Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 89 |


__ADS_3

Chp. 89 Level 12 : Menuju Tower Lantai Sepuluh(23) - Evans vs Laurent (End).


"Apa maksudmu badjingn, Jangan bercanda denganku-!"


"Trang."


"Trang."


"Trang."


Laurent terus menerus menyerang Evans di udara berulang kali, beberapa kali serangannya berhasil dengan mudah ditahan oleh Evans. Tetapi banyak juga serangan Laurent yang masuk dan membuat banyak butiran cahaya keluar dari lubang-lubang lukanya.


Keadaan Evans saat ini sangat mengenaskan, tubuhnya sangat bercahaya seperti akan menghilang kapan saja.


"Kenapa, Kenapa, Kenapa, Kenapa kau masih belum mati juga. Ada apa dengan tubuhmu ini sebenarnya." Laurent sekarang menjadi sangat kesal dan terus menerus melotot kearah Evans, seakan hal itu akan membantu untuknya.


"Trang."


"Trang."


"Trang."


Laurent tetap masih menyerang Evans, dia mengayunkan senjatanya berulang kali di udara ke sana kemari membuat seluruh tubuh Evans sekarang dipenuhi dengan luka tebasan.


Ajaibnya dengan tubuh yang mengenaskan itu, Evans masih dapat bertahan.


.


.


.


Beberapa puluh menit akhirnya berlalu dan Laurent sekarang mundur untuk menarik napas sembari menatap wajah Evans dengan teliti.


"Kau tidak akan mampu untuk bertahan terus menerus, dengan skill ruang sebesar ini mana mu akan segera habis." Evans tersenyum tipis melihat Laurent yang terlihat kepayahan saat menarik napas dengan wajah yang kusut.


Laurent hanya terkekeh mendengarnya, "Keadaanmu juga sama saja denganku. Tidak kurasa kau yang lebih parah."


"Trang!" Senjata mereka berdua kembali bertemu dan menciptakan percikan api yang panjang di udara.


Laurent tidak berhenti di sana, dia kembali menyerang Evans tetapi kali ini dengan membabi buta seakan dirinya sedang diburu oleh waktu.


Masuk serangannya yang kedua puluh, mulut Laurent tiba-tiba saja terbuka lebar, dari sana dia memuntahkan banyak sekali asap dan kesadarannya perlahan menghilang.


Semua medan di sekitar Laurent juga ikut menghilang, udara yang terus menerus berputar dan menciptakan suara bising itu mulai tidak terasa dan terdengar.

__ADS_1


Selendang-selendang udara yang memutar di sekitar mereka juga perlahan terurai satu persatu.


Mana yang dimiliki Laurent sekarang sudah habis tak bersisa.


Keduanya akhirnya terjatuh begitu saja dengan menabrak tanah di bawahnya dari ketinggian yang luar biasa di atas langit.


"Woossh."


"Boom!"


Evans dan Laurent terjatuh di lokasi yang berdekatan dengan meninggalkan sebuah asap dan lubang. Keduanya saling terbatuk beberapa kali di sana dan tidak ada yang bergerak, napas mereka menjadi memburu tidak karuan.


Beberapa menit akhirnya berlalu, dengan tubuh yang kelelehan Laurent memaksakan diri untuk bangun dan berjalan menghampiri Evans.


"Haa... Haa... Apakah kau masih bisa meneruskannya?" Laurent menyeringai menatap Evans, sedangkan tidak ada jawaban darinya.


Laurent kembali mendekat dan berhenti tepat beberapa meter dari tubuh Evans yang terbalik, "Aku tahu kau masih bisa bangun, kau hanya ingin menjebak ku, kan. Tidak perlu berpura-pura seperti itu lagi."


Laurent menatap tubuh Evans yang tergeletak itu dengan raut wajah marah, dia kemudian mengelurkan sebuah anak panah dari inventorinya dan perlahan mengarahkannya kepada Evans.


"Tang."


Evans tiba-tiba saja terbangun dan menyerang Laurent menggunakan tombaknya dengan sangat kencang, senjata keduanya kembali beradu dan menciptakan suara yang sangat nyaring di sana.


"Aku tahu itu, kau hanya berpura-pura dasar pembohong." Laurent menyeringai melihat Evans.


Evans yang mendengarkan hanya terdiam dan melihat wajah kesal Laurent dengan mata biru gelapnya.


"Trang." Keduanya kembali mundur beberapa langkah ke belakang.


Evans mulai memutar tombaknya dengan sangat cepat dan kembali berlari menuju kearah Laurent.


"Sekarang aku mengerti gaya bertombak sialan itu, kau ternyata meniru miliknya. Bagaimanapun gaya bertarungnya itu, tidak ada orang yang sangat mengenalnya selain aku."


Laurent sangat mengerti dengan keterampilan bertombak milik Rafus yang kasar dan mendominasi itu, dia telah menjadi lawan berlatihnya hingga ribuan kali.


Evans yang memutar tombak itu dengan cepat mengayunkannya kearah kepala Laurent tetapi dapat dengan mudah ditahan olehnya.


Laurent kemudian langsung berbalik dan membalas serangan Evans itu dengan membuat tubuhnya berputar sangat cepat dan menyabetnya.


"Trang." Kedua senjata mereka kembali bertemu, Laurent hanya berdecak kesal melihatnya.


"Hanya saja yang membedakan kau dengannya yaitu ketangkasan kalian, serangan barusan seharusnya masuk dan langsung membunuhmu."


Mereka berdua kemudian bertarung dengan sangat sengit dan saling membalas serangan masing-masing, sampai akhirnya tubuh Evans sudah tidak kuat lagi untuk menahannya.

__ADS_1


Tubuhnya yang terus menerus mengeluarkan butiran cahaya bahkan sebelum mereka bertarung, sekarang begetar hebat dengan napas yang memburu.


"Kau sudah mencapai batasan mu, kau juga sangat hebat bisa sampai memberikan ku luka yang seperti ini."


Laurent meraba leher belakangnya dan mengingat kembali pertarungan mereka berdua, dimana Laurent hampir saja kalah melawan Evans.


"Sebutkan siapa namamu?"


Evans hanya terdiam dan tidak menjawabnya, dia sudah tidak memiliki tenaga lagi untuk berbicara bahkan dia sudah tidak mengerti lagi apa yang sedang Laurent bicarakan.


Evans kemudian menarik napas sangat panjang dan kembali berlari untuk menyerang Laurent, tetapi baru lima langkah dirinya berlari, Evans sekarang tersungkur di atas tanah dan berguling di sana.


Laurent yang melihatnya sekarang mendekat dengan hati-hati dan penuh akan kewaspadaan, dia dengan cepat mengambil tombak milik temannya itu dan memasukkannya ke dalam inventori miliknya.


"Aku akan mengambil senjata ini." Laurent kemudian menghela napas panjang saat melihat tubuh Evans yang sudah hampir tembus pandang itu.


"Jadi sekarang benar-benar sudah berakhir, sayang sekali. Aku akan memberikan penghormatan kepadamu karena sudah melawanku sampai di sini."


Laurent sekarang berjongkok di samping Evans dan bersiap menebasnya, tetapi saat dirinya sedang mengangkat tinggi senjatanya itu, sebuah ledakan terjadi di dekatnya dan tiba-tiba mencengkeram erat tangannya.


"Siapa kau?" Laurent langsung menatap tajam tangan orang yang menangkapnya.


"Kau tahu aku hanyalah seorang kakek yang pikun, jangan terlalu dingin kepadaku anak muda hohoho."


Seorang kakek sepuh tiba-tiba saja berada di belakang Laurent dengan penampilan jubah seorang healer.


"Tidak mungkin... Kau... Tuan Shigeo? Kenapa bisa anda ada di sini?"


"Tidak perlu pucat dan panik sampai seperti itu Laurent, aku kebetulan hanya tinggal di sini itu saja. Sekarang bisakah kau melepaskannya?" Kakek Shigeo menatap dingin wajah Laurent, dia mengatakannya sembari melihat tangan Laurent.


"Tetapi tuan, dia sudah banyak memberikan masalah kepada kami. Dia telah melenyapkan separuh orang dari kami dan melukai sahabatku. Karena itu Bocah ini harus menerima akibatnya, jika aku tidak datang mungkin seluruh regu kami sudah lenyap dan misi kami akan hancur berantakan semuanya."


"Apakah itu berhubungan dengan Massa saat ini?"


Laurent kemudian mengangguk masih dengan mengangkat senjatanya.


"Aku akan kembali dan membantu kalian bagaimana? Sebagai balasannya lepaskanlah bocah ini..."


Mata Laurent melebar setelah mendengarnya, dia kemudian memastikannya sekali lagi dan dijawab langsung oleh Kakek Shigeo. Dengan perasaan berat hati itu Laurent hanya bisa pasrah dan melepaskan Evans.


Kakek Shigeo yang melihatnya kemudian mengangguk dan tersenyum.


Setelah Laurent pergi meninggalkannya, Kakek Shigeo segera membalikkan tubuh Evans.


+++++

__ADS_1


__ADS_2