Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 39 |


__ADS_3

Chp. 39 Level 5 : Akhir Pertarungan.


"Sial! Seharusnya Aku membawa semua perlengkapan ku kemari, setidaknya cukup ada armor saja..."


Jun Ichiro sangat menyesal tidak tahu akan begini jadinya, siapa yang akan mengira jika seorang petani biasa akan mampu menandingi kekuatan dari seorang guild Kapten, apalagi orang itu masih di tahap Amateur.


"Berhenti! Berhentilah... Gluk, Gluk. Kumohon biarkan Aku meminum potion ini... Gluk, Gluk."


Jun Ichiro yang melihat Evans mendekat kemudian memohon kepadanya berkali-kali, tubuhnya masih belum pulih sepenuhnya bahkan tiga botol potion sama sekali tidak berefek menurutnya.


Untuk memulihkan seperempatnya saja dirinya harus menegak sekitar sepuluh botol penuh potion.


Dua puluh botol potion sekarang telah habis Jun Ichiro minum, tidak disangka jika hanya membutuhkan waktu kurang dari semenit untuk melakukannya, hal itu membuatnya sangat keheranan sekaligus tertawa kecil.


Setelah semua potion itu memulihkan lebih dari setengah Hp nya, Jun Ichiro kembali menoleh kepada Evans.


"Hahaha Bodohnya, dia malah membiarkanku dan menunggu untuk meminum sampai dua puluh botol? Sekarang tamatlah riwayat--"


Tidak mungkin seorang Amateur player dapat menggunakan lebih dari sekali skill sekelas ( A ) bahkan Jun Ichiro sendiri tidak mampu untuk melakukannya, sehingga kebanyakan skill nya hanya ada di kelas ( B ).


Bahkan semua player di dalam pulau juga akan melakukan hal yang sama sepertinya.


Kedua alis matanya kini bergetar dengan pemandangan di depannya, mata biru gelap Evans menatap kearah wajah Jun Ichiro sembari memegang erat sebuah pedang.


Pedang ini anehnya mengeluarkan begitu banyak bola-bola dengan cahaya putih kecil menyelimuti tangan Evans yang gemetaran karena menahan beratnya.


"Siapa yang mengijinkan mu..."


Jun Ichiro yang melihatnya bergemetaran, mulutnya terbuka dan tertutup tak terhitung jumlahnya sehingga dirinya hanya mampu menjawab dengan tergagap dan takut. Keringat mengalir deras melalui dahi dan punggungnya bahkan bercucuran jatuh ke tanah.


"T-Tung, Tunggu! K-Kumohon tunggu sebentar..."


Tanpa melihatnya yang memelas, Evans melesatkan sebuah ayunan tinggi dengan pedangnya bersamaan sebuah gelombang energi sekali lagi muncul dan berkumpul membentuk gunung.


< Swords Energy > < A >


Gelombang energi kebiruan itu menyelimuti seluruh area sekitar Jun Ichiro sekali lagi, pepohonan di belakang mereka kembali tumbang dan berterbangan, menghasilkan sebuah lubang yang sangat luas dan dangkal muncul di atasnya.


Asap kembali mengepul dan menggumpal ke langit, setelah beberapa saat kemudian keluarlah sosok pria yang sedang terbaring di bawahnya.


Pria itu tidak dapat bergerak ataupun berbicara yang ada hanyalah bola mata yang terus saja melirik ke sana kemari mencari petunjuk.


Tubuhnya bahkan berwarna gelap dan gosong di mana-mana, Evans kemudian berjalan mendekati tubuh pria yang sedang sekarat ini dan berjongkok di dekatnya.


"Kenapa matamu hah."


Jun Ichiro hanya dapat melotot melihat Evans, sangat jelas sekali jika dia ingin membalas dendam kepadanya.


"Langsung saja dengarkan. Sebenarnya..."

__ADS_1


Evans mengalihkan pandangannya pada sebuah layar hologram di depannya dan mencoba memperlihatkan sesuatu, sontak sebuah video keluar di depan mata Jun Ichiro.


"Sekarang kau bisa tenang dan bersiap untuk menjalani hukuman dari The Executor Guild dan Moonlight Guild..."


Evans mengatakan dengan wajah yang dingin dan entah karena dirinya sedang menutupi matahari sore saat itu atau yang lainnya, tetapi yang terlihat sekarang adalah seluruh wajah Evans berwarna hitam, hanya mata yang menakutkan berwarna biru gelap yang terlihat.


Ada tiga buah video yang Evans tunjukan ini, salah satunya saat Lan Suzi membuat masalah dengan mereka dan yang satu lagi saat Jun Ichiro sedang berakting untuk menjebaknya, sedangkan video yang ketiga adalah saat dirinya Jun Ichiro membunuh player Bam.


.


.


.


Mata Jun Ichiro sekarang melebar melihat tiga buah rekaman video, tubuhnya yang lumpuh hanya bergetar hebat karena ketakutan.


Awalnya Jun Ichiro hanya bermaksud untuk membalas dendam kepada Evans, memberikan laporan video yang direkamnya kepada The Executor Guild dan Moonlight Guild, intinya Jun Ichiro sangat ingin membuat Evans menyesal karena telah membuat dirinya seperti ini.


Tetapi sekarang entah bagaimana posisi mereka terbalik, dari awal Jun Ichiro yang berpikir bahwa Evans sedang menari di telapak tangannya, nyatanya malah dirinyalah yang sedari awal sudah masuk ke dalam prediksi Evans.


Semua rencana yang akan Jun Ichiro perbuat kepada Evans kemudian gugur satu demi satu tidak ada yang tersisa, bahkan rencana cadangan yang disiapkannya juga ikut lenyap.


The Executor Guild adalah guild yang mengurusi seluruh hukum dan tata tertib di dalam pulau sebaliknya Moonlight Guild lah yang mengurusi peradilan di dalamnya, memutuskan sanksi yang akan di terima si pelanggar.


Setelah Moonlight Guild memberikan apa hukuman yang akan diterima pelanggar, The Executor Guild kemudian menjatuhkan eksekusi pada player yang bersalah seperti namanya.


Moonlight Guild bermarkas di kota Justice sedangkan markas dari The Executor Guild masih belum diketahui padahal cabangnya sendiri ada banyak di seluruh pulau.


"Kau telah membuat kesalahan dan sekarang kau harus menerima hukumannya."


Evans kembali seperti semula saat mengucapkannya dan mengarahkan pedangnya ke jantung Jun Ichiro, dengan perlahan Evans mulai menancapkannya masuk menembus kulit sampai menuju ke jantungnya.


"...Jleb!"


Jun Ichiro hanya dapat meronta kesakitan dengan mata yang berlinangan air mata.


Beberapa saat kemudian dirinya seperti tidak menyesali perbuatannya dan malah melotot kepada Evans, Jun Ichiro kemudian bersumpah di dalam hatinya untuk membalasnya suatu saat nanti.


"Beraninya kau... Lihat saja, kau akan menyesali perbuatan mu ini... Uhuk! Argghh-!"


[ Level up! ]


[ Level up! ]


[ Level up! ]


[ Level up! ]


[ Level up! ]

__ADS_1


[ Level up! ]


[ Level up! ]


[ Level up! ]


[ Level up! ]


[ Level up! ]


[ +1.750 exp ]


Evans mendapatkan jumlah angka exp yang luar biasa bahkan membuatnya naik level hingga 10 kali, sekarang dirinya telah mencapai level 21 banyak sekali perubahan yang meningkat dalam stats nya.


Evans juga tidak penasaran dengan item yang ditinggalkan oleh Jun Ichiro dan memilih untuk membiarkannya, mengambilnya nanti malah akan memberatkannya saat proses peradilan.


Melihat rekaman video di depannya, hal yang membuat Evans takut akhirnya sungguh terjadi dirinya menghela napas pendek mengingat kembali seniornya yang telah menjadi korban.


Evans diam-diam merekam sejak awal saat Lan Suzi memprovokasi mereka, lalu saat Jun Ichiro berakting semua sudah diperkirakan olehnya tetapi dirinya menyesal karena kerugian juga ada di sisinya.


Tiga video rekaman ini, dalam beberapa detik seharusnya langsung masuk ke channel-nya tetapi karena adanya fitur privat, Evans dapat menyimpannya dan melihatnya kapanpun yang diinginkan serta juga dapat membagikannya ke yang lain.


Matahari mulai tenggelam, Evans masih duduk termenung di tempat itu. Pikirannya kusut dan kacau karena masalah ini dan tiba-tiba dirinya mulai teringat akan seseorang hanya dia orang yang bisa membuat Evans semangat saat ini.


"Ney."


Evans memandangi sunset di depannya cukup lama setelah akhirnya puas, dirinya mulai berdiri dan melangkah pergi keluar dari Tower.


Setiap langkah yang dibuatnya serasa berat dan sulit bahkan sering kali Evans tiba-tiba berhenti di tengah jalan.


Tempat yang akan dikunjunginya sekarang adalah salah satu dari kantor cabang The Executor Guild, hanya begini yang bisa dilakukannya untuk sekarang.


...***...


Di ruangan kelas seorang perempuan yang sangat cantik terus melihat bangku kosong yang ada di sebelahnya, dia bernostalgia bersama dengan orang yang duduk di bangku meja sebelahnya.


"Sudah lebih dari sebulan ya, Evans!"


Tatapan mata yang ditunjukan sedikit berbinar karena sedih, dia kemudian meraba meja yang ada di sebelahnya dan mengusapnya dengan telunjuk berulang kali.


Perempuan itu akhirnya tersadar jika semua orang telah pergi dan meninggalkannya seorang diri di kelas.


"Oh tidak, sudah jam segini? Ah, sebaiknya aku segera pergi..."


Perempuan itu sekarang sedang membereskan bukunya dan memasukannya ke dalam tas, sebelum pergi dirinya hanya meninggalkan sebuah senyuman manis dan ceria kepada orang yang tidak akan pernah dia temui itu.


"Dah, sampai jumpa... Evans..."


...***...

__ADS_1


__ADS_2