
Chp. 81 Level 13 : Menuju Tower Lantai Sepuluh(15) - Evans vs Laurent.
"Hei kalian lihat itu! Pahlawan itu sudah mendekat dan sebentar lagi sampai. Ayo cepat kita sambut dirinya-!"
Mereka semua terlihat sangat senang dan bersorak sorai kepada Evans bahkan mereka semua juga sampai bernyanyi di sana.
Evans yang melihatnya kemudian terheran dan hanya mengernyitkan keningnya, dia penasaran apakah otak mereka masih waras atau tidak, apa yang sebenarnya yang mereka pikirkan itu.
Salah satu orang yang berada di paling depan mereka kemudian menghampiri Evans untuk menyambutnya tetapi dia malah dihiraukan begitu saja olehnya, dan juga beberapa orang yang ada di sana diperlakukan sama seperti itu.
Mereka memiringkan kepalanya dan bertanya-tanya apakah yang sedang dilakukan pahlawan ini sebenarnya.
Tetapi tidak disangka tiba-tiba saja mereka semua merasakan panas dibelakang punggungnya, mereka kemudian berbalik dan menemukan sebuah gunung raksasa yang kemudian menelan mereka semua.
"Ini berbeda dengan yang sebelumnya, gunung ini lebih besar lagi. Brengs*k-!"
"Jadi begitu, ini maksudnya kenapa melambaikan tangannya. Oh, Tidak! Tolong... Tolong... Gyahhh-!"
Mereka semua berteriak dan mengumpat kepada Evans yang meninggalkannya. Sekarang semua orang yang berlari dan telah meninggalkannya di belakang sudah hangus terbakar menerima skill kelas ( A ) milik Evans.
"BOOMM!!"
[ +700 EXP ]
[ +500 EXP ]
[ +800 EXP ]
...
Evans yang sudah melewati mereka semua dan ledakan yang diciptakannya sendiri sekarang mengambil napas bersama dengan Kakek sepuh yang berada di sampingnya.
"Apa... Apaan tadi itu?"
"Maafkan Aku, Aku juga tidak tahu." Evans sekarang menatap kearah yang lain.
"Jadi inikah kekuatan dari skill kelas ( A ) yang sesungguhnya, semakin tinggi level seseorang maka menjadi sangat berat juga efek skill ini."
Evans hanya melihat tangannya yang sekarang masih bergemetaran dan tidak kunjung berhenti itu, entah kenapa dia tiba-tiba saja kesulitan untuk mengendalikan skill kelas ( A ) ini.
__ADS_1
Evans sekarang mulai berpikir untuk tidak terlalu banyak bergantung kepada skill kelas ( A ) itu untuk sementara ini, kecuali jika dirinya benar-benar masuk ke dalam situasi yang begitu mendesak.
Setelah mengambil napas dan beristirahat beberapa detik disana, keduanya kemudian saling bertatapan, kakek itu lalu mengenalkan dirinya sebagai Shigeo.
Kakek itu memiliki usia sekitar tujuh puluhan tahun dan masih aktif sebagai player, dia memiliki banyak sekali uban dirambutnya.
Postur tubuhnya juga selalu menunduk, Kakek ini juga tidak terlalu tinggi dan bahkan sedikit lebih tinggi dari Evans.
Evans yang mendengarkan Kakek Shigeo kemudian menatap wilayah yang rusak terkena skill < Swords Energy > nya dan kembali teringat tentang Rafus di sana.
Evans sama sekali belum mendapatkan pemberitahuan dari sistem tentang exp yang didapatkannya setelah membunuh player itu, yang berarti Code-024 masih hidup dan sekarang kemungkinan dia memiliki kesempatan untuk kabur.
Kakek Shigeo yang melihat Evans sedang bersiap-siap untuk pergi kemudian bertanya kemana tujuannya sekarang, tetapi Evans hanya menjawabnya dengan jangan berpikiran untuk mengikutinya karena akan lebih berbahaya dari yang sebelumnya.
"Bocah itu, sudah kusebutkan namaku dan dia masih belum sadar siapa aku ini hahaha. Sepertinya dunia sudah mulai melupakanku."
Kakek Shigeo hanya menghela napas sembari memandangi punggung Evans yang sudah pergi jauh meninggalkannya.
**
"Apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana." Laurent yang mulai penasaran setelah melihat gelombang cahaya yang membesar, membentuk sebuah gunung dan menelan semuanya itu, hanya dapat menebak-nebak dari tempatnya berdiri.
"Uhuk! Uhuk! Kau... Tidak akan pernah tahu kan, sebelum memastikannya sendiri..." Lan Suzi dengan kekuatannya yang tersisa sekarang menatap kearah Laurent dengan tersenyum mengejeknya.
"Huh?! Apa maksudmu itu?"
"Krak!" Laurent baru saja selesai memecahkan kepala tengkorak dari Anjing raksasa.
Laurent yang berdiri di depan Anjing raksasa dan sedang menggenggam kepalanya dengan tangan kecilnya itu kemudian melotot kearah Lan Suzi.
Anjing yang sudah tidak bernapas dan tiduran di atas tanah itu perlahan mengeluarkan cahaya kebiruan.
Ditempat mereka bertiga bertarung ini banyak sekali darah yang berceceran dari anjing raksasa dan bongkahan batu yang berserakan akibat dampak dari pertarungan mereka.
Di sana juga ada asap yang mengepul di banyak tempat, bahkan pancang yang menahan Anjing raksasa itu sekarang tercabut.
"Tidak ada pilihan lain, Aku harus memeriksanya sendiri ke sana." Laurent hanya berdecak kesal dan sekarang bergerak menuju kearah sahabatnya itu.
Lan Suzi sekarang hanya bisa terbaring di tempatnya dengan napas yang tersisa sedikit, matanya sudah kabur dan perlahan menutup, tetapi sebelum itu Lan Suzi sempat menggumamkan sesuatu, "Sisanya... Kuserahkan kepadamu... Evans."
__ADS_1
.
.
.
Dalam perjalanannya itu Laurent menyusuri sebuah kawah yang sangat luas dengan banyak sekali bongkahan dan retakan di sekelilingnya itu, tempat ini seakan baru saja dilanda dengan gempa bumi yang sangat mengerikan.
Laurent sekarang sedang berjalan dan mencari petunjuk untuk menemukan sahabatnya itu.
Setelah sepuluh menit Laurent mencarinya, dia kemudian menyerah karena sama sekali tidak mendapatkan petunjuk ada dimana keberadaan dari temannya itu.
"Apa yang harus aku lakukan." Laurent sekarang sendirian dengan berada di atas bongkahan batu yang paling tinggi di sana.
Laurent kemudian memijat keningnya dan berpikir untuk sejenak sebelum kembali bertindak.
Laurent yang masih berpikir ini kemudian menyimpulkan jika temannya itu sudah meninggalkannya dan menutup kemungkin jika temannya itu kalah melawan seorang bocah.
Sebelum Laurent pergi dari sana tiba-tiba saja dirinya merasakan seseorang yang mendekat kearahnya. Laurent yang penasaran akhirnya mulai mencarinya dari atas bongkahan batu itu.
Laurent melihat dengan samar-samar seseorang yang mengenakan masker gas hitam sedang berlari kesebuah tempat, kemudian menahan napasnya untuk sejenak, "Jangan bilang jika..."
Laurent segera berlari secepat yang dia bisa untuk menyusul seorang bocah bermasker hitam itu dan bermaksud untuk memastikannya dari dekat.
Bocah dengan masker gas hitam ini kemudian berhenti berlari dan mendarat di sebuah tanah yang kosong, di sana juga ada seseorang yang terbaring hangus terbakar.
"Kau..." Suara yang dikeluarkan pria yang hangus terbakar ini begitu lirih dan tidak bertenaga, dia menunjuk bocah itu dengan jari telunjuknya yang bergetar tidak karuan.
"Nama... Siapa..."
Bocah yang melihatnya itu kemudian berjalan untuk menghampirinya, tetapi baru saja tiga langkah dirinya berjalan terdengar suara yang meninggi dari kejauhan.
"Hentikan apa yang akan Kau lakukan, Kepar*t-!"
Laurent tiba-tiba saja mendarat dihadapan bocah itu dan melotot tajam kearahnya, tangannya sangat gatal sekali untuk menebasnya menjadi dua bagian, tetapi ditahannya karena ingin menolong orang yang ada dibelakangnya terlebih dahulu.
"Rafus kau baik-baik saja, kan? Tunggu sebentar dan minumlah ini." Laurent yang sudah mengeluarkan sebuah high potion dari inventorinya kemudian meminumkannya kepada sahabatnya itu.
Beberapa detik kemudian, Laurent tidak menyangka dan mengerutkan dahinya karena mendapatkan sebuah serangan yang tiba-tiba dari bocah yang ada dibelakangnya.
__ADS_1
++++