
Chp. 59 Level 9 : Makan Malam.
"Bagaimana jika Kau ikut Kami, Nak Suzi. Kita akan makan malam di sebuah restoran." Hendra mengajak Lan Suzi makan malam bersama dengan yang lain. Lan Suzi sempat menolaknya, dirinya masih merasakan tidak enak di dalam hatinya tetapi setelah dia mendapatkan banyak sekali bujukan dari orang-orang, Lan Suzi merasa kesulitan menolaknya sehingga tidak memiliki pilihan yang lain.
Semua orang telah berkumpul sekarang, jumlah mereka ada sekitar ratusan orang di sana. Hendra sedikit kesulitan untuk memilih restoran yang akan menjadi tempat makan malam mereka, yang pasti restoran harus memiliki tempat yang luas dan memiliki rasa yang lumayan.
Hendra menghela napas, dia terlalu banyak berpikir dan mencoba mencari restoran yang pas menurutnya, "Lebih baik menemukannya saat sedang perjalanan kembali pulang saja." Pikir Hendra.
Evans sekarang berkumpul bersama dengan empat orang temannya, mereka ada Lan Suzi, Anton, Didi, dan Riza. Evans mendengarkan keempat yang lain, mereka sepertinya sedang membahas topik tentang Bam. Evans tidak ikut serta ke dalam diskusi itu, dia hanya mendengarkan mereka mengobrol dengan menatap diam keempat yang lain.
Evans kemudian berbalik mendengarkan perintah Hendra yang meminta mereka untuk kembali pulang, para anggota paguyuban yang mendengarkan tentu saja protes kepada Hendra mengenai janjinya untuk membawa mereka pergi ke restoran, tetapi Hendra kemudian menjelaskan.
"Perjalanan untuk kembali sangat lama, jika Kita mengisi perut terlebih dahulu takutnya makan malam Kita akan pergi begitu saja. Energi Kita malah habis terbakar karena untuk berjalan kembali ke rumah." Hendra tersenyum lebar seakan merasakan kemenangan.
"A-Aku tidak menyangkanya Pak Tua Hendra sangat hebat sekali."
"Aih! Kurasa Aku terlalu lapar tadi sampai tidak memikirkan hal seperti itu."
Mereka semua setuju dengan keputusan Hendra kemudian berbalik untuk pulang. Semua orang memang tidak memiliki bantahan lagi tetapi Evans melirik Didi, dia tersenyum tipis melihatnya yang sedang berpikir.
"Tetapi bagaimana jika Pak Tua Hendra itu berbohong? Bagaimana jika Dia hanya ingin menghemat pengeluaran Kita, bukankah Dia adalah orang paling kikir. Bisa jadi Kita akan terus menerus melihat restoran kemudian kembali pulang tanpa mengisi perut Kita."
Semua orang kembali tersadar kemudian memikirkannya kembali, memang benar apa yang dikatakan oleh Didi. Mereka juga telah mengetahui seberapa pelit orang tua ini.
"Kau--" Hendra terlihat geram saat mendengarnya, matanya melotot ke arah Didi dan berhasil membuatnya terjatuh kebelakang.
"Hi-Hiih! Tidak tunggu! Ini semua dari Evans, Dia adalah orang yang berani menyebut Anda seperti itu. Kau ini. Tidak pantaslah Kau berbicara seperti itu kepada orang tua." Didi yang ketakukan berbicara dengan cepat dan tergagap untuk menyelamatkan hidupnya.
Evans melirik Didi, tubuhnya bergetar dibuatnya. Ingin sekali rasanya dia bisa mencekiknya tetapi kembali lagi, karena tindak kekerasan tidak diijinkan di dalam pulau Evans hanya memilih diam dan bersikap normal, tenang seperti biasanya.
__ADS_1
Sedangkan Hendra yang geram kemudian terlihat sedikit pucat, "Sial! Bagaimana orang itu mengetahui isi hatiku."
**
Semua orang sekarang berjalan kembali pulang ke arah Kota Excel. Evans berjalan di belakang, tetapi dirinya tidak mengerti bagaimana bisa menarik begitu banyak tatapan mata ke arahnya. Mereka menatap Evans dengan perasaan benci dan melupakan tentang reuni mereka.
Evans dan Lan Suzi berjalan berdampingan. Evans sendiri tidak mengerti kenapa Lan Suzi terus mengikutinya, dia bisa melihat tiga bersaudara juga tidak biasanya selalu berada di dekatnya. Tetapi bukankah Lan Suzi menyukai Bam, kenapa tiga bersaudara ini terus mengikutinya dan seakan sedang berusaha menarik hati Lan Suzi.
Evans juga sesekali mengusir tiga bersaudara ini tetapi selalu tidak berhasil,
dia tidak ingin merasakan sempit karena berada di dekat mereka berempat yang seolah sedang bermain kucing-kucingan. Evans yang sudah banyak berusaha mengusir mereka memilih menyerah dan diam membiarkannya.
"Kak Suzi, Kau tampaknya kelelahan. Biarkan Aku membelikanmu air mineral."
"Ti-Tidak, tidak usah hehehe. Terimakasih Didi."
"Oh, Kau benar juga Ton. Kurasa Aku akan membelikannya untukmu Kak Suzi."
"A-Ah... Tidak, tidak usah Riza hehe." Lan Suzi tersenyum canggung melihat keadaan mereka bertiga.
"Kenapa malah Kau sih yang akan membelikannya!" Anton mengamuk ke arah Riza yang mencuri idenya.
Evans memperhatikan mereka sedari tadi, dia cukup terhibur dan sesekali tersenyum dengannya. Ini mungkin bisa menjadi alasan Evans untuk membiarkan mereka, tetapi dia masih tidak terima jika mereka berempat selalu membuat sesak dirinya karena selalu berada didekatnya.
**
Semua anggota Paguyuban Usaha Tani sudah berjalan lebih dari satu jam, mereka juga mulai berpikir jika Pak Tua Hendra memang berniat menipu mereka. Tetapi pada akhirnya mereka semua berhenti di satu tempat.
Semua orang sudah salah menyangka, mereka sedikit merubah pandangannya kepada Hendra. Ratusan orang kemudian berbondong masuk ke dalam restoran.
__ADS_1
Sekarang Evans dan yang lain berada di salah satu restoran. Lan Suzi agak sedikit sungkan lagi, dia kembali menolak mati-matian untuk makan di sana tetapi semua orang serempak memaksanya untuk ikut masuk dan makan bersama.
"Apakah ini akan baik-baik saja?" Lan Suzi tertawa canggung, dia tidak menyangka mereka semua akan makan di sebuah restoran seperti ini.
Tidak ada yang salah dari restoran ini. Sebuah restoran dengan bintang lima ini memiliki tempat yang sangat luas cukup untuk seluruh anggota, jika untuk rasa makanan mungkin cukup enak jika dilihat dari jumlah pelanggan mereka yang datang.
Tetapi apa yang ada dalam pikiran Lan Suzi berbeda, dia berpikir mungkinkah organisasi kecil ini bisa membayar biaya untuk makan di sini, Lan Suzi menggaruk pipinya setelah tertawa dengan canggung.
"Biaya untuk makan di restoran bintang lima tidaklah membutuhkan uang yang sedikit, bahkan mungkin bisa menghabiskan ratusan koin sekali makannya. Apakah mereka sebenarnya organisasi yang sangat kaya?" Batin Lan Suzi.
Mereka semua masuk ke dalam restoran, Evans memilih duduk ditempat pojokan dari restoran itu, di sudut ini dia sekarang bisa melihat semua orang dalam restoran. Setelah Evans yang duduk di sana, keempat orang yang menemaninya dari tadi juga mengikutinya.
"Apa yang akan Kau lakukan besoknya Suzi?" Tiba-tiba saja seseorang dari meja depan mereka bertanya pada Lan Suzi, diikuti dengan beberapa orang yang juga ikut penasaran termasuk ketiga teman Evans.
"Eeh? Apa maksudmu bertanya seperti itu... Mungkin, Aku akan ada di rumah dan mengerjakan perkerjaan yang menumpuk di sana?"
"Pekerjaan rumah yang menumpuk? Mungkin Kita bisa membantu di sana hahaha." Tawa seorang pria yang menggoda Lan Suzi, bersama beberapa orang yang lain juga ikut menggodanya.
"Tidak! Tunggu ini adalah laundry kotor yang belum dicuci selama berhari-hari, kalian bahkan akan merasa jijik jika menyentuhnya." Lan Suzi mengorbankan harga dirinya sebagai seorang wanita.
"Dengan kata lain bukankah Kau adalah wanita yang jorok Kak Suzi?" Didi langsung saja menarik sebuah kesimpulan, membuat Lan Suzi yang mendengarkan kemudian merasakan geram padanya. Tetapi beberapa detik kemudian Didi menundukkan kepalanya dan meminta maaf setelah mendapatkan jitakan dari Anton dan Riza.
"Hahaha. Tenanglah Kami hanya bercanda, Kami minta maaf... Tetapi bukankah sedikit bantuan tidak apa-apa?"
"Tapi itu semua adalah pakaianku..." Lan Suzi merajuk dan tidak mau membicarakan hal ini lagi, tetapi setelah mendengarkan kata-katanya itu mereka menjadi lebih bersemangat, "Oh. Sebuah pakaian?! Bukankah itu tambah bagus!"
"Baiklah! Cukup! Kalian bisa berhenti di sini, Aku akan pergi jika kalian masih membahasnya. Dan lagi jangan pernah datang untuk membantu. Paham?!"
Semua orang tertawa karena melihat tingkah lucu dari Lan Suzi, semua ini membuat mereka menjadi bernapas lega dan sedikit terhibur. Evans juga tersenyum tipis saat mendengarkan, dirinya masih tetap diam dan tenang memperhatikan.
__ADS_1