
Chp. 79 Level 12 : Menuju Tower Lantai Sepuluh(13) - Evans vs Rafus.
Roland sekarang kembali tersadar dari pusing yang melandanya, dia melihat Lan Suzi yang ditarik rambut panjangnya kemudian datang mendekat untuk membantu.
Tetapi dengan langkah yang lambat karena tubuhnya masih belum sadar sepenuhnya, membuat Roland hanya bisa mengumpat. Jika seperti ini dirinya hanya malah akan menjadi beban saja, Roland kemudian mengaktifkan skill nya.
"Sebenarnya aku sangat tidak ingin menggunakan ini, tetapi apa boleh buat."
< Magic Transform Beast: Cerberus > < B >
Tubuh Roland sekarang perlahan dipenuhi dengan bulu dan juga otot-otot keluar dan membentuk kerangka hewan, dirinya menjadi lebih besar sampai menyamai sebuah gedung yang sangat tinggi, sebuah rantai kalung juga tiba-tiba saja keluar di sekitar lehernya.
Anjing raksaksa yang dirantai dengan kalung besi sekarang muncul di hadapan Laurent dan Lan Suzi. Anjing ini hanya bisa bergerak dalam radius 100 meter karena dipaku dengan sebuah pancang raksasa yang menancap di atas tanah.
Laurent kemudian melemparkan Lan Suzi dengan reflek dan bersiap dengan monster yang ada di depannya.
"Kyah!" Jerit Lan Suzi yang terlempar, dia juga tercengang saat menatap perubahan yang terjadi pada Roland.
"Grrr! Grrooarr-!!!" Anjing raksasa ini mengerang dengan sangat kecang sampai seluruh area Lantai Keenam Tower bergetar dengan suaranya.
"Tambah lagi yang merepotkan." Laurent berdecak kesal dengannya.
**
Kini Evans dengan yang lainnya sedang membereskan anggota dari para penjahat yang tersisa, tetapi mereka semua berhenti setelah mendengar suara erangan hewan buas yang sangat kencang.
"A,Apa itu tadi? Apakah itu suara seorang monster. Tidak! Tidak mungkin jika ini adalah suara monster biasa. Jika begitu apakah seorang Boss Monster?!"
"Bukannya Boss Monster tidak dapat lagi revive! Kau jangan bercanda-!"
"Kalian semua jangan terlalu panik, cepat seranglah anggota penjahat yang tersisa ini dan membantu Kapten Roland dengan yang lainnya di sana."
Semua orang sangat penasaran dengan apa yang sedang terjadi di sana, kemudian mengangguk setuju untuk membereskan masalah yang ada di depan mereka terlebih dahulu.
Evans sendiri meski sedang berada di kejauhan tetapi bisa melihatnya walaupun masih samar-samar, dia sedikit mengernyitkan keningnya saat melihat seorang seperti Anjing raksaksa sedang mengamuk disana.
"Apa?! Kau bisa melihatnya dari jarak yang sejauh ini! Seorang Anjing kau bilang... Setahuku Boss Monster di lantai ini bukanlah Monster yang mirip Anjing. Kalau begitu..."
__ADS_1
Seorang kakek sepuh yang berada di samping Evans tiba-tiba saja berbicara dengannya setelah mendengarkan Evans menyebutkan darimana teriakan monster itu berasal.
"Ini pasti skill dari seseorang."
"Ya. Kau benar. Kurasa memang seperti itu. Omong-omong siapa namamu?"
Evans hanya menggaruk kepalanya, dia bingung akan menjawabnya bagaimana.
"Ah! Aku tahu kau ingin merahasiakan identitas mu, ya? Kau tenanglah tidak masalah bagiku."
"Boom!"
Sebuah ledakan tiba-tiba saja terjadi dan mendarat di dekat Evans, ledakan ini memperlihatkan sosok seseorang dibalik kepulan asap itu. Matanya bercahaya dibalik asap dan menatap Evans dengan penuh nafsu membunuh yang mengerikan.
"Ada apa ini, apa yang sedang terjadi."
"Uhuk! Uhuk!"
"Lihatlah muncul seseorang dibalik asap tebal itu!"
Semua orang kemudian berhenti mengejar kelompok para penjahat, mereka berdiri di tempatnya sekarang dan menatap seseorang yang baru saja terjatuh dari langit.
"Siapa dulu kau ini, sebutkan namamu duluan brengs*k!" Semua orang yang ada di sana berteriak dan mengumpat kearahnya.
Orang ini yang tadinya berjongkok sembari memegang tombaknya kemudian berdiri dan menatap cukup lama semua orang, "Aku tidak berbicara dengan kalian pergilah, urusi masalah kalian sendiri."
Orang itu berjalan dan keluar dari kepulan asap yang menyelimutinya, seseorang yang menggunakan topeng masker dengan tiga lubang gas berdiri dengan gagahnya.
"Tidak... Dia... Dia adalah pemimpin dari para penjahat ini, Code-024!" Semua orang bergemetaran dan meneriakan namanya berulang kali dengan wajah pucatnya kecuali Evans yang masih tetap tenang melihatnya.
"Aku bertanya padamu, sebutkan namamu bodoh!" Rafus melotot kearah Evans, sembari berulang kali menggeretakan giginya.
Evans hanya diam saja dan tidak menjawab, dengan masih mengenakan topeng gas hitamnya. Rafus yang melihatnya berpikir jika Evans terlalu takut sehingga tidak bisa menjawabnya.
"Apakah Kau begitu ketakutan sampai seperti itu hahaha." Rafus tertawa dengan keras melihatnya, "Sudah terlambat sekarang jika Kau menyesalinya, Kau akan mati hari ini ditanganku hehe."
Rafus kemudian melihat ke sekelilingnya dan kemudian berbicara dengan orang-orang yang mengelilinginya.
__ADS_1
"Kalian semua bisa pergi kalau mau, Aku hanya ada urusan dengan si kecil ini. Tetapi jika kalian lebih memilih tinggal maka terimalah akibatnya."
Semua orang saling memandang dan berpikir cukup lama di sana, ada beberapa orang yang telah pergi meninggalkan Evans dan ada beberapa yang meminta maaf kepadanya dengan alasannya masing-masing.
"Maaf, Maafkan Kami... Player misterius, Kami berhutang budi padamu."
Semua orang sekarang telah pergi meninggalkan Evans dan hanya menyisakannya seorang diri.
Tidak ada orang lain yang menemaninya untuk bertarung dengan Rafus di sana, hal itu hanya membuat Rafus yang melihatnya sekarang terkekeh dan kesenangan.
"Baguslah tidak akan ada banyak pengganggu di sini. Sekarang Kita bisa bertarung sepuasnya tanpa diganggu oleh orang-orang lemah seperti mereka."
Evans dan Rafus yang sekarang sudah siap bertarung kemudian bersiap untuk mengambil senjatanya masing-masing.
Tetapi tiba-tiba saja suara seseorang terdengar dan mendekati mereka, dia dengan beraninya mengacungkan tongkat ( Staff ) miliknya, "Kau terlalu meremehkan Kami, sepertinya kau tidak tahu jika dulunya Aku juga adalah seorang player yang top seperti kalian."
Seorang pria paruh baya menggunakan staff miliknya dan berpakaian mirip seorang pendeta sekarang tersenyum di samping Evans.
"Kakek." Evans sedikit terkejut dengan pria paruh baya ini dan kemudian tersenyum tipis dari balik topengnya.
"Dasar orang tua gila, Kau belum pernah merasakan sakit yang membuatmu seakan memilih mati saja, ya?" Rafus melotot dan terlihat sedikit jengkel saat melihatnya.
"Nak akan Aku bantu dirimu, mari kita kalahkan dia bersama-sama. Aku adalah seorang Healer, Aku bantu dirimu dari belakang."
Evans kemudian mengangguk menjawabnya, mereka berdua bersiap untuk menyerang Rafus.
"Malah tidak digubris? Baiklah, terserahlah. Jangan salahkan Aku jika Kau menyesali perbuatanmu ini." Rafus hanya menggaruk rambutnya dan perlahan berjalan mendekat kearah Evans.
< Power Up: Increase SPD Stats > < D >
< Power Up: Increase STH Stats > < D >
< Power Up: Increase DEF Stats > < D >
"Nak meski hanya untuk sementara tetapi hanya itu yang bisa kuberikan untukmu saat ini." Kakek itu menatap Evans dengan perasaan bersalah karena tidak bisa lagi membantunya.
Evans yang melihat tiga stats nya sekarang bertambah sebanyak lima point, kemudian menggelengkan kepalanya bantuan yang diterimanya sudah sangat banyak menurutnya, "Terimakasih."
__ADS_1
Evans sekarang melakukan pemanasan dan melemaskan seluruh tubuhnya lalu setelah puas melakukannya, dia bergegas kehadapan Rafus.
"Hati-hati nak, berjuanglah sekuat tenagamu. Aku akan selalu ada dibelakang dan membantumu." Gumam Kakek itu saat melihat punggung Evans yang bergerak.