Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Intermediate player | 117 |


__ADS_3

Teriakan Ney sangat kencang dan membuat Evans mendongak. Dia menemukan Ney yang terduduk di bawah.


Melihatnya Evans segera menghabiskan sandwich ditangannya. Bagaimanapun situasi di depannya lebih penting sekarang.


"Sialan. Kau akhirnya mulai serius?!"


"Aku tidak akan pernah memaafkannmu."


Para penjaga di depan gudang, mengepalkan tangannya sekuat tenaga. Tersisa lima orang dari mereka.


Evans mengunyah sembari mengamati situasinya. Dia mendengar jika pemimpin mereka adalah seorang perempuan berambut pirang. Jika begitu maka mengalahkannya langsung akan lebih cepat menyelesaikan semua masalah.


Sayangnya, Evans harus menarik kembali pemikiran itu. Puluhan orang mulai berdatangan dari arah belakangnya, dan mereka pasti tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.


Mereka tidak akan membiarkannya mendekat.


"Evans, apa yang kau lakukan di sini?"


"Hmmm, jadi namanya adalah Evans, ya? Sayang sekali aku sangat kecewa melihatnya. Rumor yang terkenal itu, kurasa terlalu berlebihan."


Fany memandang Evans dari atas ke bawah dan menghela napas pelan.


Mungkin Fany menjadi kecewa karena penampilan Evans yang sangat berbeda dengan imajinasinya yang seperti pria berotot tinggi, bertaring, dan menyeramkan.


"Apa yang kau lakukan, cepat larilah. Kenapa kau masih diam saja? Tunggu, kau tidak berpikir untuk bertarung dengan mereka, kan?"


"Tenanglah. Semua ini bukanlah masalah yang serius. Dan masih bisa kutangani."


"Apa maksudmu, meskipun itu kamu. Tapi, semua ini masih mustahil. Tidak mungkin kau bisa mengalahkan semua orang. Jumlah mereka juga akan bertambah lebih banyak lagi!"


"Benarkah."


"Benar! Jadi pergilah aku mohon padamu. Aku tidak ingin melihatmu terluka. Jadi..."


"Aku tetap tidak akan pergi."


"Evans..."


Evans tidak mungkin bisa pergi meninggalkannya sendirian. Apa yang akan terjadi jika Evans sampai melakukannya.


Kurang lebih dua puluh orang sekarang menatap Evans seperti orang gila. Mereka bahkan menggelengkan kepalanya dan tertawa keras melihat kebodohannya.


"Luar biasa. Itu tadi drama yang sangat menarik. Tetapi aku benci mengatakan ini. Kau tahu, aku sangat sensitif dengan orang yang hanya bisa berbicara omong kosong. Kalian semua, cepat pergi dan habisi orang--"

__ADS_1


Belum selesai Fany mengatakannya tiba-tiba saja, salah satu anak buahnya terbang dan menghantamnya.


"Ini... Apakah kau sungguh sudah kehilangan akalmu? Kau berani menantangku, apakah kau tidak tahu siapa diriku?"


"Kau masih bisa menahannya, bukankah itu luar biasa. Tetapi cukup sampai di sini permainan anak kecilmu akan berakhir."


"Masih bisa... menahannya? Permainan anak kecil kau bilang?? Heee. Jadi, begitu ya..."


Tubuh Fany bergetar menahan amarahnya.


"Dengan ini, kuanggap kau sungguh hanyalah seorang yang idiot."


Fany turun dari singgasananya dan bersiap berjalan menghampiri Evans.


Seketika suara ribut dan teriakan orang-orang yang bersemangat bergema di seluruh area belakang sekolah.


"Tidak. Evans. Pergilah, kau tidak perlu melakukan ini. Serahkan semuanya kepadaku, Ok? Kau cukup berlari saja dan melaporkan semuanya kepada guru dan staf sekolah. Kumohon."


"Hei. Apa yang kau katakan tadi, pergi? Setelah dia memprovokasiku? Jangan bercanda denganku."


Fany menendang tubuh Ney sampai menghantam tembok belakangnya. Semua itu terjadi dengan sangat cepat dan kuat, sampai Ney tersedak dan terbatuk-batuk di sana.


"Evans, cepat... Pergilah..."


"Dengan kekuatan lemah seperti itu. Kau berani berurusan denganku...? Tidak kau, tidak pria idiot yang di sana. Kalian berdua sama-sama bodohnya."


"Sekarang, kita lihat apa yang pahlawan ini akan lakukan. Hm? Lihatlah dia masih tetap tenang. Sangat mengejutkan, kukira kau akan mengamuk di sini."


Fany perlahan mendekat dan tertawa. Tidak, bukan hanya dirinya, suara tawa semakin bertambah satu persatu dan semakin kencang.


Tidak ada suara apapun selain gelak tawa di sana.


Fany sekarang tiba di hadapan Evans.


"Sekarang aku sudah tiba di sini, tepat di depan wajahmu. Apakah kau sudah siap sekarang?Hm? Atau mungkin tidak? Aku sama sekali tidak bisa mendengarmu. Apakah kau menjadi takut?"


Fany meregangkan tangannya dan meraih pundak Evans, "Sekarang mari kita, tes sedikit apakah kau hanya bisa bicara omong kosong atau tidak?"


Fany menekan Evans dengan kekuatannya agar menunduk dan bersujud di hadapannya. Tetapi apa yang terjadi malah sebaliknya.


Suara-suara teriakan semangat dari semua orang semakin menipis dan perlahan menghilang. Mereka semua kemudian mempertanyakan apa yang terjadi di sini.


Kekuatan cengkraman Fany seharusnya sangat menyakitkan dan membuatnya jatuh, bahkan pria dewasa sehat saja sampai jatuh lemas di atas tanah.

__ADS_1


Kekuatan cengkraman Fany mencapai lebih dari 70kg. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi di sini?


"Huh. Apa yang sedang kau lakukan. Jika kau ingin melakukannya, beginilah yang benar."


Tiba-tiba saja sebuah telapak tangan, muncul di pundaknya. Fany mulai merasakan ada yang aneh di sini. Bahkan semua orang menahan napasnya.


"Suara siapa tadi sebenarnya?"


"Suara itu sangat berat dan menakutkan."


Mungkin hanya Fany seorang yang menyadari ada yang aneh pada Evans, matanya begitu gelap dan warna biru terangnya menjadi semakin pudar.


"Ah-! Arrrrggggh...!"


Fany menjerit dan terduduk lemas di atas tanah. Mata semua orang kemudian bergetar dan melebar.


Tidak ada seorangpun yang melewatkan kejadian ini. Mereka semua jadi mengerti, siapa orang yang sebenarnya bodoh di sini.


Fany bahkan menepuk kaki Evans berulangkali meminta untuk dilepaskan.


Tetapi Evans sama sekali tidak berniat mengasihaninya, apa yang dilakukannya kepada Ney membuatnya sadar jika dia masih terlalu lembut kepada semua orang.


Padahal dia sudah memberikan peringatan.


Padahal dia sudah mengatakannya berulang kali, jangan pernah kalian berani mengganggunya.


Dan kenapa, masih banyak orang yang bermunculan dan merundungnya.


Evans memutuskan akan memberikan semua orang yang ada di sini pelajaran tanpa rasa bersalah sedikitpun.


Mereka mungkin tidak akan pernah kembali dalam keadaan yang sama seperti sebelumnya.


Evans juga memastikan akan membuat mereka mengingat ini seumur hidupnya dan menyebarkan semua ini ke seluruh sekolah.


"Arrrrrggggggh-!"


Fany terus menjerit di sana, sudah lima menit berlalu. Dia juga mengeluarkan banyak sekali air dari mulutnya sampai jatuh dan menetes ke tanah.


Salah satu orang di sana, kemudian sadar dan tidak membiarkan Fany untuk kalah atau mereka semua akan berakhir. Dia memukul Evans tepat mengarah ke kepala, sayangnya Evans dapat dengan mudah menghindarinya dengan menarik tubuhnya mundur ke belakang.


Fany sekarang terbebas dari rasa sesak dan mati rasa yang luar biasa. Dia meringis kesakitan di sana sembari memegangi pundaknya.


"Sialan. Ini masih belum berakhir! Kau akan merasakan akibatnya mulai dari sekarang. Aku akan membayarmu dua kali lipat lebih banyak dari ini. Kau dengar itu, aku akan membunuhmu!"

__ADS_1


"Baiklah. Sekarang adalah giliranku. Hmmm, bagaimana ya. Kalau begitu aku akan mengambilnya dan memberimu sepuluh kali lipat sebagai balasannya. Bagaimana dengan itu."


+++++


__ADS_2