
Chp. 18 Level 1 : Dunia Baru.
Evans hanya mampu melihat kesekitar sudah tiga puluh menit dia berada di sana tetapi tidak ada apapun yang terjadi. Evans sekarang berada di dalam kegelapan gua sendirian di sana.
Tubuh Evans yang mulai memudar, mengeluarkan cahaya biru terang di setengah tubuhnya yang tersisa, lubang yang bercahaya karena anggota tubuhnya yang tidak lengkap mengeluarkan banyak sekali butiran cahaya.
Dia mendapatkan bayaran yang besar, setimpal dengan melawan Boss Monster level 0.
Evans tidak dapat bangun apalagi untuk bergerak. Dia hanya dapat menghela napas dan berpikir kapan ini semua akan berakhir.
Tepat saat Evans memejamkan mata tiba-tiba dia merasakan seolah tubuhnya ditarik keatas, bersamaan dengan matanya yang terbuka dia menemukan dirinya kini berada di aula besar Katedral.
Tepatnya Evans sekarang berada di pojokan sisi tembok Katedral dengan dalam keadaan posisi berdiri. Evans tersenyum mendapati anggota tubuhnya yang masih lengkap dan bugar seperti biasa.
Sistem memang luar biasa, tetapi hanya satu yang kurang sistem tidak dapat memulihkan pakaian yang dikenakan, sehingga dirinya dengan cepat menjadi tontonan ratusan orang yang ada didekatnya.
"Hei, kau sangat keren bro." Seorang player pria mengacungkan jempolnya.
"Woo, Kau sungguh pria sejati."
"Dasar sinting-!" Seorang lagi mengumpat ke arahnya.
Evans diejek dan menjadi bulan-bulanan para player pria di sana. Tetapi untuk para player wanita. Mereka sebagian menutup matanya, dan ada juga yang membuka mata dan tersenyum.
"Kyaaa-!"
"Mesum-!"
"Bodoh-!"
"Mati sana-!"
Mereka saling berteriak dan ribut saat melihat Evans bertelanjang bulat, meskipun Evans sudah dengan cepat berbalik kebelakang dan menutupinya.
Evans sedikit penasaran apakah respon mereka masih tetap sama atau berbeda jika melihat pria yang ada hadapan mereka memiliki tubuh sixpack dan wajah yang tampan.
Belum sempat Evans berpikir, dia melihat dua orang yang sedang berlarian kearahnya mereka adalah dua temannya, Eric dan Jeff.
Jeff yang melihat Evans dalam keadaan seperti itu mulai membuka celananya menyisakan sepotong boxer hitam ketat miliknya.
"Ini, cepat, pakailah!"
Jeff melemparkannya kepada Evans, dan Evans menyambutnya setelah berterimakasih kepada Jeff.
__ADS_1
Jeff yang mendengar hal itu tidak merasa senang malah Eric lah yang paling merasa senang dari ini semua.
"Gyahaha. Kau bod-- Aw!" Jeff menjitak kepala Eric dan membuatnya meringis kesakitan.
**
Setelah kelompok Evans menjadi pusat perhatian, para player di sekitar memilih untuk menjauh.
Orang-orang yang menyaksikan mereka, berpikiran pasti ada yang salah pada otak mereka dan tidak ingin terlibat.
Bagaimana tidak pasalnya tiga orang itu malah makin memperjelasnya.
Seorang yang tidak berbusana dia memiliki pembawaan yang tenang dan wajah yang datar, karenanya membuat semua orang berpikir apakah dirinya memang sudah terbiasa diperlakukan seperti itu. Evans berakhir dicap mesum oleh mereka.
Dia hanya dengan cepat menutupi bagian kehormatannya dan bersikap biasa, bahkan saat ditertawakan pun dia masih tetap tenang.
Satu orang lagi terlihat menertawakan temannya bahkan sampai memegangi perutnya dan mengusap air yang keluar dari matanya.
Satu orang yang lain dengan boxer nya menghampiri setiap orang yang melihat dan mencoba untuk memberikan penjelasan tetapi berakhir dengan penolakan setiap orang.
"Kyahh-!"
"Hush-hush."
Jeff yang sadar dengan sikap orang-orang di sekitarnya mencoba memperbaiki hal itu, tetapi jika bukan karena boxer nya Jeff pasti akan lebih mudah untuk dipercaya.
Semua orang memang menganggap kelompok Evans sinting tetapi jika mereka tahu bahwa ketiganya adalah
"Highest Top Ten Player Score Level 0".
Mereka akan bersikap baik atau setidaknya diam dan pergi begitu saja.
Apalagi salah satu dari mereka mendapatkan tempat pertama. Jelas pengaruh seperti apa yang akan mereka buat kedepannya. Mereka akan langsung direkrut enam guild besar dan hidup enak di sana.
Berlatih dan fokus membantu menaklukan Tower.
**
Jeff kemudian menanyakan tentang rank Evans yang membuat Eric penasaran dan juga ikut mendengarkan.
Mereka berdua penasaran bagaimana Evans mendapat Skor 1.000 hanya dalam waktu beberapa menit, juga bagaimana cara Evans untuk menemukan Boss Monster lantai nol yang baru para player tahu ini.
"Ev, bagaimana Kau bisa mendapatkan skor seperti itu?" Jeff menaikan salah satu alisnya.
__ADS_1
"Jika seperti biasa Kau bilang semua itu adalah kebetulan, maka awas saja..." Eric membuat suara gemeretakan di tangannya.
Evans awalnya ragu untuk bercerita tetapi melihat dua temannya sangat penasaran, Evans tidak ada pilihan lain dia mulai berbicara apa adanya pada keduanya.
"Tidak ada yang spesial." jawab Evans.
Evans bercerita tentang dirinya yang berkeliling dan menemukan sebuah lubang yang besar, Evans lantas mulai masuk ke dalamnya dan bertarung dengan Boss Monster.
Eric dan Jeff fokus mendengarkan cerita Evans yang hanya dalam puluhan detik itu, Evans bercerita tentang gambaran besarnya saja selebihnya tentang aura dan cahaya ungu dia simpan untuk dirinya sendiri.
Evans tidak nyaman jika menceritakan tentang dirinya jadi jika ada pilihan untuk diam dia pasti akan memilih diam tapi jika terpaksa dia hanya akan menceritakan bagian intinya saja.
Katedral hanya memiliki satu pintu masuk, meski hanya satu tetapi pintu itu sangat besar dan tinggi seolah ditunjukan untuk raksasa.
Tiba-tiba suara berderik khas pintu terdengar dari sana.
Pintu Katedral yang bersinar dan perlahan memancarkan cahaya dari luar memperlihatkan pemandangan sebuah kota.
Katedral sendiri adalah salah satu bagian dari Tower yang paling dasar, dan berada di tengah-tengah pulau.
Kota-kota di sana berbaris membentuk lingkaran dan mengelilingi Tower, semua orang yang baru pertama melihatnya tidak akan percaya jika seluruh kota itu adalah ciptaan dari para penduduk di sana.
Tetapi yang hidup di sana bukanlah penduduk biasa ataupun manusia biasa, mereka semua adalah para player yang sudah hidup selama 20 tahun di sana dengan bantuan dari sistem.
Dengan 1 Miliar di dalamnya mereka berhasil membuat sebuah peradaban. Mereka juga membuat kota yang unik seperti dalam game dan tidak lupa juga dengan sentuhan modern seperti cafe, grandmall dan masih banyak lagi.
Semua player perlahan keluar dari Katedral tidak ada dari mereka yang tergesa dan saling mendorong, mereka hanya berbaris rapi dan berjalan seperti biasa.
Dalam hati semua orang campur aduk, mereka merasakan tidak nyaman dan takut, setengahnya lagi malah merasakan penasaran. Memang menakutkan jika mereka harus hidup di dalamnya seumur hidup, tapi mereka tidak memiliki pilihan lain takdirlah yang membuat mereka seperti ini.
"Cekrek... Cekrek."
Semua orang memejamkan matanya melihat asal cahaya bukan dari matahari luar tetapi dari benda kecil hitam yang memiliki lensa.
Pemandangan yang pertama kali dilihat Evans dan para player yang keluar adalah kumpulan kilatan cahaya. Sejumlah orang yang berkumpul di sana memotret para player baru (Newbie) setiap langkah mereka keluar dari Katedral.
"Cekrek... Cekrek."
"Cekrek... Cekrek."
"Apa ini?! Kenapa sangat ramai?" Kata satu player dibarisan depan.
"Ugh, silaunya-!"
__ADS_1
"Kenapa ada banyak wartawan dan reporter, kenapa mereka semua berkumpul di sini?!"