
Kembali.
Pagi harinya, semua orang berkumpul di atas meja rumah petualang dan melakukan sarapan di sana.
Tidak lupa Jeff menanyakan tentang keberadaan Evans dan Eric yang menghilang semalaman, tetapi keduanya hanya terbatuk kecil di sana.
Lan Suzi kemudian tiba dengan wajah yang cerah dan ceria seperti biasanya, tetapi saat melihatnya begitu Eric menjadi tidak tahan dan berdecak kesal lalu membalikkan tubuhnya, sedangkan Lan Suzi hanya memiringkan kepalanya karena penasaran.
"Ada apa dengannya?"
"Tidak ada apa-apa, duduklah."
Di sana Evans meminta Lan Suzi untuk mengabaikannya saja dan duduk di kursi, dia tidak mungkin berbicara kepadanya jika Eric tidak suka dengan aura positif yang dipancarkannya.
"Hahaha, kau masih sama saja seperti biasanya." Jeff yang melihat Eric seperti itu kemudian mengenang masa lalunya, dia tertawa kecil karena kebanyakan dialah yang menerima perlakuan seperti itu dari Eric.
Mereka berempat kemudian saling bercanda dan mengobrol di sana.
Mereka juga membicarakan tentang tingkatan dan level masing-masing player, Jeff sangat terkejut setelah mendengarnya.
Evans, Eric, dan Jeff ternyata memiliki tingkatan yang sama sebagai Intermediate player dan bahkan level mereka bertiga juga sama yaitu, Lv. 58.
Eric berhasil mengejar ketertinggalannya saat berada di lantai kedua belas dan ketiga belas, sedangkan di kedua lantai itu Evans sama sekali tidak ada perubahan karena terlihat tidak serius saat melakukan leveling.
Jeff kemudian bertanya kepada Evans apa yang menjadi tujuannya ke sini.
Mendengarnya Evans kemudian langsung melirik kearah Lan Suzi, dia tidak ingin kerepotan dan menjelaskan semua situasinya.
Lan Suzi kemudian tersenyum tipis dan mulai bercerita kepada juniornya yang berada di guild sama seperti dirinya itu, dia menceritakan seluruhnya dengan detail kepada Jeff, Eric yang penasaran juga ikut mendekat dan memasang lebar kedua telinganya.
Sekarang Jeff menjadi mengerti situasinya, sedangkan Eric hanya memijat keningnya karena tidak terlalu mengerti, dalam pikirannya bukankah lebih baik untuk mereka membiarkannya saja.
__ADS_1
Entah kenapa tiba-tiba raut wajah Jeff terlihat berubah, dia seperti mengetahui sesuatu, "Ah, bagaimana jika kita bertanya kepada mereka saja..."
Jeff kembali teringat jika para seniornya baru saja turun dari tower lantai kedua puluh dan ditugaskan untuk membantunya naik level.
Beberapa detik kemudian Jeff berdiri dan bergegas berlari dengan kencang untuk pergi ke atas, mereka yang tersisa kemudian melanjutkan sarapannya di sana dan setelah satu menit berlalu, Jeff muncul dengan ribut-ribut dan membawa seniornya yang membuat mereka kemudian menutup kembali sarapannya.
Seseorang kemudian mendekat kearah mereka semua dan mengenalkan namanya dengan ramah dan sopan.
Lan Suzi adalah yang pertama kali bertanya kepadanya, dia menanyakan tentang Bam kepada kelompok Jeff.
Orang itu kemudian menganggukkan kepalanya, saat dalam perjalanannya turun dari lantai kedua puluh mereka pernah melihat orang yang memiliki ciri-ciri sama dengan apa yang disebutkan oleh Lan Suzi.
Mereka melihat satu orang player yang membawa banyak rombongan player bersamanya, mereka bahkan terheran saat melihatnya. Rombongan itu sangat misterius karena semua orang menggunakan jubah hitam untuk menutupi tubuhnya.
Lan Suzi yang mendengarnya menjadi bersemangat di sana karena sebentar lagi dia akan memenuhi janjinya kepada semua orang yang ada di Paguyuban Usaha Tani, dia kemudian bertanya di mana terakhir kali mereka melihatnya.
"...."
"Di mana? Di mana terakhir kali kalian melihatnya, tolong katakanlah." Lan Suzi terlihat paling memaksa di sana, bahkan dia sampai memegangi lengan seniornya.
"Terakhir kali kami melihatnya... Dia... Ada di lantai kedua puluh, tepatnya saat kami memutuskan untuk kembali bergabung dengan Jeff. Entah, ada di mana dia sekarang ini."
Wajah Lan Suzi langsung berubah menjadi putih, dia mengulangi tempat yang disebutkan oleh seniornya itu beberapa kali.
Semua orang yang ada di sana juga tidak percaya dengan apa yang didengarnya.
"Bagaimana bisa dia ada di lantai kedua puluh?"
"Heh... Seorang petani biasa bisa sampai di lantai seperti itu?"
Jeff yang mendengarnya kemudian menelan ludahnya sedangkan Eric yang ada di sampingnya malah berdecak kagum melihatnya.
__ADS_1
"Tidak... Tidak... Lantai kedua puluh? Tidak mungkin, tidak mungkin, kalau begitu bagaimana cara kita ke sana?" Lan Suzi terdiam cukup lama, dia terduduk lemas di atas meja makan sembari menahan tubuhnya yang bergemetaran.
Evans sama sekali tidak berbicara sedikitpun di sana, dia masih memasang wajah yang datar seperti biasanya, dia juga tidak menyangka Bam akan sampai di lantai kedua puluh dengan sangat cepat.
"Kalau begitu sejauh mana kekuatannya sekarang." Batin Evans dan Lan Suzi secara bersamaan dengan Lan Suzi yang masih menundukkan kepalanya di atas meja makan.
"Dia sampai di lantai kedua puluh dengan membawa ratusan player di belakangnya, bagaimana menurutmu Jeff?"
"Orang yang bernama Bam ini pasti sangat kuat sekali sekarang, kemungkinan kekuatannya melebihi kita semua."
Eric dan Jeff yang awalnya bersemangat karena akan bersama-sama dengan Evans dan Lan Suzi melakukan leveling, sekarang tampak menjadi murung dan tidak berharap apapun kepada mereka.
Senior itu sekarang berpamitan dengan semua orang, sebenarnya dia tidak ingin mengatakannya setelah mendengarkan seluruh cerita dari Jeff.
Di atas lantai kedua puluh adalah wilayah bagi mereka para advanced player melakukan levelingnya.
Eric dan Jeff saja hanya diperbolehkan melakukan leveling sampai batas lantai lima belas dan tidak diijinkan untuk melakukan leveling di atas lantai itu karena kekuatan mereka yang masih dianggap terlalu lemah, jika tidak mereka hanya akan terbunuh sia-sia dan kehilangan sepuluh levelnya.
"Hei, brengsk. Kami pergi dulu."
"Ev, kami akan pergi ke lantai atas."
Eric dan Jeff secara bersamaan berdiri dari kursinya dan pergi meninggalkan Evans yang ada di sampingnya.
Sekarang, hanya tersisa Evans dengan Lan Suzi di lantai itu, Evans sesekali melirik kearah Lan Suzi di sana.
Lan Suzi terus menerus melihat ke bawah dan menunduk sampai akhirnya dia tertidur di atas meja makan.
Evans sekarang memejamkan matanya dan menghela napas pelan di sana. Setelah membuka kedua matanya dan setengah mulutnya yang terbuka, dia berkata.
"Semua ini semakin merepotkan saja, apakah aku harus mulai serius sekarang." Evans duduk di atas kursi dengan menyilangkan tangannya di dada, dia menatap tajam pemandangan yang ada di depannya cukup lama.
__ADS_1