
Chp. 8 Fany Indira, preman cantik.
Suasana hati Evans sedikit kacau, dia berpikir untuk pergi ke toilet sebelum kembali ke kelas. Di sana Evans bertemu dengan Eric.
Eric terlihat sedang membasuh tangannya di wastafel. Mereka berpandangan sejenak sebelum Eric mengalihkannya dan berdecak kesal. Mata Evans tertuju pada wastafel di samping Eric dan berniat menggunakannya.
"Hei, Monster, bagaimana perasaanmu? Senang? Pastinya, 'kan? Selamat sudah mendapatkan peringkat pertama." Eric tersenyum sinis dan mengejek Evans.
Eric sudah tahu kekuatan Evans yang sebenarnya, jadi kabar berita yang keluar adalah sebuah fakta dan kejadian yang sesungguhnya terjadi. Evans tetap tenang menatap wajahnya di cermin.
"Oh, Apa Kau tidak senang? Jadi memang seperti biasanya Kau tidak dapat merasakan apapun, benarkan?" Eric mengatakan itu semua dengan suara keras dan memprovokasi Evans.
Di cermin Evans terlihat sedang memejamkan matanya, dia mengambil segenggam air dan membilas wajah dan rambut coklatnya.
Eric kini menepuk dua kali pundak Evans sebelum pergi meninggalkannya, "Sampai jumpa di Tower, Monster." Bisik Eric.
Eric tiba-tiba saja berhenti di depan pintu keluar, dia mendengar suara Evans yang memanggilnya.
"Inikan... A, Aku tidak akan berterima kasih sialan, mati sana." Eric mengambil form hak eksklusif untuk calon player dan pergi begitu saja.
Form itu sungguh asli, di sana juga sudah tertera cap dan tanda tangan jadi tidak mungkin untuk ditiru.
...***...
Bel sekolah berbunyi, jam istirahat akhirnya di mulai. Evans sekali lagi mulai dikerubungi oleh orang-orang yang masih penasaran dengannya. Bahkan beberapa masih menanyakan bagaimana pelatihan di sana dan kabar Evans yang bertarung dengan kapten kopassus.
Tapi dari itu semua yang paling membuat Evans terganggu adalah tatapan teman sebangkunya, Ney.
Sedari tadi Ney dan Evans selalu diam dan tidak mengobrol. Ney bingung bagaimana untuk memulainya dan mengharapkan Evans, tetapi Evans hanya diam sedari tadi seperti menghindarinya.
Ney mulai buka suara, tetapi sebelum hal itu langkah kaki yang keras menuju kearah mereka.
Seorang wanita berambut pirang di kuncir satu dengan kalung karet hitam menempel ketat di lehernya. Tubuhnya sedikit berisi karena ototnya tetapi orang-orang menganggap tubuhnya mirip seorang model, dia mengenakan seragam yang dikeluarkan dengan kancing yang terbuka satu.
Riasan yang dia gunakan menyatu alami dengan wajahnya. Jujur saja wajahnya sangat cantik tidak kalah dengan Ney.
Dia adalah Fany Indira, di sekolah Fany dikenal preman cantik.
__ADS_1
Fany memiliki daya tarik tersendiri dengan sifat tegas dan sadisnya, banyak pria telah di tolaknya dengan alasan sudah ada seseorang dihatinya. Sedangkan Fany tidak terlihat sedang berpacaran dengan siapapun.
Fany melotot tajam pada Evans selama beberapa detik sebelum buka suara, "Kau akan pergi ke Tower, 'kan?" Tanya Fany dingin.
"Sepertinya." Jawab Evans juga dingin kearahnya.
'Kenapa Dia hari ini lebih dingin?' Batin Fany, 'Tenanglah Fany. Ayo katakan maksudmu, kali ini Kau pasti bisa. Semangat!' Fany yang terdiam sekarang menjadi pusat perhatian semua orang.
"Kurasa, aku menyukaimu." Tingkah Fany yang menjadi malu-malu saat mengatakannya, dia menatap kearah kearah yang lain sembari bersiul.
Di situ bukan mata Evans yang malah terbelalak melainkan puluhan pasang mata yang melihat mereka sekarang.
Evans bahkan tidak pernah berbicara dengannya, seingat Evans dia hanya berpapasan sekali dengan Fany.
Tidak cukup membuat keributan di sana, Fany kemudian menarik dasi Evans dan menciumnya. Meskipun berlangsung beberapa detik tetapi itu semuanya bagaikan berhari-hari menurutnya.
Setelah melepaskan Evans ketempatnya yang semula, Fany segera berjalan untuk berlari keluar. Dia berlari sembari menutup bibir kecilnya dengan tangan dan pergi dengan telinga kemerahan.
Hal pertama yang dilakukan Evans setelah tersadar adalah melihat kesamping kanannya, dia melihat Ney yang sekarang membuat menganga mulutnya dan mata yang tampak terguncang.
Pandangan Ney bertemu dengan Evans setelah sekian lama tetapi Ney segera mengalihkannya ketempat lain.
**
Di perjalanannya pulang Evans merasakan mendengar sesuatu, dia berbalik karena suara yang samar memanggilnya. Suara samar itu tidak terdengar lagi setelahnya dan Evans kembali melanjutkan perjalanannya.
Setelah beberapa langkah suara samar yang memanggil namanya tadi kembali terdengar, bahkan sekarang terasa semakin mendekat.
"Vans.. Evans..."
Evans sedikit terkejut dengan suara di belakangnya dan segera berbalik, di sana dia menemukan Ney dengan napas yang memburu.
"Huff... Huff..."
"Ney."
Ney mengangkat tangannya meminta Evans untuk menunggunya sebentar.
__ADS_1
"Vans, ada yang mau ku--"
Evans menatap kedua mata Ney, dia tau apa yang akan disampaikannya, "Ney, Kau pasti ingin menyampaikan perasaanmu yang sesungguhnya."
Ney yang terkejut itu mengangguk pelan karena tebakannya yang benar dan membuat Evans akhirnya berjalan pergi, "Kau ingin bilang, jika Kau sudah menyukaiku bahkan sejak dulu."
Ney kembali mengangguk untuk kedua kalinya karena tebakan Evans sangat tepat.
"Kau juga terkejut bahkan Kita bisa bersekolah bersama dan selalu dekat hingga sekarang."
Sebenarnya Evans lah yang berusaha di sini, setelah dia mengetahui Ney memilih bersekolah di mana, Evans kemudian menjawab soal ujian sekolah itu dengan nilai yang seratus.
Ney menaikan alisnya tidak percaya dan menganggap mungkin Evans memiliki bakat seorang cenayang.
"Sifatmu yang seperti itu memang baik. Tapi Kau terlalu berlebihan memikirkan perasaan orang lain. Pergilah, jika Kau teruskan maka hanya akan semakin terlihat bodoh."
Evans menebak Ney akan menyatakan perasaannya, seorang gadis yang pemalu melakukan hal sampai seperti hanya karena pertemanan.
Ney yang sedari tadi mendengarkan langsung melotot kearah Evans, "Vans, Kau ini bicara apa?"
"Pergilah, Ney." Evans yang malas berbicara dengannya sekarang sudah mengambil satu langkah untuk berjalan pergi.
"Kau itu mengerti apa, diam lah sebentar dan dengarkan Aku. Aku mohon..."
"Evans-!" Ney menangkap tas Evans sekarang, dia dengan sekuat tenaganya menahan Evans untuk tidak pergi, sedangkan Evans masih tetap diam saja dan mencoba pergi dengan mengibaskan tasnya yang ditarik oleh Ney.
"Dengarlah... Dasar bodoh! Kumohon, berhentilah sebentar Hiks Hiks. Dasar bodoh! Tolol! Jahat, Penjahat! Hiks Hiks." Ney mengeluarkan semua umpatan-umpatan yang dia ketahui, sembari mengeluarkan beberapa tetes air matanya.
"Berhentilah Hiks, dasar kau, Monster-!" Ney akhirnya sadar Evans yang sudah tidak melawan lagi dan berhenti total setelah menyebutnya seperti itu.
Keduanya mematung dan berdiri lama di sana, satu orang menatap ke langit dan satu orang lagi menatap orang yang ada di depannya. Ney sadar dengan perkataannya yang terakhir mungkin sudah keterlaluan karena Ney juga sudah mengetahuinya.
Ney yang mulai bingung kemudian hanya memeluknya dari belakang. "Vans, Aku sangat menyukaimu."
"Pergilah." Jawab Evans singkat. Evans lalu melepaskan pelukan Ney dengan tenaganya dan membuatnya terjatuh ke tanah dengan keras.
Ney yang melihat hal itu mulai menangis.
__ADS_1
Dan tanpa memedulikan sosok Ney yang sedang menangis, Evans segera berbalik dan pergi meninggalkannya begitu saja.