Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 91 |


__ADS_3

Chp. 91 Level 13 : Menuju Tower Lantai Sepuluh(25) - Player kecil misterius dan bertopeng dari lantai keenam.


Di tengah perjalanan, mereka sedang berjalan di jalanan setapak melewati hutan-hutan pinus. Langit sudah sangat larut sekarang.


Evans terlihat sedikit kesusahan untuk melepaskan maskernya yang menempel sangat erat di wajah menggunakan kedua tangannya, dia kemudian menarik napas panjang beberapa kali setelah masker itu terlepas, dirinya seolah-olah telah terbebas dari rasa sesak yang selama ini menghimpitnya.


"Aku tidak menyangka kau bisa bertarung sampai seperti itu, kau ternyata sangat kuat." Lan Suzi tersenyum tipis saat sedang melihat Evans menarik napas.


"Aku hanya sedikit beruntung."


Lan Suzi yang mendengar jawaban biasa dari Evans hanya menghela napas, "Haa... Kau terlalu merendah. Kebanyakan orang berpikir jika mereka mengatakan seperti itu, dirinya akan terlihat sangat keren sekali di otaknya.


Dan memang benar itulah yang aku rasakan saat menonton dan membaca anime ataupun manga.


Tetapi itu salah, di dunia nyata jika kau mengatakan seperti itu kau tidak akan pernah menjadi keren, percaya kepadaku.


Jadi jangan pernah mengatakan hal seperti itu kau cukup mengangguk dan berterimakasih kepadanya.


Kau mendapatkan pujian dari orang-orang saja itu artinya kau sudah menjadi cukup keren..."


Evans hanya terdiam dan mendengarkan Lan Suzi bercerita.


Pertarungan mereka yang sangat panjang sekarang sudah berakhir, Evans adalah orang yang paling berperan besar di sini.


Evans sekarang melihat masker gas yang berada di tangannya itu dengan teliti tidak ada kerusakan di sana, masker itu masih bisa digunakan lagi nantinya.


Mereka berdua kini telah mencapai tempat pengungsian, banyak sekali obor api yang menyala di sana dengan beberapa tenda besar.


Mereka juga melihat puluhan penjaga yang berjaga di sana, ada yang sedang membantu korban ada juga yang menyiapkan tempat beristirahat.


Salah seorang penjaga kini menghampiri dua orang yang mendekatinya dan menyuruh mereka untuk mengambil makanan di sana dan beristirahat, sepertinya Evans dan Lan Suzi adalah orang yang sampai paling akhir di tempat pengungsian.


Ada seseorang penjaga yang mengenali Lan Suzi saat di pertarungan yang sebelumnya, penjaga itu mendekatinya dan menanyakan semua hal kepada Lan Suzi.


Lan Suzi lalu memberikan semua keterangan yang dia ketahui kepadanya, ekspresi penjaga itu berubah-ubah begitu mendengarnya.


"Jadi seperti itu Kapten Roland telah..." Penjaga itu hanya menghela napas pelan dengan wajah sedih, "Lalu bagaimana dengan player misterius yang membantu kita di saat terakhir itu?"


"Ah, soal orang itu..." Lan Suzi melirik kearah Evans.


Evans yang melihatnya kemudian menggelengkan kepala kearah Lan Suzi.


"Yah... Anggap saja dia sebagai seorang pahlawan misterius begitu saja. Kita tidak perlu mencari informasi lebih banyak tentangnya, kurasa kita hanya perlu berterima kasih kepadanya."


Lan Suzi menjawab kearah penjaga itu dengan senyum dan tertawa yang canggung.

__ADS_1


"Kau benar kita harus berterima kasih kepadanya. Player kecil misterius dan bertopeng dari lantai keenam, bagaimana menurutmu?"


"Bukankah namanya terlalu panjang?" Lan Suzi yang mendengarkan penjaga itu menyebutkan nama yang sangat panjang sedikit jengkel mendengarnya.


Apakah orang-orang tidak akan malas untuk menyebutnya seperti itu, Lan Suzi hanya menggaruk-garuk rambutnya.


**


Pagi hari semua orang bangun dengan perasaan yang berbeda antara masing-masing orang.


Lan Suzi sekarang terbangun di sebuah tenda dan melihat semua orang di sampingnya. Mereka memisahkan tenda untuk laki-laki dan perempuan.


Lan Suzi sekarang terlihat sedang menggosok matanya, dia menguap panjang di sana dan ternyata ada seseorang dan melakukan hal yang sama persis dengannya. Orang itu juga menggosok dan menguap panjang.


Mereka berdua kemudian saling menatap, jarak dari keduanya tidak terlalu jauh hanya berada di ujung tenda dan keduanya sekarang tertawa secara bersamaan.


.


.


.


"Jadi nama mu adalah Luna."


Lan Suzi dan Luna, sekarang telah keluar dari tenda mereka dan menuju ke tempat sarapan di pengungsian.


"Player misterius dan bertopeng dari lantai keenam adalah orang yang paling berperan besar dalam menghentikan kekacauan yang terjadi tadi malam."


"Player misterius dan bertopeng dari lantai keenam katanya sangat kejam dan dingin, dia begitu tak berperasaan."


"Kata temanku yang melihatnya bertarung, Player misterius dan bertopeng dari lantai keenam, dia mengatakan jika orang itu adalah seorang perempuan."


"Player misterius dan bertopeng dari lantai keenam, siapakah orang ini sebenarnya?"


"Apapun itu kita bisa melihat semuanya nanti di berita [ Tower.site ]."


Dalam semalam berita tentang Evans sudah menyebar dan menjadi pembicaraan yang hangat oleh semua orang.


Banyak sekali orang yang penasaran tentangnya dan tidak lupa ada juga orang yang berterima kasih kepadanya.


Lan Suzi yang mendengarkan nama sangat panjang itu berulang kali disebut menjadi sedikit gatal, bagaimana bisa mereka menyebutkan nama seperti itu dengan sangat lancar tanpa terselip sedikitpun.


"Player misterius dan bertopeng dari lantai keenam, entah kenapa aku tidak suka mendengarnya. Bukankah itu terlalu panjang?"


Lan Suzi yang mendengar seseorang berbicara begitu mulai terharu, dia berbalik untuk mencari tahu siapakah orang yang sependapat dengannya itu dan orang itu adalah Luna.

__ADS_1


"Luna kau juga berpikiran begitu?"


"Begitu apanya?"


Lan Suzi tidak menjelaskannya, dia hanya menepuk punggung Luna dan berulang kali tersenyum dengan menganggukkan kepalanya.


"Kau tahu Kak Suzi, sebenarnya aku telah melihat wajahnya yang sebenarnya."


"Hah? Apa yang kau bicarakan." Lan Suzi hanya mengernyitkan kening saat mendengarnya, tidak mungkin ada orang lain selain dirinya yang mengetahui siapa identitas dari player misterius itu.


"Tidak masalah jika kau tidak percaya. Tetapi dia adalah seorang pria yang sebaya dengan ku, tetapi dia memiliki kekuatan dan prestasi di umurnya yang sekarang. Haa... Aku sangat iri dengannya."


Lan Suzi tidak berbicara lagi, dia hanya mengusap lembut rambut Luna berulang kali.


"Bagaimana kalau kita sekarang pergi untuk sarapan?"


Luna yang mendengarnya kemudian mengangguk. Mereka berdua sekarang pergi ke tempat sarapan.


**


"Ada yang salah... Kemana perginya dia sekarang?" Lan Suzi telah berkeliling dan pergi ke segala tempat di pengungsian tetapi tidak juga menemukan Evans.


Matahari sekarang hampir mencapai puncaknya, Lan Suzi yang sudah geram kemudian menuju ke tenda khusus laki-laki.


Lan Suzi hanya memijat keningnya setelah menemukan satu orang yang masih tertidur dengan pulas di sana.


"Bocah ini sungguh..." Lan Suzi tidak bisa menemukan kata yang pas untuk menggambarkannya, dia kemudian menarik selimut Evans dengan kuat sampai membuatnya terjatuh.


Evans yang terjungkal dari kasurnya kemudian menatap lama kearah Lan Suzi.


"Bolehkah aku menarik selimutmu?"


"Bicaralah dahulu sebelum kau akan melakukannya."


"Bolehkah aku menarik selimutmu?"


Evans hanya diam saja dan membuang muka kearah Lan Suzi, dia pasti sengaja melakukannya dengan mengulangi kata-katanya itu.


Evans kemudian bangun dengan menggaruk rambutnya yang sekarang sedang acak-acakan.


Setelah Evans dan Lan Suzi selesai sarapan di tempat pengungsian ( Kedua kalinya untuk Lan Suzi ), mereka kemudian duduk di sana.


"Sekarang apa yang akan kita lakukan, apakah kembali pulang."


Lan Suzi kemudian menggelengkan kepalanya, "Tidak mungkin kita akan pulang. Kita akan menuju ke lantai yang lebih tinggi lagi dan pulang dengan membawa Bam."

__ADS_1


+++++


__ADS_2