Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 85 |


__ADS_3

Chp. 85 Level 12 : Menuju Tower Lantai Sepuluh(19) - Evans vs Laurent(5).


Laurent sekarang harus mendongak untuk melihat Evans dari atas, setelah melihat targetnya dia kembali menggunakan skill nya. Sebuah panah angin berputar dengan sangat cepat dan membuat lubang di tempat Evans berdiri sekarang.


Setelah asap di lubang itu menghilang dengan perlahan, Laurent hanya bisa mengerutkan dahinya, tidak ada apapun di sana.


Evans tiba-tiba saja muncul dari atas Laurent, kedua senjata mereka kembali bertemu.


"Trang!"


"Trang!"


"Trang!"


Evans memutar tombaknya dengan sangat cepat dan berkali-kali menyerang Laurent di udara. Di sisi lain Laurent hanya mengernyitkan keningnya, dia merasakan tidak asing dengan teknik yang digunakan oleh Evans.


Setelah Evans menginjakkan kakinya di tanah, dia dengan cepat melesat ke depan menyerang Laurent.


Evans menarik napasnya dan mengayunkan tombak itu sekuat tenaga. Laurent yang menerimanya dengan senjata panahnya kemudian terpental jauh sekali lagi ke belakang.


"Boom!" Laurent yang menabrak tanah sekarang terbatuk-batuk dengan asap di sekitarnya.


Belum sempat menarik napas Laurent tiba-tiba saja merasakan seseorang di depannya, dia lalu mulai berdiri dan mengayunkan senjatanya untuk mengusir asap tebal itu.


Laurent hanya mengernyitkan dahinya, melihat tidak ada seorang pun di sana, "Apa yang terjadi suara apa itu sebenarnya?"


Laurent lalu memejamkan matanya, dia mendengarkan suara langkah kaki yang sangat cepat berlari kearahnya tetapi saat membuka matanya tidak ada apapun lagi di sana.


Tiba-tiba saja di belakang lehernya, Laurent merasakan dinginnya sebuah besi, seketika seseorang perlahan muncul di sana dan dengan sebuah senjata yang sudah ada di belakang lehernya.


Laurent hanya menahan napas melihatnya, "Dia mempunyai skill seorang assasin?!"


< Stealth Like A Assasins > < C >


"Boom!" Laurent sekarang kembali terlempar sangat jauh ke depan dan menabrak tanah dengan sebuah luka sayatan di belakang lehernya.


Evans yang melihatnya sekarang sedikit mengernyitkan keningnya, kenapa Laurent masih bisa bertahan dari serangan yang mematikan itu, seberapa kuat Laurent sebenarnya sampai senjata kelas ( B ) tidak mampu untuk menembusnya.


.


.


.


Laurent kembali berdiri dari serangan Evans, dia sekarang meraba bekas luka yang ditinggalkan oleh Evans di belakang lehernya.

__ADS_1


"Bocah itu memiliki skill seorang assasin, kekuatannya juga bukan sembarangan sampai bisa melukai ku. Sepertinya aku akan menggunakan setengah kekuatanku sekarang."


Laurent terlihat sedang melirik kekanan dan kekirinya seperti seorang yang linglung, dia tidak menemukan Evans dimanapun arah matanya memandang.


Laurent kemudian memejamkan matanya dan menahan napasnya, untuk menahan skill bersembunyi dari seorang assasin dia harus fokus dan menajamkan indera pendengarannya.


Sekali saja Evans bergerak maka Laurent akan langsung menyerang tempat itu.


Laurent tiba-tiba saja membuka matanya setelah mendengarkan suara langkah kaki bergerak dan berhenti, "Di sana!"


"?!"


"Apa-apaan tidak ada apapun di sini? Apakah itu tadi barusan batu kerikil?!" Mata Laurent melebar setelah merasakan kakinya menendang sesuatu di bawah.


"Lalu dimana bocah itu sekarang?" Wajah Laurent langsung saja berubah menjadi pucat, apa-apaan dengan bocah ini, kenapa dia sangat pintar.


Sebuah besi dingin sekali lagi sudah menempel di tempat luka yang sebelumnya dia buat.


"Aku ada di sini sedari tadi, melihat kemana matamu itu."


Jantung Laurent entah kenapa berdegup dengan kencang setelah mendengarnya, "Sialan-!!!"


"Boom!" Sekali lagi Laurent terpental cukup jauh dan meninggalkan luka sayatan yang menjadi lebih dalam.


Laurent yang terpental seperti sebelumnya hanya menggeretakan bibirnya, kali ini dia berhasil menghentikan laju kecepatan terpentalnya dan berbalik arah menggunakan salah satu tangannya dan meninggalkan sebuah bekas yang menyeret di atas tanah.


Laurent langsung menghilang begitu saja dan dalam satu tarikan napas, dia sekarang berada di hadapan Evans.


Laurent yang melihatnya sangat dekat kemudian menyeringai, dia memberikan sebuah serangan menggunakan senjatanya.


Panah itu Laurent gunakan mirip dengan sebuah cakram untuk meninju Evans, "Kali ini tidak ada yang bisa menghentikanku menghajarmu. Rasakan lah ini."


Mata Laurent sekarang terbelalak melihat sebuah tombak yang tiba-tiba saja muncul di depannya dan menahan pukulannya, "Bagaimana bisa reflek manusia bisa secepat itu?"


"Taang!"


"Boom!" Sekarang giliran Evans yang terpental sangat jauh, dia seakan terbang dan berguling-guling sampai menabrak tanah di belakangnya.


Kekuatan serangan Laurent ini sangat kuat sekali sampai memiliki daya ledak yang sangat luar biasa.


Evans yang sudah berhenti terdorong karena menabrak tanah kemudian berdiri dan menatap Laurent dengan heran, jadi dia juga masih menyembunyikan kekuatannya.


Keduanya sekarang berjalan untuk saling mendekati satu sama lain.


Mereka kemudian saling menyerang dengan sengit di sana, entah sudah beberapa kali keduanya saling mementalkan tubuhnya masing-masing.

__ADS_1


Laurent yang melihat hal itu hanya tertawa dengan keras.


**


Di tempat pemandian air panas bagian perempuan, karena tempatnya yang tertutup hal itu membuat mereka semua kesulitan untuk melihat keadaan di luar.


Mereka tidak menyadari jika di lantai keenam sedang terjadi sesuatu keributan yang besar dan sudah banyak korban yang berjatuhan.


Luna yang seorang pegawai kantoran biasa, sedang melakukan perjalanan wisata untuk melepaskan kepenatannya.


Setelah membilas tubuhnya Luna sekarang sedang bersiap untuk menuju kolam air panas alami, di sana dia membayangkan akan berendam di kolam air yang dipenuhi batu dengan pemandangan langit malam hari yang sangat cerah.


Tetapi Luna sedikit mengernyitkan keningnya dan terkejut saat melihat langit malam mengeluarkan banyak sekali asap hitam dan mengepul tidak sesuai dengan apa yang dibayangkannya selama ini.


"Iklan sialan!" Luna hanya menggigit bibirnya sendiri saat mengingat kembali brosur yang diberikan seorang tour guide.


Luna yang tidak peduli akan hal itu sekarang memilih berendam bersama dengan teman-temannya yang lain.


Mereka semua masih tenang-tenang saja dan menikmati pemandian air panas malam itu.


Perempuan-perempuan ini juga mengeluh tentang iklan brosur yang mereka terima tidak sesuai dengan kondisi mereka saat ini.


Di mana pelayanannya yang ramah, di mana mana makanannya yang enak.


Dan lagi katanya mereka akan menerima kenyamanan dan suasana yang tenang di sini, tetapi kenapa mereka terus terganggu dengan suara bising yang ada diluar.


Entah sudah berapa kali lantai keenam ini juga bergetar, mereka semua mengira jika itu hanya sebabkan oleh monster-monster di lantai ini dan akan segera dibereskan oleh para penjaga di lantai keenam.


Mereka hanya menghela napas panjang dan memikirkan jika liburannya saat ini sangat buruk.


Luna hanya menghela napas panjang dan menggelengkan kepalanya berkali-kali.


.


.


.


"Boom!"


"Kyaaah-!"


Sebuah ledakan terjadi di tengah-tengah kolam dan menumpahkan banyak sekali air ke segala tempat. Luna dan yang lainnya berteriak dengan sangat kencang karena terkejut. Mereka kemudian mendekat karena penasaran ada apa yang sebenarnya terjadi.


Di sana ada beberapa orang yang melihatnya langsung melarikan diri.

__ADS_1


Mereka semua mengerutkan dahinya saat melihat benda itu seolah bergerak-gerak dan menyerupai bentuk manusia.


+++++


__ADS_2