
Fany mengernyitkan kening saat membacanya, dalam pesan yang Momo berikan. Dia bersaksi jika teman sekelasnya Ney memiliki hubungan yang istimewa dengan Evans.
Momo adalah teman sekaligus best friend satu-satunya yang dia miliki, Fany kemudian memanfaatkannya untuk menstalk-- Tidak, mencari tahu semua kesukaan Evans guna meningkatkan peluangnya.
"Aku harus pergi dan memeriksa apa yang terjadi, mari lupakan meditasi ini sejenak."
Fany bergegas pergi ke kamar mandi dan dengan cepat sudah berganti dengan pakaian biasa dan celana training ketat.
"Bu... Aku akan keluar dulu."
Fany tidak mendengarkan jawaban ibunya yang sedang memasak makanan dan langsung menutup pintu.
"Haa... Berlatih lagi? Apakah dia ingin menjadi seorang atlet atau apa? Setidaknya dia harus belajar sesekali kan..."
Fany berlari dengan kecepatan yang luar biasa menuju ke sekolah, dia memilih masuk sekolah yang jauh demi melatih lagi fisiknya.
Sampai di depan gerbang sekolah, anak-anak kebanyakan sudah pergi kembali ke rumah.
Fany yakin Ney masih belum pergi jauh, masalahnya kemana arah yang dia tuju sekarang.
Ada tiga jalan untuk mencapai sekolah itu, karena salah satunya sudah dilewati. Fany kemudian menggigit jari karena harus memilih di antara keduanya.
"Kemana arah pulang anak itu?"
Sorenya, Fany harus berbalik arah karena salah memilih jalan.
Setelah mendengar teriakan dari kejauhan, Fany semakin mempercepat langkahnya.
Keluar dari sebuah persimpangan jalan, Fany melihat dua orang sudah menghadang jalannya. Dia menyeringai karena menemukan Ney.
'Akhirnya.'
"Hei, Nona. Bos sedang dalam urusan penting di sini, jadi pergilah sebelum-- Arrrggggh!"
Fany mematahkan telunjuk orang yang mendekatinya.
'Sial. Bukankah ini gawat, orang itu... Dia adalah...'
Dua orang itu mundur dengan perlahan, yang satu sedang mempersiapkan diri untuk menyerang sedangkan satu lagi memilih untuk menyerah dan mundur.
"Ney. Aku ada satu pertanyaan untukmu. Apakah kau sedang longgar sekarang?"
"Fany?"
"Eh? Kau mengenaliku? Maka semuanya menjadi lebih mudah..."
Fany tersenyum dan tertawa kecil.
Setelah memegangi jarinya yang patah dan dirasa masih bisa bertarung, orang itu kemudian melirik kearah teman di sebelahnya.
__ADS_1
'Tunggu. Kau tidak menyuruhku untuk bertarung kan? Tidak mungkin kita bisa menang melawan monster ini. Dia adalah...'
"Sekarang!"
Kedua orang itu akhirnya maju secara bersamaan untuk menyerang Fany.
Fany tidak menghiraukan keduanya, matanya masih tertuju kearah Ney.
'Hmmm, kurasa aku pernah melihatnya tetapi dimana ya...'
Fany menghindari satu pukulan yang menyerang perutnya dan memberikan tendangan berputar kearah leher belakang musuhnya. Dia juga bergerak langsung kearah yang satunya lagi dan meninju perut orang itu sampai terbang beberapa senti di atas tanah.
Semua itu dia lakukan hanya dalam satu tarikan napas.
Mereka berdua kemudian jatuh tersungkur secara bersamaan di atas tanah.
'Ahhh, Tidak, Tidak. Aku sama sekali tidak ingat apapun.'
Fany menggelengkan kepalanya masih dengan menatap kearah Ney.
Melihat kedua anak buahnya dihabisi dengan begitu mudahnya, pemimpin mereka menjadi sangat geram dan mengepalkan tangannya. Dia kemudian melepaskan pegangan tangannya kepada Ney dan pergi.
Pemimpin itu bergerak menuju ke depan Fany, keduanya kemudian saling berhadapan. Mereka memiliki tinggi badan yang sama.
Dia berpikir jika kedua anak buahnya itu dihabisi karena lengah dengan kecantikannya.
Meskipun Fany sekarang terlihat sedang berkeringat sangat banyak tetapi hal itu tidak mengurangi kecantikannya sama sekali, dan malah menambah daya tarik perempuan berambut pirang itu.
Rambut panjang Fany berkibar dengan angin yang tiba-tiba berembus kearahnya, matanya sekarang menatap dingin pemimpin itu.
"Siapa kau?"
Tanpa sadar pemimpin itu bergerak mundur satu langkah ke belakang dan bergetar ketakutan.
'Aku terdorong mundur dengan auranya...? Aku yang dipanggil orang-orang dengan setan cilik ini, takut?'
Fany masih belum sadar jika mereka adalah orang-orang yang berniat buruk kepada Ney. Tidak-- Lebih tepatnya Fany sama sekali tidak peduli, karena yang mengisi kepalanya sekarang hanyalah...
"Ney, Aku sama sekali tidak peduli jika sekarang kau sedang memiliki waktu atau tidak. Tetapi setelah semua ini selesai. Aku akan tetap membawamu ke suatu tempat, ada hal yang ingin kutanyakan kepadamu."
"Eh. Huh? Ah! Mhm, Baiklah."
Ney tersenyum canggung dan mengangguk.
Fany sekarang beralih kepada orang yang ada di depannya. Orang itu terlihat menarik napas dan mencoba menenangkan dirinya.
"Maaf. Tapi bisakah dipercepat, setelah ini akan ada update komik yang sudah kutunggu selama lebih dari enam hari. Juga aku perlu berlatih untuk menguasai jurus baru yang nanti keluar."
"Huh, Apa, Update apa? Sialan. Beraninya kau meremehkanku!"
__ADS_1
Dengan satu langkah, orang itu langsung melakukan pukulan hook ke pipi kiri. Tetapi Fany tersenyum tipis dan menahan menggunakan telapak tangan sebelah kanannya.
"Apa?!"
"Kau menarik tanganmu terlalu lama. Beginilah cara melakukan hook yang benar..."
Seketika sebuah kepalan tangan tiba-tiba saja muncul dan mengenai langsung sisi kepala lawan.
Langit seolah berputar dan terbalik, tubuh orang itu bergetar dan bergerak mundur ke belakang beberapa langkah.
Ney yang melihatnya bahkan sampai bergidik ngeri karena suaranya.
Setan cilik segera bangkit dan menepuk ringan kepalanya setelah beberapa detik berlalu. Dia kemudian melotot kearah Fany.
'Pantas saja dua anak buah bodohku kalah, lawannya bukan kacang-kacang... Sial, Apakah dia sungguh seorang perempuan. Dia terlalu kuat.'
Setan cilik kembali bergerak kearah Fany. Ada yang berbeda sekarang, dia melindungi wajahnya dengan kedua tangan, mirip seorang petinju.
Dulunya juga dia adalah seorang mantan atlet tinju tetapi karena tingginya. Dia gagal menjadi salah satunya.
Setan cilik masuk dan menyerang Fany dengan tinjunya, sudah banyak pukulan dia lesatkan seolah sedang bertarung di atas ring tinju. Tetapi Fany hanya tersenyum tipis dan menghindari seluruhnya.
Setelah yakin jika musuhnya berfokus sepenuhnya pada tangan, setan cilik kemudian berganti bermain kotor dengan menyerang area bawah musuh.
Tetapi sebelum melakukannya, sayang sekali kaki kanannya tiba-tiba saja menjadi berat dan tidak bisa digerakkan.
"Apa yang terjadi, kenapa kakiku... Tidak bisa... Digerak... kan...?"
Sebuah kaki yang panjang dan ramping menempel erat seperti sebuah perangko. Meskipun kaki itu sangat indah dan seperti mudah patah, tetapi tenaga yang dimiliki tidak main-main.
Bahkan setan cilik saja sampai menggigit bibirnya dan menahan suara keluar dari kerongkongannya. Jika Fanny mengangkatnya, mungkin saja akan ada jelas sekali bekas kaki yang tidak akan pernah kembali seperti semula.
"Sudah kubilangkan. Aku sangat sibuk, Apa kau sudah paham sekarang?"
"Tidak tunggu... Tolong lepaskan aku. Aku, Aku, Aku Tidak bermaksud untuk--"
Beberapa menit sekarang sudah berlalu, Fany membawa Ney pergi dan meninggalkan ketiga orang yang sedang tiduran di atas jalanan sembari merintih kesakitan.
"Apa... Apakah tidak sebaiknya kita memanggil sebuah ambulan?"
"Tidak, Tidak perlu. Aku tidak memukulnya dengan kuat. Kupikir aku terlalu lembut pada mereka."
"Ahhh, Benarkah? Syukurlah kalau begitu."
Ney menghela napas lega dan mengikuti Fany dari belakang.
Sedangkan ketiga orang itu mengernyitkan keningnya dan mengumpat di sana.
"Apanya yang lembut, sialan. Remuk begini semuanya!"
__ADS_1
+++++