
Chp. 33 Level 5 : Lantai Dua Tower.
Evans kemudian menemukan satu buku yang sepertinya sebuah novel, dia hanya membacanya sekilas sebelum lanjut ke toko yang lain.
Tebakan Evans ternyata benar semuanya adalah buku, setelah membelinya dia mencari tempat yang sepi dan menemukan lima buah kartu skill dari balik sampul buku itu.
Kenapa semuanya sama, pikir Evans. Kelima buah kartu skill yang ditemukannya adalah Swords Energy, sedangkan dia sudah memiliki satu dari kemampuan ini.
.
.
.
[ 400.000 Koin ]
Evans mendapatkan uang yang lumayan menurutnya setelah menjual keempat kartu skill kelas ( A ), dia sekarang menggunakan masker dan kacamata untuk menutupi identitasnya di sebuah Skill Card Shop, Kota Excel.
Toko ini mirip sekali dengan supermarket biasa tetapi dengan semua kartu yang berjejer rapi di atas rak, harganya juga beragam mulai dari yang termurah kelas ( F ) sampai yang termahal kartu skill ( A ) kelas.
Evans lalu melihat satu persatu kartu di sana, dia lalu menemukan satu kartu yang membuatnya sedikit tertarik di atas rak, harganya juga cukup terjangkau menurutnya hanya perlu 50.000 koin saja.
"Aku ambil yang ini." Evans segera menuju ke meja kasir.
Lanjut, sekarang Evans menuju ke samping toko dari Skill Card Shop karena murni atas rasa penasarannya sendiri.
Di sana tertulis tanda nama Weapon Shop Kota Excel. Evans tidak tahu apa dia sungguh akan membeli senjata atau tidak, senjata ini mungkin tidak akan pernah digunakan menurutnya.
Setelah berdiri cukup lama di depan toko itu, Evans kemudian mengangguk dan mulai melangkah masuk, bagaimanapun seseorang harus bisa menjaga dirinya sendiri dari semua bahaya maupun musuh-musuhnya.
Butuh waktu satu menit sebelum akhirnya Evans keluar dari toko senjata dan menyimpan senjatanya yang baru dibelinya ke inventori.
Evans melihat beragam senjata yang bagus dan unik, memiliki berbagai senjata tumpul dan senjata yang tajam.
Evans bahkan tidak mengerti bagaimana cara menggunakannya, dia lalu teringat dengan senjata yang digunakan Bam dan Suzi pikirnya akan mudah jika menggunakan senjata yang sejenis sehingga dirinya keluar dengan sebilah pedang di tangan.
Setelah menyelesaikan semua urusannya, Evans mulai bergerak pulang kembali ke Asrama Paguyuban Usaha Tani.
Dalam perjalanannya itu Evans juga melihat sebuah tikar besar yang dijual murah di depan toko dan memutuskan untuk melihat-lihat, "Oh, kurasa sebuah tikar akan membantu."
__ADS_1
.
.
.
"Jadi kau sudah tahu siapa pelakunya?!"
"Maafkan saya Tuan Massa, pelaku masih belum diketahui. Orang itu mengenakan kacamata dan penutup wajah." Seseorang bawahan menunduk.
"Bagaimana orang itu bisa mengetahui letak di mana kartu disembunyikan, bahkan bukunya sendiri berbeda di setiap toko... Lalu, apakah salah satu dari orang kita?" Massa menggigit bibirnya.
Pria sepuh ini adalah Massa Koujiro, Guild Master Moonlight.
Massa memang memiliki tubuh yang sudah menua tetapi tubuhnya masih tetap tegap dan berotot seperti seorang binaragawan, ciri khasnya sendiri adalah kulit coklat matang dan janggut putih panjang yang dielusnya setiap saat.
Massa dan Sam memiliki hubungan yang tidak rukun dan sering terlibat konflik diantara keduanya.
Dulu ada satu insiden besar yang membuat mereka bersitegang dan hampir memecah belah persatuan para player di dalam pulau membuatnya menjadi dua kubu dan saling bermusuhan.
Sebelum insiden itu membesar dan menjadikannya perang sipil, Sam maju dan menantang Massa untuk berduel.
Pertarungan keduanya bahkan berlangsung sampai satu hari dengan kemenangan dari player terkuat Sam dan Massa yang kalah akhirnya terbunuh, dia mendapatkan pinalti pengurangan level dan jatuh menduduki posisi kedua untuk selamanya.
Meski sudah berjuang mati-matian pun Massa tetap tidak pernah bisa mengejar Sam, perbedaan jarak level mereka akan tetap sama bahkan semakin menjauh.
Setelah sekian lama memendam perasaan benci dan dendam, Massa akhirnya kembali beraksi dia mengumpulkan kembali kekuatan, pasukan dan sumberdaya berharga yang lain, bahkan mengajak beberapa guild besar untuk mengikutinya.
Massa mengatakan kepada semua orang jika Sam terus-terusan dibiarkan, maka bisa jadi Sam akan menjadi sosok dewa di dalam Tower, tidak ada lagi yang dapat mengalahkannya di dalam pulau.
Sam akan menjadi penguasa mutlak, seorang Tiran yang kejam dan tidak terkalahkan.
"Cepat temukan player misterius itu, beri pelajaran yang berharga padanya dan tanyakan dari siapa dia mengetahui hal ini." Nada bicara Massa begitu dingin kepada bawahannya.
...***...
Dua hari terlewat, setiap sorenya selepas mereka bekerja di ladang Evans dan Bam pergi kedalam Tower untuk menaikan level hingga malam tiba dan pulang dengan keadaaan menunduk dan menghela napas panjang.
Evans selalu mengajak Bam untuk pergi ke lantai yang lebih tinggi dari lantai mereka berburu saat ini, tetapi Bam menolaknya dan berpikiran untuk menjadi player yang kuat tidak selalu berkaitan dengan level yang tinggi juga namun keterampilan dan teknik juga harus diasah agar meningkat.
__ADS_1
Bam hanya menggeleng kearah Evans paling tidak dia ingin menghabiskan waktu selama sebulan di lantai kedua ini.
Bam hanya mengenal dua senjata yang bisa dia percayai selamanya, ketekunan dan kesabaran.
Prinsip yang Bam gunakan selama sepuluh tahun di dalam Tower, akhirnya berhasil menjadikannya player Tingkat Intermediate awal dengan level 79.
Bam sangat mengerti jika kesabaran dan latihan adalah yang paling banyak meningkatkan keterampilan dari teknik berpedangnya.
Sore hari, mereka kembali masuk ke dalam Tower setelah mengalahkan semua monster di lantai pertama.
Evans dan Bam membayar biaya masuk untuk lantai kedua dan mengulangi proses tersebut.
Di depan Evans sekarang terdapat lima ekor monster mirip seekor kuda tetapi bertanduk satu dan memiliki belang hijau di seluruh badannya, berulang kali mereka menghentakan kakinya ke tanah dan meringkik kearah keduanya, "Ngik... Ngik..."
"Sepertinya mereka adalah monster terkuat dari lantai kedua ini." Bam yang melihatnya hanya tersenyum lebar dan berlari lebih dahulu disusul dengan Evans dari belakang.
"Slash."
Bam berhasil mengalahkan monster terakhir yang mereka buru, satu ekor kuda kini tergeletak tidak bernyawa di atas tanah dan sebuah pedang yang menancap ditubuhnya, tidak terasa hari sudah semakin gelap.
Padahal mereka berada di dalam Tower tetapi langit juga menyesuaikan dengan keadaan di luarnya, Bam berniat mengakhiri perburuan sampai di sini.
Dia kembali menyarungkan pedangnya dan memasukannya kembali ke dalam inventori.
"Tunggu dulu, ada tempat yang ingin aku kunjungi."
"Di mana itu? Asal kau tau aku tidak mau naik ke lantai tiga."
"Kurasa tempatnya sangat dekat." Evans menunjuk kesatu arah membuat Bam berpaling dan mengikuti pentunjuknya.
"Di sana?" Evans hanya mengangguk membenarkannya.
Asalkan tidak pergi ke lantai ketiga maupun di atasnya Bam akan menyetujuinya.
Mereka kemudian langsung bergegas pergi kearah yang ditunjuk dengan Evans yang memimpin di depan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Jangan lupa tinggalkan lah jejak, Ok
__ADS_1
(/¯◡ ‿ ◡)/¯ ~ ┻━┻