di dalam Tower, dan menikmati kemewahan didalamnya. Membeli Apartemen, membuat Villa bahkan berlibur di tempat-tempat wisata yang terkenal di dalam pulau.


"Tunggu dari mana kau bisa mendapatkan enam kartu seperti ini?!"


"Itu tergeletak tidak jauh dari pedang dan kartu ini."


Bam yang mendengarkan hanya membuat satu alisnya naik dengan sangat tinggi sekarang.


Evans yang melihatnya begitu kemudian melemparkan sebuah kantung untuk membuatnya kembali tersadar.


"Aku duluan." Evans pergi melanjutkan perburuan di lantai berikutnya.


"Tunggu bagaimana bisa kau pergi ke lantai dua?"


Biaya masuk di lantai kedua sangat lah mahal dan seharga gaji mereka perbulannya, tetapi Evans masih tetap santai dan pergi begitu saja, membuat Bam yang melihatnya hanya menggelengkan kepalanya berkali-kali.

__ADS_1


Bam untuk dapat terus berlatih di lantai pertama saja harus berhutang kepada pihak Bank dan mencicilnya setiap bulan.


Kepala Bam sudah terasa sangat berat sekarang, khususnya sejak Evans mengikutinya masuk ke dalam Tower.


Melihat Evans yang dengan cepat belajar bahkan sudah berhasil meniru dengan sempurna keterampilan berpedangnya, dipersenjatai dengan senjata kelas ( C ) ditambah memiliki enam buah skill card kelas ( A ).


"Huft... Ada apa dengan anak baru itu sebenarnya. Kenapa dia sangat kaya dan kuat, apakah keluarganya di sini seorang player hebat?"


Bam hanya dapat menghela napas panjang memikirkan kemungkinan-kemungkinan itu sebelum melirik pada kantong yang diberikan oleh Evans.


"Ini! Haha... Hahaha... Ha..."


[ 1.000 koin ]


Sebuah hologram tertera di atas kantung itu membuat Bam tertawa dengan canggung dan menatap kearah langit malam, "Apa yang sebenarnya telah kuperbuat selama ini..."


...***...


"Apa, kau bilang apa tadi!" seorang pria sepuh berteriak setelah mendapatkan laporan dari bawahannya.


"Maaf Tuan, tapi semua kartu skill pesanan kita... Semuanya dilaporkan telah lenyap tak tersisa..." Seiring perkataan yang di berikan anak buahnya, wajah pria sepuh itu semakin pucat dan semakin menua.


"Kita telah merugi 300.000 dan apa yang kau lakukan selama ini, hah?! Padahal aku sudah berusaha dengan melakukan negosiasi yang semurah mungkin kepada guild Silvergold..." Pria sepuh itu sekarang menjambak rambutnya sendiri.


.


.


.


Di saat Evans mengantarkan Bam ke Rumah Sakit Kota Excel.


Evans kebetulan melihat cahaya ungu yang berada di dekatnya dan segera berpamitan kepada Anton, Didi, dan Riza di sana, meski sepertinya mereka tidak mendengarkannya sama sekali.


Lima cahaya ungu ini kemungkinan adalah bug yang mirip dengan apa yang Evans dapatkan kemarin. Evans sangat yakin dengan hal itu karena salah satu diantaranya ada di dalam sebuah toko buku.


Sebelum kartu itu diambil oleh pemiliknya yang asli, Evans segera bergegas untuk mengambilnya terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2