
Chp. 58 Level 9 : Janji Lan Suzi.
Lan Suzi tersenyum lebar sampai membuat sipit kedua matanya, setelah mendengarkan Evans berbicara begitu membuat dirinya berlari kecil untuk mengejar Evans.
Lan Suzi terlihat senang sekali sampai melompat-lompat saat berlari.
Evans sekarang sampai di depan pintu masuk Katedral bersama dengan yang lain, dia melihat semua orang berteriak dan memberikan sambutan kepada anggota mereka yang kembali satu persatu.
"Semuanya... Kami di sini!"
"Syukurlah kalian sepertinya baik-baik saja. Cepat kemari lah."
"Tunggu Didi, kami di sini. Kau ingin pergi kemana?!"
Suasana di sana sangat berisik bahkan Hendra seringkali mengingatkan kepada semua anggotanya untuk jangan terlalu mengganggu sekitar, tetapi mendapatkan bantahan dan penolakan dari semua orang.
"Apa sih yang pak tua ini bicarakan. Biarkan kami sekali-sekali bebas, dasar. Benar lebih baik lagi ayo kita keras kan lagi suara kita?!"
Mereka semua kemudian menjawab dengan setuju secara bersamaan, selepas menghitung mundur satu dua tiga, mereka semua berteriak semakin menjadi saja di sana bahkan hal ini sampai menganggu semua orang yang memiliki keperluannya di Katedral.
Orang-orang yang terganggu ini memilih menutup telinga mereka dan berjalan menjauh dengan tatapan yang tajam kearah semua orang.
Hendra yang melihat semua anggotanya tidak lagi patuh menjadi sangat geram, meski baru sekali ini terjadi tetapi dia bersumpah akan memberikan hukuman yang layak kepada mereka selepas kembali ke Paguyuban Usaha Tani.
"Kalian bisa tenang saat di sini, tetapi jangan harap lagi selepas kita sampai di rumah kalian akan bisa seenak jidat kalian. Aku akan membalas yang pertama ini nanti hehehe."
Hendra meremas kedua tangannya dengan gemas saat membayangkan hukuman seperti apa yang akan diberikannya.
.
.
.
Setengah jam sekarang telah berlalu, orang yang ditunggu-tunggu mulai bermunculan satu persatu, mereka melambaikan tangannya kepada saudaranya di seberang.
Paling belakang terlihat seorang gadis dengan wajah masih cemberut perlahan berjalan mundur dan mendekat ke samping Evans.
__ADS_1
Lan Suzi terlihat kesusahan, dia sedang memikirkan bagaimana caranya meminta maaf kepada semua orang.
"Mudah saja kau cukup bilang maaf."
"Kau ini, bukankah itu terlalu pendek?"
Evans yang mendengarkan protes Lan Suzi kemudian menghela napas pelan, "Kau hanya perlu mengikuti kata hatimu dan bicaralah dengan jelas."
Lan Suzi kemudian mengangguk setelah mendengar hal itu dari Evans.
Meminta maaf sesuai dengan isi hatinya yang sekarang adalah yang terbaik, Lan Suzi kemudian mendengus seakan telah memantapkan sesuatu dalam dirinya.
Semua orang saling berpelukan dan mengobrol, masing-masing dari mereka tampak memancarkan kerinduan yang mendalam.
Mereka hanya satu hari saja tidak bertemu dan untuk yang lain bahkan hanya untuk satu detik.
"Kau ada di sini rupanya. Astaga... Lihatlah Evans yang sekarang, kau sudah tumbuh besar rupanya." Didi tertawa kecil dan menepuk punggung Evans.
Evans kemudian berbalik dan melihat tiga bersaudara yang selalu rukun itu.
"Didi kita hanya tidak bertemu selama satu hari, bagaimana Evans bisa tumbuh besar, Aish! Kau ini." Riza mencoba membenarkan perkataan Didi, keduanya kemudian terlibat cekcok di tempat seperti biasanya.
Evans hanya tersenyum tipis, bagaimanapun dirinya bersyukur ketiga sahabatnya yang paling dekat tidak dibawa pergi oleh Bam.
Semua orang baik perempuan maupun pria terlihat sedang bersanda gurau, tidak ada lagi yang berani mengingat apalagi menyinggung kejadian yang menimpa mereka.
Mereka selalu bersama dan tidak pernah terpisahkan mau tidur ataupun bangun tidur, entah siang sore maupun pagi mereka selalu bersama layaknya sebuah keluarga.
**
Semua orang telah berkumpul sekarang, Lan Suzi kemudian mengambil langkah pertamanya dengan berteriak di sana kepada semua orang, "Aku adalah orang yang bodoh! Hmph!"
"Hah?!" Semua orang hanya mengernyitkan dahinya.
Evans adalah yang pertama kali bereaksi di sana, setelah mendengarkan Lan Suzi berteriak matanya sedikit melebar karena tidak menyangka nya.
"Aku orang yang sangat bodoh dan merepotkan banyak orang, makanya aku tidak memiliki banyak teman sampai saat ini..." Lan Suzi menundukkan kepalanya cukup lama.
__ADS_1
Evans hanya terdiam dan mendengarkan, dia sedikit penasaran apakah hal itu yang mengisi hati Lan Suzi untuk sekarang. Semua orang kemudian mulai memperhatikan Lan Suzi dan bersimpati dengannya.
"Dulu aku juga sama seperti kalian di luar pulau, memiliki keluarga yang sangat peduli satu sama lain hihihi. Tetapi saat dipaksa berpisah dengan mereka semua karena terpilih menjadi player.
Aku masih mengerti rasanya sampai sekarang... Bagaimana rasanya kehilangan anggota keluarga." Lan Suzi tertawa kecil saat bercerita kemudian mulai cemberut dan menghela napas pada akhirnya.
Cerita Lan Suzi berhasil mengundang emosi para pendengarnya, mereka tertegun dan menundukkan kepalanya saat mendengarkan Lan Suzi.
Mereka juga berpikir untuk menghibur Lan Suzi di sini.
"Tidak apa-apa Kak Suzi, kami juga sekarang adalah keluargamu."
"Benar, Benar, jangan sungkan lagi kepada kami hahaha."
Mereka semua tertawa dan memberikan perhatiannya kepada Lan Suzi, mencoba membuatnya kembali tersenyum dan melupakan kesedihan yang dirasakannya.
"Kalian semua... Aku sangat berterimakasih. Tetapi meski begitu aku adalah orang yang harus disalahkan di sini.
Aku sangat merasakan bersalah pada kalian semua dan menyebabkan semua ini terjadi. Jika saja aku memilih menghiraukan dan tidak mendengarkan omongan dari tiga orang yang saat itu... Kurasa..."
Lan Suzi mengingat kembali saat dimana dirinya bertemu dengan Evans dan ketiga temannya.
"Kak Suzi..."
"Suzi... Kami semua juga..."
"Dan sekarang aku berjanji akan mengembalikan semuanya seperti sebelumnya. Aku akan membuat Bam meminta maaf kepada kalian semua dan membuatnya menyesal! Ini adalah janjiku."
Lan Suzi berteriak dan tersenyum sangat lebar kepada semua orang, dia menepuk dadanya di depan semua orang.
"Jika itu adalah pilihan dari Kak Suzi maka ya tidak ada seorangpun yang bisa menghentikannya."
"Benar! Bawakan Bam kemari hahaha, kami akan mendukung Kak Suzi apapun itu."
"Hajar saja dia kak buat dia menyesal karena telah membuat semua orang mengkhawatirkannya hihihi."
"Kalian semua sungguh... Terimakasih!" Lan Suzi menundukkan kepalanya, dia merasakan tubuhnya menjadi lebih ringan sekarang.
__ADS_1
Semuanya berjalan sesuai dengan keinginannya dan hal ini berkat bantuan Evans. Lan Suzi kemudian mencoba untuk mencari Evans tetapi setelah menemukannya.
Lan Suzi tertawa kecil, dia melihat Evans yang membalikan badannya saat pandangan mereka bertemu.