
Chp. 31 Level 5 : Tower.
"Bam kau baik-baik saja? Tidak ada yang masih sakit?"
"Sebaiknya besok kau mengambil cuti dan beristirahat di asrama. Tenang saja dirimu masih dihitung kerja."
"Jika aku ada di sana akan aku beri pelajaran padanya."
"Benar, Berani sekali main-main pada anggota kita, awas saja nanti!"
Bam terdiam tidak percaya, dia lalu berpikir apakah Evans sudah memberikan kejadian tadi pagi kepada semua orang.
Melihat Bam yang menatap kearahnya, Evans hanya menaikan pundak padanya. Bam dan yang lainnya kepayahan untuk menenangkan sejumlah masa yang sedang marah itu.
"Kalian semua tenanglah, jangan gegabah jika kita bertarung dengan mereka kita yang akan kalah." Bam mengangkat tangannya menghentikan kebisingan itu.
"Kalah, Apa maksudmu pengendara itu harus diberi pelajaran bagaimanapun juga!"
"Hah? Pengendara?" Bam terlihat kebingungan dengan maksud semua orang.
"Bukannya kau ditabrak oleh pengendara ugal-ugalan? Jadi apa yang dikatakan Evans semuanya adalah kebohongan?"
Setelah mendengarkan mereka semua berbicara begitu, Bam kemudian segera berakting dan membenarkannya disusul juga dengan Anton, Didi, dan Riza di sana.
Mereka hanya tertawa canggung dan mengangguk.
Bam sekarang memaksakan dirinya untuk tersenyum dan tertawa di depan semua orang itu.
Diskusi berakhir dengan aura pembunuh yang merembes keluar dari tubuh seseorang dibelakang mereka semua.
Bagaimanapun sekarang adalah jam makan malam.
Hendra menatap semua orang dengan tatapan jengkel dari belakang dan membuat semua orang menahan napasnya untuk segera berlarian ke dapur.
Termasuk juga Bam dan tiga teman Evans lainnya, mereka segera berlari ke dalam.
Sekarang di sana hanya tersisa dua orang Evans dan Hendra, mereka akhirnya mengikuti semua orang dari belakang dengan bersamaan.
.
.
.
Evans sekarang menggelar tikar yang baru dibelinya di depan Asrama dan menatap kearah langit malam seperti rutinitasnya setiap hari.
Satu persatu Evans mulai dikelilingi semua orang, mereka bersanda gurau dan bernyanyi, beberapa juga membawakan makanan dan minuman untuk dinikmati bersama cerahnya langit malam itu.
Baik anggota perempuan dan laki-laki, mereka sekarang sedang menatap kearah jutaan bintang-bintang di angkasa.
Gelak tawa dan teriakan sesekali terdengar bersahutan kencang di sana, mereka terlihat sangat nyaman dan bahagia malam itu. Hanya ada satu orang saja yang terlihat tidak nyaman saat ini.
Evans sekarang memikirkan jika dia akan membeli tikar lagi besoknya, dia sekarang hanya berada ditepi pinggiran dari tikar yang baru dibelinya. Padahal Evans sendiri sangat ingin menyendiri dan melihat langit malam yang menenangkan.
Sayangnya Evans selalu tidak pernah punya waktu untuk sendirian. Pagi dan sore hari, dia akan diganggu oleh tiga bersaudara dengan lawakan garingnya dikamarnya, bahkan mereka juga sering menginap di sana. Saat malam tiba dia juga akan dikelilingi oleh semua orang untuk melihat langit malam.
Evans kembali menatap langit, mungkin hanya dirinyalah yang merasakan kesepian di tengah puluhan orang ini, Evans tersenyum pahit memandangi benda-benda langit di atasnya.
__ADS_1
Mereka semua lalu kembali saat malam mulai larut dan tidak ingin mendengarkan ceramah Hendra besoknya.
Hal itu lah menjadikan mereka untuk bergerak pergi ke kamarnya masing-masing, mereka sadar meski terlambat sedetik saja masalah akan menjadi besar jika ada di tangan Hendra.
Semua orang menghela napas dan berjalan menunduk ke kamar masing-masing, "Kapan orang tua ini akan berubah..."
**
Tengah malam saat semua orang sedang mencoba untuk tertidur, ada seseorang yang mencoba meninggalkan kamarnya dan bersiap untuk pergi keluar.
Orang itu mengendap-endap karena tidak ingin menimbulkan suara sedikitpun, tetapi tetap saja ada satu orang yang berhasil memergokinya.
"Malam, Kak Bam." Sapa seorang pria yang bertudung dan mengagetkannya dari belakang, membuat Bam lalu melompat dan mengambil kuda-kudanya.
Bam melirik ke belakang dan menemukan sosok dari kegelapan berdiri dari tempatnya dan perlahan mendekat.
Sinar bulan juga tidak tinggal diam dan mulai menyorotnya dari depan, cahaya itu lalu mengungkap sosok pria misterius ini.
Dia adalah seseorang pria berambut coklat dengan bertudungkan sebuah hoodie hitam menutupi rambutnya.
"Evans?!"
.
.
.
Langit malam itu terlalu gelap dan membuat Bam sepertinya kesulitan untuk mengenal siapakah orang yang ada di depannya itu.
Selepas semua orang pergi hanya Evans yang kini menikmati malam dengan tenang dan sendirian. Selepas melipat tikar di tangannya, Evans yang akan pergi tidur kebetulan melihat Bam.
Bam yang melihat Evans kebingungan untuk menjawab dan mencari alasan.
Bam lalu mulai mengatakan jika dirinya berniat keluar untuk mencari camilan karena perutnya yang kelaparan itu, tidak bisa membuatnya tidur. Evans yang tahu jika itu hanyalah sebuah alasan kemudian meminta untuk ikut.
Apa yang sebenarnya yang akan Bam lakukan, hal itu membuat Evans sedikit penasaran.
Bam yang tidak ingin dirinya diikuti siapapun sekali lagi membuat alasan bodoh seperti pergi ke tempat diskotik atau tempat remang-remang dan sejenisnya.
"Begitukah." Evans hanya menghela napas pendek mendengarnya, jika terus begini maka mereka tidak akan pernah pergi.
Tidak ada jalan lain lagi Evans harus menunjukan sebuah benda kepada Bam.
Bam yang melihatnya lalu membuat matanya melebar dengan cepat ketika sebuah kartu berwarna emas berputar di tangan Evans.
Sebuah kartu skill dengan kelas ( A ) tertulis dibelakangnya dan membuat Bam untuk menelan ludahnya berkali-kali.
Bam tidak dapat lagi menyembunyikan niatnya jika dia sangat menginginkan kartu itu dan berakhir dengan mengajak Evans untuk ikut.
"Kemana kita akan pergi."
"Hm... Ada tempat yang harus dikunjungi. Aku tidak bisa kehilangan satu hari pun, semenit saja sudah cukup membuatku menjadi lebih kuat."
Evans dan Bam lalu pergi bersama-sama, mereka melompati gerbang dan berjalan ke arah pusat pulau.
**
__ADS_1
Evans baru mengetahui jika tujuan mereka adalah Tower saat mereka memasuki Katedral. Tidak seperti biasanya Katedral sangat sepi sekali tetapi Evans mengerti karena waktu mereka berkunjung sekarang yang terlalu malam, hampir masuk tengah malam malah.
Tentu tidak akan ada player yang pergi berpetualang di jam-jam seperti ini.
Evans sekarang terpana dengan pemandangan Tower yang ada di hadapannya, Tower yang menjulang dengan tinggi dan besar itu mengeluarkan cahaya di setiap lantainya.
Cahaya yang keluar hanya sampai di lantai 22 yang artinya itu sebagai batas para player untuk mendaki, jika ingin mencapai lantai yang lebih tinggi lagi maka mereka harus mengalahkan Boss Monster lantai terbaru.
"Evans, cepat kemarilah..." Suara Bam lalu menyadarkan Evans, dia sekarang sudah berada di dalam Katedral tempat Evans memilih job dulunya.
"Dari sini kita akan menuju ke lantai pertama, biayanya seharga 10 koin apa kau memilikinya?"
Evans tidak mendengarkan perkataan Bam sama sekali, dia terus melirik dua buah layar yang mengambang di dekatnya.
_________________
[ Billboards ]
Samuel Jefferson. Score : 102.500
Massa Koujiro. Score : 98.700
Violet Winston. Score : 93.600
Vincent Adney. Score : 90.100
Peter Joh. Score : 89.500
Ayeong Ara. Score : 88.900
_________°__________
[ Level 1 biaya : 10 koin. Apakah Anda yakin? ]
Setelah mendekati kristal besar di tengah aula Katedral ada dua buah layar yang muncul.
Semua player yang akan memasuki Tower harus membayar sejumlah koin sebagai biaya masuknya, semakin tinggi level maka koin yang dikeluarkan akan mengikuti juga.
__ADS_1
Evans sedikit mengernyitkan keningnya saat melihat score yang dibuat para player dari First Generation itu, meskipun sejumlah enam orang tetapi mereka berhasil menaklukan Boss Monster lantai pertama.
Mereka juga kebanjiran jumlah koin dilihat dari jumlah skornya.