Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 56 |


__ADS_3

Chp. 56 Level 9 : Aku Tidak Peduli.


"Kita sampai, di sinilah tempat kita akan menginap sampai Asrama selesai dibangun. Yah... Kurasa kita akan berada di sini beberapa bulan, jadi mulailah terbiasa."


Hendra menuntun Evans ke daerah pinggiran pucuk dari Paguyuban Usaha Tani atau ujung dari pulau.


Banyak tenda-tenda yang berukuran besar berdiri dan ada beberapa yang masih dalam proses, mereka membangunnya beberapa meter saja dari tepi pantai.


Karena di dalam pulau dikelilingi dengan penghalang yang tidak terlihat, mereka bisa beristirahat dengan tenang tanpa memikirkan jika tiba-tiba datang tsunami atau gelombang pasang dari laut.


Evans dengan ditemani Hendra masuk ke dalam tenda yang paling besar di sana.


Beberapa orang mulai berdatangan saat melihat kedatangan Hendra dengan Evans di belakangnya, mereka bergantian memberikan salam kepada keduanya dan menanyakan kabar tentang Evans.


Mereka semua telah mengetahui kabar dari Evans melalui Lan Suzi.


"Kau mati sampai dua kali? Bahkan Kami saja masih belum pernah mengalaminya hahaha."


"Hei, Hei, kau masih waras kan? Lebih baik kau pergi ke Rumah Sakit untuk dirawat sebentar di sana."


"Jangan terlalu memaksakan diri kau bisa beristirahat saja di sini kemarilah." Seorang perempuan yang lebih tua dari Evans terlihat sangat khawatir dengan keadaan Evans dan menawarkannya untuk berbaring dan beristirahat di sana, kebetulan di dekatnya terdapat sebuah ranjang tempat tidur.


Tanpa menunggu jawaban dari Evans perempuan tadi langsung menariknya ke tempat tidur dan mencoba untuk membaringkannya, hasilnya Evans sekarang terbaring dan merasakan dahinya diusap lembut berulang kali.


Perempuan itu terlihat tertawa kecil saat mengusapnya.


"Ah! Sialan kau Evans! Grrr-!"


"Bocah ini! Kenapa dia bisa sangat beruntung sampai mendapatkan perlakuan seperti itu. Urggh!"


"Kalian diam lah, jangan mengganggu orang yang sedang beristirahat!" Raut wajah perempuan itu berubah menjadi marah saat mendengarkan semua pria di sana berisik sendiri.


Evans yang mendapatkan banyak tatapan membunuh dari orang-orang di sekitarnya kemudian memilih diam dan menghiraukannya.


Hendra yang juga melihat hal ini tidak ada urusan lagi di sana dan memilih untuk pergi.


Evans awalnya ingin menolak dan tidak bermaksud untuk beristirahat, bagaimanapun dia harus segera pergi dan berbicara dengan Lan Suzi.


Evans perlu bertanya mengenai beberapa hal tetapi setelah kepalanya menyentuh ranjang, dirinya merasakan berkunang-kunang dan perlahan menguap.


"Ah, Alamak... Dia tertidur hihihi." Perempuan ini tersenyum puas setelah melihat tangannya berhasil membuat Evans terlelap.


"Jangan tidur kau sialan!" Batin semua pria yang berada di sana.


.


.


.

__ADS_1


Evans sekarang membuka salah satu matanya dengan perlahan dan menemukan sepasang mata yang mengintainya terus menerus.


"Apa yang sedang kau lakukan?" Lan Suzi tiba-tiba saja muncul dan mengangetkan Evans.


"Aku berencana menemui mu." Selepas Evans mengatakannya dia kemudian mengusap matanya dan mencoba untuk berdiri.


"Haa... Bagaimana kau bisa tertidur setelah melalui hal seperti itu? Bukankah kau seharusnya yang paling memikirkan Bam."


"Kenapa aku harus begitu."


"Kenapa kau bilang? Kau ini..."


Lan Suzi hanya menghela napas saat mendengarkan bahkan dirinya sampai memijat keningnya tetapi Evans terlihat berbeda, dia melihat ke sekitar sebelum mengatakan hal yang ada dalam pikirannya.


"Aku hanya mengenalnya selama sebulan, bahkan tanpa alasan yang jelas dia menebas ku dari belakang. Bam bahkan menghancurkan Paguyuban Usaha Tani tempatnya tinggalnya selama sepuluh tahun, lalu harus bagaimana lagi aku bersikap."


Lan Suzi menganga mulutnya setelah mendengarkan Evans, dirinya tidak menyangka jika kata-kata seperti itu akan muncul darinya.


"Kau! Dia adalah Bam loh, kau jangan bersikap seolah tidak mengenalnya."


"Aku hanya mengatakan kebenarannya."


Lan Suzi terlihat menunduk, tubuhnya sekarang bergetaran karena menahan amarah.


Lan Suzi terlihat sedang meresapi perkataan Evans cukup lama, tetapi dirinya tetap bersikeras untuk menolong Bam.


Setelah cukup lama Lan Suzi terdiam, dia pergi berbalik dan meninggalkan Evans di sana.


Keesokannya Evans bersiap untuk pergi keluar setelah selesai menutup kepalanya menggunakan tudung hoodie.


Pemandangan yang dilihatnya setelah membuka tenda pertama kali adalah orang-orang dari Paguyuban Usaha Tani.


Evans melihat semua orang sedang berkumpul dan mengobrol di depan tenda.


Setelah cukup lama Evans berdiri di sana tiba-tiba terdengar suara seseorang dari belakang.


"Apakah kalian semua sudah siap?" Dengan suaranya itu Hendra berhasil membuat semua orang untuk diam mendengarkan, "Mari kita pergi dan menjemput anggota keluarga kita yang lainnya."


"Ya Ya!"


"Ayo Kita pergi dan berikan mereka semua sambutan yang meriah!"


Semua orang tampak bersemangat dan antusias sekali, mereka tidak sabar lagi untuk bertemu dengan saudaranya.


Evans juga sedikit penasaran dengan kemana perginya trio bersaudara itu, semoga saja mereka tidak dibawa pergi bersama Bam.


.


.

__ADS_1


.


Sore itu cuaca sangat mendung dengan suhu udara yang sangat dingin menusuk kulit mereka.


Setelah mencapai gerbang masuk Paguyuban Usaha Tani. Mereka bertemu dengan sekelompok penjaga dari The Executor Guild.


Mereka sedang mendapatkan tugas untuk mengawal dan mengawasi semua orang yang ada di Paguyuban Usaha Tani selama beberapa minggu ke depan.


Melindungi semua orang sampai dua puluh empat jam dan sudah di mulai sejak kemarin.


Para penjaga ini menundukkan kepalanya saat melihat Hendra, "Kami akan pergi keluar untuk sebentar, tolong jaga paguyuban sampai kami kembali."


Para penjaga ini mengangguk dan menerimanya begitu saja.


Mereka juga tidak bertanya atau pun penasaran akan pergi kemana orang-orang ini kepada Hendra, mereka sama sekali tidak peduli akan hal itu.


Di depan gerbang Evans melihat beberapa orang yang mencurigakan di sana, setelah mendekat dirinya mengetahui jika mereka semua adalah orang-orang yang berasal dari industri berita.


Mereka semua adalah bagian dari broadcasting, sehingga setelah Evans dan yang lainnya berjalan pergi keluar banyak sekali cahaya silau yang berkali-kali menyala dan mati.


"Lagi-lagi mereka? Bagaimana bisa banyak kejadian besar yang berkaitan pada mereka."


"Apa yang sebenarnya terjadi pada organisasi kecil ini, padahal semua penghuninya hanyalah job petani."


Itulah beberapa pemikiran dari orang-orang yang sedang berkumpul di depan gerbang dari Paguyuban Usaha Tani.


Semua orang menatap ke tanah dengan wajah yang tertunduk, hanya Evans sendiri yang masih tetap berjalan dengan santainya di sana.


...***...


Terjadi suatu kejadian sesudah Sidang Akbar selesai tepatnya sebelum Jun Ichiro akan di tahan.


Massa Koujiro dengan kelima orang Guild Master sedang berkumpul, mereka berada di salah satu ruangan di White House.


Violet Winston yang pertama kali mengawali, "Apa-apaan ini David kenapa kau diam saja dan tidak membuat keputusan, kenapa harus Tuan Sam yang melakukannya!" Violet menatap marah kearah muka Massa Koujiro.


Aslinya Violet ingin protes kepada Sam, tetapi dia tidak berani dan tidak mungkin begitu kepada orang yang dapat dengan mudahnya membunuhnya kapanpun yang dia inginkan.


Violet kemudian hanya mampu melampiaskannya kepada orang yang ada di hadapannya.


"Aku tidak tahu, tapi ini semua sudah keputusan dari Master." Master yang ditunjuk di sini adalah Sam.


"Sudah, sudah, kalian berdua tenanglah. Tidak ada siapapun yang bersalah di sini." Suara yang sangat imut keluar dari wanita berumur dua puluhan lebih sedikit, dia adalah Ayeong Ara Guild Master dari Paradise.


"Ayeong benar, bisa berakhir sampai seperti ini penyebabnya sendiri adalah kekasih gelap mu itu. Jika kita masih tetap pada rencana yang awal kurasa semua ini tidak akan pernah terjadi!" Suara Peter Joh terdengar kesal karena guild nya ikut tercoreng nama baiknya.


"Peter kurasa kau juga terlalu berlebihan dengan mengirimkan anak buah mu seperti itu. Mereka semua memiliki posisi yang penting, 'kan?"


Massa kemudian menaikan salah satu alisnya pada Peter Joh, membuat bocah kecil itu kemudian mengalihkan wajahnya dan mendengus kesal.

__ADS_1


"Aku hanya mengikuti ciri-ciri lawan yang disebutkan oleh si bodoh Jun Ichiro itu." Peter Joh lalu membuat kecut wajahnya.


__ADS_2