Hero Of Bugs: Players

Hero Of Bugs: Players
HOBs: Amateur player | 51 |


__ADS_3

Chp. 51 Level 7 : Alexi Bam (2).


Kenangan inilah yang membuat dirinya selama sepuluh tahun terakhir sampai bersusah payah, kenangan ini yang juga menemani dirinya untuk melewati hari-hari sulit selama di dalam pulau dan bahkan yang membentuk Bam sampai saat ini.


"Baik, Baik! Sesuai permintaan mu sesuai permintaan mu huhuhu... Akan aku lakukan semuanya apapun demi mewujudkannya Ayah..." Bam mengepalkan tangannya sekuat tenaga, dia menangis sejadinya di sana.


Setelah semuanya tiba-tiba saja suara gelak tawa mulai terdengar dari kehampaan.


"Benarkah? Hihihi Kau yakin dengan ucapan mu itu???"


Suara dari para roh jahat keluar seakan telah lama menantikan hal seperti ini.


"Ya! Apapun! Aku akan menerimanya asalkan kau bisa memberikan kekuatan padaku maka... Akan Aku lakukan!"


Bam menggigit mulutnya kemudian melukainya hingga mengalirkan sebuah darah segar di pinggiran mulutnya, matanya kini melotot menatap kearah langit-langit meskipun sama sekali tidak ada apa-apa di sana.


"Kalau begitu bergabunglah denganku!"


"Aku akan mengikutimu."


"Crack."


Sebuah retakan muncul di udara tepat di atas tempat Ayah Bam terbaring sekarang, juga semuanya seakan menjadi berhenti dan perlahan semua orang di sekitar Bam menghilang termasuk Ayahnya.


"Bagus, Bagus! Bagus sekali! Biarkan Kami bertanya padamu wahai temanku, apa yang kau inginkan?"


"Crack."


"Kekuatan! Berikanlah kekuatan yang sangat besar kepadaku, aku akan membutuhkan banyak nantinya. Semua ini demi memenuhi tujuanku..."


"Crack."


"Kalau begitu terimalah kami dan sebagai gantinya akan kami berikan kekuatan padamu... Ha Ha Ha!"


"Crack!"


"Pyar!"


Perlahan retakan semakin menjadi lebar dan lebar setiap kali Bam berbicara dengan roh jahat, sampai akhirnya setelah retakan mencapai panjang sekitar tiga meter, retakan ini kemudian pecah dan membuat serpihan seperti kaca berhamburan ke segala penjuru.


Suara dari para roh jahat mulai menggema ke seluruh ruangan dan beresonansi di balik lubang dari retakan sebesar tiga meter.


Lubang yang sangat besar dan berwarna hitam ini seolah memisahkan mereka dari balik lubang melalui penghalang yang mirip sebuah kaca.


Ribuan roh jahat ini juga menatap balik Bam dengan senyum yang mengerikan dan tak lazim karena lebarnya.


Para roh jahat satu demi satu perlahan mencoba keluar untuk memasuki tubuh Bam sembari terkekeh.


Bam yang tidak menolak hal ini malah membuat prosesnya menjadi semakin mudah dan cepat saja.

__ADS_1


Bam memejamkan matanya saat mempersilakan masuk Seribu Roh Jahat yang berwarna hitam dan kemerahan ini memasuki tubuhnya.


Proses ini tidak membuatnya merasakan sakit sama sekali malah tidak berasa apapun menurutnya.


Tetapi yang paling mengganggunya adalah suara tawa yang sangat keras bahkan bisa saja membuat gendang telinga setiap orang yang mendengarkannya pecah.


"Ha Ha Ha!"


"Ha Ha Ha!"


"Ha Ha Ha!"


...***...


Di Lantai Kedua Tower.


Evans bersama dengan dua orang player yang lain pergi ke sebuah tempat, di mana sebuah tempat ini selalu membuatnya penasaran saat kali pertama dirinya menginjakan kaki di Lantai Kedua.


Evans mulai berpikir apakah hal ini karena pengaruh insting job petaninya atau karena dia belum mengetahui bahwa dari dulu juga dirinya sudah tertarik dengan hal yang semacam ini, yang pasti Evans sekarang sudah pergi memimpin paling depan diikuti dengan Bam dan Lan Suzi di belakangnya.


Bam seperti biasa tidak banyak berbicara dan harus dibantu oleh Lan Suzi dibelakang karena untuk bergerak Lan Suzi harus memapahnya persis seperti seorang bayi yang baru belajar berjalan.


Sebelum mereka bertiga sampai ke tempat tujuannya, mereka melihat beberapa player yang berlalu lalang seakan sedang kebingungan mencari sesuatu.


Evans yang sedikit penasaran dengan tingkah player tersebut kemudian mendekatinya dan bertanya.


Player ini kemudian berbalik dan bertanya kembali kepada Evans apakah dia melihat monster di perjalanannya atau mengetahui sesuatu.


Sebenarnya menghilang bukanlah kata yang tepat melainkan diburu oleh seseorang, Evans kemudian menoleh kearah Bam dan Lan Suzi.


Mereka berdua sedang berada di kejauhan, Lan Suzi memiringkan kepalanya bertanya-tanya dengan maksud Evans yang melihatnya.


Bam sudah terbiasa berburu saat sore hari dan pulang pada malamnya, tetapi sekarang karena Bam berburu pada pagi hari, para player harus menunggu para monster untuk revive pada sorenya.


Evans yang bingung bagaimana caranya untuk menjawab hanya menggelengkan kepala pelan kemudian mengajak Lan Suzi serta Bam yang telah mendekat dan menariknya untuk segera pergi dari sana.


"Kalian mau kemana? Kami sudah mencari ke sekeliling Lantai Kedua dan tidak menemukan monster satupun, sebaiknya kalian pergi ke Lantai Ketiga atau kembali pulang ke Rumah." Kata player itu membuat sebuah speaker dengan kedua tangannya.


.


.


.


Teriakan dari seorang player yang baik hati apalagi sampai memberikan saran kepada mereka meskipun memiliki jarak yang cukup jauh, membuat Lan Suzi mulai mengerti apa yang sebenarnya sedang terjadi dan hanya memuji player itu di dalam hati.


Akhirnya Evans mencapai di sebuah danau yang menjadi tempat tujuan mereka, sebuah danau yang luas dan indah ditemani dengan hutan yang asri mengelilinginya membuat siapapun yang melihat akan terpana dengan pesona alamnya.


Evans berkeliling dan menatap sekitarnya dirinya hanya menemukan satu buah pohon yang rindang dengan sebuah rongsokan di bawahnya sedangkan sisanya adalah dua buah ranting yang menancap di atas tanah.

__ADS_1


"Malika."


Evans mulai mendekat perlahan kearahnya ke tempat sebuah pohon yang tinggi dengan batang dan ranting kecil yang tidak memiliki daun sehelai pun itu, seperti sebuah tanaman yang kurus dan tidak terawat saja.


Evans awalnya hanya menganggap mereka sebagai sebuah ranting yang menancap tetapi setelah melihat ranting itu berbuah, dia berubah pikiran.


Menurut Evans pohon kecil ini bahkan tidak akan bertahan jika terkena hempasan dari angin.


Tetapi setelah Evans mencoba untuk mencabutnya sendiri, anehnya pohon itu masih tetap berdiri dengan kokoh dan tidak mau terlepas dari tanahnya.


"Apakah itu yang menggantung buah? Kenapa kau malah mencabutnya dan tidak langsung memetik buah itu saja?" Lan Suzi yang mendekat berpikir jika Evans ingin mengambil buah yang menggantung pada Malika.


Lan Suzi kemudian meneruskan membopong Bam menuju ke satu-satunya pohon di sana.


Mendengarnya Evans segera menatap ke atas, dia kembali tersadar jika pohon yang ditanaminya itu telah berbuah.


Buah yang memiliki bentuk mirip dengan sebuah apel pada umumnya ini juga membuatnya penasaran karena memiliki ukiran tato.


Sebuah tato yang berwarna hitam di seluruh kulitnya dan memiliki ukuran yang lebih besar dua kalinya dari apel yang biasa.


Evans kemudian memetik dua buah apel yang menggantung pada ranting-ranting Malika dan memberikannya kepada Lan Suzi dan Bam di sana.


Keduanya sedang duduk di bawah pohon dekat dari danau dengan sebuah rongsokan mobil.


Lan Suzi kemudian menangkap dua buah apel yang melayang menghampirinya di udara.


Evans kemudian meminta mereka berdua untuk mencoba merasakan buahnya.


Menurut Evans sebuah kehormatan dan kebanggaan melihat Malika berguna pada sekitarnya, khususnya kedua temannya itu.


Lan Suzi segera mengeluarkan sebuah pisau dari balik inventorinya dan mengupaskan buah itu untuk Bam.


Setelah melihat keduanya Evans segera menghampiri tanaman yang satunya, tanaman ini adalah yang ditanam Bam sendiri atas permintaannya.


Tanaman yang sama persis seperti Malika, juga memiliki dua buah apel di rantingnya, Evans lalu berjongkok dan mendekat untuk memeriksanya lebih lanjut.


Evans tiba-tiba saja merasakan kehadiran seseorang yang mendekatinya dari belakang dengan diam-diam seolah sedang bersembunyi saja.


Evans kemudian berinisiatif lebih dulu mengejutkannya, "Bagaimana perasaan mu setelah memakan buah ini."


Evans berpikir jika orang yang telah mendekatinya dari belakang dengan tanpa suara itu adalah Lan Suzi.


Tetapi tiba-tiba suara yang terdengar di belakangnya berubah menjadi seorang pria, "Hm? Rasanya kurasa sedikit pahit akan lebih baik jika di buat jus."


Mata Evans bergetar dan secara reflek melihat kebelakang setelah mendengarnya, seketika suara sebuah tebasan terdengar dan membuat Evans terdorong jatuh ke depan.


Evans sekarang mengeluarkan cahaya biru yang sangat panjang di punggungnya, dia kemudian sedikit mengerutkan dahinya tidak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang.


"Bam."

__ADS_1


__ADS_2