Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 20 |


__ADS_3

Chp. 20 Level 1 : Misterius Player(2).


"Mia, cepat ke sini!" Seorang bapak rumah tangga yang sedang memandangi tv-nya tersenyum lebar dengan memanggil istrinya berulang kali. Dia adalah Fery ayah dari Evans.


Mia berlari kencang mendapati panggilan suaminya itu, dia berlari dengan mengerutkan wajahnya dan keringat yang mengalir deras dari dahinya.


"Kau... Ti-tidak jangan Kau juga. Kenapa Kau ikut-ikutan menjadi player." Mia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.


"Apa maksudmu bodoh, lihatlah di depan." Fery menunjuk kearah layar tv.


"Ah, syukurlah, semoga kau tidak akan pernah menjadi player, kalau begitu..." Mia kemudian menatap kearah tv tabungnya, dia penasaran akan maksud Fery.


Mia termenung cukup lama dengan tulisan yang dibacanya. Sebuah berita dari dalam pulau, tentang aksi seorang player asal Indonesia.


"Player Indonesia yang mengalahkan Boss monster level : 0."


"Ah, Evans??" Alis mata Mia naik saat melihat gambar poto anaknya.


"Seorang newbie bernama... Evans Mallory...?" Mia terbata saat membacanya. Dia mengeja satu persatu kata dalam berita.


Mia tidak yakin harus bangga atau sedih pada anaknya itu. Dia mengernyitkan dahinya saat melihat penampilan Evans.


"Yahh, Evans sangat berani, lihatlah Dia yang bergaya dengan bertelanjang dada itu. Apalagi lihat tubuhnya yang sangat kurus itu, ckck, lihatlah juga perutnya. Hmm, sedikit maju kurasa, huft..." Fery terlihat menggeleng berulang kali dan menghela napas pada akhirnya.


Setelah melihat Mia yang termenung cukup lama di depan tv, Fery kemudian tertarik untuk menggodanya.


"Seperti kata pepatah, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya hahaha." Fery tertawa dengan terbahak-bahak.


Mia yang mendengarkan tentu saja membalasnya tetapi dengan sebuah tamparan keras sampai menggema keseluruh ruangan.


**


Seorang gadis cantik sedang bercermin dan mencepol rambut coklatnya, 'Mhm!" Batin sang gadis kemudian menghabiskan waktunya dengan berpose dan berselfie di depan cermin.


Sang gadis tidak berhenti berselfie sampai melihat pantulan sebuah hoodie di cermin, gadis itu mulai menatapnya dan segera berbalik.


"Evans..." Nesya Anindira menatap sebuah hoodie dengan tatapan yang kosong dan kemudian berjalan perlahan mendekatinya.


Hoodie itu terawat dengan sangat baik dan dilipat, sekarang hoodie itu sedang berada di atas ranjang empuknya.


"Kau... bagaimana kabarmu di sana?" Ney membayangkan wajah seorang pria yang telah meninggalkannya, dia juga kembali mengingat Evans yang memasangkannya.


Ney lalu tersenyum dan tertawa berkali-kali saat teringat kali bersama dengan Evans di taman.


"Kyaa-!" Ney berteriak dan tersenyum lebar saat Evans mengatakan perasaan lebih dari sekali, hal itu berhasil membuatnya bergulat dengan bantal dan berulang kali berhasil membuat wajahnya panas.


"Drt... Drt."


Telepon sang gadis itu bergetar karena sebuah pesan dari temannya, Ney hanya menaikan salah satu alisnya dan penasaran akan isi pesannya lantas membukanya.


"Ney, lihatlah berita di situs Tower.site, sekarang-!"


Sebuah artikel berita yang menjadi trending topik No.1 memiliki lebih dari satu juta pembaca sekarang, dia juga adalah sosok orang yang sama dengan orang yang meminjamkannya hoodie.

__ADS_1


"Evans?!" Teriak Ney yang kemudian tidak lupa juga untuk menscreenshoot layar isi berita itu, setelah puas memandangi wajah orang yang ada di dalamnya.


Ney yang terkekeh kemudian pergi untuk kembali bergulat dengan bantal dan gulingnya di atas ranjang.


**


"Apa kau bilang? Huh?!" Seorang wanita sedang melotot ke bawah.


"A-Ampun, ampuni Aku. Tolong lepaskan diriku..." Seorang pria dengan wajah lebam menangis meminta sang gadis untuk melepaskannya.


Di tempat itu terlihat seorang wanita yang membantai puluhan orang di tempat dengan hanya menyisakan satu orang. Wanita itu sekarang sedang mencengkeram erat kerah pria yang memohon kepadanya.


"Sudah lepaskanlah, lebih baik lihatlah ini." Seorang perempuan mendekat dan membujuk untuk melepaskan pria malang di depannya.


"Apa maksudmu, Mo? Kau tidak lihat siapa yang pertama kali cari gara-gara di sini!" Fany Indira teman sekolah Evans sekarang sedang mendengus kesal mendengar jawaban dari temannya itu, dia masih melotot dengan wajah yang memerah penuh amarah.


"Kau tetap tidak mau melepaskannya? Ini kabar dari kekasih mu loh." Momo melambaikan ponsel ditangannya.


"Kekasih?" Telinga Fany yang naik turun saat mendengar nama kekasih keluar dari mulut Momo, kemudian segera melepaskan dan memaafkan pria yang ada di depannya sebelum pergi menghampiri Momo.


"Ok, ok, tenanglah santai saja berita ini tidak akan kemanapun. Jadi tenanglah sebentar, ok?" Keluh Momo karena ponselnya yang di rampas dengan kasar oleh Fany.


"Hee... Memang seperti ini lah yang seharusnya seorang pria!" Fany langsung tersenyum lebar setelah membacanya, dia terlihat terkekeh cukup lama.


'Sekali jatuh cinta, tapi memiliki selera pria yang aneh? Dasar sinting, huft...' Momo hanya menghela napas setelah melihat keadaan temannya yang sudah tak tertolong itu.


...***...


Evans dan para player yang lain di pindahkan ke tempat salah satu cabang Sunny Guild. Sunny Guild sendiri adalah salah satu dari enam guild besar dan bergerak di bidang politik.


Evans menahan napas saat melihat gedung pencakar langit adalah salah satu cabang dari Sunny Guild, sebenarnya semua gedung pencakar langit adalah kepemilikan dari Sunny Guild tetapi karena para player newbie masih baru, mereka kekurangan informasi seperti itu.


Ratusan player mulai keluar dari kendaraan mereka berbaris dan mengantri untuk masuk ke dalamnya. Jika menurut buku panduan, mereka akan mendapatkan sebuah tanda pengenal atau ktp di sini.


Ada sekitar seribu player newbie yang tergabung tentu saja satu cabang gedung tidak akan cukup jadi sebagian dipisah ke cabang yang lain.


"Hey kalian berdua, dimana pakaian kalian?" Tanya salah satu petugas penjaga gerbang dari Sunny Guild.


"Pakaianku hilang entah dimana." Evans kemudian memandang kearah penjaga itu.


"Celanaku dipakai olehnya..." Jeff tersenyum canggung dan menggaruk pipinya.


"Hukum saja mereka, Pak. Mereka sangat mengganggu ketertiban umum." Eric menekankan kata 'sangat'.


Penjaga gerbang ini kemudian tidak bertanya lebih lanjut karena dirasakan akan percuma saja atau lebih terlihat tidak mau tahu, sehingga dia hanya mempersilakan mereka bertiga untuk masuk kedalam.


Setelah waktu tunggu yang sangat lama kelompok Evans akhirnya mendapatkan giliran mereka. Eric yang pertama masuk lebih dulu disusul dengan Jeff dan Evans dibelakangnya.


Di sana terdapat banyak sekali ruangan dan semuanya dipisah oleh sebuah tirai tipis. Eric memasuki ruangan yang terlihat kosong, Jeff dan Evans juga mengikuti seperti itu.


Evans yang masuk kesebuah ruangan di sana kemudian hanya melihat seorang karyawati.


"Hai, anda pasti player yang baru, namaku Jennie salam kenal." Karyawan itu kemudian tersenyum di depan Evans.

__ADS_1


"Salam kenal namaku Evans Mallory."


"Baik tuan Evans, pertama silakan isi data diri anda di sini..." Karyawan itu kemudian memberikan sebuah form kepada Evans.


Evans yang menerimanya lalu mulai mengisi form yang berisi data diri para player dan yang terpenting skor mereka saat di lantai nol.


"Maaf sebelumnya tetapi... Apakah anda tidak merasakan kedinginan dengan bertelanjang dada seperti itu?"


Jadi itukah yang selama ini dia pikirkan, batin Evans. Saat melihat karyawati di hadapannya entah kenapa pandangan mereka tidak bisa bertemu.


Evans kemudian hanya tersenyum canggung dan mengangguk, dia lalu bertanya jika ada pakaian yang bisa diberikan untuknya karena bertelanjang dada bukanlah hal yang baik, dia harus terus menjawab puluhan pertanyaan yang sama oleh setiap orang yang penasaran tentangnya.


.


.


.


"Hai, anda pasti player yang baru, namaku Nori salam kenal." Seorang karyawan sekarang tersenyum kepada Eric.


Eric hanya diam saja lalu melihat kearah yang lain, dia malah sedang sibuk menggaruk telinganya.


"Jadi nama tuan?"


"..."


"Ehem, bolehkah saya tahu nama anda, tuan?" Karyawan itu masih tetap kekeh menjalankan tugasnya sebagai karyawan.


"...Eric, dan jangan sok kenal." jawab Eric begitu dingin seolah melihat orang yang ada di hadapannya itu adalah serangga.


"Ehh, Maaf?" Karyawan yang tidak mengerti maksud Eric itu kemudian menggaruk rambutnya sedikit kebingungan.


"Langsung saja, apa yang harus kulakukan di sini, huh?! Katakanlah." Eric kemudian mengetuk mejanya berulang kali yang membuat karyawan itu jengkel dan ingin sekali keluar dari sana.


.


.


.


"Hai, anda pasti player yang baru, namaku adalah Nicole salam kenal." Seorang karyawan sekarang tersenyum kepada Jeff.


"Namaku Jeff, Jeffrey Agler salam kenal." Jeff kemudian membalasnya dengan senyuman juga.


"Maaf sebelumnya Tuan Jeff, bagaimana bisa anda... berakhir dengan mengenakan sepotong boxer? Bi, Bisakah ceritakan dengan rinci kepada saya. Sa, Saya mohon!"


Nicole lalu merasa antusias ingin mendengar jawaban dari Jeff sampai bangkit dari kursinya.


"Ah, itu..." Jeff hanya menggaruk rambut nya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Jangan lupa tinggalkanlah jejak jika cerita ini cukup menarik bagi kalian, Ok

__ADS_1


(ノಠ益ಠ)ノ彡┻━┻


__ADS_2