Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 106 |


__ADS_3

Lan Suzi kini tersenyum tipis setelah menghabisi semua orang dan melihat Bella yang hanya seorang diri.


Bella segera berteriak sangat kencang sembari membawa palunya, dia berlari secepatnya kearah Lan Suzi dengan warna wajah merah padam dan urat-urat otot keluar di kepalanya, "Lan Suzi-!!! Matilah, kau sialan!"


Bella yang semakin mendekat membuat Lan Suzi untuk bersiap dan memasang kuda-kuda di sana, tetapi tinggal selangkah lagi untuk Bella menjangkaunya Lan Suzi tiba-tiba saja muncul di sampingnya dengan seberkas cahaya yang mengikutinya.


Di sana, Lan Suzi langsung menebas Bella dengan cepat dan membuatnya terjatuh serta berguling di atas tanah berkali-kali.


"Sekarang semua hutang-hutangku yang ada di masa lalu sudah lunas kubayar. Aku tidak akan pernah bisa kalian sentuh lagi, tidak akan pernah! Dasar kalian sampah bodoh-!" Lan Suzi mendengus setelah selesai mengatakannya.


[ +1.900 EXP ]


Semua mayat sekarang sudah berubah menjadi cahaya dan menghilang, Lan Suzi menangis dengan sesengukan sesekali di sana, dia kembali mengingat masa lalunya dengan perasaan yang berbeda sekarang.


Lan Suzi telah melewati neraka itu selama dua tahun, disiksa, dibully dan dijadikan sebuah alat untuk mereka. Bahkan Lan Suzi terus menerus difitnah mereka saat-saat berada di dalam guild.


Semua itu, saat mengingatnya kembali Lan Suzi menjadi bisa tersenyum sangat lebar sekarang, dia sudah berubah dan menjadi orang yang jauh lebih kuat lagi.


Membalaskan dendamnya dan menunjukkan siapa sosok dirinya yang sebenarnya, Lan Suzi kemudian berjanji tidak akan pernah melupakan hari ini.


Hari ini adalah hari yang terbaik baginya, titik balik untuk Lan Suzi dan hari disaat dirinya bersumpah akan menjadi seorang advanced player nantinya.


"Benar jalanku masih sangat panjang dan baru saja dimulai sekarang. Hiks, hiks, shruuup!" Lan Suzi tertawa kecil dan mengusap ingusnya.


"Aku masih tetap cengeng ternyata hihihi."


.


.


.


Setelah melihat rumah perlindungan itu berdiri, ketiga orang yang melihatnya dari luar sama sekali tidak menunjukkan ekspresi terkejut dan bersikap biasa saja saat menontonnya.


"Apa lagi itu sekarang?" Eric melipat tangannya di dada dan bertanya kepada Evans di sampingnya.


Evans juga tidak mengetahuinya dan memiringkan kepalanya, "Hm... Sebuah rumah kurasa."


Jeff melirik ke sana kemari dan mencari keberadaan Lan Suzi tetapi sama sekali tidak dapat menemukannya.


Melihatnya yang kebingungan seperti itu Evans segera menjelaskan jika sebenarnya Lan Suzi baru saja pergi dan telah selesai masuk ke dalam rumah perlindungan itu.


Saat mendengarnya kedua orang itu menjadi sangat terkejut, pasalnya sejak kapan Lan Suzi bisa masuk ke dalam sana dan mereka bahkan tidak dapat melihat sama sekali kecepatan dari Lan Suzi.

__ADS_1


Eric hanya tersenyum kecut dan mengumpati skill kecepatan cahaya milik Lan Suzi, sedangkan Jeff di sana terlihat sangat khawatir karena Lan Suzi akan melawan banyak player di dalamnya seorang diri.


Tetapi setelah melihat Lan Suzi keluar dengan mengalahkan semua orang dan berdiri di atas semua mayat itu, Eric dan Jeff kemudian menahan napasnya karena berdecak kagum.


Jeff, "Bukankah, dia sudah sangat berlebihan saat melakukannya?" Dia mengerutkan kening melihat pembantaian itu.


Eric, "Hanya satu yang bisa kukatakan, aku lebih suka versi Ney yang seperti ini." Dia terlihat tersenyum puas dan mengacungkan jempolnya di sana.


Evans yang mendengar semua itu di sampingnya kemudian menggelengkan kepalanya berulang kali, "Tidak, tidak. Jangan sampai Ney berubah menjadi seseorang yang seperti itu." Batinnya menepis semua omongan Eric yang tersenyum senang saat sedang melihat kekacauan terjadi.


Saat Eric dan Jeff akan berjalan untuk menghampirinya, Evans kembali mencegahnya di sana, dia melihat Lan Suzi yang sedang berdiri dan mematung menangis.


Melihatnya kedua orang itu juga menjadi berhenti, tetapi setelah beberapa menit berlalu Lan Suzi mulai berjalan sendiri kearah mereka semua.


***


Seseorang pria muda yang berumur dua puluhan akhir sekarang sedang menunduk dan memberikan salam kepada perempuan yang ada di hadapannya.


"Jadi apa yang ingin kau laporkan?"


"Saya telah berhasil menyelesaikan misi pengintaian tentang player yang bernama Evans Mallory." Pria muda itu masih menunduk saat mengatakannya.


"Secepat ini?" Perempuan itu kemudian membuang kertas dokumen yang ada di tangannya dan memilih untuk mendengarkan pemuda di hadapannya.


"Baik. Guild Master Sunny Guild, Violet Winston."


Pemuda itu mulai menceritakan semuanya yang dia ketahui tentang Evans, saat pertama kali dirinya bertemu dengannya sebagai Teo, sampai kematiannya sendiri kepada pemimpin guild itu.


"Kau tidak sampai menggunakan kekuatan jobmu kan?"


"Tidak."


"Baguslah kalau begitu."


Violet Winston sekarang tersenyum manis karena mendapatkan semua informasi baru tentangnya, jika mengingat kembali apa yang dikatakan oleh Jun Ichiro kepadanya, dia sempat meragukan untuk mereka bisa mendapatkan semua ini.


Sosok Evans ini adalah player cilik yang sangat pandai dan misterius, dia bisa membaca segala situasi yang membahayakannya nanti dengan cepat dan sangat berhati-hati dalam menyembunyikan kekuatannya.


Violet Winston tidak ingin player yang bernama Evans Mallory ini sampai mengetahui jika keberadaannya sekarang sedang diamati dan diawasi oleh salah satu Guild Besar.


"Ternyata benar apa yang dibilang oleh Jun Ichiro sayang, tidak mungkin dia berani berbohong kepadaku. Sekarang apa yang harus aku lakukan kepada bocah cilik itu karena merusak hubungan rumah tangga seseorang..."


Setelah mengepalkan tangannya di atas meja tubuh Violet Winston terlihat bergemetaran seperti menahan sesuatu, matanya melotot tajam dengan membayangkan wajah Evans.

__ADS_1


"Sialan... Mengingat aku gagal kawin karena seorang bocah cilik sepertinya. Grrr! Akan aku bunuh, sungguh akan kubunuh orang itu. Awas saja kau bocah bau sialan-!"


***


Lan Suzi kembali kekelompoknya dengan wajah murung dan perasaan yang buruk, dalam hatinya dia sangat tersiksa karena melakukan semua itu dan menurutnya terlalu jahat untuk dilakukan.


Mereka semua kemudian memilih untuk kembali ke rumah petualang termasuk Jeff yang mengikuti mereka dari belakang.


Dalam perjalanan tidak ada seorangpun yang berbicara di sana, mereka sangat tenang dan hening mengikuti Lan Suzi dari belakang.


Saat akan mencapai ujung kristal lantai kedua belas, Jeff melihat teman-temannya yang berkumpul karena mendapatkan perintah darinya.


Mereka semua kemudian kembali lagi ke lantai dua belas, juga baru pertama kali ini teman-temannya melihat Jeff yang bertingkah egois sampai seperti ini, mereka kemudian tersenyum dan menggangguk untuk beristirahat dari leveling nya selama beberapa hari di rumah petualang.


Mereka semua tiba di sana saat malam hari, setelah mendapatkan kedipan mata yang menggoda dari pelayan seksi yang ada di sana barulah mereka kembali ke dalam kamarnya masing-masing.


Lan Suzi langsung merebahkan dirinya di atas ranjang, setelah memejamkan matanya untuk waktu yang lama, dia tertidur dengan pulas di sana.


"Apa yang sebenarnya kita ini lakukan?" Eric berbisik melihat Evans yang ada di sampingnya.


"Entahlah, aku juga tidak mengerti." Evans hanya menggeleng dan melipat tangannya di dada.


"Bukankah kau itu terlalu khawatir pada seseorang." Eric terlihat sangat kesal dan menggaruk rambutnya di sana.


"Kenapa juga kau harus mengikutiku." Evans melirik kearah Eric dengan wajah datar dan sedikit menaikan salah satu alisnya.


"...."


Mereka berdua terdiam cukup lama dengan melihat tubuh Lan Suzi yang sedang tidur di bawahnya.


"Jadi, kapan kita berdua akan keluar dari sini?"


"Tunggulah sebentar lagi."


Di sana Evans hanya ingin mengamati bagaimana sikap Lan Suzi setelah melakukan pembantaian itu, apakah akan membuatnya terpukul dan tidak ingin bertarung lagi atau malah membuatnya bersemangat dan berjanji akan menjadi lebih kuat lagi.


Tetapi hal yang membuat Evans sama sekali tidak mengerti sekarang adalah niat teman yang ada di sebelahnya.


"Aku sedikit penasaran, sebenarnya apakah niatmu sampai mengikutiku kemari."


"Oh, itu... Hmm, bagaimana aku menjelaskannya ya. Sebenarnya aku ingin..."


Eric kemudian menceritakan niat buruknya kepada Evans dengan sangat jelas, saat Lan Suzi akan berganti pakaian dia akan berteriak dan membongkar penyamaran Evans lalu kabur keluar dari jendela secepat mungkin, dia ingin sekali melihat Evans dibenci oleh orang-orang yang berharga disekitarnya sampai menderita.

__ADS_1


Evans hanya tersenyum canggung saat mendengarnya, orang ini sama sekali masih belum berubah.


__ADS_2