
Chp. 84 Level 12 : Menuju Tower Lantai Sepuluh(18) - Evans vs Laurent(4).
"Bagaimana kau bisa mendapatkannya?"
"Aku hanya menemukan ini tergeletak di jalanan tidak lebih."
"Keenamnya?"
Evans hanya mengangguk, dia lebih memilih menjawabnya begitu daripada harus memberikan kejadian yang sebenarnya.
"Sialan, kau jangan berbicara omong kosong lagi. Apa kau tidak tahu seberapa menderitanya kami gara-gara harus mencari kartu-kartu itu?!"
Laurent sekarang mengingat kembali saat dirinya harus dipotong gajinya sampai setengahnya, dia juga harus menemukan petunjuk tentang Evans jika tidak ingin dipotong setengahnya lagi gajinya. Setelah sisa seperempat, gajinya kembali dipotong lagi, dipotong dan terus dipotong.
Sampai akhirnya gajinya dipotong seluruhnya.
Laurent terlihat sangat kesal saat ini, dia mengepalkan tangannya sangat kuat dengan melihat wajah Evans. Laurent segera berlari kembali kearah Evans.
Mereka bertarung kembali menggunakan senjatanya masing-masing, percikan api selalu keluar setiap kedua senjatanya bertemu.
Tetapi jika terus saja seperti ini, Evans menyadari bahwa pedangnya tidak akan bertahan dan akan hancur, dengan cepat Evans segera berbalik dan mundur.
"Kau ingin pergi begitu saja, ingatlah masih ada aku di sini. Aku masih belum puas menghajar mu. Kau tidak akan kuijinkan untuk pergi!"
Laurent sekarang terlihat menarik busur panahnya, di sana dia hanya memegang sebuah busur kosong tanpa anak panah. Tetapi tiba-tiba saja dari udara kosong, muncul sebuah angin yang berwarna kehijauan, angin ini berputar sangat cepat dan berkumpul membentuk sebuah panah.
< Wind Storm Thunder Arrow > < B >
Evans yang masih berlari sekarang menengok kebelakang untuk melihat apa yang sedang terjadi. Kenapa banyak sekali angin yang berkumpul dan melewati dirinya.
Laurent di sana tersenyum lebar dan melepaskan panah anginnya, panah ini setelah dilesatkan sebuah petir mengikutinya sebagai ekor.
"Wooosh!"
"Jleb!"
Evans yang tidak tahu apa yang sedang terjadi di belakangnya, dirinya hanya melihat sebuah angin yang berputar sangat cepat dan perlahan menembus bahu kirinya.
Panah ini sekarang meninggalkan lubang yang bercahaya di sana dan membuat Evans sekarang terseret mengikuti panah ini jauh ke depan sampai menabrak tanah.
Panah itu tidak berhenti di sana setelah menyeret Evans, anginnya terus berputar dan berlari jauh meninggalkan tubuh Evans di belakangnya.
Panah itu tidak menunjukkan tanda-tanda untuk berhenti sama sekali sampai akhirnya menabrak kaki gunung dan perlahan menghilang meninggalkan lubang di sana.
__ADS_1
Evans sekarang meringis kesakitan sembari memegangi bahunya yang berlubang dan bercahaya mengeluarkan banyak sekali butiran cahaya.
"Sayang sekali kau tidak mati, aku sangat terkejut melihat ketahanan luar biasa yang kau miliki. Woah! Kau seriusan langsung berdiri setelah mendapatkan luka yang seperti itu?"
Evans sekarang berdiri dengan kepayahan dan berjalan terhuyung kesamping, Laurent yang melihatnya hanya tersenyum dan tertawa kecil.
"Berapa banyak sebenarnya poin HP mu itu? Bahkan kau terlihat masih baik-baik saja sekarang. Baiklah, jika dilihat dari pertarungan mu tadi kau seharusnya memiliki kekuatan player yang setingkat dengan Intermediate awal."
Evans tidak menggubris omongan Laurent, dia masih tetap berjalan kesamping.
"Haa... Sayang sekali kita harus mengakhiri semuanya di sini, padahal aku masih ingin sedikit bersenang-senang denganmu. Aku masih memiliki pekerjaan yang lain, sampai jumpa."
Laurent sekarang berada di belakang Evans, dia menarik senjatanya dengan tinggi ke atas dan bersiap mengakhiri semuanya sekarang.
Dengan satu gerakan, senjata Laurent yang hampir mencapai leher musuhnya tiba-tiba saja dipantulkan kebelakang.
"Tang!"
"Apa yang--"
"Jika senjata kelas ( C ) tidak bisa, maka bagaimana dengan senjata kelas ( B )."
[ Red Dragon Spears. ] [ B ]
Sebuah tombak dengan warna merah dan kuning, memiliki kekuatan untuk mengeluarkan api dalam jumlah yang sangat banyak dan membakar segalanya menjadi abu.
Sebuah senjata tombak dengan kelas ( B ) yang sangat dikenalinya itu adalah senjata satu-satunya milik sahabatnya, Rafus.
"Hah?! Apa maksudmu hahaha. Hanya karena sebuah senjata kau menjadi begitu bersemangat? Jangan bodoh, perbedaan kekuatan kita masih sangat jauh sekali seperti langit dan bumi. Kau itu hanya lah seorang bocah ingusan-!"
Laurent berteriak dengan keras dan mengayunkan senjatanya sampai kebawah dengan sangat kencang.
"Benarkah."
"Traang!"
Mata Laurent melebar sekali lagi, dia menaikan kedua alisnya. Apa yang sebenarnya terjadi barusan.
Apakah dirinya tidak salah dengar, Laurent sekarang melihat Evans yang sedang menahan senjatanya menggunakan tombak milik sahabatnya itu.
Laurent sekarang hanya bisa menahan napasnya setelah melihat Evans dari atas sampai ke bawah, ada sesuatu yang berubah darinya. Auranya menjadi besar dan membuat Laurent menjadi bergemetaran.
Evans sekarang hanya melihat Laurent dingin menggunakan matanya yang perlahan berubah menjadi biru gelap.
__ADS_1
"Matanya, ada apa dengan matanya itu, tadi aku mendengarkan sebuah suara yang menakutkan dan sekarang matanya? Ada hal yang tidak normal dari bocah ini."
"Hei, bocah. Kau-- uhuk! Guahhk!!!"
Evans sama sekali tidak berniat mengobrol, dia dengan sangat cepat memukul perut Laurent sampai terjatuh dan terlempar ke tanah.
"Ada apa ini? Kenapa dengan kekuatannya itu?"
Evans sekarang berdiri dari posisi duduknya setelah menahan senjata Laurent dan berjalan mendekat kearahnya.
Evans di sini juga melemaskan kepalanya sampai berbunyi dan berlanjut ke bahu, tangan dan pinggangnya, anehnya semuanya ini berbunyi seakan baru saja terbebas dari beban yang sangat berat.
"Aku tahu sekarang apa yang sedang terjadi dia adalah Monst-- Guahkk!!!"
Evans yang telah selesai melakukan peregangannya kemudian berlari sangat kencang dan memukul Laurent yang berdiri menggunakan sisi tombaknya yang tumpul.
Sekarang Laurent terpental sangat jauh sekali dari tempatnya semula dan berteriak kesakitan, "Kekuatan ini, ini adalah seorang player dengan tingkat Intermediate menengah, bagaimana bisa?!"
Laurent sekarang terjatuh dan memantul di tanah berulang kali, seperti sebuah batu kali yang dilemparkan saja.
.
.
.
Setelah berhenti memantul berulang kali di tanah, dirinya perlahan bergerak bangkit dari posisi jatuhnya. Laurent sekarang hanya menyeringai dan tersenyum lebar tidak karuan, sudah berapa lama dirinya tidak merasakan perasaan yang seperti ini.
Seseorang yang bisa melawannya mungkin hanyalah sedikit dan bisa dihitung dengan menggunakan jari.
Laurent sekarang melihat pria yang ada di depannya, dia perlahan mendarat di atas sebuah batu yang tinggi dan memandangnya dari bawah seakan memandang orang itu lebih rendah darinya.
Dingin dan kejam sangat pas untuk digambarkan jika melihat bola matanya yang begitu gelap dan kebiruan.
Evans sedang berdiri dengan meletakan sebuah tombak di belakang kepalanya. Sekarang hasil akhirnya menjadi berbeda dengan senjata kelas ( B ) ini.
Angin di lantai keenam tiba-tiba saja berhembus kearah keduanya dan menjadi kencang mengibarkan rambut dan pakaian mereka, angin ini seolah sudah tidak sabar lagi menunggu pertarungan keduanya kembali dimulai.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa tinggalkan jejak, Ok
Dah lah males
__ADS_1
(╯°□°)╯︵ ┻━┻
+++++