
Chp. 61 Level 9 : Makan Malam(3).
"Apakah kau adalah dewa itu?" Hendra tidak melihat siapa yang memberikannya, tetapi dia secara langsung berterimakasih dengan menundukkan kepalanya begitu saja.
Hendra juga tidak mendengarkan suara dari Lan Suzi yang berteriak pelan karena terkejut, dia berpikiran jika Lan Suzi terkejut karena melihat jumlah nominal angka yang luar biasa bukan dengan wajah dewa di hadapannya.
"Sudahlah ini juga tidak seberapa kok hehehe."
Hendra langsung mengernyitkan dahinya, dia merasa sedikit kenal dengan pemilik suara ini. Mendengarkan suara dari dewa nya yang agak aneh, dengan perlahan Hendra membuka kedua matanya dan tanpa di sangka.
Mulut Hendra menganga, dia melihat Didi yang sekarang tersenyum lebar dan menggosok berkali-kali hidungnya itu.
"Sialan kau!" Hendra melotot kearah Didi, dewa yang dia puja pastinya tidak akan memiliki tampang yang bodoh dan mirip penjahat sepertinya.
Hendra mengepalkan tangannya dan berlari mengejar Didi.
Didi sebenarnya tidak mengetahui apa yang sedang terjadi, tetapi melihat wajah Hendra yang menyeramkan itu dirinya secara tidak sadar langsung berlari menjauh.
Mereka berdua saling berlarian di sana dan tanpa disadarinya ada salah satu orang yang tersenyum puas dengan keadaan mereka berdua.
**
Setelah Lan Suzi meninggalkan ruangan meja makan.
Semua pelanggan yang menyaksikan hal itu semakin menjadi bahkan tertawa lebih keras dari yang sebelumnya tanpa ada sedikitpun yang mereka tutup-tutupi sekarang.
Mereka juga menertawakan Lan Suzi yang berpikiran untuk membujuk pemimpinnya itu pindah ke restoran yang lain.
Sebuah restoran yang sesuai dengan organisasi kecil dan bobrok seperti mereka.
Jika saja mereka tahu bahwa Lan Suzi adalah salah satu dari anggota Guild Besar, maka mereka semua pasti akan sujud seketika ditempat dan meminta maaf.
Mereka tidak berani untuk menyinggung salah satu anggota Guild Besar.
"Apa ada hal yang bisa dilakukannya? Kenapa dia begitu percaya diri untuk membantu pemimpinnya hahaha."
"Dasar, mereka semua memang orang-orang yang tidak tahu diri berani sekali datang ke tempat restoran berkelas seperti ini."
"Oh, dengar? Kalian dengar itu tadi hahaha." Mereka semua tertawa terbahak-bahak saat mendengarkan Lan Suzi mengusulkan kepada Hendra untuk mencari restoran yang lain.
Semua orang di Paguyuban Usaha Tani hanya memasang wajah sedih dan merengut, sepertinya memang tidak ada pilihan lain lagi mereka harus bersiap dan meninggalkan restoran mewah dan berbintang lima tersebut.
"Haa... Tidak ada pilihan lain ayo kalian semua kita harus pergi."
__ADS_1
Semua orang kemudian menghela napas saat mendengarnya, mereka mengangguk setuju dan meregangkan seluruh badannya bersiap berdiri.
Tetapi tiba-tiba saja salah seorang perempuan mendekati meja paling pojokan, perempuan ini yakin jika orang ini dapat membantu.
"Evans, bukankah kau baru saja menyelesaikan Lantai 0 dan mengalahkan Boss Monster di sana. Bisakah kau memberikan beberapa uangmu?"
Sontak keributan sekali lagi terjadi diantara para pelanggan dan pekerja di sana.
Mereka tidak pernah menyangka jika salah satu anggota dari organisasi yang mereka anggap kecil dan sampah ini ternyata memiliki berlian di dalamnya.
"Konyol sekali seseorang dengan job petani berhasil menghabisi Boss Monster Lantai 0? Ini tidak mungkin!"
"Bagaimana bisa mereka-! Cih! Tetapi apa lagi hehehe... Apakah dengan uang hadiah skor dari Lantai 0 cukup untuk mereka bisa menikmati semua makanan yang ada di sini?"
Mereka semua kembali tertawa setelah hampir saja tersedak dengan ludah mereka sendiri, sedangkan Evans masih tetap tenang dan terlihat diam seperti biasa.
"Jadi memang tidak berhasil, aku mengira anggota dari Guild Besar akan memiliki banyak uang." Evans kemudian menghela napas kecil, tidak ada pilihan lain lagi dia harus turun tangan dan membantu sekarang.
"Lihatlah bocah itu! Dia membuka layar sistemnya hahaha. Sudahlah Nak, kau tidak akan memiliki jumlah koin yang cukup. Tidak mungkin Lantai 0 akan memberikan hadiah yang luar biasa banyak, jika tebakanku benar mungkin hanya sekitar seribuan."
Mereka semua sangat puas tertawa sampai memegangi perut mereka yang seakan akan siap meledak kapan saja karena tidak kuat menahan tawa lagi.
"Lucu sekali. Baiklah, jika begitu aku akan bertaruh. Kurasa aku akan tidur di jalanan selama seminggu."
"Aku akan menciumi pantat sapi sepuluh kali hahaha."
"Bagus, bagus. Kurasa aku akan berjalan bugil mengelilingi pulau sampai dua kali."
"Hahaha."
"Hahaha."
Entah bagaimana mereka bisa berakhir membuat pertaruhan, tetapi semua anggota Paguyuban menatap mereka semua, para pelanggan dan karyawan yang tertawa kencang dengan perasaan benci.
Semua orang yang berasal dari anggota Paguyuban Usaha Tani sekarang beralih menatap Evans.
Bagaimanapun mereka tahu seberapa kaya Evans dan sering juga mereka meminta traktiran dan meminjam uang darinya. Evans seringkali dibuat kerepotan karenanya.
"Evans! Kumohon pinjamkan lah uangmu sekali lagi kepada Kami."
"Evans bisakah kau melakukan sesuatu?"
"Tolong bantulah kami, Evans!"
__ADS_1
Jika Evans tidak memiliki uang yang cukup untuk membayar makanan semua orang. Hanya dengan mengeluarkan sejumlah besar uangnya, dari sana mereka mungkin bisa membantu dengan cara menambahkan uang masing-masing sampai mencukupi saja, lagipula jumlah mereka ada ratusan di sini.
Evans menatap raut wajah yang sangat bercahaya dari semua orang, dia kemudian tersenyum tipis dan mengeluarkan sekantung uang, "Apakah segini sudah cukup."
[ 10.000 Koin ]
Kantung uang yang berukuran sebesar kepalan tangan orang dewasa jatuh di atas meja dan menimbulkan suara khasnya.
Situasi di restoran sekarang menjadi sangat hening bahkan hanya suara napas saja yang terdengar di sana.
Semua orang menatap berulang kali diantara Evans dan kantung di hadapannya. Sesekali mereka menggosok matanya yang tidak percaya, mereka juga terlihat mengusap liur yang keluar terjatuh dari mulut lebarnya.
Sebenarnya darimana bocah cilik itu berasal dan bagaimana juga cara dia mendapatkan uang sebanyak ini.
Kenapa dia masih saja hidup biasa-biasa saja dengan uang yang bisa membeli seperempat kota ini?
Apakah dirinya masih seorang manusia pikir semua orang.
Para pelanggan dan semua orang yang awalnya tertawa dengan sombongnya menjadi menunduk menatap ke kolong-kolong.
Semuanya sekarang terbalik dengan mudahnya seakan sebuah telapak tangan, mereka mendapatkan tertawaan dan hinaan dari semua orang yang berasal dari Organisasi kecil.
"Sekarang siapa yang tadi bilang akan tidur di jalanan dan menciumi bokong sapi hahaha."
"Tunggu, jangan lupakan dengan orang mesum yang katanya akan berlarian mengelilingi pulau."
"Hehehe."
"Hahaha."
Mereka semua sangat lepas tertawa bahkan sampai mengebrak mejanya berulang kali.
Para pelanggan yang tadinya mengejek secepatnya pergi keluar, mereka merasakan malu yang sangat laur biasa sampai membuatnya memilih mati saja.
Mereka terlalu tinggi menyombongkan dirinya dan merendahkan orang-orang di bawahnya.
Evans segera meminta kepada Didi untuk membawakan uangnya dan memberikannya kepada Hendra dan Lan Suzi yang ada di depan.
Didi tersenyum kepada Evans, dia mengangguk cepat dan lekas membawa kantong uang itu.
Dengan kejadian malam ini, Paguyuban Usaha Tani mulai sekarang akan dikenal berbeda di dalam pulau.
Semua orang akan mengetahui organisasi ini bukanlah miskin dan kecil seperti sebelumnya, mereka semua pasti akan berlomba dan membuat ikatan dengannya.
__ADS_1
Menyanjung dan menghormati bahkan mungkin Paguyuban Usaha Tani nanti akan memiliki beberapa kewenangan atau hak istimewa di dalam pulau.