
Chp. 88 Level 12 : Menuju Tower Lantai Sepuluh(22) - Evans vs Laurent(8).
Suara angin yang sangat kencang terus menerus berdengung ditelinganya, Evans hanya mampu melihat dengan menyipitkan matanya, dia terus terombang-ambing ke sana kemari oleh angin-angin ini.
Laurent terus menerus tertawa saat menyerang Evans yang tidak berdaya di skill ruang miliknya.
Skill ini adalah yang terkuat milik Laurent, dia menggunakannya disaat nyawanya benar-benar terancam dan digunakan untuk memastikan semua musuhnya musnah.
Tidak ada satupun yang pernah selamat dari skill ini.
Evans sekarang membuat tatapan yang kosong, dia sudah tidak memiliki tenaga bahkan untuk menggerakkan jari-jarinya. Evans berpikir jika dia benar-benar akan tamat kali ini.
Tiba-tiba saja ada suara seseorang yang memanggilnya dari atas, orang itu terbang dengan menggunakan auranya, "Apakah hanya sampai di sini kemampuan mu hahaha."
"Slash."
Laurent menebas Evans, membuat luka yang begitu panjang di punggungnya dan kembali menghilang.
"Slash."
"Kau benar-benar akan mati jika tetap diam saja."
Laurent kembali menorehkan luka yang sangat panjang di punggung Evans untuk yang kedua kalinya.
"Slash."
Ketiga kalinya Laurent sekarang menyerang punggung Evans, pakaiannya menjadi compang-camping dan sangat mirip dengannya.
Laurent seakan sangat terhibur, dia tidak pernah bisa berhenti untuk tersenyum menatap Evans, "Sudah lama sekali aku tidak menikmati pertarungan. Kau sudah berjuang sangat baik, sekarang waktunya untuk mengakhiri ini semua... Selamat tinggal..."
Laurent sekarang berdiri puluhan meter di atas Evans, dia menarik napas sangat panjang sebelum terjun bebas untuk menghampiri Evans yang sudah memejamkan matanya.
Evans yang masih terombang-ambing ke sana kemari secara samar-samar mendengarkan sebuah suara yang berteriak kearahnya.
"...ans."
"Evans."
"Tidak! Evanss-!!!"
Suara teriakan ini begitu akrab di telinganya dan membuat Evans nyaman dengan suara lembut yang berasal dari seorang perempuan, dia adalah Nesya Anindira.
Evans sekarang melihat kilasan balik saat dirinya masih kecil, dia melihat Ney kecil yang sangat manis pada waktu itu sedang berteriak untuk menghentikan pertarungan dua orang pria di hadapannya.
Di sana ada seorang pria kecil yang mengeluarkan banyak darah dihidungnya dan memar hitam besar di wajahnya.
Sedangkan yang satu lagi terlihat sedang tersenyum lebar dan tertawa saat memukulinya dia adalah Eric Wilfreed, satu orangnya lagi yang ada di bawahnya dan terluka paling banyak adalah Evans Mallory.
Eric kecil yang mendengarkan perempuan di belakangnya itu berteriak, segera berdiri dan berlari meninggalkan Evans.
Evans kecil sekarang sedang duduk di atas tanah dan terlihat masih tenang padahal mendapatkan luka memar dan mimisan di hidungnya.
"Kenapa kau tetap diam saja, kau bahkan tidak berteriak saat dipukuli olehnya. Apakah kau tidak merasakan sakit?"
Ney kecil kemudian mengeluarkan sebuah botol air dari tasnya dan sapu tangan, kemudian dengan cepat dia membasuh luka di wajah Evans.
"Kau bisa meminta tolong kepada guru dan yang lainnya kan. Kenapa kau masih diam saja."
__ADS_1
Beberapa menit kemudian setelah Ney kecil mengusap darah di wajahnya, Evans kecil segera berdiri dan mengangguk untuk pergi.
"Kau tau, kau itu terlalu suram dan pendiam, itulah kenapa mereka semua selalu saja mengerjaimu. Kenapa kau tidak mencoba untuk melawannya?"
Evans kecil tidak mendengarkannya dan tetap berjalan pergi.
"Kau bisa melepaskan apa yang selama ini kau tahan dan... Lakukanlah apa pun yang terbesit di dalam hatimu."
"Melepaskan."
"Nah, kau mulai berbicara sekarang." Ney kecil tertawa pelan setelah melihat raut wajah dan ucapan Evans kecil yang terlihat sangat kaku.
"Akhirnya aku akan dapat melihat kekuatanmu yang besar itu besok. Kau, bukanlah seorang sampah ataupun pecundang yang semua orang bilang, dan jangan pernah dengarkan mereka semua. Kau adalah Evans Mallory!"
"Tetapi aku tidak bisa bertarung."
"Maka belajarlah hihihi." Ney kecil kemudian tertawa sembari memiringkan kepalanya, dia tersenyum sangat lebar kearah Evans kecil.
Ney kecil kemudian berjalan mendekati Evans kecil dan menepuk punggungnya dari belakang, "Lepaskan saja semuanya... Aku yakin kau pasti bisa, berusahalah. Wujudkan lah apa yang menjadi keinginanmu itu."
.
.
.
Mata Evans sekarang terbuka lebar dan melihat sebuah senjata Laurent yang akan mencapainya, kurang dari semeter untuk memenggal lehernya itu.
"Buka [ Player Info ]."
_______________
Name : Evans Mallory.
Level : 52 (28.000/35.000)
Race : Human.
Age : 16 th.
Gender : Male.
Job : Farmer (Common class).
HP : 90/320
MP : 40/330
Stats.
STH : 65 (+260)
SPD : 69 (+260)
DEF : 60 (+260)
INT : 70 (+260)
__ADS_1
Stats point : 50
Stigma.
The One Who Can Find Bugs : The Real Genius ( S )
_________°__________
"Ambil semua Stats point dan perkuat semuanya di DEF."
Tubuh Evans tiba-tiba saja terjadi perubahan, urat-urat otot mulai muncul satu persatu dan menggumpal di dalam tubuhnya seakan sedang mengalami proses bersatu dengan yang lainnya.
Senjata Laurent sekarang sudah menancap tepat di leher Evans dan dengan cepat dia menebasnya, "Matilah!"
"Slash."
Mata Laurent sekarang terbelalak, dia tidak percaya jika senjatanya itu tidak mampu untuk memenggal leher dari Evans.
"Kenapa disaat seperti ini?" Laurent hanya menaikan kedua alisnya saat melihat keajaiban sedang terjadi, dia sekarang meninggalkan sebuah garis tipis di leher Evans dan kembali terbang menghilang.
"Aku sangat terkejut kau masih memiliki trik yang lain lagi, kau bisa menunjukkan semuanya di sini jika kau mau."
"Sekarang sudah semuanya, kau jangan khawatir lagi."
"Hahaha, dasar pembohong." Laurent kembali terbang dengan cepat dan melompat menghilang, dia begitu saja muncul di belakang Evans.
"Tang."
Evans sekarang berbalik dan menepis serangan Laurent menggunakan tombaknya.
"Kau?!" Laurent hanya menggeretakkan giginya tidak percaya, bagaimana bisa serangannya dapat dengan mudah ditebak oleh Evans.
"Kau selalu saja menyerang di tempat yang sama."
Laurent kembali terbang dengan sangat cepat ke belakang, dia kembali melompat dan menghilang.
"Dan setelah kau menyerang dari belakang, pastinya sekarang dari depan, kan."
"Tang."
Mulut Laurent seakan merasa ingin jatuh, dia menganga tidak dapat berkata apapun lagi.
"Sialan-!!!" Laurent kemudian berteriak dengan sangat kencang di sana.
Laurent kembali terbang dengan cepat, dia seakan menghilang dan muncul di belakang dan di depan Evans, sangat cepat berulang kali.
"Kali ini kau tidak mungkin bisa menebaknya!"
"Tang."
"Kau kembali akan menyerang punggungku. Oh, maaf dari depan ya."
"Tang."
Di tempat ini Evans hanya bisa sedikit menggerakkan tubuhnya, memutar dan menahan serangan tidak lebih. Anehnya semua serangan dari Laurent ini bisa dengan mudahnya ditahan oleh Evans.
"Siapa sebenarnya kau ini?!"
__ADS_1
"Aku hanyalah seseorang manusia yang pernah dipanggil sampah ataupun idiot oleh teman-temanku." Evans tersenyum tipis saat mengatakannya.
+++++