Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 9 |


__ADS_3

Chp. 9 Nesya Anindira dan perpisahan(1).


Rumah Evans terlihat sangat terang dari rumah yang lain, banyak orang keluar-masuk di sana. Ada juga juga yang mencurigakan, salah satunya adalah remaja putri yang terus berputar-putar ini.


Gadis itu selalu memandangi rumah Evans dari luar, dia terlihat larut dengan pikirannya sendiri sampai tidak sadar seseorang yang menyapanya dari belakang.


"Ney?" Seseorang pria yang sedang berjalan bersama kelompoknya dan menyapa Ney.


"Rendi?" Ney terkejut dengan kemunculan Rendi yang datang entah dari mana.


Rendi bingung karena sosok gadis yang terus berputar sedari tadi ternyata adalah Ney. Rendi adalah mantan kekasih Ney dulunya, mereka putus tiga hari setelah Evans mengikuti pelatihan.


"Apa yang Kau tunggu, Kau tidak ikut masuk?" Rendi menunjuk ke rumah.


"Masuk duluan saja, Ren." Ney hanya tersenyum tipis, wajahnya dipenuhi banyak pikiran untuk melangkah atau tidak sekarang.


Melihat Ney yang seolah ragu itu kemudian mengingatkannya akan sesuatu, "Ney apa mungkin Kau jadi suka padaku hingga--" Belum selesai Rendi berbicara Ney langsung menggeleng dengan kencang.


'Sialan-!' Umpat Rendi.


"Maaf Ren, Aku kelupaan sesuatu sepertinya. Aku pergi dulu, dah." Sebelum pergi Ney tertawa dengan canggung di hadapan Rendi.


"Dasar, kenapa semua orang harus menyukai pria dengan wajah pasaran itu, sih!" Batin Rendi yang seolah menganggap dunia ini tidak adil. Rendi akhirnya masuk ke dalam rumah dengan menggaruk kepalanya.


...***...


Besok, 25 Juli jam 00.00 Evans akan genap berumur enam belas tahun.


Malam itu di rumahnya tampak ramai dengan berbagai orang. Tapi yang paling banyak di sana tentu saja adalah keluarga besarnya mereka berkumpul di sana memenuhi ruangan satu persatu.


Rumah Evans dihias dengan cantik menggunakan banyak lampu yang menyala terang.


Mia tampak sibuk menyiapkan berbagai makanan, sebaliknya Fery malah keasikan memakannya sedikit demi sedikit sebelum mengantarkannya ke ruang tengah.


Para tamu tampak kaget dengan makanan yang selalu dalam kondisi tidak lengkap itu. Di pojokan Evans yang sedari tadi memperhatikan hanya tertawa cekikikan bersama kakeknya.


Banyak orang-orang yang berkumpul di sana seperti sahabat, kerabat, dan teman sekolahnya. Tapi salah satu orang yang tidak diundang Evans juga ada seperti...


"Woah, jadi Kau adalah Henri? Sang Instruktur Sadis itu?!"


"Hah, Serius? Astaga, Boleh minta selfie sebentar?"


"Tuan Henri, Kau sangat hebat sekali bisa melatih semua player Indonesia, bahkan salah satunya tembus hingga 20 besar!"


Meledaklah tawa Henri kemudian setelah mendengar pujian-pujian mereka.


"Benar sekali, Ku katakan pada kalian semua. Murid yang kulatih selama ini masih lemah. Muridku yang asli adalah Evans, Evans Mallory dialah pria yang akan menaklukan Tower nantinya hahaha."

__ADS_1


Setelah mengatakannya kerumunan yang tadinya mengelilingi Henri perlahan seakan menghilang dan berganti menatapnya dengan perasaan iba.


Evans yang melihatnya hanya tersenyum tipis, dia tetap tenang bahkan setelah Henri menyebutkan tentangnya, sebaliknya Evans malah penasaran bagaimana bisa Henri tahu alamat rumahnya.


Evans kemudian berjalan dengan cepat dan menepuk pundak Henri untuk mengajaknya keluar.


**


Halaman rumah Evans tidak terlalu luas dan tidak juga kecil, di sana terdapat bibi dan paman Evans mereka terlihat sedang membakar ikan dan daging ayam.


Setelah Evans menemukan tempat yang kosong di halamannya, Evans mulai bertanya dan mengobrol bersama Henri.


"Maaf Pak, bagaimana anda tahu akan ada pesta di sini." Tanya Evans.


"Tentu saja Aku tahu karena kebanyakan para calon player mungkin juga seperti ini."


Evans dan Henri kemudian mengobrol cukup lama di sana.


"Sebentar lagi Rise juga akan kemari, Ku berhasil meyakinkannya jadi tenanglah dan simpan terimakasihmu untuk nanti." Henri tersenyum dengan lebar setelah mengatakannya.


Evans hanya terdiam dan mendengarkan, bagaimanapun pesta akan terlihat lebih hidup jika banyak orang yang ikut berpesta.


Evans akhirnya memutuskan kembali karena melihat orang-orang mulai masuk ke dalam juga. Sebelum kembali Evans melihat beberapa orang yang sedang mengintip keluar.


Evans yang penasaran juga ikut melihatnya, dia lalu menemukan pemandangan yang membuatnya merasakan sedikit tidak nyaman.


Rendi lalu pergi berjalan ke rumah Evans setelah berpisah dengan Ney, dia terlihat menggaruk kepalanya berulang kali.


"Aah! Dua orang itu sungguh membuat kepalaku hampir meledak. Cih. Tidak ada pilihan lain lagi. Aku hanya akan membantumu kali ini dan setelahnya Kita akan bermain secara pria, Evans!" Rendi berdecak kesal dan mulai berlari ke rumah mencari Evans.


**


Sebuah kue ulang tahun tiba-tiba keluar saat Evans masuk ke dalam, dirinya tersenyum lebar dan mendekati semua orang. Evans memandangi kue ulang tahun yang berbentuk aneh itu.


"Apakah itu bentuk wajah seseorang." Evans memandanginya dengan curiga.


"Kurasa wajahku tidak seperti ini." Evans tersenyum canggung melihat kuenya, suara tepuk tangan kemudian mulai terdengar bersamaan dengan sebuah nyanyian keras.


Evans memandang ke sekelilingnya semua orang masing-masing membuat senyuman yang merekah.


Fery sedang memejamkan kedua matanya dan bernyanyi keras, disampingnya Mia sekarang menutup kedua telinganya saking kerasnya suaminya bernyanyi. Mia hanya membuka tutup mulutnya kearah Evans.(Se-la-mat-ulang-tahun.)


Kakek, Paman dan Bibi Evans tersenyum ke arah Evans serta menunjuk ke arah kue.


Di belakang Evans Prof. Rise tiba-tiba muncul dan mulai bernyanyi, dia bernyanyi sangat merdu berbeda dengan Fery. Di samping Rise, Henri tidak henti-hantinya mengeluarkan air mata dibalik kacamatanya.


Lagu mulai berganti, kini semua orang menyuruh Evans meniup lilin. Saat Evans memejamkan mata, semua orang berhenti bernyanyi dan menyisakan Rise yang sedang bernyanyi solo membawakan lagu seorang diri menuju akhir.

__ADS_1


Evans membuka kedua matanya dan tersenyum tipis setelah mendengar lagu berakhir, dia meniup api yang menyala di depannya dengan lembut.


Sontak suara tepuk tangan dengan keras kembali terdengar.


**


Setelah kue dipotong dan dibagikan, suasana di rumah Evans kembali sunyi senyap beberapa bahkan telah kembali pulang ke rumahnya, dengan menyisakan rumah Evans yang kacau berantakan.


Evans yang berniat membantu membereskan sampah di sekitarnya langsung ditegur oleh Mia, dia menyuruh Evans untuk pergi dan beristirahat saja.


Evans duduk termenung melihat sebuah layar hologram dengan timer yang tersisa 30 menit lagi. Dia menghela napas sebelum mengalihkan pandangannya ke arah Rendi yang sedang mendekat.


"Evans!"


"Ada apa."


"Aku akan mengatakannya! Sebelum Kau pergi ke Tower Aku memiliki sebuah permintaan!"


Evans kemudian mengangguk dan menerima permintaan dari temannya itu.


"Kau hanya harus mendengarkan apa yang akan Aku katakan. Jangan banyak tanya dan cukup dengarkan kenyataan ini."


Sekali lagi Evans mengangguk, dia mungkin sudah tahu apa yang akan dikatakan oleh Rendi. Pikiran Evans lalu membayangkan Ney dan hal itu tidak akan berubah.


"Evans, ini semua tentang hubunganku dengan Ney." Rendi mulai terheran setelah melihat Evans yang tidak bereaksi apapun dengan ucapannya.


"Glek."


"Kau tau Aku dan Ney sama sekali tidak memiliki hubungan apa-apa, kami hanya murni seorang teman saja." Rendi menelan ludahnya sebenarnya dia tidak sanggup untuk mengatakannya tetapi dia paksa.


"Jadi begitu." Evans hanya memejamkan matanya.


"Hanya begitu saja? Apa Kau berpikir Aku mau merelakan wanita cantik seperti Ney hanya untukmu, Hah?! Sial-!" Rendi meraih ponsel di saku celananya dan kemudian mencari sesuatu di sana.


Selang beberapa detik Rendi menunjukan sebuah layar chat kepada Evans. Sekarang wajah Evans sedikit berubah.


"Apa yang sebenarnya kalian lakukan." Evans sedikit mengerutkan dahinya terkejut, sedangakan hal itu hanya membuat Rendi tersenyum.


"Kau lihat sendiri Dia khawatir padamu dan membuat hubungan yang palsu denganku." Rendi mulai tertawa kecil, "Dia, selalu mengkhawatirkan mu, bodoh..."


Evans lalu mengambil ponsel Rendi dan membaca pesan yang ada di sana satu persatu. Terlihat percakapan Ney yang meminta bantuan Rendi, dan kemudian mereka berakhir dengan berpacaran.


"Jadi ini semua ternyata salah mu." Evans yang melihat chat mereka dan menemukan penggagas utamanya adalah Rendi hanya menatapnya tajam.


Evans pertama merasakan ragu jika pesan itu hanya dibuat-buat, tetapi setelah melihat tanggal dan waktu pengirimannya membuat Evans akhirnya memilih percaya.


Evans segera berdiri dari tempatnya, waktu yang dimilikinya sangat tipis hanya sekitar lima belas menit.

__ADS_1


"Hey, tunggu mau kemana? Ney tidak mungkin masih di luar, lebih baik kau telp--" Belum selesai Rendi berbicara terdengar suara bantingan pintu dengan keras.


__ADS_2