Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 42 |


__ADS_3

Chp. 42 Level 6 : Sidang Akbar.


Di sebuah ruangan empat orang sedang berkumpul dan berdiskusi di sana, aura yang dimiliki masing-masing keempat orang ini bukanlah hal yang sering dijumpai di dalam pulau. Mereka terlihat sangat serius membahas suatu masalah di sana.


"Jadi apa yang harus kita lakukan dengan anak buah bodohmu itu, Violet?!" Seorang pria muda dan kecil melirik ke arah perempuan bernama Violet Winston, Guild Master dari Sunny.


"Hah?! Apa maksudmu bocah? Anggota ku masih lebih baik dari guild yang seluruh isinya hanya psikopat gila. Apa ya namanya itu? Um..." Violet melirik kearah pria muda yang perawakannya persis seorang bocah, "Oh! Aku ingat The... Psikopat?"


Pria kecil itu langsung melotot kearah Violet, melihatnya juga membuat Violet langsung merespon hal yang sama, sampai sebelum akhirnya mereka semakin serius tiba-tiba suara yang gagah muncul menengahi keduanya.


"Hentikanlah kalian berdua!" Pria itu menoleh kearah keduanya yang juga ikut melotot untuk menghentikan sikap mereka, meskipun tidak digubris oleh keduanya dan terlihat masih ingin melanjutkannya, pria yang sedang menengahi mereka hanya menghela napas.


"Violet! Peter! Apa kalian masih akan meneruskannya? Kalau begitu lakukanlah di luar-!!!" Kali ini suara yang sangat berat keluar dari pria berambut warna kuning, membuat situasi di ruangan seketika menjadi hening.


"Saya minta maaf, Sam."


"Maafkan Aku, Tuan Sam."


Peter dan Violet meminta maaf di waktu yang bersamaan, hanya satu orang yang sangat mereka takuti saat ini dan orang itu sekarang berada dihadapan mereka, Sammuel Jefferson.


"Sudahlah, lalu benarkah player ini mengetahui rahasia kita semua?" Sam menatap langsung mata Violet.


"Maafkan atas kelalaian saya, sungguh saya tidak pernah mengira akan berakhir seperti ini." Violet bercerita dengan cemas dan menunduk takut menatap wajah Sam.


Sam yang mendengarnya serasa mau meledak sampai urat-urat di kepalanya terlihat, tetapi Sam berhasil menahan amarahnya dengan hanya menghela napas sangat panjang.


"Sepertinya kita tidak ada pilihan lain." Sam menggelengkan kepalanya dan beralih pada seorang pria gagah disisinya, "Lalu bagaimana dengan situasi mu sekarang, David?"


"Maafkan saya Tuan Sam, semuanya masih membutuhkan waktu untuk dapat mengambilalih Moonlight Guild, Tua Bangka itu ternyata masih memiliki bantuan di belakangnya." David bercerita dengan gemetaran.


"Baiklah kalau begitu, sepertinya Aku harus turun tangan langsung kali ini, membunuh dua burung dengan satu batu? hahaha." Sam tertawa dengan keras, setelahnya dia berdiri dan membuat ketiga orang lainnya juga mengikutinya.

__ADS_1


Ketiga orang ini adalah Violet Winston, Peter Joh, dan David Erenheit ikut berdiri. Mereka bertiga bertanya-tanya apa yang sedang dipikirkan oleh Sam saat ini.


...***...


Seminggu telah berlalu sejak ditangkapnya Jun Ichiro. Sekarang Kota Justice sangat ramai karena Persidangan Akbar yang akan diberlangsungkan mulai hari ini.


"Peradilan Akbar", pengadilan yang di gelar di depan publik secara langsung dan terbuka sangat terkenal di dalam pulau.


Peradilan Akbar sangat langka terjadi, hanya kasus yang benar-benar penting dan mendesak yang dibahas di sini.


Peradilan Akbar ini sangatlah unik karena disaksikan langsung bahkan dinilai oleh semua Guild Master dari Guild Besar.


Enam Orang Guild Master akan menentukan hukuman perkara, bersalah dan tidak bersalahnya seseorang bahkan hidup orang itu di dalam pulau.


Ruangan yang sangat besar dan luas, sekarang dibanjiri berbagai orang mulai dari wartawan, jurnalis dan orang-orang yang penasaran ingin menontonnya.


Terlihat Bam dan beberapa orang dari Paguyuban Usaha Tani duduk di kursi yang disediakan berseberangan dengan tempat duduk dari beberapa orang anggota Sunny Guild.


"Di mana sebenarnya Evans, kenapa dia malah tidak terlihat sekarang." Hendra melihat ke sekelilingnya untuk mencari-cari sosoknya.


"Hmph! Bocah ini..." Hendra menggigit bibirnya sendiri bersumpah akan memberikan hukuman nantinya.


Anton hanya menghela napas dan menggeleng, bagaimanapun dia sudah menebak akan begini jadinya, sedangkan Didi, "Evans berkali-kali terlambat, bukankah ini hal yang wajar."


"Benar baru pertama kali ini Aku setuju dengan Didi. Tetapi Evans bukannya terlambat, dia selalu datang tepat pada waktunya. Lihat saja nanti." Riza menganggukkan kepalanya.


Setiap ada janji untuk berkumpul dan setiap waktu mereka bekerja, Evans selalu datang tepat waktu tidak kurang dan lebih saat itu juga.


Kemungkinan hanya Riza seorang yang mengetahui hal ini, dia sangat menghormati Evans begitu menyadarinya, "Mhm! Dia adalah seorang pria yang memegang janjinya."


"Kau benar, kenapa Kita baru mengetahuinya sekarang?" Anton dengan yang lainnya kemudian memiringkan kepalanya, mereka setuju dengan apa yang dikatakan Riza setelah mengingat kembali jam kedatangan Evans yang selalu tepat waktu.

__ADS_1


"Tetapi bukannya ini sidang yang sangat penting untuk kita, kenapa dia harus datang tepat waktu di saat seperti ini?" Didi menaikan alisnya dengan menatap Riza, dia murni bertanya karena rasa penasaran.


.


.


.


"Evans terlambat!" Gumam semua orang, sekarang Evans sungguhan terlambat biarpun baru kali ini terjadi. Belum sempat mereka untuk mengeluh, pikiran semua orang lekas teralihkan pada seseorang.


Seseorang yang sangat tinggi hampir dua meter tingginya dan berkulit coklat, tubuhnya sangat ramping sedang berjalan ketengah ruangan memberi salam kepada semua orang dan menertibkan semua orang di dalam ruang persidangan agar tidak berisik dan menjaga sikapnya.


Orang ini juga membacakan peraturan persidangan dengan sangat baik sebelum berbalik pergi membukakan sebuah pintu yang sangat besar di belakangnya.


Sontak bunyi suara derit pintu mulai keluar, semua mata memandang kearah pintu yang mengeluarkan cahaya silau ini dengan melongo terpana.


Enam orang yang sangat mereka kenal keluar dari pintu, mereka berjalan dengan elegan dan mempesona setiap orang yang memandangnya.


Keenam orang itu berjalan layaknya seorang bangsawan kelas atas bahkan pakaiannya juga mengikuti.


Mereka semua adalah Guild Master sekaligus player terkuat di dalam pulau, terdiri dari empat orang pria dan dua wanita sering dikenali sebagai First Generation.


**


"Vincent, darimana saja kau dalam seminggu ini, Hah?!"


"Apa maksudmu, Si Sam itu tidak memberitahu kalian? Aku terluka karena Si Tua Bangka Brengs*k itu!" Vincent Adney, Guild Master dari Silver Gold. Memiliki tinggi lebih dari dua meter dan selalu berjalan membungkuk, rambutnya entah kenapa selalu naik ke atas dan berwarna gelap.


"Oh, kukira kau hanya bermalas-malasan. Karena itu adalah kerjaanmu setiap hari!" Peter Joh menunjukan taringnya, keduanya kemudian mulai berdebat.


"Ssst. Hentikan kalian berdua kita sedang berada di publik jangan berbicara lebih jauh lagi."

__ADS_1


Violet Winston kemudian menengahi dalam pembicaraan pelan mereka, sebelum akhirnya mereka berenam duduk di tengah-tengah ruangan besar.


Ruangan besar ini adalah sebuah markas utama dari Moonlight Guild dan biasanya para player memanggilnya sebagai House of All : The White House.


__ADS_2