Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 62 |


__ADS_3

Chp. 62 Level 10 : Meminta Bantuan.


Manager restoran menyuruh semua pegawainya untuk memberikan makanan dan pelayanan yang terbaik mereka kepada Evans dan semua orang yang ada di sana.


Malam itu Paguyuban Usaha Tani berpesta dengan meriah, mereka memborong makanan dan minuman mahal di sana menghabiskan sampai seribuan keping koin malam itu.


Para karyawan mengeluarkan minuman semacam wine dan merk lainnya yang terkenal, serta makanan mewah yang belum pernah mereka lihat atau cicipi sepanjang hidup mereka. Semua orang terlihat sibuk dengan urusan mereka masing-masing.


Di kejauhan Hendra memperhatikan manager restoran, dia melihat manager itu tersenyum dengan riang gembira kepada Evans.


Manager itu sepertinya mengetahui jika semua uang berasal dari Evans sehingga manager restoran terlihat selalu mendekati Evans selama hampir lebih dari satu jam lamanya dan entah apa yang mereka bicarakan di sana.


Tetapi ada satu orang yang tidak suka melihatnya begitu, "Dasar Penjilat! Dengan mudahnya Kau berbalik dan pergi begitu saja?" Gerutu Hendra saat melihat manager restoran.


Setelah manager restoran pergi meninggalkan Evans, Hendra segera pergi meninggalkan mejanya dan duduk tepat di samping kursi Evans yang kosong, sebelumnya memang ada seseorang yang duduk di sana tetapi Hendra telah mengurusnya.


"Baiklah. Nak Evans, sekarang Kau harus jujur darimana Kau bisa mendapatkan jumlah koin sebanyak itu. Jika memang benar Kau menemukan tas berisi koin di jalanan, maka Kita harus segera pergi dan mengembalikan kepada pemiliknya."


Di sana mereka tidak berdua ada Lan Suzi yang juga di samping Evans, "Evans apa kau masih baik-baik saja. Apakah ada salah satu dari anggota tubuhmu yang hilang? Seperti Ginjal misalnya?"


Evans sedikit mengernyit saat Hendra berbicara begitu kepadanya ditambah sekarang juga ada Lan Suzi, dia memandangi keduanya dengan tidak percaya.


Evans lalu menjelaskan pada mereka jika itu semua adalah hasil murni dari kerja kerasnya, sebagai tambahan Evans juga melemparkan sekantung koin lagi kepada Hendra, "Sedikit uang untuk membangun kembali asrama dan lainnya."


[ 100.000 Koin ]


Melihat nominalnya mereka berdua terdiam tenggelam pada pikirannya masing-masing, wajah kelelahan melanda pada keduanya seperti mereka sudah tidak sanggup lagi untuk terkejut. Dengan jumlah sebanyak itu satu Skill Card kelas ( A ) bisa didapatkan, dengan jumlah itu juga Evans dapat membeli sejumlah Villa di pantai, dia bisa hidup santai dalam kemewahan selama puluhan tahun di dalam pulau.

__ADS_1


"Ah, Aku baru ingat kemana perginya Didi." Evans bertanya kepada Hendra dan Lan Suzi, bagaimanapun Evans hanya menyuruhnya untuk mengirimkan kantung koin tidak lebih, kedua orang ini pasti mengetahui sesuatu.


**


"Jadi kenapa Kau memintaku untuk mengantarmu pulang." Evans menatap ke arah Lan Suzi yang sejak tadi terdiam. Mereka berdua meninggalkan orang-orang yang masih berpesta di restoran, Lan Suzi meminta Evans untuk menemaninya kembali dan juga ada sesuatu yang ingin dikatakannya kepada Evans.


"Jika Kau hanya diam. Aku tidak akan pernah tahu, apa ini tentang Bam." Evans melirik ke arah Lan Suzi, dia menemukan Lan Suzi yang berhenti berjalan sekarang.


Lan Suzi kemudian dengan cepat mengangguk beberapa kali, "Apa kau mempunyai informasi tentang keberadaannya." Lan Suzi menggeleng tidak tahu.


"Sebenarnya Aku ingin meminta bantuanmu, perbuatan yang dilakukan Bam sebelumnya memang sudah kelewat batas Aku mengerti hal itu, Mhm! Dan jujur saja Aku tidak mengerti perasaanmu yang sekarang kepada Bam, tetapi Aku tidak ingin semuanya berakhir seperti ini! Bisakah Kau membantuku untuk mencari Bam?" Lan Suzi yang awalnya gelisah saat bercerita, sekarang sudah berani untuk menatap Evans.


Evans melihat ke langit, dia mendengarkan semua apa yang ingin dikatakan Lan Suzi. Evans berpikir kembali sebelum menjawabnya, dia sedikit kesulitan saat melihat tatap mata tajam orang yang ada di sampingnya.


Evans kemudian mulai bercerita tentang tujuan Bam yang mengumpulkan setengah dari para petani di seluruh pulau, dia bercerita tentang Malika dan Buah Terkutuk. Semuanya dilakukan Bam hanya untuk mendapatkan kekuatan.


Jika menanam pada Lantai Pertama buah yang didapat pun juga hanya satu, sedangkan jika ditanam di Lantai Kedua buah yang didapat dari sana bertambah menjadi dua begitupun seterusnya.


Bam yang sekarang sangat terobsesi dengan kekuatan dan akan melakukan hal apapun demi mewujudkan hal tersebut. Bahayanya Bam juga akan membunuh para player yang tidak patuh, menurut Evans nantinya Bam bisa saja berubah menjadi seorang yang tiran. Seorang penguasa diktaktor dan yang memerintah dengan kejamnya.


"Kau terlalu berlebihan semua akan baik-baik saja dan kembali seperti sebelumnya hihihi." Lan Suzi tertawa kecil, dia mendengarkan suara yang datar itu selama lebih dari sepuluh menitan, suara yang datar ini berbicara tentang masa depan yang belum terjadi dan beberapa juga tentang Bam.


Lan Suzi meletakkan tangannya pada rambut Evans kemudian menepuknya beberapa kali, mencoba membuatnya tenang walaupun tidak ada kecemasan atau ketakutan apapun di wajahnya, "Intinya, apakah Kau akan membantuku?"


"Entahlah."


"Apa maksudmu dengan entahlah?! Kau sungguh ingin membantu atau tidak sih!" Lan Suzi yang mengamuk kemudian mengacak rambut Evans dengan kasarnya.

__ADS_1


**


Mereka sekarang berdiri di depan gerbang rumah, Evans melihat sebuah rumah susun yang mirip sebuah asrama berlantai tiga, di sana juga ada tulisan "Khusus Putri" di sampingnya. Evans yang penasaran kemudian bertanya pada Lan Suzi,


"Jadi ini tempat Kos-mu?"


"Oh, Tidak! Kenapa malah sudah sampai di sini saja? Seharusnya Kau hanya mengantar sampai belokan yang tadi." Lan Suzi bergumam, dia kemudian memegangi


kedua pipinya menggunakan tangan.


Evans sekarang mengetahui di mana tempat tinggal kakak perempuan jomblo dan berusia dua puluh tahun yang sedang malu-malu di hadapannya ini, dia sangat dikenal dengan kecantikannya oleh semua orang Paguyuban Usaha Tani bahkan Lan Suzi sebelum datang menemui Bam sempat ditanyai tempat tinggalnya oleh semua orang.


Evans melirik ke arah Lan Suzi, pandangan mereka kemudian bertemu. Lan Suzi dengan nada yang tergagap dan juga tangan yang bergemetaran menunjuk ke arah Evans, "J-Ja, Jangan berani-beraninya Kau membicarakan tentang tempat tinggalku dengan yang lainnya. Kau mengerti?!"


Lan Suzi melotot ke arahnya, dia mengamuk dan hampir saja mengeluarkan senjatanya,


"Aku akan membunuhmu sampai Kau melakukannya!"


Evans menunjukkan wajah yang tidak peduli kepada Lan Suzi, tetapi kenapa reaksi yang ditunjukan Lan Suzi sangat berlebihan. Menurut Evans tidak ada yang salah dengan tempat tinggalnya ini, bahkan tempat tinggalnya lebih bagus malah dari Asramanya.


Evans kemudian menghela napas pelan sebelum akhirnya menjawab dengan mengerti, dia mencoba menenangkan Lan Suzi dan berjanji untuk merahasiakannya.


"Baiklah Aku mengerti. Sekarang masuklah dan beristirahat. Bukankah besok Kau memiliki pakaian kotor yang menumpuk."


"EVANSS!" Lan Suzi kembali mengamuk, dia berteriak ke arah Evans. Mereka berdua akhirnya mendapatkan teguran dari orang-orang di sekitar karena mengganggu.


Sebelum dapat kembali ke restoran dan berkumpul lagi dengan yang lainnya, Evans lagi-lagi harus menenangkan Lan Suzi cukup lama di sana.

__ADS_1


__ADS_2