
Chp. 86 Level 12 : Menuju Tower Lantai Sepuluh(20) - Evans vs Laurent(6).
Evans keluar dari kolam air panas yang dangkal itu, dia secepatnya mengambil udara masuk ke dalam paru-parunya. Sesekali Evans juga terbatuk-batuk kecil karena sudah menelan sedikit air di dalam kolam.
Dengan napas yang memburu, Evans kembali tersadar, dia lalu sedikit mengernyitkan keningnya dan penasaran di mana sebenarnya dia berada sekarang.
Evans melirik ke sana kemari pemandangan yang dilihatnya hanya perempuan-perempuan yang tidak mengenakan busana dan sedang mengelilinginya.
Mereka yang melihat Evans sontak langsung berteriak dan berlari kecuali satu orang.
Evans yang melihatnya kemudian sedikit menaikan salah satu alisnya, tetapi dia kemudian tidak peduli dan melepaskan masker gas nya karena ini adalah satu-satunya kesempatan baginya, membiarkan cukup satu orang perempuan melihat wajahnya tidak akan jadi masalah baginya.
Evans kemudian mengambil banyak botol potion dari layar inventorinya dan mulai menenggaknya satu persatu, dia sekarang sudah menghabiskan lima botol potion dan melirik orang yang ada di sampingnya.
Apa yang sebenarnya dipikirkan perempuan ini, sedari tadi dia tetap diam saat bertemu dengan Evans.
"Kau pergilah di sini tidak aman, di luar sedang terjadi kerusuhan yang besar."
Perempuan itu masih tetap diam saja, Evans yang masih menenggak potion keenamnya kemudian mencubit pipi lembut perempuan yang memiliki usia sebaya dengannya itu.
"Si, Siapa kau! Berani-beraninya masuk ke pemandian air panas perempuan. Apa kau sudah gila?! Kyaaah-!" Luna yang tersadar kemudian panik dan menutupi tubuhnya menggunakan tangannya.
"Ka-Kau sudah melihat semuanya? Apa kau melihat... Grrr!" Luna dengan matanya yang berair kemudian menatap marah wajah Evans.
Evans yang melihatnya sudah tersadar kemudian menjadi tidak peduli, dia berjalan kearah tombak yang menancap di dekatnya dan bersiap menariknya.
Luna yang melihat Evans menghiraukannya kemudian bertambah marah dan berteriak sejadinya di sana.
Evans yang sekarang sudah mengenakan masker gas nya kemudian sedikit melotot kearah Luna, "Kau berisik sekali, cepatlah keluar dari sini. Sebentar lagi dia akan tiba..." Evans merasakan keberadaan seseorang yang semakin mendekat.
"Hah?! Apa maksudmu sialan. Kau jangan bodoh-- kyaaa!" Luna yang merasakan angin sangat kencang menerpanya dan sebuah ledakan yang kembali terjadi di dalam kolam, kemudian berbalik untuk melihat apa yang sedang terjadi.
"Ada apa ini?" Luna mengerutkan dahinya saat melihat seseorang berdiri di sana dengan memegang senjata yang mirip sebuah panah.
"Hm? Dimana kita ini sekarang? Sebuah pemandian air panas... Aku tidak tahu jika kita bertarung sampai di sini hahaha." Laurent tersenyum lebar saat melihat Evans yang masih baik-baik saja.
"Luar biasa dia memang seorang monster. Sejauh mana kekuatannya itu. Padahal tadi aku sudah menusuknya dengan sangat kuat." Laurent terkekeh melihat Evans yang masih baik-baik saja menerima serangannya yang terakhir.
Luna yang melihat seorang pria bertubuh tinggi dan kekar dengan sebuah masker gas hitam dengan tiga buah lubang itu hanya merinding ketakutan.
__ADS_1
"Sekarang pergilah dari sini. Aku akan menahannya."
Luna yang melihat Evans sudah ada di depannya dan mencoba untuk melindunginya lalu melambaikan tangannya ke belakang.
"Jangan bodoh kita harus pergi dari sini, dia bukan tandinganmu. Kau hanya seorang bocah yang sama sepertiku." Wajah Luna berubah menjadi pucat, pria yang ada di hadapannya bukan lah sembarangan orang.
Auranya begitu besar dan menakutkan bagi Luna.
Evans yang mendengarnya hanya terdiam dan tidak membalasnya.
"Hei, kau pergilah dari sana aku hanya punya urusan dengan bocah yang ada di depanmu." Laurent mengarahkan senjatanya kepada Evans.
"Ti-Tidak bisa apa yang akan kau lakukan kepadanya."
"Kau tidak mengerti apapun dia bukan lah seorang bocah seperti yang kau kira, jadi cepat pergilah dari sana."
Luna yang mendengarkan kemudian menjadi kebingungan dengan maksud Laurent, "Ta-Tapi..." Dia hanya bersembunyi di balik punggung Evans.
Laurent yang melihatnya ragu dan tidak percaya kepadanya segera membutikannya dengan berlari kearah Evans.
"Trang." Kedua senjata mereka bertemu, mereka berdua saling menekan satu sama lain dengan kekuatan yang sama.
"Kau lihat sendiri, kan? Pergilah dari sini hahaha. Benarkan, kau juga akan nyaman seperti itu kan?" Laurent menatap kearah Evans yang masih terdiam.
Luna yang melihatnya hanya mengernyitkan keningnya, seberapa kuat serangan mereka berdua sampai bisa menghasilkan percikan api seperti itu.
"Trang." Keduanya lalu mundur jauh kebelakang.
Beberapa detik kemudian Evans kembali menyerang Laurent dengan cepat dan memberikan beberapa serangan kepadanya. Keduanya bertarung dengan sengit menggunakan senjatanya masing-masing.
"Trang."
"Trang."
"Trang."
Evans sesekali melihat kebelakang, di sana Luna hanya melihat keduanya dengan tatapan kosong tidak percaya sampai suatu ketika suara seseorang menyadarkannya.
"Kumohon pergilah dari sana."
__ADS_1
Luna yang mendengarnya hanya menaikan kedua alisnya, suara dari siapakah itu. Luna kemudian terbelalak saat melihat aura Evans menjadi berbeda, dia lalu segera bangkit dari duduknya dan berlari keluar.
Luna kemudian mengambil pakaiannya di loker dan mengenakannya dengan cepat, dia sangat terkejut setelah keluar dari gedung fasilitas pemandian air panas.
Pemandangan di lantai keenam sudah menjadi berbeda sangat jauh dari sebelumnya, tidak lagi sama seperti saat dirinya pertama kali menginjakan kaki di sini.
Banyak sekali gedung, pondok kayu, perkemahan dan hutan yang asri menjadi tidak berbentuk lagi. Mereka semua terbakar dan beberapa ada yang hancur.
Luna hanya menahan napas dan terguncang melihatnya.
.
.
.
"Trang."
Evans terdorong mundur beberapa langkah kebelakang sembari menyeret air panas di bawahnya. Medan pertempuran kali ini sangat basah dan licin karena air di kolam, pergerakan mereka menjadi terganggu dan sedikit terhambat.
"Bertarung di atas kolam pemandian air panas baru pertama kali aku melakukannya. Bagaimana denganmu?"
Evans hanya terdiam dan tidak menjawab, dia hanya menenangkan napasnya yang mulai memburu dari mulutnya.
"Akhirnya aku akan bisa melihat batasanmu. Bertarung sejauh ini sudah sangat luar biasa kau tahu?" Laurent menyeringai menatap wajah Evans.
"Apakah kau tidak penasaran level berapa aku itu sebenarnya?" Laurent melihat dengan teliti wajah Evans tetapi tidak ada yang berubah darinya, "Kau benar-benar bocah yang menarik."
.
.
.
Seseorang kakek tua melihat keduanya dari posisi yang sangat jauh diatas gedung yang setengah roboh, dia hanya berdecak kagum melihat Evans.
"Sekarang sepertinya pertarungan akan segera berakhir. Bocah itu sudah melampaui harapanku, tidak sedari awal dia memakai skill kelas ( A ) yang sangat berat itu sudah memikatku.
Sejauh mana anak itu akan berkembang nantinya, aku sangat menantikannya hohoho. Sayangnya bocah itu sama sekali bukan tandingan dari Laurent.
__ADS_1
Tetapi ada yang aneh darinya, dia... Seperti kehilangan sesuatu..."
+++++