
Chp. 48 Level 7 : Mengembalikan Bam.
Violet Winston sedang melihat Jun Ichiro yang dikawal oleh anggota dari The Executor ke markas Guild mereka.
Violet hanya menyaksikan di kejauhan dengan berlinangan air mata sampai membasahi pipi dan menutup rapat mulutnya yang sangat ingin berteriak itu.
Violet berjanji akan mengunjunginya setiap hari di markas The Executor Guild tempat Jun Ichiro dipenjara nantinya.
Violet juga masih belum menyerah, dia akan tetap berusaha untuk mengembalikan nama dan kehormatan Jun seperti semula.
"Tenanglah sayang, aku akan usahakan yang terbaik untukmu." Violet Winston lalu mengepalkan kedua tangannya di dada.
"Juga orang yang bernama Evans Mallory ini akan merasakan akibatnya!"
Violet mengingat kembali omongan dari Jun Ichiro, meskipun dirasakan terlalu berlebihan tetapi dia masih ingin mempercayai Jun Ichiro sebagai kekasihnya.
Bagaimanapun hanya ini yang bisa dirinya lakukan sekarang, dan mungkin saja bisa menghiburnya walaupun sedikit.
...***...
Tidak terasa satu hari telah berlalu, semua orang di dalam pulau selalu membicarakan kejadian yang terjadi di dalam White house kemarin.
Sebenarnya masih banyak misteri yang belum terungkap saat itu tetapi tidak adanya pihak dari salah satu Guild Besar yang bergerak, mereka akhirnya hanya dapat diam dan menerimanya.
"Siapa sebenarnya player yang berhasil membunuh Jun Ichiro? Apa benar ini mungkin untuk player selain dari Guild Besar yang mengalahkannya?"
"Aku tidak percaya ada player yang selain Guild Besar bisa menandingi seorang Kapten Guild."
Berita tentang player misterius ini kemudian tersebar dengan cepat dan bahkan menjadi Trending No.1 di dalam dan di luar pulau.
Nama dari Evans Mallory juga masih disangkutpautkan di sini, ada beberapa player yang tidak percaya padanya sayangnya ada lebih banyak orang yang percaya bahkan berjumlah dua kali lipat lebih banyaknya.
Evans sekarang sedang berdiri ditengah-tengah Aula Besar dari Katedral dan dengan perlahan membuka matanya.
Evans masih mengingat dengan jelas semua kejadian yang berlalu sedetik baginya itu, khususnya sakit akibat dipenggal.
Evans sekali lagi memastikan apakah lehernya benar-benar masih melekat dengan tubuhnya dan dalam kondisi yang baik-baik saja.
Evans juga penasaran tentang bagaimana hasil jalannya persidangan yang kemarin, apakah semuanya sesuai dengan perkiraannya atau tidak.
__ADS_1
Evans memutuskan untuk pergi keluar dari Tower beberapa detik setelah dirinya berkali-kali mengusap leher bagian belakangnya karena masih tidak percaya.
Beberapa langkah saat Evans berjalan ke pintu masuk, dirinya melihat ke sekitar dan menemukan berbagai player berlalu lalang di sini, entah player yang akan masuk untuk menjelajahi Tower atau mereka yang terbangun dari kematian sama seperti yang dirinya alami.
.
.
.
"Level ku benar-benar dipotong sepuluh." Evans melihat layar statusnya yang telah diperbarui, levelnya kembali jatuh menjadi sebelas dan semua stats nya juga kembali turun menyesuaikan.
Evans hanya menghela napas pelan sebelum menyadari exp yang didapatnya juga hasil dari PK melawan player, mungkin ini menjadi balasan untuknya.
"Evans!"
"Di sini... Di sini..."
"Cepat lah kemari!"
Banyak wajah yang sangat mudah dikenali Evans terlihat sedang melambaikan tangan kearahnya, mereka semua telah menunggunya di depan Tower dengan tersenyum menyambut kembali dirinya.
Evans tersenyum tipis melihat orang-orang dari Paguyuban Usaha Tani ini dan berjalan perlahan mendekati semua orang.
Evans dengan yang lain berjalan kembali ke Asrama Paguyuban Usaha Tani, di perjalanan Hendra mulai bercerita tentang apa yang terjadi kemarin di White House khususnya tentang hukuman dari Jun Ichiro.
Evans hanya menganggukkan kepala saat mendengarkannya, kebanyakan memang persis sesuai dengan tebakannya jadi dirinya tidak terkejut.
Evans sesekali menoleh kepada Bam yang masih diam bahkan tidak ada bedanya dirinya dari sebuah boneka.
Bam sama sekali tidak mengeluarkan suara bahkan jika dilihat lagi Bam seperti tidak bernapas, "Dia terus saja begitu tidak ada yang bisa menyembuhkannya setelah pertarungan kalian melawan Jun sialan itu!"
Seolah membaca pikiran Evans, Hendra tiba-tiba menjelaskannya. Hendra juga telah membawanya ke Rumah Sakit untuk menemui dokter dan bahkan sampai menemui Healer dan Saint terkenal tetapi tidak ada yang berhasil juga.
Semua orang hanya mengatakan "Tidak" kepadanya, kutukan ini tidak akan pernah bisa diobati.
Evans kemudian menghela napas pelan sebelum memejamkan matanya, jika ahlinya saja kebingungan untuk menyembuhkannya bagaimana dirinya akan membantu sekarang.
"Eeeh bukankah itu?" Semua mata memandang kearah perempuan yang sedang berdiri di depan gerbang Asrama Paguyuban Usaha Tani, di sana terlihat gadis yang sangat cantik sedang menunggu.
__ADS_1
"Hai Kak Suzi!"
"Apa kabar Kak Suzi, hari yang sangat indah ya."
"Hei Kalian! Anton... Didi..."
Didi mendekat bersamaan dengan Anton, sedangkan Riza mengikuti keduanya dari belakang mereka terlihat lebih antusias dibandingkan saat menjemput Evans.
"Kau mencari Bam lagi kali ini?" Suara Hendra membuat Lan Suzi menengoknya.
Hendra dan beberapa orang juga telah mendekat, Lan Suzi berhasil menjadi pusat perhatian semua orang dalam waktu singkat sebelum mengalihkan pandangannya kepada Evans.
Pandangan mereka yang bertemu membuat Evans kemudian menganggukkan kepala.
Lan Suzi sedikit canggung saat bertemu dengan Evans tetapi dirinya mendengus seakan telah membulatkan tekadnya.
Lan Suzi lalu meminta maaf berulang kali kepada Evans, dia sungguh menyesali perbuatannya.
Lan Suzi sendiri tidak mengetahui jika Kapten Guild sekaligus sahabatnya itu akan berbuat hal yang seperti ini.
Lan Suzi seharusnya tidak memberitahu Jun Ichiro tentang kegagalannya pada misi yang pertama dan memilih merahasiakannya, dirinya juga tidak mengira jika Jun Ichiro akan memberikan laporan yang palsu dan menjebak Bam kemudian membalasnya.
Jun Ichiro selalu menunjukan sikap yang ramah dan baik kepadanya, sehingga saat Lan Suzi mengetahui wajah Jun yang sesungguhnya.
Lan Suzi menjadi bingung dan sedih kemudian berubah menjadi benci saat mengetahui apa yang telah diperbuatnya kepada Bam.
"Tenanglah Kak Suzi tidak ada seorangpun yang mengharapkan kejadian seperti ini akan terjadi. Kak Suzi juga telah kami anggap sebagai bagian dari keluarga."
"Anggota keluarga, apa maksudmu dengan itu?" Lan Suzi menatap Evans sembari menaikan alisnya.
"Bukankah jika kalian sebenarnya--" Sebelum Evans hendak menjawab, dengan cepat mulutnya segera disumpal sendiri oleh Hendra menggunakan kedua tangannya.
Dalam perjalanan pulang Hendra juga membahas tentang Lan Suzi, dia bercerita tentang Lan Suzi yang kemarin pergi ke Paguyuban Usaha Tani untuk mencari Bam serta menjenguknya.
Mata Lan Suzi terlihat cemberut melihat keadaan Bam yang seolah mirip sebuah boneka.
Bam tidak pernah menjawab sekalipun obrolan darinya bahkan saat Lan Suzi memeluknya tidak ada reaksi apapun yang terjadi, berbeda dengan Hendra yang kebetulan melihat hal itu dari dibelakang.
Maksud Hendra sangat baik untuk melindungi Bam dari belakang karena bagaimanapun juga Lan Suzi masih tetap salah satu Anggota dari Sunny Guild, makanya Hendra melakukan pengintaian dalam sepi di belakang.
__ADS_1
Hendra yang melihat mereka berpelukan hanya membuka mulutnya dengan lebar seukuran sebuah bola, dia bergegas berlari kemudian menceritakan semua yang dilihatnya ini kepada seluruh anggotanya sampai pada akhirnya sampailah kepada Evans yang paling akhir.
Lan Suzi sekarang terlihat kebingungan dan menaikan salah satu alisnya, dia menjadi sangat penasaran melihat reaksi semua orang tetapi dia tidak berani memaksa Evans untuk bercerita.