
Pagi itu hari sangat cerah dan damai, burung-burung keluar dari rumahnya dan berkicau. Aku menghirup udara segar di sekitar tenda berulang kali. Karena kemarin malam terjadi hujan, udara di sini masih terasa begitu enak dan menenangkan.
Tiba-tiba aku merasakan ada yang berbeda, ada sesuatu yang penting hilang di sini. Setelah melirik ke sekitar tenda, aku tahu apa yang terjadi dan mulai bertanya-tanya ada dimana Malika sekarang?
Kami berdua sudah terbiasa bangun dua jam setelah matahari terbit, yang artinya kami adalah satu-satunya orang yang terlambat di paguyuban.
Setiap akan memulai hari, kami akan melakukan peregangan berdua secara bersamaan di luar tenda.
Lalu kemana perginya Malika sekarang.
Aku sempat berpikir untuk melihat ke dalam tenda perempuan dan memastikannya di sana, tetapi tidak mungkinkan jika Malika masih tertidur?
Pada akhirnya aku tidak juga melakukannya dan memilih untuk berkumpul bersama dengan yang lain.
Sampai di area paguyuban, aku melihat para anggota baru sedang sangat bersemangatnya bekerja. Mereka berkerja sama untuk memindahkan papan kayu panjang ke dekat area konstruksi. Aku kemudian memilih untuk mendekati mereka.
"Selamat pagi Kak Evans."
"Pagi Kak Evans."
"Selamat pagi."
Setelah melihat ke semua tempat dan masih belum menemukan keberadaan Malika di sini, aku pun menjadi sedikit penasaran dan bertanya kepada mereka apa yang sedang dilakukannya saat ini.
"Apa kalian ada yang melihat Malika, aku tidak menemukannya di manapun?"
"Ah. Malika... Mhm. Kami melihatnya."
"Tetapi tidak aku sangka bila Malika bisa bangun sangat pagi sekali dan pergi keluar."
"Kau benar, setelah itu dia juga membawa seseorang bersamanya."
"Mereka sekarang sedang berada di belakang kantor, kan?"
Semua anggota baru mengangguk dan menunjuk kearah belakang kantor yang kebetulan, sekarang, kita semua sedang berada di sampingnya.
Karena penjelasan semua orang, akhirnya aku bergegas untuk mendekat dan mencari tahu.
Aku kemudian menemukan Malika yang sekarang sedang sibuk mendandani seseorang. Tetapi bukan untuk mempercantik orang itu malah Malika membuat yang sebaliknya.
Dia menutupi wajah orang itu menggunakan selendang kain dan melilitkannya di kepala seakan seorang mumi. Semua itu dilakukannya dengan sangat terburu-buru dan seolah sedang dikejar oleh waktu.
Aku tidak begitu mengerti apa yang sedang terjadi di sini tetapi aku sedikit curiga jika hubungan Malika melakukan hal itu, ada kaitannya dengan lima orang yang sedang berjalan mendekati kami semua.
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi."
"A-Ada apa ini?"
"Bukankah mereka semua adalah para player dari guild besar. Apa yang sedang mereka lakukan kemari?"
Semua orang mulai bergosip dan menghentikan pekerjaannya. Hendra juga terlihat sedang berlarian ke depan untuk menyambut mereka.
Aku melihat semua itu dari balik belakang tembok kantor paguyuban.
__ADS_1
"Ah... Aku tidak menerima berita akan ada tamu penting kemari. Kami ucapkan selamat datang di Paguyuban Usaha Tani. Ada urusan apa kalian semua sebenarnya sampai datang jauh-jauh ke paguyuban?"
Hendra mengatakan semua itu dengan lemah lembut dan sopan. Aku bahkan sedikit terkejut karena belum pernah melihatnya yang seperti itu.
"Kami meminta maaf jika mengganggu di sini. Pertama, perkenalkan namaku sebagai Eliyah Crystal. Aku datang bersama dengan teman-temanku di sini..."
Setelah pemimpin mereka yang seorang perempuan, Eliyah Crystal menyebutkan nama masing-masing rekannya. Mereka semua kemudian menundukkan kepala.
"Kami adalah anggota dari salah satu guild besar, Domain Guild."
Sebenarnya tanpa perlu perkenalan diri, kami semua sudah mengetahuinya dan Pak Tua Hendra adalah orang yang paling mengetahui semua itu.
"A-Aah, begitu... Jadi, ada urusan apa Nona Eli dan teman-temannya sampai jauh-jauh kemari?"
"Bukan hal yang terlalu besar sih sebenarnya. Hanya saja... salah satu anggota kami pergi dan diketahui berkunjung kemari."
"Salah satu dari anggota kalian?"
"Anggota kami itu adalah orang yang sangat berani, kau tahu. Dia juga sangat liar dan bebas."
Semua orang menahan napasnya dan berpikir orang seperti apakah yang sebenarnya telah diterima oleh guild besar nomer satu itu.
Tetapi aku seakan mengerti maksud dari pemimpin mereka dan langsung berbalik.
"Malika siapa sebenarnya perempuan itu?"
"Di-Di-Dia, Dia bukan siapa-siapa! Sungguh, dia bukan siapapun, hanya seorang mumi dan tidak memiliki keberadaan atau yang lainnya."
"Jangan pernah berbohong kepadaku, siapa yang mengajarimu untuk berbohong sekarang, huh? Setiap kali kau berbohong maka kulitmu akan semakin mengendur. Coba lihatlah ke kaca sekarang."
"Lalu Malika siapa sebenarnya perempuan itu?"
Karena Malika tidak juga menjawabnya dan memilih diam. Aku kemudian menghampiri orang itu dan menarik selendangnya, meskipun Malika sudah mencoba untuk melawan tetapi tidak ada yang bisa mencegahku.
"Siapa sebenarnya nama salah satu anggotamu ini? Jadi kami bisa sedikit membantu di sini."
Hendra bertanya karena penasaran.
"Dia adalah Fany Indira. Seorang player keempat yang berhasil mendapatkan job legendaris."
Semua orang menganga saat mendengarnya, begitu juga diriku setelah membuka kain wajahnya, tanganku menjadi bergetaran di sana.
"Fany?"
"Hello Evans, Hihi~"
Fany Indira tersenyum lebar tepat di depan wajahku.
Aku kemudian mendekati Malika dan menghiraukan Fany. Dengan sedikit tenaga aku mencubit pipi Malika dan memberikannya pelajaran di sini. Dia memperbolehkan seorang anak serigala datang dan masuk ke dalam kandang ternak?
Aku tidak percaya hal itu, saat memikirkannya kepalaku menjadi sedikit sakit di sini.
Malika lah orang menyembunyikan Fany.
__ADS_1
Dan Fany kabur dari Domain Guild bersembunyi di sini.
'Sekarang apa yang harus aku lakukan?'
"Kak Evans. Aku mohon tolong bantulah kami... Aku tidak ingin Kak Fany pergi."
"Dia harus pergi Malika tidak ada yang bisa aku lakukan di sini. Dan, kenapa kau bisa sampai datang kemari Fany?"
"Aku tidak tahu... dan hanya ingin kemari...?"
Fany menaikan salah satu alisnya kearahku dan berkedip berulang kali.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu? Baiklah, jujur saja, sepertinya keberadaan ku adalah hal yang dirahasiakan oleh Domain Guild. Aku tidak boleh kemanapun dan harus meminta ijin untuk melakukan sesuatu, Ok?"
Sudah aku duga dari seorang mantan preman sepertinya. Tapi dari awal aku sungguh tidak mengira jika dia akan mendapatkan undangan untuk menjadi seorang player, karena menjadi salah satunya akan membutuhkan perbandingan yang sangat tinggi.
1 : 1.000.000 bahkan dari seluruh orang di dunia yang dipilih sekitar seribu orang dari berbagai usia.
Intinya, aku tidak berharap orang yang sekarang berada di hadapanku ini adalah salah satu orangnya.
"Kak Evans..."
Malika memandang kearahku dengan penuh harap dan mulai bertingkah imut di sana. Melihat hal itu, tentu saja aku harus segera menjawabnya.
"Baiklah Malika kau harus tunggu di sini, tetap awasi Fany dan jangan sampai dia pergi atau kau jangan berani untuk menyembunyikannya lagi. Aku akan keluar sekarang dan melaporkan segalanya."
"Ti, Tidak! Tidak boleh, tidak, Kak Evans... tunggu-!"
Malika memohon sampai memeluk tubuhku, tetapi aku sudah membulatkan tekad di sini. Jika dibiarkan semuanya akan semakin merepotkan dan berbahaya. Tidak ada untungnya semua ini selain mengundang banyak marabahaya.
"Jeez... Aku tahu jika semua ini akan sulit. Tetapi kau bisa tenang untuk saat ini Malika. Aku muncul dengan sebuah strategi yang akan membuat Evans menerimanya bagaimanapun juga."
"Benarkah itu?"
"Mhm!"
Malika tersenyum lebar setelah mendengarnya. Dia juga membayangkan jika mereka berdua akan bersama kembali seperti saat pertama kali masuk ke dalam pulau.
Tetapi tentu saja aku mengetahui isi pikiran Fany.
"Aku tidak mengerti rencana apa yang kau maksud. Tetapi jika kau ingin menggunakan permintaan terakhir kali saat aku masuk ke dalam pulau. Sayang sekali aku akan menolaknya."
"E-Eeeh, itu... tidak mungkin, kan? Apa kau akan mengingkari janjimu?"
"Ada apa? Apa ini berarti Kak Evans tidak akan melakukan apapun? Dia tidak akan membantu kita? Hei, Kak Fany apa yang terjadi?"
Saat detik-detik terakhir aku masuk ke dalam pulau. Aku membuat janji dengan Fany, bila dia membantuku untuk menemukan Ney maka aku harus mengabulkan apapun permintaannya.
Aku langsung mengangguk menjawabnya saat itu dan tidak mengira jika kita berdua sungguh akan bertemu kembali.
Tetapi saat ini situasinya berbeda, tidak mungkin untuk memenuhi sebuah janji dan mengorbankan semua orang.
- Janji.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=