Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 17 |


__ADS_3

Chp. 17 Level 0 : Boss Monster(2).


Gunung tandus itu sebenarnya berbentuk mirip bukit bukan gunung, tetapi tidak pantas untuk di sebut bukit dengan tinggi dan besarnya.


Evans yang berpikiran jika Jeff dan Eric yang masih belum selesai kemudian memberanikan diri untuk mendaki gunung itu.


Cahaya ungu yang keluar dari gunung tandus itu semakin meredup setiap kali Evans berjalan mendekatinya. Setiap langkahnya Evans mengamati bukit tandus itu lebih teliti, bukit itu nampak seperti hanya batu-batu yang disusun dengan tingginya.


Tidak butuh waktu lama Evans berhasil mencapai puncaknya dan melihat cahaya ungu itu berubah menjadi seperti aura.


Aura itu terlihat semakin mengecil dan bahkan hampir menghilang sekarang. Evans kemudian menatap penasaran dengan sebuah lubang yang ada di atas bukit itu.


Lubang itu mengeluarkan aura ungu yang tipis dan semakin menipis saat Evans hendak menyentuhnya. Aura itu menghilang dan hanya menyisakan sebuah lubang besar berdiameter sekitar 4 meter.


Air berwarna biru muda terlihat menggumpal di dalamnya seakan seperti sebuah jeli. Evans mengerutkan dahinya karena air itu juga mengeluarkan sebuah lendir. Air itu sesekali berguncang mirip sebuah agar-agar saat di sentuhnya.


Padatnya, Air biru ini sangat padat tetapi masih bisa untuk di tembus, pikir Evans.


Di dalam air itu Evans melihat sebuah bola kecil dan mengambang di tengahnya. Bola itu dikelilingi oleh serabut-serabut berwarna biru tua, serabut itu juga bercabang dan menjalar keseluruh ruangan.


Evans menatap bola itu dengan cukup lama sampai akhirnya dia memilih menyelam ke dalamnya karena penasaran.


Evans sekarang berdiri di atas air itu dan mulai menyelam menggunakan pedangnya, membuat lubang sedikit demi sedikit dan turun ke bawah.


Evans terlihat kesulitan untuk membuka jalurnya, air itu selalu memantulkan pedangnya berkali-kali dan perlahan mencoba menutup. Melihat lubang yang dibuatnya mulai menutup Evans memacu lebih cepat pedangnya.


Setelah puluhan serangan Evans berhasil mencapai kedalaman dua meter tetapi sayangnya lubang yang dibuatnya paling atas menutup sedetik kemudian, dan perlahan menutup sampai menghimpitnya.


Lubang yang ditutupnya juga berhasil menahan oksigen dari luar. Melihat hal itu Evans mengambil napas panjang sampai membuat bulat kedua pipinya sebelum ruang oksigennya tertutup dengan sempurna.


Evans yang tetap tenang kemudian melanjutkan pekerjaannya, dia menebas untuk memaksa masuk. Sesampainya di seperempat jalan Evans mulai merasakan panas di seluruh tubuhnya, perasaan Evans menjadi buruk saat itu juga.


Tetapi Evans tetap masih meneruskannya dan memaksa masuk. Perasaan Evans terbukti benar saat melihat pakaian yang dikenakan. Seragam SMP-nya meleleh seiring waktu dan semakin dalamnya dia masuk.


Air ini bukan hanya padat tapi juga korosif. Evans yang mengetahuinya kemudian semakin mempercepat aksinya tubuhnya juga mulai dihimpit tekanan dari luar, perlahan tapi pasti Evans merangkak seperti ulat.


Semua pakaian Evans akhirnya lenyap tanpa sisa setelah mencapai setengah kedalaman dari lubang itu.


Mata Evans sedikit menyipit menahan perihnya zat korosif dan kulitnya juga mulai berubah warna karena terbakar zat itu.


Senjata yang dia gunakan juga semakin rapuh karena perlahan habis dimakan, setelah satu sampai dua ayunan pedangnya mulai memberikan tanda akan hancur sedikit demi sedikit, dan kemudian Evans memilih menyimpannya masuk ke dalam [ Inventori ].


Sekarang Evans hanya dapat menggunakan tangannya untuk memaksa masuk, membuka lubang dengan menyobek kedua sisinya.


Karena sudah terlalu dalam Evans menyelam tidak ada jalan kembali baginya.


Setelah sepuluh menit menyelam, Evans tersenyum tipis melihat tangan kanannya yang hampir saja meraih bola itu dan menggenggamnya, namun tiba-tiba butiran cahaya juga mulai muncul dari tangannya.


"?!" Mata Evans sekarang melebar karena melihat salah satu tangannya terpisah dari tubuh dan perlahan hancur dimakan.

__ADS_1


Player memang tidak dapat mati tetapi mereka masih bisa merasakan sakit, juga sebagai ganti darah para player hanya mengeluarkan butiran cahaya.


Evan mengeryitkan matanya dia mencoba untuk menahan rasa sakit dan udara yang ada di dalam mulutnya.


Kehilangan satu tangannya lantas tidak membuat Evans untuk berhenti.


Evans mencoba sekali lagi untuk meraihnya menggunakan tangan satunya dan lagi-lagi hal serupa juga terjadi, tetapi kali ini sedikit berbeda karena bukan hanya tangan Evans yang terpisah melainkan seluruh tubuhnya.


Anggota tubuh Evans perlahan terlepas mulai dari tangan kiri, kedua kakinya, dan terakhir perutnya.


Sekarang yang tersisa dari Evans hanyalah dada dan kepalanya.


Seluruh tubuh Evans sudah mencapai batasnya.


"Guhakk." Mulut Evans terbuka lebar bersamaan dengan cahaya dan udara keluar dari mulutnya.


Kedua mata Evans kini berwarna merah, napasnya memburu dan terlihat kembang kempis. Kesadarannya juga perlahan mulai menghilang.


Dada Evans mulai sesak tetapi dirinya masih saja menatap bola kecil yang ada di depan wajahnya, urat-urat otot di dahi mulai bermunculan satu persatu, dengan kesadarannya Evans mulai membuka mulutnya lebar-lebar dan.


"Kraus!"


Evans mengambil bola kecil itu dengan mulutnya dan menggigitnya keras sampai membuat bola itu retak dan hancur berkeping-keping berhamburan keluar dari mulutnya.


Pandangan Evans menjadi hitam saat itu juga dan mulai kehilangan kesadarannya, dia berakhir terjatuh pingsan.


"Ping."


Dia hanya tahu jika dirinya sekarang sedang berada di dasar gua yang gelap. Juga suara yang di dengarnya ini adalah sebuah pemberitahuan dari sistem.


"Ping."


Evans yang mulai penasaran apa yang sedang terjadi kemudian mencoba untuk melihat dan membaca layar notif yang mengganggunya itu.


______________


[ Completed ]


Selamat Kepada Player Tn. Evans Mallory, karena telah menyelesaikan Tutorial Tower Level : 0.


Anda telah berhasil menghabisi boss monster,


Slime King yang mendiami Level : 0.


Reward : Score +1.000


_______°________


Evans yang melihatnya hanya bisa tersenyum tipis dan tidak habis pikir jika air yang sulit ditembusnya ternyata adalah seorang Boss Monster, Slime King.

__ADS_1


Dan bola kecil yang dihancurkan Evans sebelumnya ternyata adalah core dari Slime King.


Slime King bersembunyi di dalam gunung yang tandus itu, bukit itu kini menjadi sebuah gua, dan sekarang Evans sedang berada di dalamnya.


Semua pertanyaan juga mulai terjawab satu persatu, seperti tentang habitat para slime raksasa ini dan juga arti dari cahaya ungu.


Para slime raksasa adalah para penjaga dari Slime King.


Dan untuk cahaya ungu yang dilihatnya, sebenarnya itu adalah stigma-nya.


[The One Who Can Find Bugs : The Real Genius] [ S ]


Evans yang melihat ke langit dan cahaya perlahan masuk dari lubang mengenai langsung matanya, hanya membuatnya nyaman dengan kedua mata yang menyipit.


Seluruh ruangan itu telah dipenuhi oleh dua warna cahaya, cahaya dari langit dan butiran cahaya biru yang berasal dari tubuhnya.


Evans tersenyum tipis dan mengerutkan dahinya penasaran akan satu hal.


'Jadi bagaimana caranya keluar dari gua ini.' Batin Evans.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


[ Billboards ]


No. Player. Score



Evans Mallory / 1089


Roza Bellanov / 540


Jeffrey Agler / 520


Jack Dan / 495


Eric Wilfred / 490


Top Chai /400


Junot Kent /380


Lisa Sania / 360


Benedich Kolorad / 355


Rodrigo Nok / 340


....

__ADS_1



__ADS_2